Kepartaian dalam Blog

Blog

Ngomongin pemilu? Tidak. Sobat saya punya ungkapan tentang blogger A yang separtai dengan blogger B. Mungkin yang dia maksudkan adalah posting si A yang sering membicarakan tentang B, juga C, plus D, dan E, kemudian saling berbalas, tetapi publik tidak mendapatkan banyak manfaat. Cuma gojek kere berlingkup internal yang dilemparkan ke ranah maya.

Sobat saya yang lain kemarin mengirimkan pengingat, berupa tautan dari tulisan lama Rovicky, geolog yang pandai bercerita itu, yang mempersoalkan “suara baru Indonesia”. Apa manfaatnya bagi khalayak jika blogger hanya bicara dirinya sendiri?

Ini hal menarik. Memang kelebihan dan pembeda blog adalah pada isinya yang personal. Soal subyektivitas, memang demikianlah adanya. Bukankah laporan lembaga riset pun punya subyektivitas — dalam arti sudut pandang sesuai khittah lembaga?

Lantas, di mana masalahnya?  Dulu, dalam beberapa obrolan, saya mencontohkan rubrik tertentu majalah gaya hidup (terutama yang bersegmen wanita). Ada sajian yang secara jurnalistik kurang lengkap tapi jika pembaca tak paham maka merekalah yang salah.

Rubrik apa? Nama rubrik tak penting, tapi dikemas sebagai album foto para sosialita. Cuma ada nama Anu, Anu, dan Anu. Tanpa keterangan.

Pembaca yang tak paham berarti kurang gaul, bukan party goers, dan sebaiknya menambah pengetahuan umum. Pembaca lain (mayoritas, semoga sesuai asumsi segmentasi) yang paham, meskipun bukan sosialita, akan dianggap melek informasi.

Misalnya seperti ini: “Si Cempluk itu istrinya si Tambun. Nah, si Tambun itu anaknya Tuan Gembrot, pemilik pabrik tusuk gigi. Lha si Cempluk itu yang tempo hari bersama kelompok arisannya mendatangkan koleksi Manolo Blahnik untuk show kalangan terbatas.”

Seorang pembaca, sebagai pemakai setia produk diskonan Yongki Komaladi, dan ketika dulu belum diledek masih mau pakai tas Sophie Martin, akan dianggap maju oleh lingkungannya: tahu dunia lain.

Saya bicara konteks media cetak. Rubrik-rubrik aneh tapi konon mengasyikkan itu (karena orang ingin tahu si Anu pakai gaun dan tas apa, juga arloji apa) bisa menyugesti orang untuk belajar hal yang entertaining tapi tak penting. Penerbit dan editor bisa memformat orang lain.

Bagaimana dengan blog? Dari sisi kelengkapan informasi, posting antarkawan berisi tautan. Selanjutnya Ki Ageng Google akan membantu. Bedanya dengan media cetak, blog telah menjadikan pemiliknya dan kalangan dekatnya sebagai pesohor di lingkungan komunitas blogger tertentu. Tak perlu editor.

Dalam konteks itu, setiap blogger telah memposisikan dirinya sendiri, lengkap dengan risikonya. Tapi pendapat ini pun ngawur. Blogger yang sering jadi bulan-bulan kawan keparatnya, dan tak mau atau tak dapat membalas, akhirnya telah menjadi sosok yang terformat di luar kehendak diri. Gunjing canda dan fitnah mesra menemukan salurannya. Hasilnya adalah citra diri (yang belum tentu benar).

Itu baru blog (di luar blog tentang sosialita Jakarta), belum ke keranjang jejaring sosial di ranah maya. Kalau yang ini, adab gaulnya — dalam beberapa hal — tak beda dari lingkup RT dan RW. Hanya saja kemasannya lebih urban dan mondial. Yang penting orang tahu siapa sedang apa dan mau ngapain — perlu bantuan atau tidak ketika akan melakukan hal terpuji. Entertaining dan penting (pun inspiring) bagi para pelakunya. :)

Kembali ke blog yang cuma memindahkan gaul kepartaian dan barangkali cuma ekstensi dari guyon berlingkup milis (yang disimak kalangan terbatas, kecuali dibiarkan bocor). Apa manfaatnya bagi publik?

Mungkin menghibur, mungkin menyebalkan, sekadar memindahkan gunjingan dan gojek kere ke internet, tapi yang pasti saya tak dapat tegas menjawab itu bermanfaat atau tidak bagi pembaca secara umum.

Untuk para pemasar yang akan memanfaatkan blog mungkin penting. Untuk pengamat perilaku sosial mungkin menarik. Guyon, saling ledek, dan saling pamer (bahkan mungkin saling keluh dengan meratap) telah mendapatkan medianya sendiri, dan itu adalah sebuah etalase kehidupan.

Lantas di mana “suara baru Indonesia”-nya?

Saya tak tahu. Baru bisa merenung. Jangan-jangan sebagian orang terlalu berharap dari blog. Berharap akan mendapatkan resensi film yang layak rujuk, kritik seni rupa yang menggugah, telaah musik yang memperkaya, bedah sastra yang mencerahkan, reviu hi-fi yang andal (ya andal barangnya, ya pendapatnya), pencontohan modifikasi mobil yang hebat, kajian aristektural yang ilhami, perbincangan lingkungan hidup yang menyadarkan, sketsa sosial-politik yang lucu tapi mencerdaskan, dan seterusnya yang serba subyektif dan personal, berbeda dari media lawas…

Singkat kata, orang berharap sebuah blog akan bicara pengalaman dan pandangan pribadi tapi bermanfaat bagi orang lain. Wdauh.

Saya sendiri — mohon maaf — adalah termasuk blogger yang kadang melempar gojek kere. Apa yang saya tulis tak ada manfaatnya bagi khalayak ramai maupun sepi. Lebih celaka lagi, orang yang saya sasar pun tak peduli. Termasuk tak peduli terhadap blog apa pun.

Barangkali inilah egosentrisme saya dalam ngeblog. Mentang-mentang punya media sendiri — pemilik merangkap penulis dan penyunting — maka saya sesuka hati. Pinjam filosofi pede-istik jomblo angkuh yang seret peminat (padahal kesepian): naksir (eh, baca) ya syukur, nggak mau ya kebangetan.

Lantas Anda pun bertanya: ngeblog untuk apa dan siapa?

© Ilustrasi: unknown