Belajar dari Kota 1001 Ruko

Blog

Sebuah piknik menyambut fajar yang menyenangkan. Dan memang piknik dalam pengertian yang benar. Kalau merujuk KBBI adalah: “bepergian ke suatu tempat di luar kota untuk bersenang-senang dng membawa bekal makanan dsb.” Di Webster dan Oxford silakan Anda cari sendiri.

Pagi, sebelum pukul lima, teman-teman Batam (Joko Geblek Supriyanto, Dev Syam, dan Keqi Authorized Kampret) sudah di Circle K sebelah Hotel Mercure. Mereka harus sebisanya bangun pagi. Sama seperti saya dan Enda Nasution juga.

Sebagai tuan rumah mereka ingin buktikan kepada tetamunya tentang pesona Jembatan Barelang, penghubung pulau-pulau Batam-Rempang-Galang dan empat pulau kecil lainnya. Terbukti itu bukan hanya piknik tetapi perjalanan yang menyenangkan, termasuk napak tilas pengungsi Vietnam di Galang.

Bloggerhood” tecermin di sana. Begitu pula di kota-kota lain. Ada kesadaran untuk memperkenalkan pesona lokal kepada orang luar, termasuk kepada rekan-rekan maya yang baru sekali itu bersua. Hal sama berlaku untuk “miliser”. Komunikasi maya pada akhirnya membentuk persaudaraan.

Jika bicara pesona lokal, dalam hal apa saja bloggers lokal akan melakukannya? Salah satunya adalah kompetisi blog oleh Batam Blogger Community (BBC) selama 1-25 April, yang hasilnya diumumkan Sabtu 13 Juni lalu (dan tanpa rencana: sekalian perayaan ultah Ismu Surizan, ketua panitia). Temanya adalah Melihat Batam Melalui Blog — dan melalui CoolJuz Cafe. :D

Hasilnya adalah sekitar 587 posting dari kalangan umum mahasiswa serta sekitar 217 dari kalangan pelajar. Memang, satu orang bisa menulis beberapa posting — dari kalangan pelajar, misalnya M. Haryadi Futra, sampai menghasilkan 62 posting. Sungguh sebuah gairah.

Berhasilkah upaya memperkenalkan Batam yang bukan cuma kawasan bisnis dan industri kepada orang luar? Waktu yang akan menjawabnya. Google dan pencari lain akan mencatatnya. Blogger yang kebetulan wakil walikota Batam, Ria Saptarika, akan terus berupaya. :)

Tentu, misalkan keseluruhan paket posting dikemas lebih ramah SEO yang pintar pun (karena beberapa aktivis BBC paham baget soal ini) tetap butuh upaya lain, tak hanya kompetisi blog. Temuan siang ini, dari 10 hasil pertama pencarian “batam” di Google (dari sekitar 5.660.000 hasil telusur), yang dari blog hanya satu, itu pun tahun 2006.

Tak ada hasil instan. Tetapi semangat memperkenalkan daerah itu yang layak diacungi jempol. Memperkenalkan aspek wisata, sejarah, tradisi, dan kuliner.

Bagi orang Batam mungkin menggelikan jika sampai hari ini ada orang terpelajar (dari luar Batam) yang menganggap Tanjungpinang ada di pulau itu. Saya sendiri jujur saja, sejak SD sampai SMA hanya tahu bahwa Tanjungpinang itu di Riau tetapi saya tak tahu di pulau apa.

Sekian lama, orang-orang di luar Riau dan Kepulauan Riau lebih tahu Tanjungpinang dan Tanjungbalai Karimun. Dan sebagian orang (tua) mengenal Galang sebagai kamp pengungsi Vietnam.

Batam? Kemudian lebih dikenal, antara lain pada masa jayanya barang-barang murah di sana, bahkan pada tahun 90-an, ibu-ibu di Jawa tahu bahwa harga bawang putih (tak hanya elektronik) lebih murah di Batam.
Meskipun begitu, apa itu Otorita Batam dan apa itu Kota Batam, orang luar (menurut kesan saya) masih bingung.

Nah kemudian dari blog saya tahu bahwa Batam lebih banyak. Ada 24 resto vegetarian di sana (pelanggan lebih dari 3.000 orang). Ada kampung suku Anak Laut (cerita Menixnews dan Bambang Syahputra). Ada klub untuk “s8erboyzBascom. Ada cerita tentang reservoir air di pulau panas itu. Dan… ini yang menyentuh: rumah liar (ruli) yang selama ini muncul di koran-koran sebagai potret sosial. Batam bukan cuma pabrik, karaoke (dan dulu: judi), dan air api yang lebih murah daripada Pulau Jawa.

Dari kunjungan yang kali ini relatif lebih lama, saya mendapatkan kesan bahwa Batam adalah kota dengan banyak ruko. Saya belum mendapatkan data jumlah ruko untuk sekitar 950.000 penduduknya. Kelak akan muncul cerita dari sana, sebagai kelanjutan dari posting Iqbal Rois: Kota 1001 Ruko.

Foto-foto di Facebook