<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Paman Tyo</title>
	<atom:link href="http://pamantyo.dagdigdug.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pamantyo.dagdigdug.com</link>
	<description>mengaku berbagi padahal membual</description>
	<pubDate>Tue, 05 Aug 2008 03:10:07 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.1</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Mengawasi Sopir</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/08/04/mengawasi-sopir/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/08/04/mengawasi-sopir/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Aug 2008 11:35:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[obscenity]]></category>

		<category><![CDATA[percabulan]]></category>

		<category><![CDATA[pornografi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=85</guid>
		<description><![CDATA[
Tadi siang, di lampu merah Lebak Bulus, Jakarta Selatan, di depan saya ada mobil boks. Ada tulisan dari juragan pada pintu belakang (lihat foto). Intinya meminta masyarakat ikut mengawasi perilaku sopir di jalan raya. Kalau perilaku sopir di warung atau di rumah, sepanjang tak berhubungan dengan mobil bawaannya, mungkin tak perlu dilaporkan.
Kenapa sopir harus diawasi? [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-full wp-image-86" title="sopir ngebut" src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/08/ngebuttss.jpg" alt="" hspace="15" width="300" height="308" /></p>
<p>Tadi siang, di lampu merah Lebak Bulus, Jakarta Selatan, di depan saya ada mobil boks. Ada tulisan dari juragan pada pintu belakang (lihat foto). Intinya meminta masyarakat ikut mengawasi perilaku sopir di jalan raya. Kalau perilaku sopir di warung atau di rumah, sepanjang tak berhubungan dengan mobil bawaannya, mungkin tak perlu dilaporkan.</p>
<p>Kenapa sopir harus diawasi? Mungkin bagi juragan adalah supaya mobil tak menabrak orang maupun pohon dan tiang yang menyeberang. Bagi sopir mabuk, ngebut pula, mana benda diam mana benda berjalan memang bisa membingungkan.</p>
<p>Lagi-lagi, dari kepentingan juragan, kalau mobil menabrak jembatan yang tiba-tiba mundur dan belok (lho?), itu berarti kerugian. Mobil rusak.</p>
<p>Itu tadi  dari sisi kepentingan juragan. Dari sisi kepentingan di luar juragan, yakni sesama pengguna jalan, sopir pencilakan sok lincah akan membahayakan orang lain. Intinya bikin suasana tidak nyaman.</p>
<p>Bagaimana dengan <em>blogger </em>dan penyedia <em>blog hosting</em>? Tentu urusannya bukan sopir dengan juragan. Tanggung jawab si <em>blogger </em>adalah terhadap sesama pengguna jalan, eh maksud saya sesama <em>bloggers </em>di komunitasnya.</p>
<p>Jadi, kalau suka hiburan untuk orang dewasa, termasuk yang <em>explicit hardcore</em>, silakan saja. Itu hak. Tapi mempertunjukkan di tempat yang terbuka untuk semua orang, itu mengganggu kenyamanan.</p>
<p>Kenapa menganggu? <em>Blog hosting</em> yang dipameri hiburan cabul itu memang bukan layanan hiburan dewasa. Kasihan orang lain yang terganggu karena sergapan info penjebak dan penggiring itu.</p>
<p>Apa tadi? Cabul? Salah satu ukuran cabul adalah: orang paling doyan sajian paling saru pun menggap apa yang disukainya harus disembunyikan. Kalau dia menontonnya di layar kaca maka tetangga melintas tak boleh memergoki pesawat TV-nya.  Kalau dia memasang posternya maka anak-anak tetangga tak boleh melihat dari luar jendela sekalipun.</p>
<p>Oh, berarti mengajak orang hipokrit dong? Oh tidak. Semua ada rambunya. Di negeri paling permisif  pun produk <em>adult entertainment</em> tidak bisa sembarangan dijajakan. Di negeri-negeri Barat tak ada lapak penjual DVD cabul seperti di Glodok.</p>
<p>Tak hanya dalam urusan hiburan dewasa. Dalam perilaku dewasa pun, misalnya minum bir, di negeri tertentu orang tidak bisa semaunya. Begitu keluar dari halaman rumah dia masih menenggak bir maka tetangga boleh lapor ke polisi. Membawa bir di bawah jok mobil juga dilarang, kalau ketahuan akan ditilang, tak peduli kaleng birnya masih tertutup rapat atau sudah terbuka.</p>
<p>Uh, nggak bebas dong? Apa boleh buat, kemerdekaan setiap orang itu dijamin sepanjang tidak mengganggu kebebasan dan kenyamanan orang lain. Masyarakat yang dewasa bisa memisahkan ranah privat dan publik.</p>
<p>Kembali ke hiburan dewasa, itu sudah ada salurannya sendiri. Termasuk juga untuk ngeblog soal begituan. Tapi dagdigdug tidak termasuk di dalamnya. Pengelola maupun mayoritas anggota komunitasnya tidak mau.</p>
<p>Simpel kan?</p>
<p>NB: <em>Kalau memasang gambar wanita (atau pria) berpakaian seksi? Aha mari kita diskusikan&#8230; <img src='http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/08/04/mengawasi-sopir/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Blog yang Unik, yang Berbeda, yang&#8230;</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/07/22/blog-yang-unik-yang-berbeda-yang/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/07/22/blog-yang-unik-yang-berbeda-yang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Jul 2008 14:32:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[kreativitas]]></category>

		<category><![CDATA[memanjakan diri]]></category>

		<category><![CDATA[menjadi diri sendiri]]></category>

		<category><![CDATA[orisinal]]></category>

		<category><![CDATA[senang]]></category>

		<category><![CDATA[unik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=83</guid>
		<description><![CDATA[
Ada yang isinya bersajak, seperti Nona punya. Seolah gampang tapi tak semua bloggers bisa. Ada yang isinya &#8220;hanya&#8221; rekaan dagangan toko seperti punya Hani &#8212; tapi apakah semua orang bisa bikin ini? Ada yang isinya komik, seolah cuma &#8220;rekapaksa&#8221; gambar (misalnya komikfoto), tapi ternyata ide dan ketelatenan bukanlah milik semua orang. Ada sih layanan generator [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-84" title="unik kok dicela" src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/07/uniklho.jpg" alt="unik kok dicela" width="500" height="375" /></p>
<p>Ada yang isinya bersajak, seperti <a title="pucuk dicinta zam tiba" href="http://nonadita.dagdigdug.com/" target="_blank">Nona</a> punya. Seolah gampang tapi tak semua <em>bloggers</em> bisa. Ada yang isinya &#8220;hanya&#8221; rekaan dagangan toko seperti punya <a title="ayo boronggggggg" href="http://beradadisini.dagdigdug.com/" target="_blank">Hani</a> &#8212; tapi apakah semua orang bisa bikin ini? Ada yang isinya komik, seolah cuma &#8220;rekapaksa&#8221; gambar (misalnya <a title="boleh juga nih" href="http://komikfoto.dagdigdug.com/" target="_blank">komikfoto</a>), tapi ternyata ide dan ketelatenan bukanlah milik semua orang. Ada sih layanan generator komik, tapi yang namanya ilham dan setrum kelucuan kadang menjadi barang mewah.</p>
<p>Lantas? Ada blog yang khusus <a title="biasa aja" href="http://ceritakaos.com" target="_blank">kaos</a>. Ada yang tentang t<a title="hidup ndoro!" href="http://pesanlewat.com">ulisan pada kendaraan</a>. Ada yang tentang <a title="cuma cangkir aja kok" href="http://mugue.com" target="_blank">mug</a>. Ada yang tentang <a title="baru nih, masih gres kayaknya" href="http://kantongrasa.com" target="_blank">kantong gula</a>. Semua contoh tadi adalah blog yang menurut saya unik. Maksud saya bukanlah satu-satunya, atau tiada kembaran, tetapi rada berbeda dari arus yang ada.</p>
<p>Haruskah seorang <em>blogger</em> baru membuat blog yang berbeda dari yang ada? Terserah. Itu soal pilihan. Tetapi andaikata seorang <em>blogger</em> memulai blognya seperti umumnya orang lain, itu pun juga unik &#8212; kecuali <em>copy and paste</em> atau sekadar memasang <em>plugins</em> penjaring <em>posts</em> orang lain tanpa dia pedulikan isinya.</p>
<p>Bagi saya setiap blog memiliki pembaca sendiri-sendiri. Minimal si <em>blogger</em> itu sendiri dan segala mesin internet. Jadi, jika niat ngeblog adalah memindahkan muatan benak dan menuangkan isi hati, maka soal nyeleneh, beda dari yang berbeda, itu tidak penting.</p>
<p>Yang lebih penting, selain untuk memanjakan diri, ngeblog adalah sarana untuk belajar. Minimal belajar menata kata, karena bahasa adalah cerminan olah pikir. Dari mana belajarnya? Semua penulis hebat juga belajar dari orang lain. Ada yang dia ingat sumbernya, ada yang tidak. Begitu pula musisi dan perupa &#8212; oh ya, dan fotografer.</p>
<p>Pada dasarnya setiap orang itu unik &#8212; dengan maupun tanpa lagak eksentrik.</p>
<p>© Ilustrasi: John &amp; Jessica Williams</p>
<p> </p>
<p> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/07/22/blog-yang-unik-yang-berbeda-yang/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kepartaian dalam Blog</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/07/07/kepartaian-dalam-blog/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/07/07/kepartaian-dalam-blog/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jul 2008 05:03:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[egosentris]]></category>

