Kepartaian dalam Blog
July 7th, 2008 | by Paman Tyo |
Ngomongin pemilu? Tidak. Sobat saya punya ungkapan tentang blogger A yang separtai dengan blogger B. Mungkin yang dia maksudkan adalah posting si A yang sering membicarakan tentang B, juga C, plus D, dan E, kemudian saling berbalas, tetapi publik tidak mendapatkan banyak manfaat. Cuma gojek kere berlingkup internal yang dilemparkan ke ranah maya.
Sobat saya yang lain kemarin mengirimkan pengingat, berupa tautan dari tulisan lama Rovicky, geolog yang pandai bercerita itu, yang mempersoalkan “suara baru Indonesia”. Apa manfaatnya bagi khalayak jika blogger hanya bicara dirinya sendiri?
Ini hal menarik. Memang kelebihan dan pembeda blog adalah pada isinya yang personal. Soal subyektivitas, memang demikianlah adanya. Bukankah laporan lembaga riset pun punya subyektivitas — dalam arti sudut pandang sesuai khittah lembaga?
Lantas, di mana masalahnya? Dulu, dalam beberapa obrolan, saya mencontohkan rubrik tertentu majalah gaya hidup (terutama yang bersegmen wanita). Ada sajian yang secara jurnalistik kurang lengkap tapi jika pembaca tak paham maka merekalah yang salah.
Rubrik apa? Nama rubrik tak penting, tapi dikemas sebagai album foto para sosialita. Cuma ada nama Anu, Anu, dan Anu. Tanpa keterangan.
Pembaca yang tak paham berarti kurang gaul, bukan party goers, dan sebaiknya menambah pengetahuan umum. Pembaca lain (mayoritas, semoga sesuai asumsi segmentasi) yang paham, meskipun bukan sosialita, akan dianggap melek informasi.
Misalnya seperti ini: “Si Cempluk itu istrinya si Tambun. Nah, si Tambun itu anaknya Tuan Gembrot, pemilik pabrik tusuk gigi. Lha si Cempluk itu yang tempo hari bersama kelompok arisannya mendatangkan koleksi Manolo Blahnik untuk show kalangan terbatas.”
Seorang pembaca, sebagai pemakai setia produk diskonan Yongki Komaladi, dan ketika dulu belum diledek masih mau pakai tas Sophie Martin, akan dianggap maju oleh lingkungannya: tahu dunia lain.
Saya bicara konteks media cetak. Rubrik-rubrik aneh tapi konon mengasyikkan itu (karena orang ingin tahu si Anu pakai gaun dan tas apa, juga arloji apa) bisa menyugesti orang untuk belajar hal yang entertaining tapi tak penting. Penerbit dan editor bisa memformat orang lain.
Bagaimana dengan blog? Dari sisi kelengkapan informasi, posting antarkawan berisi tautan. Selanjutnya Ki Ageng Google akan membantu. Bedanya dengan media cetak, blog telah menjadikan pemiliknya dan kalangan dekatnya sebagai pesohor di lingkungan komunitas blogger tertentu. Tak perlu editor.
Dalam konteks itu, setiap blogger telah memposisikan dirinya sendiri, lengkap dengan risikonya. Tapi pendapat ini pun ngawur. Blogger yang sering jadi bulan-bulan kawan keparatnya, dan tak mau atau tak dapat membalas, akhirnya telah menjadi sosok yang terformat di luar kehendak diri. Gunjing canda dan fitnah mesra menemukan salurannya. Hasilnya adalah citra diri (yang belum tentu benar).
Itu baru blog (di luar blog tentang sosialita Jakarta), belum ke keranjang jejaring sosial di ranah maya. Kalau yang ini, adab gaulnya — dalam beberapa hal — tak beda dari lingkup RT dan RW. Hanya saja kemasannya lebih urban dan mondial. Yang penting orang tahu siapa sedang apa dan mau ngapain — perlu bantuan atau tidak ketika akan melakukan hal terpuji. Entertaining dan penting (pun inspiring) bagi para pelakunya.
Kembali ke blog yang cuma memindahkan gaul kepartaian dan barangkali cuma ekstensi dari guyon berlingkup milis (yang disimak kalangan terbatas, kecuali dibiarkan bocor). Apa manfaatnya bagi publik?
