Ngeblog, Ngebrik, dan Nginterkom
April 14th, 2008 | by Paman Tyo |
Kawan saya bilang, ngeblog itu nggak beda dengan ngebrik dan nginterkom. Nggak beda dalam arti menyangkut pilihan berkomunikasi dan hak untuk menggunakan saluran.
Kebetulan dia itu “pengebrik” (breaker, hehe). Kebetulan juga dia itu konsisten ogah ngeblog. Juga kebetulan dia itu akademisi yang paham jagat media. Pun kebetulan dia itu tenar tapi kurang popular bagi sebagian bloggers.
Jadi saya ituh, sebagai pembela kebetulan, mau bercerita tentang rentetan kebetulan? Tidak.
Bukan kebetulan kalau saya menghargai pendapatnya. Saya pun menghargai pilihannya untuk tidak ngeblog. Dia pun mungkin (semoga) menghargai pilihan saya untuk tidak ngebrik — sekaligus memahami ketidakpahaman saya soal radio (dan) komunikasi.
Tentu pendapat saya berbeda. Ngeblog itu tak hanya berbeda dari ngebrik dan nginterkom, melainkan lebih kaya dari itu.
Oh ya, tentang ngebrik, sebagian dari kita rasanya tahu. Setidaknya kita pernah mendengar. Lagi pula stiker dan papan nama call sign Orari kan masih sering terlihat.
Kalau interkom? Ya, seperti interkom yang kita kenal. Bedanya, dalam cerita ini, interkom yang saya maksud bukanlah alat komunikasi yeng menyatu dengan bel rumah maupun jaringan telepon internal.
Interkom berkabel itu, pada awal sampai pertengahan 80-an, sempat menjadi “tren sesaat” di kompleks perumahan dan perkampungan. Juluran kabelnya melintasi pepohonan, tiang listrik, tiang telepon, dan mungkin tiang jemuran dan bahkan tiang penggantung sangkar perkutut.
Saya tak tahu apakah demam interkom itu, dulu, adalah cara yang merakyat untuk menyusul radio CB yang sempat mendemam.
Jika Orari sampai kini berkesan serius maka radio CB, pada mulanya, lebih berkesan untuk kebutuhan gaul kelas menengah, sehingga akhirnya ditata melalui organisasi.
Begitu ngetrennya radio CB saat itu sehingga pada 1984 promo krim rambut Brisk (atau Brylcreem ya?) menyediakan hadiah rig. Kalau sekarang hadiahnya pasti ponsel atau data card atau modem merangkap router.
Lantas kenapa saya menganggap blog lebih kaya?
Pertama: tertulis (plus suara, gambar, video) dan terarsipkan.
Kedua: karena terarsipkan (termasuk komentar untuk setiap posting) maka mudah dirujuk, baik untuk kepentingan akademis maupun hahahihi (atau gabungan keduanya).
Ketiga: dari blognya sendiri seorang blogger bisa belajar melalui evaluasi diri, sejak cakupan topik, gaya penulisan, sampai kualitas tulisan — dan tentu komentar pembaca.
Percakapan dalam radio komunikasi dan interkom juga bisa diarsipkan. Tapi harus melalui perekaman auditif, untuk kemudian disalin ke dalam teks, agar layak rujuk. Uh, merepotkan. Lebih ngerepotin kalau ditambahi analisis keaslian suara dengan bukti hasil kajian instrumental atau apalah yang rumit itu.
Persamaan ngeblog dengan ngebrik dan nginterkom, antara lain, ya pada “kopi darat” itu. Bahkan istilah “kopdar” itu dicomot dari kebiasaan para pelaku komunikasi radio yang sekali (pun) di udara tetap ingin bersua di darat juga.
Dengan teman saya itu pun saya esok, entah kapan, akan kopdar, supaya tidak hanya ber-SMS-an saja. Ngomongin blog, ya? Kayaknya enggak.