		<category><![CDATA[guyon]]></category>

		<category><![CDATA[humor]]></category>

		<category><![CDATA[ngeblog]]></category>

		<category><![CDATA[partai]]></category>

		<category><![CDATA[seleb]]></category>

		<category><![CDATA[selfish]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=80</guid>
		<description><![CDATA[
Ngomongin pemilu? Tidak. Sobat saya punya ungkapan tentang blogger A yang separtai dengan blogger B. Mungkin yang dia maksudkan adalah posting si A yang sering membicarakan tentang B, juga C, plus D, dan E, kemudian saling berbalas, tetapi publik tidak mendapatkan banyak manfaat. Cuma gojek kere berlingkup internal yang dilemparkan ke ranah maya.
Sobat saya yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-81" title="partai bloggers" src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/07/connecting.jpg" alt="" width="380" height="285" /></p>
<p>Ngomongin pemilu? Tidak. Sobat saya punya ungkapan tentang <em>blogger </em>A yang separtai dengan <em>blogger </em>B. Mungkin yang dia maksudkan adalah posting si A yang sering membicarakan tentang B, juga C, plus D, dan E, kemudian saling berbalas, tetapi publik tidak mendapatkan banyak manfaat. Cuma gojek kere berlingkup internal yang dilemparkan ke ranah maya.</p>
<p>Sobat saya yang lain kemarin mengirimkan pengingat, berupa tautan dari tulisan lama <a title="terima kasih bos!" href="http://tempe.wordpress.com/2008/04/10/hay-blogger-sampai-dimana-kamu-sekarang/" target="_blank">Rovicky</a>, geolog yang pandai bercerita itu, yang mempersoalkan &#8220;suara baru Indonesia&#8221;. Apa manfaatnya bagi khalayak jika <em>blogger </em>hanya bicara dirinya sendiri?</p>
<p>Ini hal menarik. Memang kelebihan dan pembeda blog adalah pada isinya yang personal. Soal subyektivitas, memang demikianlah adanya. Bukankah laporan lembaga riset pun punya subyektivitas &#8212; dalam arti sudut pandang sesuai khittah lembaga?</p>
<p>Lantas, di mana masalahnya?  Dulu, dalam beberapa obrolan, saya mencontohkan rubrik tertentu majalah gaya hidup (terutama yang bersegmen wanita). Ada sajian yang secara jurnalistik kurang lengkap tapi jika pembaca tak paham maka merekalah yang salah.</p>
<p>Rubrik apa? Nama rubrik tak penting, tapi dikemas sebagai album foto para sosialita. Cuma ada nama Anu, Anu, dan Anu. Tanpa keterangan.</p>
<p>Pembaca yang tak paham berarti kurang gaul, bukan <em>party goers</em>, dan sebaiknya menambah pengetahuan umum. Pembaca lain (mayoritas, semoga sesuai asumsi segmentasi) yang paham, meskipun bukan sosialita, akan dianggap melek informasi.</p>
<p>Misalnya seperti ini: &#8220;Si Cempluk itu istrinya si Tambun. Nah, si Tambun itu anaknya Tuan Gembrot, pemilik pabrik tusuk gigi. Lha si Cempluk itu yang tempo hari bersama kelompok arisannya mendatangkan koleksi Manolo Blahnik untuk show kalangan terbatas.&#8221;</p>
<p>Seorang pembaca, sebagai pemakai setia produk diskonan Yongki Komaladi, dan ketika dulu belum diledek masih mau pakai tas Sophie Martin, akan dianggap maju oleh lingkungannya: tahu dunia lain.</p>
<p>Saya bicara konteks media cetak. Rubrik-rubrik aneh tapi konon mengasyikkan itu (karena orang ingin tahu si Anu pakai gaun dan tas apa, juga arloji apa) bisa menyugesti orang untuk belajar hal yang <em>entertaining </em>tapi tak penting. Penerbit dan editor bisa memformat orang lain.</p>
<p>Bagaimana dengan blog? Dari sisi kelengkapan informasi, posting antarkawan berisi tautan. Selanjutnya Ki Ageng Google akan membantu. Bedanya dengan media cetak, blog telah menjadikan pemiliknya dan kalangan dekatnya sebagai pesohor di lingkungan komunitas <em>blogger</em> tertentu. Tak perlu editor.</p>
<p>Dalam konteks itu, setiap <em>blogger </em>telah memposisikan dirinya sendiri, lengkap dengan risikonya. Tapi pendapat ini pun ngawur. <em>Blogger </em>yang sering jadi bulan-bulan kawan keparatnya, dan tak mau atau tak dapat membalas, akhirnya telah menjadi sosok yang terformat di luar kehendak diri. Gunjing canda dan fitnah mesra menemukan salurannya. Hasilnya adalah citra diri (yang belum tentu benar).</p>
<p>Itu baru blog (di luar blog tentang sosialita Jakarta), belum ke keranjang jejaring sosial di ranah maya. Kalau yang ini, adab gaulnya &#8212; dalam beberapa hal &#8212; tak beda dari lingkup RT dan RW. Hanya saja kemasannya lebih urban dan mondial. Yang penting orang tahu siapa sedang apa dan mau ngapain &#8212; perlu bantuan atau tidak ketika akan melakukan hal terpuji. <em>Entertaining</em> dan penting (pun <em>inspiring</em>) bagi para pelakunya. <img src='http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Kembali ke blog yang cuma memindahkan gaul kepartaian dan barangkali cuma ekstensi dari guyon berlingkup milis (yang disimak kalangan terbatas, kecuali dibiarkan bocor). Apa manfaatnya bagi publik?</p>
<p>Mungkin menghibur, mungkin menyebalkan, sekadar memindahkan gunjingan dan gojek kere ke internet, tapi yang pasti saya tak dapat tegas menjawab itu bermanfaat atau tidak bagi pembaca secara umum.</p>
<p>Untuk para pemasar yang akan memanfaatkan blog mungkin penting. Untuk pengamat perilaku sosial mungkin menarik. Guyon, saling ledek, dan saling pamer (bahkan mungkin saling keluh dengan meratap) telah mendapatkan medianya sendiri, dan itu adalah sebuah etalase kehidupan.</p>
<p>Lantas di mana &#8220;suara baru Indonesia&#8221;-nya?</p>
<p>Saya tak tahu. Baru bisa merenung. Jangan-jangan sebagian orang terlalu berharap dari blog. Berharap akan mendapatkan resensi film yang layak rujuk, kritik seni rupa yang menggugah, telaah musik yang memperkaya, bedah sastra yang mencerahkan, reviu hi-fi yang andal (ya andal barangnya, ya pendapatnya), pencontohan modifikasi mobil yang hebat, kajian aristektural yang ilhami, perbincangan lingkungan hidup yang menyadarkan, sketsa sosial-politik yang lucu tapi mencerdaskan, dan seterusnya yang serba subyektif dan personal, berbeda dari media lawas&#8230;</p>
<p>Singkat kata, orang berharap sebuah blog akan bicara pengalaman dan pandangan pribadi tapi bermanfaat bagi orang lain. Wdauh.</p>
<p>Saya sendiri &#8212; mohon maaf &#8212; adalah termasuk <em>blogger </em>yang kadang melempar gojek kere. Apa yang saya tulis tak ada manfaatnya bagi khalayak ramai maupun sepi. Lebih celaka lagi, orang yang saya sasar pun tak peduli. Termasuk tak peduli terhadap blog apa pun.</p>
<p>Barangkali inilah egosentrisme saya dalam ngeblog. Mentang-mentang punya media sendiri &#8212; pemilik merangkap penulis dan penyunting &#8212; maka saya sesuka hati. Pinjam filosofi pede-istik jomblo angkuh yang seret peminat (padahal kesepian): naksir (eh, baca) ya syukur, nggak mau ya kebangetan.</p>
<p>Lantas Anda pun bertanya: ngeblog untuk apa dan siapa?</p>
<p>© Ilustrasi: unknown</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/07/07/kepartaian-dalam-blog/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Wartawan (tidak) Harus Ngeblog</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/07/03/wartawan-tidak-harus-ngeblog/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/07/03/wartawan-tidak-harus-ngeblog/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Jul 2008 19:48:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[jurnalis]]></category>

