Ngeblog pun Cocok untuk (Calon) Pensiunan

Blog

“Nanti kalo wis pensiun aku mau jadi penulis. Ha, mulai sekarang aku kudu belajar. Tapi piye carane?” kata seorang kawan. Padahal pensiunnya masih sepuluh tahun lagi.

“Maksudmu jadi kolumnis? Nulis di koran?” tanya saya. Dia mengangguk mantap. Lantas dia menyeruput tehnya, di angkringan di Jalan Mangkubumi, Yogyakarta, tiga pekan lalu.

Dengan jumawa bin pongah saya bilang, “Lupakan itu. Ndak usah.”

Tentu saja dia bingung. Sejak kuliah dia ingin menjadi penulis. Setelah bekerja di Pemkot dia sempat berurusan dengan naskah. “Lha kalo ndak nulis di koran, aku mau apa?”

Saya bilang manfaatkanlah blog. Kalau malas bikin blog, jadikan saja Notes di Facebook-nya sebagai ladang untuk menulis.

“Mulai kapan enaknya, Dab?”

“Kemarin. Atau sebelumnya.”

Memang menulis di blog tak akan mendapatkan honor, kecuali ada yang mensponsori. Tapi yang penting, menulis di blog itu merdeka, pemuatan naskah tak perlu bergantung pada editor.

Menulis di koran? Artikel harus antre, kecuali kalau tulisan itu adalah pesanan redaksi. Di koran cetak, penulis tak akan langsung mengetahui tanggapan pembaca, bahkan tak tahu persis berapa jumlah pembacanya.

Di blog, penulisnya akan mendapatkan tanggapan langsung (jika ada yang bersedekah komentar), tahu jumlah pembaca (kalau memasang pencatat), dan bisa mendapatkan kawan baru. Sial-sialnya, yang menjadi pembaca yang kaum sebaya, karena diikat oleh cohort yang sama.

Ya, ya, ya, ya. Kawan saya mulai tertarik.

Ehm. Saya akui ini bukan ceramah pertama kali secara tatap muka. Juga saya akui sebagian tak membuahkan hasil padahal korban sudah membuat akun di layanan blog. Banyak sebab, banyak kilah. Ngeblog memang susah.

Salah satu sebab adalah ketika mulai nginternet: pasangan seringkali merasa tak ditemani. Seperti halnya buku, internet adalah dunia diam. Anteng di fisik tapi berkecamuk di benak. Orang lain tak mudah dilibatkan seperti halnya menonton TV.

Bedanya, internet itu melebihi buku dan majalah. Ada interaksi di sana, bisa lebih dari seorang. Maka berbagialah kaum sepuh yang sejak awal tak pernah dihalangi pasangan untuk membaca buku, menikmati musik, dan aktivitas pribadi lainnya. Online hanyalah babak kelanjutan.

Seorang kawan bercerita, jikalau dia mancing seharian, atau bersepeda, atau mengurusi ikan dan burung sendirian, itu tak pernah dipersoalkan oleh istrinya.

“Tapi kalo baca atau online sendirian, katanya bikin orang lain kesepian. Lebih baik suami pergi daripada di rumah tapi asyik dengan diri sendiri,” keluhnya.

Saya pun berpikir satu hal. Menjadikan internet sebagai aktivitas hari tua rupanya memerlukan “penyuluhan” (aha, pakai istlah jadul sekalian). Tak hanya bagi seorang suami atau istri, tetapi juga pasangannya.

Jejaring sosial semacam Facebook bisa membantu mereka merasakan senangnya berinternet. Bisa ketemu kawan lama. Juga bersua pacar lama — tapi sudah sama-sama sepuh dan bercucu, tak ada alasan pasangan untuk cemburu.  Sekadar catatan, pengguna baru Facebook matang di beberapa negara memang tumbuh cepat, melebihi remaja (misalnya data di sinii).

Lebih dari itu, layanan internet bisa dipakai untuk berbagi cerita dan pengalaman, setidaknya untuk cucu, bahkan kontennya bisa diwariskan. Dan yang lebih penting lagi, karena aktivitas itu bisa mengerem kepikunan.

Lantas siapa yang akan mengajari kaum sepuh itu? Bloggers belia dan bloggers (rada) tua, mestinya. :D Ada saran?

© Gambar asli untuk ilustrasi: Lions Recycle for Sight