Mungkin menghibur, mungkin menyebalkan, sekadar memindahkan gunjingan dan gojek kere ke internet, tapi yang pasti saya tak dapat tegas menjawab itu bermanfaat atau tidak bagi pembaca secara umum.
Untuk para pemasar yang akan memanfaatkan blog mungkin penting. Untuk pengamat perilaku sosial mungkin menarik. Guyon, saling ledek, dan saling pamer (bahkan mungkin saling keluh dengan meratap) telah mendapatkan medianya sendiri, dan itu adalah sebuah etalase kehidupan.
Lantas di mana “suara baru Indonesia”-nya?
Saya tak tahu. Baru bisa merenung. Jangan-jangan sebagian orang terlalu berharap dari blog. Berharap akan mendapatkan resensi film yang layak rujuk, kritik seni rupa yang menggugah, telaah musik yang memperkaya, bedah sastra yang mencerahkan, reviu hi-fi yang andal (ya andal barangnya, ya pendapatnya), pencontohan modifikasi mobil yang hebat, kajian aristektural yang ilhami, perbincangan lingkungan hidup yang menyadarkan, sketsa sosial-politik yang lucu tapi mencerdaskan, dan seterusnya yang serba subyektif dan personal, berbeda dari media lawas…
Singkat kata, orang berharap sebuah blog akan bicara pengalaman dan pandangan pribadi tapi bermanfaat bagi orang lain. Wdauh.
Saya sendiri — mohon maaf — adalah termasuk blogger yang kadang melempar gojek kere. Apa yang saya tulis tak ada manfaatnya bagi khalayak ramai maupun sepi. Lebih celaka lagi, orang yang saya sasar pun tak peduli. Termasuk tak peduli terhadap blog apa pun.
Barangkali inilah egosentrisme saya dalam ngeblog. Mentang-mentang punya media sendiri — pemilik merangkap penulis dan penyunting — maka saya sesuka hati. Pinjam filosofi pede-istik jomblo angkuh yang seret peminat (padahal kesepian): naksir (eh, baca) ya syukur, nggak mau ya kebangetan.
Lantas Anda pun bertanya: ngeblog untuk apa dan siapa?
© Ilustrasi: unknown
Tags: egosentris, guyon, humor, ngeblog, partai, seleb, selfish

By pedestrian on Jul 7, 2008
itu namanya filosofi idih. saya kok cukup yakin pada awalnya semua orang ngeblog untuk diri sendiri
kalo ada yg merasa dapat manfaat dari situ, baik si pemilik atau orang lain, itu namanya bonus.
By Epat on Jul 7, 2008
ngeblog untuk berbagi, dari hal yang baik maupun bisa jadi pengalaman buruk pribadi. Berbagi dari secercah hikmah pengetahuan yang terlintas maupun opini keluh social, dll dst dsb lah…
menurut saya sieh begitu paman…
tentang kepartaian blog, itu sieh alamiah. dimana pun dan kapan pun manusia akan punya kecenderungan untuk berkelompok.
By arhan on Jul 7, 2008
*ngeblog untuk apa dan siapa?*
untuk dunia?
By iambadung on Jul 7, 2008
ngeblog untuk curhat colongan paman,
lah saya juga gak peduli orang mau ngerti blog saya apa nggak. hehehe…
buat lucu-lucuan saja, dari pada ngangon kebo yang saya gak paham.. mending ngeblog aja.. meskipun tetep gak paham juga.
By Hedi on Jul 7, 2008
makanya BHI udah bikin kaos, “who cares ’bout your blog”
By kw on Jul 7, 2008
lagi bosan ngeblog ya man? ngeblog untuk senang-senang aja. di baca syukur ngga dibaca ya diam-diam mengharapkan ada yang baca. hi hi hi
By Catshade on Jul 8, 2008
Semoga ‘manusia kursi’ Pesta Blogger tahun ini bisa menjawabnya…
By Catshade on Jul 8, 2008
Ups, kecepetan submit
Kalau melihat perkembangan reputasi blog yang semakin positif di negara-negara lain (Malaysia itu contoh yang bagus), saya rasa harapan itu nggak berlebihan. Mungkin memang blogosfir kita yang baru sampai taraf balita, masih egosentris dan mikir yang senang2 aja ^^; I’ll wait a few more years…
By nonadita on Jul 8, 2008
ngeblog untuk siapa?