		<category><![CDATA[ngeblog]]></category>

		<category><![CDATA[reporter]]></category>

		<category><![CDATA[wartawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=78</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa kawan punya asumsi seperti ini. Blog adalah dunia penulisan. Karena wartawan akrab dengan tulis-menulis maka mestinya sebagian besar dari mereka itu punya blog. Tepatnya, ngeblog itu pasal cincai bagi orang lihai. Celakanya asumsi itu disusul dengan pertanyaan: berapa banyakkah wartawan yang ngeblog?
Saya tak punya data. Bisa sih ngawur bilang bahwa 68% wartawan ngeblog. Atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa kawan punya asumsi seperti ini. Blog adalah dunia penulisan. Karena wartawan akrab dengan tulis-menulis maka mestinya sebagian besar dari mereka itu punya blog. Tepatnya, ngeblog itu pasal cincai bagi orang lihai. Celakanya asumsi itu disusul dengan pertanyaan: berapa banyakkah wartawan yang ngeblog?</p>
<p>Saya tak punya data. Bisa sih ngawur bilang bahwa 68% wartawan ngeblog. Atau bisa juga sebaliknya: 68% wartawan nggak ngeblog. Maksud saya ngeblog dalam arti pribadi, bukan ngeblog untuk medianya karena ditugasi.</p>
<p><a href="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/07/ohwartawan.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-79" title="oh wartawan!" src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/07/ohwartawan.jpg" alt="wartawan: ya meliput, ya ngeblog?" width="500" height="348" /></a></p>
<p>Karena tidak ada data, bagaimana jika kita main terka? Misalnya melongok <a title="hehehehe, habis mau ngerujuk ke mana lagi?" href="http://blogs.indonesiamatters.com/" target="_blank">100 blog top Indonesia</a>. Berapakah yang dimiliki oleh wartawan?</p>
<p>Maka izinkanlah saya bertanya: kalau misalnya mayoritas blog dimiliki oleh wartawan lantas kenapa? Kita anggap wajar, sesuai asumi pada paragraf pembuka?</p>
<p>Lha kalau ternyata jumlah wartawan dalam 100 blog itu sedikit, kurang dari sepertiga, emangnya kenapa? Aneh? Menyedihkan? Menggembirakan?</p>
<p>Terhadap urusan macam ini jawaban saya adalah, &#8220;Sudahlah, ngeblog itu soal hati. Tak harus  berhubungan dengan profesi. Wartawan maupun sastrawan boleh ngeblog maupun tidak ngeblog.&#8221;</p>
<p>Beberapa wartawan pernah bilang kepada saya ingin ngeblog tapi malas. Atau sudah punya blog tapi malas – atau tak sempat – memperbaruinya.</p>
<p>Kenapa malas, kenapa tak sempat? Lebih dari seorang punya alasan macam ini: sehari-hari sudah menulis karena pekerjaan dan itu melelahkan; jadi buat apa menambah beban? Belum lagi kalau urusan di kantor bukan hanya peliputan dan naskah melainkan juga tetek-bengek manajerial. Lebih baik sisa energi buat keluarga atau <em>hang out</em>.</p>
<p>Bisa juga sih dibalik, seperti pertanyaan iseng saya: bagaimana jika untuk keseimbangan jiwa justru ngeblog dengan menulis sesuka hati yang tak ada hubungan dengan pekerjaan? Termasuk dalam pekerjaan adalah topik yang sesuai dengan bidang kedinasannya.</p>
<p>Jawabannya adalah senyum bahkan tawa. Ada juga kilah yang lebih argumentatif. Misalnya, &#8220;Saya wartawan otomotif, demen ama modifikasi dan <em>racing</em>. Kalo blog saya isinya juga gituan, bisa-bisa saya cuma menduplikasi tulisan di majalah. Artinya saya dianggap nggak kreatif. Padahal untuk kreatif saya sudah kehabisan ide.&#8221;</p>
<p>Jawabannya mungkin benar. Mungkin pula tidak. Tapi saya punya contoh, salah satu <em>blogger</em> yang tenar dengan posting tentang <em>backpacking</em> adalah seorang wartawati media otomotif. Carilah nama Ukirsari di Google.</p>
<p>Bagaimana dengan wartawan media umum, bukan media khusus? Misalnya wartawan koran, wartawan majalah berita, dan wartawan portal berita?</p>
<p>Seorang penyair, pemilik blog puisi, adalah wartawan yang menjadi redaktur-merangkap-kartunis sebuah koran kota. Kandungan syairnya tak  mesti senapas dengan jurnalisme medianya.  Google-kanlah nama Hasan Aspahani.</p>
<p>Kalau bukan penyair bagaimana? Bisa saja mereka bukan generalis melainkan spesialis, sesuai rubrik. Pengecualian berlaku untuk reporter yang belum memiliki spesialiasi, sehingga bertugas sesuai penugasan koordinator reportase atau kepala biro. Tapi sebagian dari mereka khawatir, justru karena umum itulah maka isi blognya akan berimpitan dengan sajian media tempatnya bekerja; hanya berbeda gaya dan pendekatan masalah.</p>
<p>Masalah akan berkemungkinan bertambah jika dari blog pribadinya mereka mendapatkan iklan. Pihak manajemen bisa murka, karena fasilitas dinas yang dipakai untuk ngeblog bukan hanya komputer dan internet kantor melainkan juga biaya transportasi, biaya peliputan, biaya jamuan, dan bahkan bank data (termasuk foto) yang ada di kantornya.</p>
<p>Ketika urusannya sampai ke sana, biarlah itu jadi seminarnya <a title="ayod dong bos! hahaha!" href="http://portalhr.com/" target="_blank">Nukman Luthfie</a> dengan mengumpulkan petinggi HRD perusahaan media untuk berdiskusi  apa plus dan minusnya wartawan ngeblog bagi kumpeni. <img src='http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Berbahagialah <em>bloggers</em> yang bukan wartawan. Tulisan bagus akan dipuji. Tulisan buruk tak akan diledek. Malas meng-<em>update</em> hanya akan ditagih pembaca, bukan dianggap mati angin.</p>
<p>Lho tadi dibilang ngeblog urusan hati, tak ada hubungan dengan profesi? Gimana sih kok mencla-mencle? <img src='http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>© Ilustrasi:  &#8220;Football Stars Become Microstars&#8221; (McCann Erickson, Milan, Italia, April 2008)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/07/03/wartawan-tidak-harus-ngeblog/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Peringkat Blog Saya Turun, Gimana Dong?</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/06/30/peringkat-blog-saya-turun-gimana-dong/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/06/30/peringkat-blog-saya-turun-gimana-dong/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Jun 2008 21:06:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[hit]]></category>