© Gambar asli: RadioShop
Tags: interkom, manfaat, ngeblog, ngebrik, radio komunikasi

By galih on Apr 14, 2008
saya masih hafal kodenya:
YB: Yankee Bravo
YC: Yankee Charile
YD: Yankee Delta
kalo nggak salah ingat dulu punya saya Yankee Delta
By mpokb on Apr 14, 2008
apa pun alatnya, yg penting membawa kemaslahatan untuk masarakat. soal manfaat, tergantung pada masing2 pemakai, bukan?
btw, cieeh…. lagi peluncuran yak? *tepuk tangan*
By francespolly on Apr 14, 2008
om, font di hal muka dagdigdug yang baru kok saya agak nggak sreg ya? verdana atau arial kyknya lebih masuk. apa tampilan di komp saya aja ya?
By Hedi on Apr 14, 2008
Roger….saya udah ngerasain ngebrik dan nginterkom, tapi ngeblog jauh lebih dashyat rasanya…roger, cerio 78
By Totoks on Apr 15, 2008
saya lebih suka jambu dua
By kopdang on Apr 15, 2008
tapi terkadang ngeblog banyak yang numpang buang haj*t…
nelek…
Lha, tulisannya ndak rampung dibaca, tapi komennya bisa beberapa kali…
By nonadita on Apr 15, 2008
*ngakak baca komennye kopdang*
iya buang hajat, kekekek….
“hajat”nya itu (untungnya) terarsipkan
By zeux on Apr 15, 2008
Romeo Oscar Yankee Sierra Uniform Romeo Yankee Oscar, Oscar Mike Delta Oscar
By Okto Silaban on Apr 15, 2008
Selamat atas peluncuran DagDigDug.com nya Paman Tyo..
Moga - moga sukses..
Btw, link TENTANG & TANYA JAWAB di halaman depan kayaknya masih salah tuh Paman (yg dibagian footer).
Sukses buat DagDigDug.. !
By eve on Apr 17, 2008
Selamat atas peluncurannya ya paman…
By Uchup on May 23, 2008
Kalau ngebrik dengan negblog dibandingin,ibarat membandingkan garam dengan gula kali. Bagi saya sama-sama membuat kepuasan tersendiri bagi pelakunya. Bedanya banyak, kalau dibilang kaya bisa jadi lebih kaya ngebrik. Seorang breaker (baca: amatir radio) sejati tidak hanya memikirkan dengan siapa komunikasi, dengan siapa lantas copy darat. Lebih dari itu, dia memikirkan bagaimana kinerja perangkatnya, antenenya, microphone-nya. Artinya dia secara naluriah akan melakukan percobaan-percobaan, baik antenna, power supply, microphone bahkan terkadang sampai pemancar dan penerima dia bikin sendiri. Disinilah kepuasan seorang amatir radio sejati.
He he biar tidak salah menilai sebuah hobby ini yang sering dianggap orang sebagi hobby hura-hura tanpa manfaat.
By Yang Bikin Dagdigdug on May 28, 2008
bener banget..kayanya ini revolusi yah
Namanya juga jaman dah makin canggih, abis blog, kira2 apa yeh kelanjutannya?
By yolanda on Jun 2, 2008
ngeblog, ngebrik punya jalan masing-masing
punya lahan eksplorasi masing-masing…
bahkan ke arah idealis…
bisa dijadikan juga semata-mata untuk cari uang
seperti kalo ngebrik kadang ada yg mendominasi frekuensi untuk kepentingan bisnis
kalo ngeblog kadang ada yg bikin blog untuk tujuan dapat ‘transferan’ dari google adsense
By Andrie on Jun 11, 2008
Emang ngebrik & ngeblog sama-sama bisa memberikan kepuasan tersendiri.Sama-sama bisa membuat ketagihan dan lupa waktu. Banyak yang menemukan jodohnya dari ngebrik ( termasuk gw,he..he..he..), tetapi ada nggak ya yang menemukan jodohnya dari ngeblog?