Wartawan (tidak) Harus Ngeblog

July 3rd, 2008 | by Paman Tyo |

Beberapa kawan punya asumsi seperti ini. Blog adalah dunia penulisan. Karena wartawan akrab dengan tulis-menulis maka mestinya sebagian besar dari mereka itu punya blog. Tepatnya, ngeblog itu pasal cincai bagi orang lihai. Celakanya asumsi itu disusul dengan pertanyaan: berapa banyakkah wartawan yang ngeblog?

Saya tak punya data. Bisa sih ngawur bilang bahwa 68% wartawan ngeblog. Atau bisa juga sebaliknya: 68% wartawan nggak ngeblog. Maksud saya ngeblog dalam arti pribadi, bukan ngeblog untuk medianya karena ditugasi.

wartawan: ya meliput, ya ngeblog?

Karena tidak ada data, bagaimana jika kita main terka? Misalnya melongok 100 blog top Indonesia. Berapakah yang dimiliki oleh wartawan?

Maka izinkanlah saya bertanya: kalau misalnya mayoritas blog dimiliki oleh wartawan lantas kenapa? Kita anggap wajar, sesuai asumi pada paragraf pembuka?

Lha kalau ternyata jumlah wartawan dalam 100 blog itu sedikit, kurang dari sepertiga, emangnya kenapa? Aneh? Menyedihkan? Menggembirakan?

Terhadap urusan macam ini jawaban saya adalah, “Sudahlah, ngeblog itu soal hati. Tak harus berhubungan dengan profesi. Wartawan maupun sastrawan boleh ngeblog maupun tidak ngeblog.”

Beberapa wartawan pernah bilang kepada saya ingin ngeblog tapi malas. Atau sudah punya blog tapi malas – atau tak sempat – memperbaruinya.

Kenapa malas, kenapa tak sempat? Lebih dari seorang punya alasan macam ini: sehari-hari sudah menulis karena pekerjaan dan itu melelahkan; jadi buat apa menambah beban? Belum lagi kalau urusan di kantor bukan hanya peliputan dan naskah melainkan juga tetek-bengek manajerial. Lebih baik sisa energi buat keluarga atau hang out.

Bisa juga sih dibalik, seperti pertanyaan iseng saya: bagaimana jika untuk keseimbangan jiwa justru ngeblog dengan menulis sesuka hati yang tak ada hubungan dengan pekerjaan? Termasuk dalam pekerjaan adalah topik yang sesuai dengan bidang kedinasannya.

Jawabannya adalah senyum bahkan tawa. Ada juga kilah yang lebih argumentatif. Misalnya, “Saya wartawan otomotif, demen ama modifikasi dan racing. Kalo blog saya isinya juga gituan, bisa-bisa saya cuma menduplikasi tulisan di majalah. Artinya saya dianggap nggak kreatif. Padahal untuk kreatif saya sudah kehabisan ide.”

Jawabannya mungkin benar. Mungkin pula tidak. Tapi saya punya contoh, salah satu blogger yang tenar dengan posting tentang backpacking adalah seorang wartawati media otomotif. Carilah nama Ukirsari di Google.

Bagaimana dengan wartawan media umum, bukan media khusus? Misalnya wartawan koran, wartawan majalah berita, dan wartawan portal berita?

Seorang penyair, pemilik blog puisi, adalah wartawan yang menjadi redaktur-merangkap-kartunis sebuah koran kota. Kandungan syairnya tak  mesti senapas dengan jurnalisme medianya. Google-kanlah nama Hasan Aspahani.

Kalau bukan penyair bagaimana? Bisa saja mereka bukan generalis melainkan spesialis, sesuai rubrik. Pengecualian berlaku untuk reporter yang belum memiliki spesialiasi, sehingga bertugas sesuai penugasan koordinator reportase atau kepala biro. Tapi sebagian dari mereka khawatir, justru karena umum itulah maka isi blognya akan berimpitan dengan sajian media tempatnya bekerja; hanya berbeda gaya dan pendekatan masalah.

Masalah akan berkemungkinan bertambah jika dari blog pribadinya mereka mendapatkan iklan. Pihak manajemen bisa murka, karena fasilitas dinas yang dipakai untuk ngeblog bukan hanya komputer dan internet kantor melainkan juga biaya transportasi, biaya peliputan, biaya jamuan, dan bahkan bank data (termasuk foto) yang ada di kantornya.

Ketika urusannya sampai ke sana, biarlah itu jadi seminarnya Nukman Luthfie dengan mengumpulkan petinggi HRD perusahaan media untuk berdiskusi apa plus dan minusnya wartawan ngeblog bagi kumpeni. :D

Berbahagialah bloggers yang bukan wartawan. Tulisan bagus akan dipuji. Tulisan buruk tak akan diledek. Malas meng-update hanya akan ditagih pembaca, bukan dianggap mati angin.

Lho tadi dibilang ngeblog urusan hati, tak ada hubungan dengan profesi? Gimana sih kok mencla-mencle? ;)

© Ilustrasi: “Football Stars Become Microstars” (McCann Erickson, Milan, Italia, April 2008)

Tags: , , ,

19 Responses to “Wartawan (tidak) Harus Ngeblog”

  1. By nonadita on Jul 3, 2008

    Saya bahagia ngeblog, padahal saya cuma kuli yang (sempat) pengen jadi wartawan..

    ekekkekeke

  2. By ilalang on Jul 3, 2008

    untungnya saya juga cuma mantan wartawan… jadi pasti memang sekedar buat nyeneng-nyenengin ati…

    buat yang masih wartawan, ya dibiarkan saja lah… mau ngeblog syukur, tidak ya gpp… tidak ada kewajiban apapun, bagi siapapun, untuk ngeblog… bukankah demikian?