		<category><![CDATA[kampiun]]></category>

		<category><![CDATA[ketenaran]]></category>

		<category><![CDATA[ngeblog]]></category>

		<category><![CDATA[page view]]></category>

		<category><![CDATA[pemeringkatan]]></category>

		<category><![CDATA[peringkat]]></category>

		<category><![CDATA[popularitas]]></category>

		<category><![CDATA[rangking]]></category>

		<category><![CDATA[ranks]]></category>

		<category><![CDATA[traffic]]></category>

		<category><![CDATA[trafik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=76</guid>
		<description><![CDATA[Bingung saya untuk menjawab pertanyaan macam itu. Saya bukan ahli pemeringkatan. Lebih penting lagi: saya tak begitu paham &#8212; dan belum mau belajar jauh &#8212; sejumlah alat untuk mengukur popularitas blog. Dalam urusan tertentu, ngeblog saya ya rada naif. Yang penting ngeblog. Titik.
Lebih payah dan memalukan lagi, kadang saya ogah menengok blog-blog saya. Begitu parahnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" style="margin-top: 5px; margin-bottom: 5px; margin-left: 15px; margin-right: 15px; float: left;" src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/06/ranking.jpg" alt="peringkat blog" width="250" height="223" />Bingung saya untuk menjawab pertanyaan macam itu. Saya bukan ahli pemeringkatan. Lebih penting lagi: saya tak begitu paham &#8212; dan belum mau belajar jauh &#8212; sejumlah alat untuk mengukur popularitas blog. Dalam urusan tertentu, ngeblog saya ya rada naif. Yang penting ngeblog. Titik.</p>
<p>Lebih payah dan memalukan lagi, kadang saya ogah menengok blog-blog saya. Begitu parahnya pengabaian oleh saya sendiri sehingga tahu-tahu sampahnya menggunung. Mang Memet Akismet kebobolan.</p>
<p>Untunglah belakangan ini saya mau belajar. Maka ada kemajuan dalam menjawab. Misalnya dengan menanya balik, &#8220;Anda ngeblog buat apa?&#8221;</p>
<p>Kalau ngeblog untuk kepentingan personal dan suka-suka, abaikan semua peringkat popularitas. Lebih penting peringkat kelegaan dalam diri.</p>
<p>Kalau ngeblog untuk pekerjaan &#8212; misalnya atas nama kantor &#8212; ya mau tidak mau, suka tidak suka, harus mau belajar soal peringkat dan cara mencapai popularitas. Namanya juga pekerjaan, disuruh pula. Apa boleh bikin.</p>
<p>Kalau ngeblog untuk personal sekaligus bisnis? Jawaban saya oleh beberapa orang dianggap aneh. Ya yang penting secara personal puas, secara bisnis bagus sehingga layak diuangkan. Persoalannya, kata sebagian orang, dua hal itu sulit digabungkan.</p>
<p>Saya juga entah sepertiga entah setengah mengamini. Lebih tepat membebek. Tampaknya sulit digabungkan. Kemudian saya bilang, kalau ngeblognya sesuka hati &#8212; tak hanya topik, bahasa, tetapi juga keajekan update, bahkan nama pun gonta-ganti &#8212; bagaimana bisa menjangkau khalayak luas, menciptakan kecanduan, dan membangun <em>brand</em> buat diri sendiri?</p>
<p>Nah, kelihatan kan kalau jawaban saya mulai tidak fokus, bahkan melenceng (atau malah tak konsisten)? Maaf. Memang begitulah adanya.</p>
<p>Lantas ada satu-dua orang membisiki, bahwa yang namanya ngeblog itu, kalau masih sebatas yang saya lakukan, adalah cara lama. Cuma mengutamakan <em>updating </em>sesuai niat, dengan menulis secara pribadi tapi ditujukan kepada khalayak dengan harapan ada yang membaca.</p>
<p>Cara baru, kata mereka, adalah menggunakan mesin blog untuk apa saja, yang penting ada konten (entah siapa yang bikin), plus pengayaan isi melalui trik ini dan itu supaya menggaet pengunjung (tersesat) dan ujung-ujungnya adalah peringkat. Secara rutin pencapaian blog dilihat dan dievaluasi.</p>
<p>Jawaban ini, dengan sejumlah contoh, tampaknya lebih terfokus dan sekaligus membuat saya terkesima. Tapi orang lain bilang, ini bukan cara baru. Hanya cara lama yang belum usang. Ada tempat untuk mempelajarinya.</p>
<p>Lantas, gimana dong baiknya supaya peringkat terjaga bahkan terus menanjak? Waduh, saya tidak punya buku Petunjuk Menjadi Kampiun karangan si Manyun.</p>
<p>Jawaban saya dari dulu dianggap menjengkelkan. Setiap blog punya penggemar sendiri. Bahkan setiap topik atau kategori juga punya penggemar sendiri. Taruh kata cuma ada lima pembaca setia, itu pun baik adanya.</p>
<p>Kalau kurang dari lima bahkan tidak ada? Tak soal asal si<em> blogger </em>puas dan bahagia.</p>
<p>© Ilustrasi: www.cepro.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/06/30/peringkat-blog-saya-turun-gimana-dong/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Posting Basi? Biarin Aja!</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/06/13/posting-basi-biarin-aja/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/06/13/posting-basi-biarin-aja/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jun 2008 12:56:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[basbang]]></category>

		<category><![CDATA[basi]]></category>

		<category><![CDATA[kedaluwarsa]]></category>

		<category><![CDATA[kemalumon]]></category>

		<category><![CDATA[ngeblog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=74</guid>
		<description><![CDATA[Jangan takut posting Anda dibilang basi. Jika Anda memang menikmati penulisan posting itu, blogkan saja.
Bagaimana jika pembaca kuciwa? Itu risiko. Bagaimana kalau pembaca mentertawakan? Bersyukurlah, Anda masih bisa membuat orang lain girang. Anda telah beramal.  
Jika Anda ingin membuat resensi kaset atau CD Bintang Lima-nya Dewa sekarang ini, lakukan saja. Blog tak harus memuat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright" style="float: right; margin-left: 10px; margin-right: 10px; margin-top: 5px; margin-bottom: 5px;" src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/06/expiredaward08.jpg" alt="basbang kemalumon award" width="200" height="170" />Jangan takut posting Anda dibilang basi. Jika Anda memang menikmati penulisan posting itu, blogkan saja.</p>
<p>Bagaimana jika pembaca kuciwa? Itu risiko. Bagaimana kalau pembaca mentertawakan? Bersyukurlah, Anda masih bisa membuat orang lain girang. Anda telah beramal. <img src='http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Jika Anda ingin membuat resensi kaset atau CD <em>Bintang Lima</em>-nya Dewa sekarang ini, lakukan saja. Blog tak harus memuat segala hal yang baru. Bisa juga sih Anda berkilah bahwa topiknya lama tapi isinya beda. Karena beda maka anggap saja itu baru. <img src='http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Ada saja terdengar, seseorang batal mengeposkan tulisan di blognya karena merasa sudah basi. Ukuran basi: <em>bloggers</em> lain sudah lebih dulu meramaikannya. Posting belakangan dianggap cuma membebek, seperti kelasi ketinggalan kapal. Kalau bebek pakai baju kelasi, namanya Donal(d).</p>
<p>Hasilnya, tulisan Anda &#8212; oh bukan, maksud saya dia &#8212; tempo hari tentang Ali Sadikin batal termuat karena baru ditulis lima hari setelah Almarhum dikebumikan.</p>
<p>Bagaimana dengan posting yang berhubungan dengan perkembangan kasus? Misalnya mau menulis tentang musisi tenar yang tersandung narkoba (dakwaan: bawa ganja dalam taksi). Eh ketika ditulis dia sudah bebas, berkumpul bersama keluarga tercinta, dan menjalani kaul berhenti merokok.</p>
<p>Andai kata ada pembaca yang mengingatkan melalui komentar (&#8221;Kalo mau posting baca berita dulu dong!&#8221;), anggap saja itu koreksi. Justru di situlah kemuliaan blog. Pembaca tak hanya berhak bersuara dan mengoreksi melainkan juga memperkaya posting Anda.</p>
<p>Jika blog boleh menuliskan segala hal yang terkini, dan dibenarkan pula menuliskan hal yang sudah jauh terlewati, bolehkan blog juga menulis hal yang akan terjadi?</p>
<p>Kalau Anda bisa, dan mau, kenapa tidak? Mau disebut ramalan jitu atau posting ngaco menyesatkan, itu terserah pembaca. Yang penting Anda siap bertanggung jawab. Artinya Anda (minimal) bersedia untuk menjawab.</p>
<p>Misalnya Anda kadung memastikan bahwa penulis posting ini akan meninggal Sabtu 14 Juni besok. Ternyata meleset. Bisa saja Anda menjawab,&#8221;Waktu itu saya yakin, tapi saya kan bukan Pemilik Kehidupan.&#8221;</p>
<p>Baiklah, abaikan saja ilustrasi tak bermutu itu. Yang penting ini: lebih baik ngeblog basi &#8212; atau sok futuristik &#8212; daripada ngeblog serbaterkini tetapi cuma <em>copy-and-paste</em>, atau malah menyuruh mesin menyedoti konten dari web lain. <img src='http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/06/13/posting-basi-biarin-aja/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Aktivitas Online dan Kehidupan Pribadi</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/06/02/aktivitas-online-dan-kehidupan-pribadi/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/06/02/aktivitas-online-dan-kehidupan-pribadi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Jun 2008 05:11:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[kemerdekaan]]></category>