tentu aja buat kepuasan saya
syukur2 ada pembaca yang suka
syukur2 ada yang jatuh cinta
wekekkekeekkeekke
By Joy on Jul 8, 2008
Yang pasti mas ketenaran Blog sudah melebihi situs2 komersial. Pengguna internet hampir semua menggunakan blog orang lain untuk mencari informasi yang diinginkan apapun itu…. Kakek buyut google juga dengan tersenyum menampilkan blog2 yang terindex dengan kata kunci yg digunakan untuk men-search…..
Itung2 ngeblog bisa mengurangi masyarakat indonesia yg tertegun menonton sinetron yg lebih ga karoan dari “blog”. membaca blog sungguh dapat menambah wawasan kita bergantung dari kategori blog yg kita pilih….
Intinya….(ciehhhh) pinter-pinterlah memilih blog yg layak dan relevan untuk dibaca sesuai keperluan yg anda cari…
Hidup nge-blog…. bertahanlah wahai “blog” sampai ajalku tiba….
By bangpay on Jul 8, 2008
wah ya susah paman, kalo pertanyaannya begitu… sesusah saya untuk memahami dan mengimani soal teori sayap kupu-kupu
By bangpay on Jul 8, 2008
wah ya susah paman, kalo pertanyaannya begitu… sesusah saya untuk memahami dan mengimani soal teori sayap kupu-kupu…
By masadrians on Jul 8, 2008
ngeblog untuk siapa?
kalau menurut saya, ngeblog itu sebaiknya ngeblog yang bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain…
By dil on Jul 8, 2008
pada dasarnya sih ya untuk saya sendiri paman…kepuasan sendiri aja..tapi lebih seneng lagi kalo ternyata ada manfaatnya bagi orang lain:)
By aguss on Jul 9, 2008
Klo menurut saya ngeblog selain untuk ekspresi jiwa dan pikiran penulis,juga untuk bikin opini , bantahan/hak jawab bagi yang disudutkan oleh media massa, alat parpol dlsb..
Pokoknya jadi Blogger sangat bermanfaat dan mengasyikkan untuk jaman sekarang.
Yang penting Positif thinking, semoga blog kita bermanfaat buat yg nyasar ke blog kita.
Kayaknya Om google lebih senang ama weblog daripada website biasa.
By Komik Foto on Jul 9, 2008
Kak Paman Tyo, ada partai blog baru nih: PKF (Partai Komik Foto). Sekretariatnya di http://komikfoto.dagdigdug.com/
By kangtutur on Jul 9, 2008
Lantas di mana “suara baru Indonesia”-nya?

*numpang nanya juga*
By yehia on Jul 10, 2008
ooooooo
By problogger from seruit on Jul 10, 2008
buat cari makan, buat cari jodoh, cari temen, cari gosip, cari masalah, cari proyek, cari apa ajahlah, soalnya udah kadung jadi referensi utama om gogle klo kita nanya apa ajah pasti larinya ke blog, kan piye toh
By titin on Jul 10, 2008
biar gak pikun. menulis dan mencurahkan isi kepala termasuk terapinya. dapat yang lain2 dari itu .. namanya bonus ..
By rodin on Jul 11, 2008
oo ternyata PBB = Partai Blogger B
kekekeke…
By Vikachew on Jul 11, 2008
Buat apa, ya? Biar mikir kali. Itung2 gratis, hhhhe :p
By anisa on Jul 11, 2008
ikutan aja lah abisanya ngga ngerti
By Yoyo on Jul 12, 2008
hari gene nggak punya blog ?
:) 
By antobilang on Jul 15, 2008
nunggu pencetus “suara baru indoensia” ikut njawab di sini.
By Qky on Jul 16, 2008
Ngeblog? Dari saya dan untuk saya!!! mo ikut nimbrung? nggak ngajak, kok, hehehe
By akucintakdi on Jul 16, 2008
ENJOy aJA
By kwak kwik kwek on Jul 25, 2008
fotokopi ktp skarang taripnya cepekceng katanya, masih dapet kaos dan bisa poto bareng si empunya parte, katanya lho katanya..hehehe