Blog Luapan Dendam

Blog

Sakit hati bisa lama sembuhnya. Dan rasa sakit itu bisa menular, meluas, bahkan sampai ke orang lain yang yang oleh si sakit hati diyakini sebagai sumber luka.

Siapa benar siapa salah, bagi penonton kadang membingungkan.

Itu wajar karena posisi seseorang dalam setiap kemelut akan menentukan cara pandang. Termasuk di dalamnya posisi sebagai orang luar.

Luka. Kesumat. Niat mulia untuk meluruskan yang bengkok dengan menyajikan semua aib. Semuanya bisa bercampur dalam kuali didih bernama blog.

Kuali itu bisa berkuahkan kekesalan terhadap bekas kekasih. Biasa juga kualinya berisi kuah amarah teradap bekas tempat bekerja, bekas sejawat, dan bekas juragan.

Siapa benar siapa salah butuh pembuktian.

Di luar bukti adalah siapa yang lebih kuat dan lebih cerdik. Itu pun dengan mengingat perbedaan menentukan sasaran. Pemilik kuali mungkin cukup merasa puas bila titik didih tercapai, kuahnya tumpah, lalu api dibiarkan padam, dan orang lain diharapkan takkan lupa.

Adapun si (bekas) pemilik sumber daging dan sayur isi kuah mungkin menetapkan sasaran lebih jauh. Tak cukup hanya memadamkan api dan bara melainkan juga meniriskan seluruh kuah dan menghancukan kuali itu, bila perlu menghentikan kiprah si pemasak. Jika kuasa dalam genggaman, maka olah gerak lebih leluasa. Jaringan organisasi yang berintikan perseroan berhadapan dengan perorangan.

Kemudian hukum dibawa-bawa. Polisi bertindak. Mungkin pengacara juga akan bersengketa. Pembaca blog didih kian bingung.

Siapa benar siapa salah butuh timbangan. Bandul pemberat neracanya adalah nalar dan nurani. Tetapi ini pun sulit.

Maka yang terjadi adalah perebutan opini khalayak yang berujung pada menang dan kalah dalam meyakinkan orang banyak.

Dalam perebutan itu, cara bertutur ikut menentukan. Ungkapan yang terlalu kasar dan mentah, meski sesuai kenyataan, berkemungkinan menggerogoti simpati dan dukungan. Ujung-ujungnya sebagian orang akan menganggap si pemilik kuali bermasalah dengan dirinya sendiri, lagi pula ingin mencari sensasi — padahal bukan begitu potret nyatanya. Kita pun, dalam batas tertentu, paham bahwa amarah dan dendam sering tak memberi kesempatan kepada budi bahasa.

Blog memang mengasyikkan, namun itu bisa menjadi ranjau manakala keasyikan sepihak dianggap mengganggu keasyikan orang lain.

(Layak simak: Rahasia kumpeni dalam blog)

© Foto ilustrasi: ttt.astro.su.se