		<category><![CDATA[ngeblog]]></category>

		<category><![CDATA[privasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=72</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Kenapa dia nggak ng-update blognya lagi?&#8221; tanya seseorang tentang orang lain kepada saya.
&#8220;Mungkin sibuk, atau males, atau nggak sempat, atau memang lagi puasa online,&#8221; kata saya.
&#8220;Puasa apaan? Tapi dia masih datengin blog orang, ninggalin komentar. Y!M dan Gtalk-nya itu kalo ditinggalin pesan, masih nyahut.&#8221;
&#8220;Lha mana saya tahu? Tanya dia dong&#8230;&#8221;
Hari berganti. Pekan demi pekan berlalu. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" style="float: left; margin-left: 10px; margin-right: 10px; margin-top: 5px; margin-bottom: 5px;" src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/06/gosssss.jpg" alt="gunjing gosip tak bermutu" width="200" height="235" />&#8220;Kenapa dia nggak ng-<em>update </em>blognya lagi?&#8221; tanya seseorang tentang orang lain kepada saya.</p>
<p>&#8220;Mungkin sibuk, atau males, atau nggak sempat, atau memang lagi puasa <em>online</em>,&#8221; kata saya.</p>
<p>&#8220;Puasa apaan? Tapi dia masih datengin blog orang, ninggalin komentar. Y!M dan Gtalk-nya itu kalo ditinggalin pesan, masih nyahut.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lha mana saya tahu? Tanya dia dong&#8230;&#8221;</p>
<p>Hari berganti. Pekan demi pekan berlalu. Kemudian bulan baru pun menyapa. Orang yang lain, tentang orang yang lainnya lagi, bertanya serupa kepada saya.</p>
<p>Jawaban saya lebih ringkas, &#8220;Mungkin sibuk. Atau lagi suka menyendiri.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sibuk apaan? Kemarin aku ngeliat dia lagi ngopi sendirian, pake laptop, di <abbr title="kedai di kawasan bisns, bukan are belanja">sono noh</abbr>. Lagi nunggu siapa gitu &#8216;kali yak? Kapan itu si Anu juga mergoki dia lagi milih sepatu di <abbr title="salah satu gerai PT Mitra Adi Perkasa Tbk.">Anu</abbr>. Sibuk? Dia kan penganggur?&#8221;</p>
<p>Tentu gunjing bergonjang-ganjing ini tidak layak diteruskan.</p>
<blockquote><p>Hanya satu moral ceritanya: <em>blogging </em>dengan nama sendiri maupun alias, tapi sosok asli si <em>blogger </em>sudah dikenal oleh <em>blogger </em>lain, pada akhirnya akan membatasi privasi.</p></blockquote>
<p>Bukan salah <em>blogging</em>-nya. Bukan kerna kutukan <em>messenger</em>. Tapi inilah konsekuensi dari(pada) adab gaul. Jalur maya-tapi-nyata dan aktivitas <em>online </em>hanya bagian dari kehidupan sosial itu.</p>
<p>Siapkah Anda menerima gangguan privasi itu? Seberapakah batasnya?</p>
<p>Jawaban paling mulia: &#8220;Emang gue pikirin?&#8221; Tapi sampai kapan? Jangan-jangan ada catatan kaki: &#8220;Iyah, sebel juga sih.&#8221;</p>
<p>&#8220;Mas, kenapa ya si itu suka nulis-nulis yang <em>flirty </em>gitu, <em>seductive </em>gitulah, pake ngaku fiksi segala. Orangnya emang gitu ya? Atau lagi ada masalah sama <em>hubby</em>? Doyan brondong ya dia? Atau biar diperhatikan para lelaki dan bikin penasaran para wanita?&#8221;</p>
<p>&#8220;Mana saya tahu, Bu? Kenapa juga itu Ibu baca lalu Ibu pikirkan?&#8221;</p>
<p>© Ilustrasi: unknown</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/06/02/aktivitas-online-dan-kehidupan-pribadi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Seberapa sih Ngeblog Mendatangkan Nikmat? (Sisi Gelap Saya)</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/05/21/seberapa-sih-ngeblog-mendatangkan-nikmat-sisi-gelap-saya/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/05/21/seberapa-sih-ngeblog-mendatangkan-nikmat-sisi-gelap-saya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 May 2008 15:46:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[Personal]]></category>

		<category><![CDATA[egois]]></category>

		<category><![CDATA[komunikasi]]></category>

		<category><![CDATA[selfish]]></category>

		<category><![CDATA[silaturahmi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=70</guid>
		<description><![CDATA[Kalau masalahnya &#8220;(se)berapa&#8221;, saya tak tahu ukurannya. Saya sendiri juga tak mengukurnya untuk diri saya dengan sebuah skala. Intinya adalah neraca hati. Tapi neraca kan juga menyangkut ukuran? Maaf, istilah itu untuk gagah-gagahan saja. Boleh Anda abaikan.
Ngeblog itu nikmat ketika saya melakukannya bukan karena kewajiban. Pada awal ngeblog, dengan nama alias di tempat lain, saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright" style="float: right; margin-left: 10px; margin-right: 10px;" src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/05/laptopmleyot.jpg" alt="laptopku" width="250" height="250" />Kalau masalahnya &#8220;(se)berapa&#8221;, saya tak tahu ukurannya. Saya sendiri juga tak mengukurnya untuk diri saya dengan sebuah skala. Intinya adalah neraca hati. Tapi neraca kan juga menyangkut ukuran? Maaf, istilah itu untuk gagah-gagahan saja. Boleh Anda abaikan.</p>
<p>Ngeblog itu nikmat ketika saya melakukannya bukan karena kewajiban. Pada awal ngeblog, dengan nama alias di tempat lain, saya melakukan apapun yang saya suka. Sehari bisa tiga kali posting dan tak peduli ada yang mengomentari atau tidak.</p>
<p>Naif dong? Mungkin. Tulus? Jujur? Tampaknya tidak.</p>
<p>Nyatanya saya memasang <a href="http://statcounter.com" target="_blank">statcounter</a>. Kesimpulannya: seolah saya cuek padahal ingin tahu bagaimana orang lain memperhatikan blog saya.</p>
<p>Lantas statistik itu sering saya lihat, untuk memuaskan rasa ingin tahu. Tapi akhirnya bosan, lagi pula saya gampang lupa soal angka.</p>
<p>Kemudian saya pakai nama asli, pakai domain sendiri. Statistik pada panel di layanan hosting kadang saya tengok.</p>
<p>Tapi setelah itu kebosanan berulang. Saya baru membacanya lagi, setelah setengah tahun tak menengok, ketika tempo hari ada orang mau pasang iklan dan saya larang dengan alasan itu takkan efektif.</p>
<p>Saya kirimkan tangkapan layar statistik. Tapi dia bebal, tetap pasang (dan bayar). Itu masalah dia. Salah dia, bukan saya. <img src='http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Ternyata melihat angka statistik dan info lain itu hanya kenikmatan sesaat. Yang penting ngeblog saja, syukur dapat tanggapan.</p>
<p>Patokan saya, yang berkaitan dengan server, adalah web masih muncul komplet, belum ada <em>exceeded bandwidth limit</em>.</p>
<p>Bagaimana kalau akhirnya mentok? Entahlah. Belum saya pikirkan. Paling juga minta tolong orang.</p>
<p>Lantas apa itu &#8220;yang penting ngeblog&#8221;? Ehm, sangat egosentris dan kadang impulsif.</p>
<p>Egosentris, pokoknya saya pengin nulis. Mau baca dan kasih komentar ya syukur, kalau tak mau ya <span style="text-decoration: line-through;">kebangetan</span> silakan. Semprul betul.</p>
<p>Impulsif? Bisa nulis tanpa peduli jam baca orang. Tapi ada posting yang saya batalkan karena tiba-tiba hilang mood. Atau, ini dia, hilang ingatan. <img src='http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Egosentrisme yang lain adalah dalam <em>blogwalking</em>. Seringkali saya hanya mengintip, dan itu pun melalui <em>reader </em>(sekarang pakai RSS Bandit) atau baca planet.</p>
<p>Rutinkah pengintipan itu? Tidak. Jangankan blog orang lain. Kalau lagi malas, blog-blog saya pun tak saya tengok. Hasilnya, antara lain, terlihat dari banyaknya <em>spam </em>yang lolos.</p>
<p>Jadi kalau bicara &#8220;ni&#8217;mat&#8221;, ngeblog itu menyenangkan sepanjang kita masih menyukainya. Kata &#8220;masih&#8221; tak merujuk kepada jadwal. Bisa kapan saja. Seingat saya, sesempat saya, seinsyaf saya, sesadar saya, dan sesyuman saya.</p>
<p>Artinya, kalau sebuah posting dianggap basi, tidak aktual, dinilai tidak ada kebaruan, bagi saya (kadang) tak soal. Lha wong saya suka kok.</p>
<p>Oh tidak hanya &#8220;suka&#8221;, melainkan kadang juga ketidaksukaan, kejengkelan, dan kekecewaan, yang intinya dari hati.</p>
<blockquote><p>Lantas di mana fungsi blog sebagai sebuah wadah untuk berkomunikasi, untuk berdialog, untuk bersilaturahmi?</p></blockquote>
<p>Saya bertanya pada diri sendiri, bukan kepada Anda, dan seringkali tak menemukan jawaban yang jujur.</p>
<p>Tapi dengan banyak menanyai diri, kok kadang malah nggak nikmat ya&#8230; Cermin hanya menyenangkan ketika saya merasa ganteng. Sayangnya rasa ganteng itu mahal, jarang muncul.</p>
<p>© Ilustrasi asli: <a href="http://www.wilbers.com" target="_blank">Wilbers</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/05/21/seberapa-sih-ngeblog-mendatangkan-nikmat-sisi-gelap-saya/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mestinya Blog bukan Ladang Ranjau</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/04/28/mestinya-blog-bukan-ladang-ranjau/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/04/28/mestinya-blog-bukan-ladang-ranjau/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Apr 2008 17:02:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[diskusi]]></category>

