Blog yang bukan Blog

Blog

Lho? Saya lupa siapa yang mengatakan apa yang kemudian saya jadikan judul itu. Intinya adalah konten yang menggunakan mesin blog tetapi isinya bukan blog seperti yang lazim kita kenal.

Memangnya blog lazim itu seperti apa? Ya seperti yang sedang Anda baca. Saya tulis, serasa melakukannya dengan penuh pikir, padahal ada bumbu salah ketik segala, lalu saya publikasikan.

Ah tapi itu kan identifikasi secara kuno?

Mungkin juga. Malah saya berpikir, jangan-jangan blog saya tentang label, barang, dan kartu itu juga bukan blog. Barangkali cuma gambar dan teks tak mutu yang dipampangkan di web dengan bantuan mesin blog karena saya tak puas dengan aplikasi galeri di web. Artinya, urutan kronologis sebetulnya tak bermakna, itu hanya konsekuensi dari pemakaian mesin.

Namun percayalah, teks tak mutu itu saya tulis dengan darah, keringat, dan air mata. Maaf, sudah berdusta. Berlebihan sih, tapi intinya bukan sekadar copy and paste.

Jadi begini saja supaya diskusinya gampang. Yang saya yakini sebagai blogging, untuk kepentingan pribadi, ternyata salah. Beberapa kali saya dikritik bahwa blog-blog saya kuno karena tidak mempermudah kerja mesin pencari.

Jawaban saya selalu kuno. Pertama: biarin aja, yang penting saya nyaman. Kedua: nanti toh akan ada ahli yang membantu supaya blog saya jadi cerdas. Yang penting saya tetap merasa sebagai blogger.

Begitu naifnya saya sehingga dulu ketika belajar CSS saya menamai gaya teks untuk judul blog sebagai “judul besar”, lantas judul artikel sebagai “judul tulisan”, dan untuk teks isi sebagai “isi”. Header saya namai “kepala” bahkan kadang “herder”, lantas footer sebagai “bawah” atau “kaki”.

Saya tak berkepentingan dengan validasi, yang penting menurut mata saya tampilannya nyaman dan layak pandang. Begitu kacaunya desain saya sehingga beda browser beda hasil. Supaya tampak cerdas, saya cuma mengganti meta-name dengan kata apa saja yang menurut saya lucu. Khas ilmu HTML tahun 90-an. Jadul. Bodoh. Tapi saya bahagia.

Lantas hubungan semua perkara tadi dengan “blog yang bukan blog”?

Karena di blogosfer banyak isi membingungkan yang menggunakan mesin blog. Di blogspot.com, misalnya, banyak sekali. Sebagai teks tampak rapi (secara visual). Tapi dari nilai kandungan jadi membingungkan. Ada tulisan yang isinya cuma tags — biasanya berhubungan dengan yang saru atau cabul. Ada yang hurufnya warna-warni seolah berniat mempermudah mata. Ada yang, hehehe, cuma copy and paste dari mana-mana. Atau cuma berisi tautan ke halaman pengunduhan, dengan bumbu teks yang mirip template karena hampir sama. Lebih aneh lagi, ada yang tak memuat tanggal apalagi jam publikasi.

Tapi blog-blog aneh itu punya persamaan: banyak iklannya! :D

 

Kategori dalam tulisan pun mengarah ke bisnis, misalnya “USA holiday” dan “vacation package”. Tidak ada itu kategori “jalan-jalan”, “ngeluyur”, atau “dolan”. Untuk kategori berbau erotis dalam bahasa Indonesia, tidak ada itu “syuur atau “kangen” atau “pengin” atau “demen aja” atau “uh, maunya!”.

Salahkah itu? Tidak. Itu soal pilihan penulisnya. Kalau penyedia blog hosting tak berkeberatan maka apa salahnya kan?

Saya sama sekali bukan orang yang anti terhadap upaya duitisasi blog. Malah bagus kalau orang ngeblog lantas mendapatkan manfaat ekonomis. Minimal bisa untuk menutupi biaya akses internet dan ongkos melek. Syukur kalau bisa kaya raya — sama seperti musisi, aktris, dan perupa yang tiba-tiba jadi makmur. Oh ya, saya juga pengin.

Bagaimana jika ada pembaca terkecoh, baik karena giringan mesin pencari maupun pampangan dari sebuah halaman direktori? Mengesalkan juga sih, karena orang tersesat tampaknya memang harapan si pemilik blog.

Artinya, saya pun termasuk mengesalkan karena sebagian pengunjung blog-blog saya adalah orang yang tersesat. Mungkin satu dari seratus suka, tapi sisanya kuciwa parah dan jera.

Apakah cara blogging mereka yang aneh-aneh itu kreatif?

Penganut ngeblog dengan sepenuh hati — disertai darah, keringat, dan air mata — mungkin menganggapnya kurang kreatif. Barangkali malah akan meledeknya, “Mereka nggak akan bisa cerita ’seperti pernah saya tulis dalam salah posting saya…’ soalnya nggak ada yang bisa diceritain.”

Ah nanti dulu. Bisa jadi pelakunya justru merasa kreatif dan rasional karena tak perlu buang waktu dan energi untuk menye-menye nggak jelas, mana miskin kunjungan pula.

Apakah mereka itu layak disebut blogger?

Itu terserah masing-masing orang. Hak setiap orang untuk mengaku sebagai blogger maupun bukan blogger. Bisa saja saya menyebut diri sebagai blogger tapi Anda tak sepakat.

Tapi misalnya mereka mengaku sebagai bloggers, maka pemilik blog aneh-aneh itu selayaknya ditampilkan dalam Pesta Blogger. Kita tak mungkin memonopoli kebenaran, dan cara yang berbudaya adalah mempersilakan yang beda dari kita untuk bicara agar cakrawala pemahaman kita kian terbentang.

Siapa tahu dari sana kita mendapatkan pencerahan. Bukan begitu bukan?

© Gambar pohon uang: entah