Wonosobo: Dari Ikan di Parit sampai Mi Ongklok

Umum

Apa yang Anda ketahui tentang Wonosobo di Jawa Tengah? Lihatlah peta Pulau Jawa, maka wajar saja jika Bupati Kholiq Arif dapat berkata kotanya memang tepat di tengah Jawa. Informasi lain dapat Anda cari di internet, baik dari bloggers Wonosobo maupun portal e-Wonosobo.

Apa yang saya ketahui tentang Wonosobo? Tidak banyak. Beberapa kali, dalam selang waktu berjauhan, saya melewati kota adem itu. Saya sangat berjarak.

Begitu berjaraknya saya sehingga kepongahan saya pun muncul. Saya gumun dan terkesan oleh temuan tak sengaja. Suatu petang, 24 Juli lalu, selagi menunggu bloggers pelbagai daerah datang ke pendopo kabupaten, saya berjalan-jalan bersama Iman Brotoseno dan Sita. Antara lain untuk mengudap ronde.

Mereka berhenti di depan sebuah warung rokok. Di situ ada parit. Apa menariknya? Saya mendekat. Ada grojokan di situ, ikan-ikan emas hidup dalam kolam deras. Gemuk-gemuk.

Pak Prayit, berusia 50-an lebih, pemilik warung yang memiara ikan itu (“Sudah lama, sedari saya muda,” katanya) menyatakan bahwa ikan-ikannya aman. Belum pernah sekalipun dicuri. Maka setiap kali ada pemesan dia tinggal menjaring ikan, tak pernah ada yang hilang sebelum terjual.

Saya bayangkan, tanpa dijaga preman, atau pemiliknya memang jagoan yang sedikit bicara banyak tikam, di Jakarta sulit sekali memiara ikan di parit deras yang terbuka (tanpa karamba) — kecuali di taman yang tertutup dan terjaga. Itu pun dengan catatan air paritnya memang takkan membunuh si ikan.

Lantas apa hubungan ikan Pak Prayit dengan kepongahan saya? Dengan segala maaf, saya merasa ikan-ikan itu adalah bagian dari cerita lokal Wonosobo yang perlu diketahui oleh orang luar. Ada romantisisme membuat berita kisah (features) dalam ajakan saya kepada teman-teman.

Padahal bisa saja itu tak menarik bahkan tak penting. Terlalu banyak yang bisa diceritakan tentang Wonosobo dan harus jujur saya akui bahwa saya tak ikut tur siang sebelum saya datang petang, yaitu menengok kerajinan batik. Wonosobo punya batik dan saya belum pernah dengar. Bukan perajin batiknya yang kebangetan tetapi saya sering pakai sarung batik (tapi tak tahu nama motifnya).

Tentang Wonosobo, yang terbayang tentu Dieng. Padahal sebagian besar kawasan wisata Dieng adalah wilayah Kabupaten Banjarnegara. Wonosobo menjadi gerbang dan pengumpan wisatawan masuk ke Dieng.

Wonosobo dan kawasan sekitar juga berubah, termasuk yang negatif: berkurangnya sumber air akibat penebangan liar. Untunglah Pak Bupati tidak bosan mengingatkan (saya dengar dari orang lain, dia pernah mengeluarkan ancaman keras yang kontroversial). Bekas wartawan Jawa Pos itu menjadikan khotbah Jumat-nya untuk penyadaran lingkungan.

Hanya ikan Pak Prayit, batik lokal, dan  tentang birokratkah yang dapat dikuak dari Wonosobo? Bersyukurlah kepada internet dan anak-anak muda kawannya Tyovan. Merekalah, dan kemudian bloggers dari wilayah lain, yang terus memperkenalkan isi kota itu. Termasuk di antaranya memperkenalkan mi ongklok.

Mi ongklok? Saya lupa asal mula kata “ongklok”. Inilah kuliner lokal yang menyajikan mi rebus dan kol, dengan guyuran kuah kental kanji berbumbu ebi. Rasanya sedap. Aroma dan rasa udang terhidang di sebuah pegunungan yang jauh dari laut. Masih ditambah lauk tempe kemul dan sate sapi.

Hanya makanan, kata Anda. Cuma kudapan, kata Anda lagi. Tapi mi itulah salah satu cerita yang diingat dan diceritakan para bloggers tetamu peresmian komunitas blogger Wonosobo. Sebuah public relations yang menarik.

Kelak akan semakin banyak bupati dan walikota yang memanfaatkan bloggers untuk mengkomunikasikan wilayahnya. Para bloggers tak hanya ngeblog, mereka juga aktif di jejaring sosial. Mereka membangun konten.

Yang kemudian diperlukan adalah pemeliharaan isu, bukan cuma one shot saja karena proses komunikasi memang merupakan langkah panjang.

Kelak pertanyaan “Apa yang Anda ketahui tentang Wonosbo (dan kota lainnya)?” akan terjawab dengan cepat, baik secara lisan maupun penunjukan tautan oleh mesin pencari.