		<category><![CDATA[forum]]></category>

		<category><![CDATA[haki]]></category>

		<category><![CDATA[hukum]]></category>

		<category><![CDATA[sarasehan]]></category>

		<category><![CDATA[seminar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=68</guid>
		<description><![CDATA[Apa? Ranjau? Memangnya kita di kawasan perang atau bekas perang?
Apa boleh buat, ngeblog sebagai bagian dari aktivitas online memang rawan masalah. Dari yang urusannya teks, gambar, sampai dengaran dan gambar hidup.
Untuk yang teks, ya tahulah yang namanya demam kopas atawa copy-and-paste.
Untuk gambar, ehm, sebagian (besar) dari kita pernah atau masih melakukannya. Ambil sebuah gambar dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" style="float: left; margin-left: 10px; margin-right: 10px; margin-top: 5px; margin-bottom: 5px;" src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/04/ranjau.jpg" alt="ranjau dalam blog" width="340" height="245" />Apa? Ranjau? Memangnya kita di kawasan perang atau bekas perang?</p>
<p>Apa boleh buat, ngeblog sebagai bagian dari aktivitas <em>online</em> memang rawan masalah. Dari yang urusannya teks, gambar, sampai dengaran dan gambar hidup.</p>
<p>Untuk yang teks, ya tahulah yang namanya demam kopas atawa <em>copy-and-paste</em>.</p>
<p>Untuk gambar, ehm, sebagian (besar) dari kita pernah atau masih melakukannya. Ambil sebuah gambar dari sebuah web lantas kita pasang.</p>
<p>Memang kadang ada penyesuaian, dari sekadar <em>resizing </em>(supaya ngepas di blog kita) sampai editing tingkat lanjut (gambar kita olah dan gabung dengan gambar lain).</p>
<p>Untuk musik, hehehe, dengan bahagia kadang kita memasang versi mp3 dari lagu musisi asing maupun domestik. Sumber asli sebelum jadi mp3 itu bisa CD audio, bisa juga rekaman langsung (<em>bootleg</em>).</p>
<p>Adapun video yang kita YouTube-kan itu, bisa berupa hasil pemotongan dari VCD (bajakan) dan tangkapan tayangan TV, bisa juga hasil comotan dari syuting pribadi.</p>
<p>Seperti halnya foto, ada sisi hukum yang kadang bisa  &#8220;dimainkan&#8221; dalam tayangan video. Misalnya apakah penayangan wajah orang lain sudah seizin pemilik wajah (dan hidung).</p>
<p>Banyak contoh. Kalau dijembreng akan melelahkan. Padahal itu baru dari satu sisi, yakni si <em>blogger</em> yang dengan medianya memanfaatkan karya orang lain.</p>
<p>Di sisi lain ada juga media non-internet, misalnya majalah dan buku, yang main embat teks maupun foto karya blogger, dan tanpa izin, bahkan mungkin mendapatkan manfaat ekonomis.</p>
<p>Jadi, dari sisi kepentingan ngeblog, setiap <em>blogger</em> harus punya pengacara? Boleh, tapi walah, kayaknya malah ruwet.</p>
<p>Atau ada lembaga bantuan hukum buat blogger? Ini sih terserah <em>bloggers</em> &#8212; dan terserah <em>lawyers</em>.</p>
<p>Ada baiknya kita duduk bersama, merembuk soal ini dengan kepala dingin, hati tak dagdigdug, dan tentu boleh dengan sedikit guyon, yang penting ada hasil yang layak rujuk.</p>
<p>Itu tadi baru dari segi hak cipta, belum ditambahi soal penghinaan, fitnah, dan pemburukan nama jelek.</p>
<p>dagdigdug berencana menggelar forum untuk itu, dengan melibatkan ahli hukum, khususnya HAKI (hak atas karya intelektual). Akan lebih nikmat jika melibatkan sarjana hukum yang <em>blogger</em> &#8212; atau sebaliknya: <em>blogger</em> yang sarjana hukum (tapi belum ditemukan apa perbedaannya, jadi saat ini tak usah dibahas).</p>
<p>Kapan waktunya, dan di mana, tunggu kabar. Maunya dagdigdug sih melibatkan sejumlah komunitas blog. Ini sesuai kredo dagdigdug: apa pun (sub)domainnya, dan di mana pun hostingnya, setiap <em>blogger</em> adalah saudara.</p>
<p>Nah, Saudara dan Saudari bisa kasih masukan mulai sekarang.</p>
<p>© Ilustrasi: <a href="http://www.ddasonline.com/" target="_blank">ddasonline.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/04/28/mestinya-blog-bukan-ladang-ranjau/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Workshop Pertama dagdigdug (Sehari Setelah Peluncuran)</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/04/15/workshop-pertama-dagdigdug-sehari-setelah-peluncuran/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/04/15/workshop-pertama-dagdigdug-sehari-setelah-peluncuran/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Apr 2008 07:10:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[belajar]]></category>

		<category><![CDATA[ngeblog]]></category>

		<category><![CDATA[workshop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=66</guid>
		<description><![CDATA[Siang ini, di sebuah garage company di Gandaria, Jakarta Selatan, datanglah seorang ibu berjilbab. Usianya sekitar 50 tahun. &#8220;Saya ingin belajar ngeblog,&#8221; katanya kepada seorang awak kantor.
Ibu itu khusus datang ke rumah kecil dagdigdug untuk belajar ngeblog. Bagi saya dan teman-teman, itu sebuah keseriusan yang harus dihormati.
Dia manfaatkan waktu rehat makan siang untuk meninggalkan kantornya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/04/mesintik.jpg" alt="mesin tik | workshop ngeblog" align="left" height="158" hspace="10" vspace="3" width="200" />Siang ini, di sebuah <em><abbr title="kami menyebutnya 'gareng company'">garage company</abbr></em> di Gandaria, Jakarta Selatan, datanglah seorang ibu berjilbab. Usianya sekitar 50 tahun. &#8220;Saya ingin belajar ngeblog,&#8221; katanya kepada seorang awak kantor.</p>
<p>Ibu itu khusus datang ke rumah kecil dagdigdug untuk belajar ngeblog. Bagi saya dan teman-teman, itu sebuah keseriusan yang harus dihormati.</p>
<p>Dia manfaatkan waktu rehat makan siang untuk meninggalkan kantornya, sebuah departemen pemerintah di Jakarta Pusat, naik bus ke Blok M, kemudian disambung ojek, menuju ke Langsat.</p>
<p>&#8220;Saya ingin belajar ngeblog di dagdigdug. Apakah harus membayar untuk ngeblog?&#8221; tanyanya kepada saya.</p>
<p>Maka di sebuah meja kecil, sebuah pemanduan singkat pun berlangsung. Laptop saya jadi kelas.</p>
<p><em>Grothal-grathul</em>, kata orang Jawa. Sama seperti saya dan sebagian dari Anda: awal memakai komputer dan layanan <em>online</em> anyar kudu belajar. <a href="http://www.stallman.org/" title="benar kan? blogger itu juga hacker? hehehe" target="_blank">Richard Stallman</a>, sang peretas yang juga <em>blogger</em> itu, dulunya pun saya yakin sempat <em>grothal-grathul</em> saat kenal komputer. Hanya saja dia mulai lebih dini. <img src='http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Tapi ibu itu beda. Di kantor dia sudah terbiasa pakai internet, punya akun di Yahoo!. Dia tahu dagdigdug dari blog favoritnya, yang dikomandani oleh <a href="http://www.sudutpandang.com/" title="top markotop" target="_blank">Nukman Luthfie</a>, yaitu <a href="http://www.virtual.co.id/blog/dotcom/dagdigdugcom-ngeblog-bukan-tren-sesat/" title="tengkyu bos!" target="_blank">Virtual</a>. Dari sanalah selancar berlanjut ke ojek.</p>
<p>Nah untuk ngeblog, dia seperti saya dulu. Belajar, mencoba, dan akhirnya lancar.</p>
<p>Singkat kata jadilah blog dadakan yang secara paralel juga disertai pembukan akun <em>e-mail</em> di sebuah layanan berbasis web. Setiap info pengingat, termasuk nama pengguna dan sandi, dia salin ke dalam selembar kertas terlipat empat.</p>
<p>&#8220;Akhirnya jadi juga,&#8221; katanya. Ada kelegaan di wajahnya.</p>
<p>Dia lanjutkan, &#8220;Akhirnya anak saya punya blog. Ini memang untuk dia. Saya ingin dia terbiasa menulis untuk mengeluarkan pendapat&#8230;&#8221;</p>
<p>Di rumahnya, ibu itu belum ada komputer dan internet. Tapi putra keduanya, siswa kelas dua SMA, kadang ke warnet.</p>
<p>Selamat datang di dagdigdug, Bu. Selamat datang, Dik. <em>Workshop</em> selanjutnya di beberapa kota, secara berkelompok, akan kami umumkan.</p>
<p>© Sumber ilustrasi: entah</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/04/15/workshop-pertama-dagdigdug-sehari-setelah-peluncuran/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ngeblog, Ngebrik, dan Nginterkom</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/04/14/ngeblog-ngebrik-dan-nginterkom/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/04/14/ngeblog-ngebrik-dan-nginterkom/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Apr 2008 00:47:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[interkom]]></category>

