Belajar dari Blog Wajah Jogja

Blog

Tapi ia khilaf karena suatu sebab. Dilanggarnya pantangan, dimamahnya nasi dan datanglah hukuman: cincin itu hilang begitu saja. “Saya hampir gila,” ujarnya.

Siapa dia? Mungkin tak penting bagi Anda. Saya pun baru tahu setelah membaca laporan Fian Khairunissa yang diposkan oleh Zen sang pejalan jauh. Dia, lelaki tua itu, adalah penjaga kuburan Taman Sari, Yogyakarta. Dia bernama Mbah Arek.

Yogyakarta bukan hanya Sultan, Suharti, Purdie E. Chandra, Nindityo Adipurnomo, Djaduk Ferianto, Tikabanget, Herman Saksono, Antobilang, dan sebut nama lain yang Anda tahu (sengaja tanpa tautan). Ngayogyakarta Hadiningrat juga ruang huni bagi Mbah Arek, Widodo si Dokter Mesin, Pak Mugi Becak, Bu Slamet Warni Juru Parkir, dan masih banyak lagi.

Mereka, yang saya sebut belakangan, adalah orang-orang biasa. Kemudian bloggers Yogya nenampilkannya. Sudah agak lama sih, mulai Oktober tahun lalu.

Januari ini saya buktikan blog keroyokan itu masih bernapas. Dan mestinya terus bernapas. Sudah termaktub dalam penjelasan:

“Dari merekalah situs ini menularkan spirit yang membuat Jogja… beda”.

Saya mengagumi semangat teman-teman. Saya, yang pernah menjadi wartawan (yang yah… cuma gitu-gitu aja), tak pernah sanggup membuat blog profil semacam itu — pun tak sanggup mengawal wiki kenthir ala Cah Andong.

Tulisan-tulisan yang pendek (tak senyinyir posting saya umumnya), bernas, tanpa meniatkan diri menjadi karya jurnalistik bernama berita kisah (features), tanpa mengibarkan slogan kultur tandingan, itu semua terasa menyentuh dan seringkali ilhami. Selain itu sentuhan personal justru memperkuat laporan. Seperti dalam penutup Mbah Arek:

“… Saya malah menemukan kembang kamboja berkelopak enam. Saya tidak tahu, adakah enam keberuntungan yang akan saya dapatkan.”

Kini yang saya rindukan adalah wajah-wajah lain, dari wilayah lain, berupa blog dengan tema lokal yang kuat dan khas, tak hanya jajanan dan tempat bersejarah tetapi juga tentang manusia-manusia penghuninya. Manusia-manusia biasa, yang hanya menjadi kode dalam registrasi kependudukan, tetapi sebagai makhluk, yang tentu berjiwa dan berkehendak, masing-masing dari mereka adalah sebuah unikum.

Konten internet di Indonesia (akan) menjadi lebih kaya justru karena diisi oleh orang-orang Indonesia dan orang-orang non-Indonesia yang bersentuhan dengan Indonesia. Dua puluh tahun lagi — oh tidak, cukup sepuluh tahun lagi, atau malah kurang — tulisan tentang orang-orang itu, sebagai bagian dari potret sosial Indonesia, akan terasa manfaatnya.

Ayolah, kawan. Siapkanlah komunitas Anda untuk menggarapnya. Rangsanglah. Paculah.