Ngeblog Secara Intelek :)

Blog

 

Ada kawan yang ragu ngeblog karena, “Saya nggak intelek. Nggak bisa nulis yang keren, yang kutipannya sama referensinya intelek atau ilmiah, gitu. Malu jadinya.”

Oh, barangkali yang dia maksudkan adalah blog dengan isi seperti jurnal ilmiah, yang penuh catatan kaki, pakai “Ibid.” dan “Op.cit?”

Ternyata bukan. Blog intelek, menurut kawan itu, adalah yang mengutip pendapat ilmuwan, sastrawan, dan orang hebat lainnya.

“Misalnya ngutip (Karl) Marx dan Tan Malaka. Atau ngutip Woody Allen, atau Andy Warhol, atau Pram(oedya Ananta Toer) dan Goenawan Mohamad,” katanya. “Kutipan itu nunjukin kalo penulisnya banyak baca. Artinya intelek, kan?”

Aha! Saya bilang, kutipan mah bisa dicari pakai Google. “Tapi kalo saya belum baca bukunya malu juga dong. Masa sih cuma ngutip doang?” sanggahnya.

Baiklah, memabaca itu memang baik dan bermaslahat. Lantas apa lagi ukuran “intelek”?

“Anu, itu lho, pakai kata-kata yang ilmiah, yang keren, pokoknya bukan bahasa Pos Kota,” katanya. Hmmm… rada bingung saya. Maka saya pun minta contoh.

“Gini, misalnya pakai kata liyaning liyan, hermeneutika, holistik, ontologis, marginal, tepermanai…”

Aha! Bagi saya yang penting adalah kita, sebagai bloggers, nyaman dan cocok dengan pilihan kata kita dalam menulis. Syukur jika pilihan kata kita itu dipahami para pembaca karena secara semantik benar. Misalnya “konsumerisme” yang kita maksudkan adalah paham yang memperjuangkan kepentingan konsumen, dan bukan perilaku konsumtif yang berlebihan. 

Selain itu ya keseluruhan tulisan dapat dipahami, tidak menimbulkan salah tafsir, dan syukur jika enak dibaca.

Kita boleh melahap banyak bacaan lalu kita serap inti pemikirannya. Itu memperkaya kita. Tanpa sadar hasil serapan kita terhadap dunia teks (tak hanya verbal berupa tulisan, tetapi juga yang auditif dan visual) bisa tecermin di blog.

Memang sih kita bisa dituduh sebagai penjiplak, yang mengaku-aku ucapan orang lain sebagai tuturan sendiri, padahal penyebabnya hanyalah semata-semata kita lupa itu ucapan siapa dan di mana, atau malah menyerapnya dari penutur kesekian. Misalnya kata-kata “perjuangan ingat melawan lupa” dan “maka hanya satu kata: lawan!”  Tak apa, itu risiko. Justru bagusnya blog adalah ini: kita terbuka terhadap pengingat dan bahkan koreksi.

“Jadi kita nggak perlu pamer apa yang kita baca?” tanyanya.

Terserah. Itulah jawaban saya.

Dianggap kurang intelek pun bukan soal bagi saya karena saya memang bukan (cerdik-) cendekiawan maupun pengamat yang tumbuh seperti cendawan. Dan yang lebih penting lagi saya memang tak pernah merasa sebagai intelectueel.