		<category><![CDATA[manfaat]]></category>

		<category><![CDATA[ngeblog]]></category>

		<category><![CDATA[ngebrik]]></category>

		<category><![CDATA[radio komunikasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=64</guid>
		<description><![CDATA[Kawan saya bilang, ngeblog itu nggak beda dengan ngebrik dan nginterkom. Nggak beda dalam arti menyangkut pilihan berkomunikasi dan hak untuk menggunakan saluran.
Kebetulan dia itu &#8220;pengebrik&#8221; (breaker, hehe). Kebetulan juga dia itu konsisten ogah ngeblog. Juga kebetulan dia itu akademisi yang paham jagat media. Pun kebetulan dia itu tenar tapi kurang popular bagi sebagian bloggers.
Jadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/04/ngebrikkk.gif" alt="pesawat radio CB" align="right" height="180" hspace="10" vspace="3" width="250" />Kawan saya bilang, ngeblog itu nggak beda dengan ngebrik dan nginterkom. Nggak beda dalam arti menyangkut pilihan berkomunikasi dan hak untuk menggunakan saluran.</p>
<p>Kebetulan dia itu &#8220;pengebrik&#8221; (<em><abbr title="dari break-break-break?">breaker</abbr></em>, hehe). Kebetulan juga dia itu konsisten ogah ngeblog. Juga kebetulan dia itu <abbr title="bukan alumni Akademi Fantasi">akademisi</abbr> yang paham jagat media. Pun kebetulan dia itu tenar tapi kurang popular bagi sebagian <em>bloggers</em>.</p>
<p>Jadi saya <abbr title="mengikuti gaya tikabanget">ituh</abbr>, sebagai pembela kebetulan, mau bercerita tentang rentetan kebetulan? Tidak.</p>
<p>Bukan kebetulan kalau saya menghargai pendapatnya. Saya pun menghargai pilihannya untuk tidak ngeblog. Dia pun mungkin (semoga) menghargai pilihan saya untuk tidak ngebrik &#8212; sekaligus memahami ketidakpahaman saya soal radio (dan) komunikasi.</p>
<p>Tentu pendapat saya berbeda. Ngeblog itu tak hanya berbeda dari ngebrik dan nginterkom, melainkan lebih kaya dari itu.</p>
<p>Oh ya, tentang ngebrik, sebagian dari kita rasanya tahu. Setidaknya kita pernah mendengar. Lagi pula stiker dan papan nama <em>call sign</em> <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/ORARI" target="_blank">Orari</a> kan masih sering terlihat.</p>
<p>Kalau interkom? Ya, seperti interkom yang kita kenal. Bedanya, dalam cerita ini, interkom yang saya maksud bukanlah alat komunikasi yeng menyatu dengan bel rumah maupun jaringan telepon internal.</p>
<p>Interkom berkabel itu, pada awal sampai pertengahan 80-an, sempat menjadi &#8220;tren sesaat&#8221; di kompleks perumahan dan perkampungan. Juluran kabelnya melintasi pepohonan, tiang listrik, tiang telepon, dan mungkin tiang jemuran dan bahkan tiang penggantung sangkar perkutut.</p>
<p>Saya tak tahu apakah demam interkom itu, dulu, adalah cara yang merakyat untuk menyusul radio <abbr title="citizen band">CB</abbr> yang sempat mendemam.</p>
<p>Jika Orari sampai kini berkesan serius maka radio CB, pada mulanya, lebih berkesan untuk kebutuhan gaul kelas menengah, sehingga akhirnya ditata melalui <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/RAPI" target="_blank">organisasi</a>.</p>
<p>Begitu ngetrennya radio CB saat itu sehingga pada 1984 promo krim rambut Brisk (atau Brylcreem ya?) menyediakan hadiah rig. Kalau sekarang hadiahnya pasti ponsel atau data card atau modem merangkap router.</p>
<p>Lantas kenapa saya menganggap blog lebih kaya?</p>
<p>Pertama: tertulis (plus suara, gambar, video) dan terarsipkan.</p>
<p>Kedua: karena terarsipkan (termasuk komentar untuk setiap posting) maka mudah dirujuk, baik untuk kepentingan akademis maupun hahahihi (atau gabungan keduanya).</p>
<p>Ketiga: dari blognya sendiri seorang <em>blogger</em> bisa belajar melalui evaluasi diri, sejak cakupan topik, gaya penulisan, sampai kualitas tulisan &#8212; dan tentu komentar pembaca.</p>
<p>Percakapan dalam radio komunikasi dan interkom juga bisa diarsipkan. Tapi harus melalui perekaman auditif, untuk kemudian disalin ke dalam teks, agar layak rujuk. Uh, merepotkan. Lebih ngerepotin kalau ditambahi analisis keaslian suara dengan bukti hasil kajian instrumental atau apalah yang rumit itu.</p>
<p>Persamaan ngeblog dengan ngebrik dan nginterkom, antara lain, ya pada &#8220;kopi darat&#8221; itu. Bahkan istilah &#8220;kopdar&#8221; itu dicomot dari kebiasaan para pelaku komunikasi radio yang sekali (pun) di udara tetap ingin bersua di darat juga.</p>
<p>Dengan teman saya itu pun saya esok, entah kapan, akan kopdar, supaya tidak hanya ber-SMS-an saja. Ngomongin blog, ya? Kayaknya enggak.  <img src='http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>© Gambar asli: <a href="http://radioproshop.com" target="_blank">RadioShop</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/04/14/ngeblog-ngebrik-dan-nginterkom/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kebelet Update dan Keterbacaan</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/03/15/kebelet-update-dan-keterbacaan/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/03/15/kebelet-update-dan-keterbacaan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Mar 2008 21:23:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[gagasan]]></category>

