Archive for August, 2008

Ngeblog Riang, Nama Kondang, Duit Datang, Hati Girang

Sunday, August 31st, 2008

panen uang dari blog“Mas punya blog juga? Namanya apa? Kok aneh? Nggak serius nih. Kurang selling. Bentar saya buka. Lho kok nggak ada iklannya, cuma banner main-main? Rugi dong ngeblog kalo nggak ada duitnya…”

Anak muda itu nyerocos tanpa bisa direm. Serba-multitasking. Bertanya, bercakap, mengetik sementara matanya sesekali menatap layar laptop kecil.

Bukan pertanyaan pertama yang saya terima. Tempo hari saya juga ditanya beberapa orang dalam rekat kopi seminar. Mereka tahu saya seorang blogger karena saya dipersilakan maju ke podium untuk menerima doorprize.

Inti pertanyaan, tidak hanya dalam rehat seminar itu, adalah bagaimana ngeblog supaya dapat duit. Separuh dari penanya — bahkan kayaknya enam dari sepuluh — adalah orang yang mengaku belum punya blog. Mereka hanya mau ngeblog serius kalau ada duitnya.

Salah satu orang mengartikan serius itu sebagai “saben hari di-update, banyak yang baca, kita terkenal, tapi kitanya santai, terus duit datang…”

Sayang saya bukan orang yang berwenang menjawab begituan. Malah jawaban saya mungkin sering bikin kuciwa. Tentang banner atau advertorial, misalnya, ya saya jawab kalau harganya cocok atau hati saya kena atau saya sempat atau karena berteman baik.

Dari mana mengongkosi hosting di blogombal.org dan anak-anaknya, ya saya jawab, “Kalo ada duit ya saya ongkosin, kalo lagi bokek nggak bisa bayar ya saya biarin blog saya diturunin sama yang punya server. Simpel kan? Semoga Google mau menyimpannya.”

Lantas menulis, bahkan memotret dan melakukan perjalanan itu kan butuh biaya? Jawaban saya tetap: “Kalo ada ongkos ya jalan, kalo nggak ada ya nggak usah.”

Bagaimana kalau tidak ada ide? “Ya nggak usah nulis. Bahkan kebosanan terhadap internet kadang saya turuti. Sebaiknya ngeblog karena seneng, dari dorongan hati, bukan mau nyari duit.”

Saya mohon maaf kepada sorot-sorot mata yang kuciwa karena tak beroleh pencerahan. Saya menjawab apa adanya. Maka jujur juga saya jawab, saya ngebog di sini, dagdigdug.com, tidak ditariki ongkos.

“Lha kalo dagdigdugnya nggak bisa ngongkosin blognya Mas, gimana coba?” tanya seseorang. Jawaban saya selalu enteng, “Makanya Anda cariin duit.”

Dia garuk-garuk kepala. Mungkin gatal. Mungkin kesal.