Spirit Ngeblog Menantang Tugu Pahlawan

Umum

Masa sih setiap orang dari 30 juta pengguna internet di Indonesia cuma menghasilkan satu halaman konten web? Maka, meskipun Facebook dan Twitter menyenangkan, jangan lupa untk ngeblog. Begitu kira-kira ajakan Donny B.U. dari ICTWatch dalam perayaan ulang tahun kedua komunitas Tugu Pahlawan di Surabaya kemarin.

Memang ada keluhan blog mulai surut, sepi, miskin interaksi, sehingga Facebook dan Twitter pun disukai. Saya juga mendengar ada sebagian anggota Politikana, Ngerumpi, dan lainnya lebih terpuaskan di wadah baru karena mendapatkan respon.

Interaksi, konversasi, silaturahim (eh, silaturahmi), memang sangat dibutuhkan. Apalagi untuk masyarakat yang guyub, doyan kopdar. :D

Tentang konten Indonesia oleh orang Indonesia, itu sudah sering saya lontarkan. Saya jadi mirip MP3 player dengan koleksi lagu yang terbatas. Misalkan di-shuffle, ya munculnya itu-itu melulu, baik di Bekasi, Ponorogo, maupun Wonosobo. Spirit yang sama saya lontarkan ketika menyambut Pesta Blogger 2009 di Jakarta. Mirip kondektur bus AKAP (antarkota antarpropinsi): jualannya sama ke mana pun trayeknya.:D

Stiker sedot WC

Maka ajakan Donny sungguh menggembirakan. Bahwa dalam blogging terdapat ranjau — sejak HAKI sampai pencemaran nama baik versi UU-ITE — bagi saya itu bukan alasan untuk menyerah. Bahwa pasal 27 UU-ITE ayat 3 itu adalah ranjau yang sangat berbahaya, ya marilah kita perdalami untuk mengenal kiat aman, lalu kita menawar lagi.

Dengan maupun tanpa pasal  itu, sesungguhnya setiap lontaran pendapat di ranah publik (tak hanya di internet) mengandung risiko — dari respon sosial yang negatif  sampai urusan pengadilan.

Saya bisa saja disebut represif, “prokapitalis”, “neoliberal” (halah!), antiekonomi rakyat, dan congkak, jika menggugat penempel stiker sedot WC di pagar rumah saya — stiker yang kalau hari ini saya lepas maka besoknya stiker baru tertempel lagi (begitu pula di tetangga saya). Risiko cara penyampaian pesan ada di penyedot WC, dan risiko terkena opini negatif ada di pihak saya. Padahal saya dan penyedot tak hanya sama-sama rakyat tetapi juga masing-masing menjadi pengisi septic tank.

Persoalannya adalah sejauh apa kita mengenal ranjau-ranjau itu? Anda berhak menyatakan keberatan, bahkan minta penghapusan berkas, jika foto Anda dalam pose yang tidak keren, bahkan memalukan, saya pasang di web. Tentang ranjau silakan Anda konsultasikan di Lintasan. Bisa juga ke ICTWatch.

Menulis di blog

Sesungguhnya inilah masalah umumnya orang: “Apa yang bisa saya tulis, bagaimana menuliskannya?” Malu juga kalau saya lagi-lagi menjadi pemutar musik. Sejumlah tulisan saya di blog ini dan tempat lain sudah menjadi contoh yang mengesalkan karena sok tahu, sok menggurui.

Begawan blog Sawali Tuhusetya dalam acara kemarin melontarkan satu hal yang penting: pemanfaatan bahasa sesuai “mazhab” setiap blogger. Sebagai guru bahasa (”Bukan ulang tahun TPC kedua, tapi ulangtahun kedua TPC,” katanya), Sawali tidak bisa menerima “cara Tarzan”: setiap blogger menciptakan pola kebahasaan sendiri tanpa hirau konteks kultural dan latar sosialnya.

Sebagai harapan, lontaran Sawali berinterseksi (bertumpuk irisan atau bertumpangsuh) dengan tulisan saya tentang termehek-mehek, Cicak versus Buaya, dan penulisan bilangan. Tak usah Anda klik tautan tadi. Saya hanya ingin menyatakan bahwa blog (mestinya) bisa memperkaya bahasa Indonesia, syukur jika blog tidak menjadikan kita sebagai dwibahasawan yang tanggung.

Memang perlu waktu. Menulis itu tidak mudah — padahal mengasyikkan (asal mood cocok dan koneksi tersedia). Jika ditambah faktor minimnya respon maka semakin lengkaplah alasan untuk tidak menulis. Apalagi jika ditambahi kemalasan (sesaat) karena saya pun kadang malas membaca maupun terlebih menulis.

Microblogging vs Megablogging

Di tengah situasi itu muncullah Facebook dan Twitter. Menurut Donny, status di Facebook itu tidak (atau belum?) terindeks oleh Google, sehingga hamburan kata-kata kita tak berjejak.

Harap dicatat, Donny tidak melecehkan status di mikroblog, karena dia pun memberi contoh bahwa pengeboman di J.W. Marriot dan Carlton di Jakarta tempo hari itu muncul pertama di Tweeter-nya Danny Tumiwa. Donny juga mengingatkan, bahwa mainsteam media (misalnya CNN) selalu memantau kata “bomb” di Twitter.

Hari ini saya membaca lontaran juragan WordPress Matt Mullenweg: Micro-blogging vs Mega-blogging. Pertumbuhan WordPress jalan terus, sementara Twitter cenderung datar. Saya sepakat bahwa persoalannya bukan “versus” melainkan “dan”. Tak perlu dipertentangkan.

Mikroblog dan megablog saling melengkapi. Bahwa tak semua penggemar Tweeter dan Facebook itu rajin ngeblog cara lama, demikian pula sebaliknya, itu adalah pilihan. Semuanya mengasyikkan. Bahwa sampai ada blogger yang lupa caranya ngeblog karena sudah lelah akibat seharian nongkrongin Facebook dan Twitter itu juga pilihan. Janganlah kita merampas kebahagiaan orang padahal dia tak merugikan kita.

Karena alam telah mengajarkan seleksi, maka terhadap mereka yang masih tetap ngeblog –justru “di tengah menurunnya tren ngeblog” — layak kita beri apresiasi. Merekalah yang meninggalkan jejak melalui tulisan, termasuk di Facebook Notes.

Selamat ulang tahun bloggers eh narablog dari Kota (Sura dan) Buaya! Harap judul posting ini dibaca sebagai [(Spirit Ngeblog) (Menantang) (Tugu Pahlawan)].