Ingin Laku sebagai Blogger? Menulis Saja tidak Cukup!

Umum

Lebih dari sekali saya mendengar semacam ini: “Si Anu itu isi blognya nggak bagus, ceritanya nggak asyik, update juga jarang apalagi setelah ada Facebook, ejaannya banyak yang salah, kemampuan bahasa Indonesianya kayaknya pas-pasan, tapi kenapa dia top ya?”

Hanya jika merupakan penugasan dari sekolah maka sebuah blog dapat menjadi bahan penilaian bagi guru, terutama guru bahasa.

Di luar itu blog adalah urusan suka-suka. Sesuka yang menulis, dan sesuka pembaca yang menyukainya. Bukankah setiap blog punya pembaca, minimal si penulis dan server?

Maka kita lihat saja apakah semua blog guru bahasa itu menyenangkan, dan apakah semua blog editor majalah dan buku itu mengasyikkan bagi Anda — siapa pun Anda.

Jadi? Anggap saja isi blog itu soal kecocokan si penulis dengan pembacanya. Lebih menarik berbicara soal lain.

Misalnya? Soal bisnis. Inilah peluang Anda, tetapi sayang tak semua orang akan meraihnya. Ya, mirip showbiz: sama-sama bisa tampil, bahkan bisa menyanyi, tapi ujung peruntungannya beda.

Diniati atau tidak, setiap blogger membangun citra diri sebagai sebuah brand. Tepatnya personal brand. Sosok pribadi si blogger di mata penggemarnya punya nilai tertentu. Kata “tertentu” itu nggak cuma berarti bagus, tetapi juga mewakili sebuah dunia.

Di situlah urusan bisnis bisa masuk — baik Anda undang maupun karena mereka yang mengetuk pintu. Tapi ingat, yang namanya bisnis tidak harus berbau komersial. Bisa saja teman Anda menjadi duta merek laptop,  ponsel, atau sneakers, sementara Anda menjadi duta kampanye stop merokok dan donor darah. Kesemuanya atas dasar kesepakatan.

Oh, harus popular dulu ya? Ya. Popular itu tak hanya tenar, tetapi juga diterima dalam pergaulan, punya pengaruh, punya pengikut. Tulisan Ndoro Kakung tentang pemuka puak bisa Anda rujuk.

Tapi ingat, seorang blogger tenar yang popular belum tentu memiliki sosiabilitas yang bagus, baik di dunia maya maupun nyata. Pemilik merek takkan mau menggunakan blogger yang malas kopdar, kurang showy, cenderung pemalu bahkan introvert, sok misterius, malas mengisi status dan dinding Facebook, jarang mengisi Twitter, Plurk… dan minim bergaul maul dalam aneka layanan online untuk komunitas.

Walah, nggak gampang ya? Memang. Kalau tujuan Anda adalah menjadi duta merek atau dipercaya oleh industri, itu tak gampang — apalagi jika sekian syarat kesuksesan tak cocok dengan kepribadian Anda. Tetapi saya pribadi menganggap itu sebagai semacam garis nasib seperti dalam showbiz. Matematikanya rada membingungkan.

Jadi, lakukan saja apa yang Anda senangi dalam ngeblog dan aktivitas online lainnya. Jadilah diri sendiri — dengan maupun tanpa niat menjadi tenar bahkan popular. Jangan mudah iri apalagi dengki — kasihan hati kalau diracuni. Melihat bloggers lain mendapatkan rezeki, mestinya senang — meski nggak kebagian. Simpel kan? :D

Lebih bagus lagi kalau Anda sering “menjual” bloggers lain dalam arti positif. Yang ini butuh ketulusan. Padahal ketulusan itu, kata beberapa orang kikir, sangatlah mahal. :D

© Ilustrasi: Study for a House of Sociability, oleh Hermann Finsterlin (1887-1973), Museum of Modern Art, New York