  3. By sluman slumun slamet on Jul 3, 2008

    Seorang blogger, pemilik blog abal-abal, adalah dosen yang rupawan lagi terpelajar sebuah PTN jelata. Isi blognya tak mesti senapas dengan profesinya. Google-kanlah nama Slamet Widodo.

    :D :D :D

  4. By Hedi on Jul 3, 2008

    saya nyumbang data aja, paman…
    di kantor saya, udah dibikinin blog, tp semua anak2 redaksi males ngeblog, ga suka sih tepatnya :D

  5. By kangtutur on Jul 3, 2008

    kalo bodreks, paman?
    *halah…* :wink:

  6. By abahoryza on Jul 3, 2008

    saya bukan siapa-siapa dan ngeblog tentang apasaja coba gogling dengan abahoryza mpasti sampah semuah

  7. By vlisa on Jul 3, 2008

    Saya bukan wartawan, dan ngeblog, tentunya saya bahagia. Sudah pas kan paman……….

  8. By Suryadi Maosuluddin on Jul 4, 2008

    jadi kalau malas meng-update hanya akan di tagih pembaca ya om…? Artinya saya dianggap nggak kreatif dong,
    permasalahannya bukan soal kreatif nggak kreatif, tp saya kehabisan ide……hehehe…….

    bagaimanapun juga wartawan (tidak) harus ngeblog..

  9. By bangsari on Jul 4, 2008

    ngeblo kan untuk lucu-lucuan. kalo dah ngga lucu ya mati angin. :p

  10. By yehia on Jul 5, 2008

    iyalah wartawan sebaiknya jangan ngeblog, ntar keasikan ngeblog, malah wartawannya gak cari berita.

  11. By masadrians on Jul 6, 2008

    kalau menurut saya sih, kalau wartawan yang ngeblog informasi yang datang dari dia mungkin sangat bermanfaat bagi orang lain. karena pasti dapat dipercaya hasil tulisannya dan kebenaran tulisannya..

  12. By jun on Jul 6, 2008

    Saya wartawan, ngisi blog dengan tulisan apa saja sesuka saya tetapi meminimalisir yang berhubungan langsung dengan profesi saya. Saya wartawan, sudah lama punya blog tetapi dulu malas memperbarui isinya dengan berbagai alasan. Saya wartawan, sekarang rajin update isi blog setelah terpicu dan terinspirasi oleh tulisan-tulisan di blog-blog Paman Gombal, terutama yang di
    http://pamantyo.dagdigdug.com ini.

  13. By mr.bambang on Jul 6, 2008

    Saya adalah . . . . .

  14. By antown on Jul 6, 2008

    lho, sebutan wartawan kan juga kuli tinta. Makanya kemungkinan capek itu ada benarnya juga. Cuman, dari beberapa warwtawan yang saya kenal mereka itu punya blog tapi nggak terurus, kalopun terurus pasti sebulan cuma beberapa posting.

    mungkin…

  15. By Joy on Jul 8, 2008

    Debat tentang blogging lagi neh…. ayo2 sampaikan semuanya disini. Biar yang baca lebih nambah ilmunya.
    Wartawan seharusnya tidak harus capek dengan urusan yg berhubungan dengan tulis menulis yang merupakan hobby/kesukaan. Mau ngeliput berita, mau nge-blog ato bahkan ngerjain karangan anaknya yg masih SD. Saya demen gitar juga. Karena uda demen, suka, cinta, mau disuruh main gitar dua hari pun saya mau kok. Sesuatu yg dikerjakan berlandaskan rasa suka mengerjakannya pasti ga akan membawa kebosanan bagi pelakunya.
    Kalo anda memang wartawan seharusnya anda suka dengan blogging karena anda suka menulis…
    Kalo anda wartawan yg ga seneng bulutangkis mungkin mungkin saya ga akan heran.
    Btw, aku ngomong apa ya?????

  16. By bangpay on Jul 8, 2008

    kalo piskus, paman?

  17. By winnie mota on Jul 10, 2008

    blog itu kan media. sebagai calon wartawan, ngeblog bisa jadi cara paling gampang untuk mempublikasikan tulisan tersayang.
    tapi kalo nanti uda jadi wartawan kayaknya saya gak akan ngeblog deh, kan kerjanya uda di media, disitulah kita publikasikan tulisan!
    lagian skrg jugaan saya ga ngeblog! hehe
    lagipula blog itu seperti diary. terkadang tulisan yg dimuat samasekali tdk berguna bagi orang lain. dan kalo sudah tidak berguna bagi org lain, bagaimana bisa berguna bagi diri sendiri?
    kan wartawan kerjanya buat orang!

  18. By kwak kwik kwek on Jul 25, 2008

    Hla ternyata saya juga ngaku-ngaku wartawan di blog saya itu…:D

  1. 1 Trackback(s)

  2. Jul 5, 2008: hari hari ku kini | Wartawan

Post a Comment