		<category><![CDATA[ngeblog]]></category>

		<category><![CDATA[spontanitas]]></category>

		<category><![CDATA[strategi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=62</guid>
		<description><![CDATA[Antara keluhan dan anjuran bisa bersua, padahal dari orang yang berbeda.
Bunyi keluhan, &#8220;Anda terlalu cepat meng-update.  Saya belum baca dua-tiga posts terbaru sudah muncul yang berikutnya.&#8221;
Adapun anjuran berbunyi, &#8220;Jangan hiperaktif. Cobalah untuk memahami kebutuhan dan kebiasaan pembaca. Buat apa Anda menulis kalau nggak dapet tanggapan karena posting Anda terlalu banyak dan sering?&#8221;
Mungkin sebagian bloggers [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/03/spiral-clock.jpg" alt="jam spiral" align="right" height="314" hspace="10" vspace="5" width="320" />Antara keluhan dan anjuran bisa bersua, padahal dari orang yang berbeda.</p>
<p>Bunyi keluhan, &#8220;Anda terlalu cepat meng-<em>update</em>.  Saya belum baca dua-tiga <em>posts </em>terbaru sudah muncul yang berikutnya.&#8221;</p>
<p>Adapun anjuran berbunyi, &#8220;Jangan hiperaktif. Cobalah untuk memahami kebutuhan dan kebiasaan pembaca. Buat apa Anda menulis kalau nggak dapet tanggapan karena posting Anda terlalu banyak dan sering?&#8221;</p>
<p>Mungkin sebagian <em>bloggers </em>pernah menerima kedua hal itu. Keluhan dan anjuran.</p>
<p>Keluhan itu, selayaknya pengaduan konsumen, haruslah dihargai dengan setulus hormat.</p>
<p>Anjuran itu, sebagai sebuah niat mulia dari orang lain, patutlah diperhatikan.</p>
<p>Terus bagaimana sebaiknya?</p>
<p>Ada banyak cara untuk menyalahkan pihak lain supaya kita merasa selalu benar sehingga nyaman.</p>
<p>Misalnya menyalahkan pengunjung kenapa tak langsung datang setelah kita men-update pada pukul tiga pagi, padahal 30 menit kemudian kita sudah mengeposkan tulisan baru. Dan sejam lagi sudah menyusul tulisan berikutnya.</p>
<p>Tentu saya hanya bercanda. Keterlaluan jika kita menyalahkan pembaca. Sudah mau datang masih dianggap keliru. Tega nian. Kurang tahu budi.</p>
<p>Oh, kalau begitu kita <a href="http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=36">ngeblog pakai strategi</a>?</p>
<p>Boleh dan silakan. Misalnya mengatur waktu pengeposan. Juga memilih tema visual yang tepat supaya setidaknya lima tulisan terakhir (judul dan paragraf awal) selalu terpampang. Bukan memilih desain yang hanya menampilkan satu-dua tulisan terakhir, begitulah.</p>
<p>Dengan begitu, diharapkan, pembaca tak merasa tertinggal seabad. Maksud saya misalkan mereka peduli tanggal pengeposan.</p>
<p>Bagaimana jika kita suka yang spontan, tak peduli waktu maupun jarak antaredisi tulisan?</p>
<p>Oh, itu juga boleh. Jika memilih pendekatan ini, maka Anda termasuk orang yang tak mau menahan ide berlama-lama. Pokoknya selagi sempat dan ingin yang langsung diposkan. Yang penting lega. <img src='http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Mana yang lebih bagus, Andalah yang lebih paham. Tolok ukurnya adalah kenyamanan hati.</p>
<p>© ilustrasi (mungkin): <a href="http://jimenapulse.wordpress.com/2007/10/26/clock-back-this-week-end/">jimenapulse.wordpress.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/03/15/kebelet-update-dan-keterbacaan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Jadi, Kita Harus Punya Lebih dari Satu Blog?</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/03/08/jadi-kita-harus-punya-lebih-dari-satu-blog/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/03/08/jadi-kita-harus-punya-lebih-dari-satu-blog/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Mar 2008 05:56:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[kreatif]]></category>

		<category><![CDATA[menulis]]></category>

		<category><![CDATA[ngeblog]]></category>

		<category><![CDATA[pengembangan gagasan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=60</guid>
		<description><![CDATA[
Jawaban untuk judul itu adalah: terserah, sesuka Anda. Punya (atau hanya punya) satu blog silakan. Mau punya dua, tiga, bahkan belasan, ya silakan karena tak ada hukum yang melarang.
Saya menulis ini karena ada yang bertanya perlu tidaknya punya lebih dari satu blog. Setelah itu pertanyaannya adalah apakah setiap blog harus punya perbedaan.
Jawaban saya selalu gampang. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/03/masker.jpg" alt="masker gas serdadu" /></p>
<p>Jawaban untuk judul itu adalah: terserah, sesuka Anda. Punya (atau hanya punya) satu blog silakan. Mau punya dua, tiga, bahkan belasan, ya silakan karena tak ada hukum yang melarang.</p>
<p>Saya menulis ini karena ada yang bertanya perlu tidaknya punya lebih dari satu blog. Setelah itu pertanyaannya adalah apakah setiap blog harus punya perbedaan.</p>
<p>Jawaban saya selalu gampang. Perlu atau tak perlu, itu bergantung pada setiap pribadi. Harus atau tak harus ada perbedaan dari setiap blog, itu soal selera dan kebutuhan.</p>
<p>Disebut perlu kalau satu blog dirasakan belum menampung semua hasrat. Ibarat menggunakan buku tulis ternyata pemiliknya masih membutuhkan buku tulis yang lain. Misalnya buku pertama untuk daftar obat batuk, buku kedua berisi puisi.</p>
<p>Dibilang harus ada perbedaan di antara beberapa buku tulis kalau pemiliknya memang merasakan kebutuhan itu. Kalau tidak ada perbedaan? Sama-sama berisi obat batuk dan puisi? Tak masalah. Isinya persis plek juga tiada yang melarang.</p>
<p>Ngeblog itu soal niat dan keasyikan. Dilakukan hanya jika kita butuh dan bisa menikmatinya. Kalau bosan, atau tak sempat, ya tinggalkan saja.</p>
<p>Lain halnya jika Anda sedang dipenjara dan satu-satunya syarat memperoleh korting hukuman adalah ngeblog saban hari. Untuk kasus ini, nikmat atau menderita, bahagia atau azab, ya kudu ngeblog sebanyak dan sesering mungkin, apa pun isinya &#8212; kecuali meledek sipir dan kepala rumah bui.</p>
<p>Jadi mau punya satu blog, mau banyak blog, mau ngeblog saban hari, mau ngeblog sebulan sekali, itu suka-suka kita.</p>
<p>Pasal pertama dan utama ngeblog adalah menuruti kata hati. Lalu pasal selanjutnya? Belum saya pikirkan. Maaf.</p>
<p>Oh ada ralat. Malah barusan ketemu. Pasal penyusul setelah hati adalah pikir. Bukankah menulis juga melibatkan pikiran?</p>
<p>© gambar asli sebelum olahan: <a href="http://www.approvedgasmasks.com/" target="_blank">EvoMask</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/03/08/jadi-kita-harus-punya-lebih-dari-satu-blog/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Apa Saja yang Bisa Difoto?</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/02/25/apa-saja-yang-bisa-difoto/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/02/25/apa-saja-yang-bisa-difoto/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Feb 2008 20:04:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[Personal]]></category>

		<category><![CDATA[fotografi]]></category>

		<category><![CDATA[kreatif]]></category>

		<category><![CDATA[menulis]]></category>

		<category><![CDATA[ngeblog]]></category>

		<category><![CDATA[pengembangan ide]]></category>

		<category><![CDATA[visual]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=50</guid>
		<description><![CDATA[Itu tadi pertanyaan gampang. Menjawabnya juga gampang asalkan yang menjawab itu Galih Satria, Paman Patih Blontank, dan Fahmi. Mereka senang memotret, dan telaten mengeksplorasi kameranya, sehingga tahu keterbatasan dan kelebihan si alat.
Si Galih itu, bahkan dengan kamera saku (Canon PowerShot A400), selalu menghasilkan foto bagus. Tentu untuk digital imaging kita juga layak berguru kepadanya.
Kembali kepada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Itu tadi pertanyaan gampang. Menjawabnya juga gampang asalkan yang menjawab itu <a href="http://blog.galihsatria.com/" target="_blank">Galih Satria</a>, <a href="http://solo.dagdigdug.com" target="_blank">Paman Patih Blontank</a>, dan <a href="http://efahmi.dagdigdug.com/" target="_blank">Fahmi. </a>Mereka senang memotret, dan telaten mengeksplorasi kameranya, sehingga tahu keterbatasan dan kelebihan si alat.</p>
<p>Si Galih itu, bahkan dengan kamera saku (Canon PowerShot A400), selalu menghasilkan foto bagus. Tentu untuk <em>digital imaging</em> kita juga layak berguru kepadanya.</p>
<p>Kembali kepada judul yang bertanya, maka saya menjawab, &#8220;Apa saja.&#8221;</p>
<p>Hasil? Tentu estede, cuma gitu-gitu. Saya tidak minder, tapi juga tak bangga. Mengadaptasi stiker ojek: biar jelek punya sendiri.</p>
<p>Gambar-gambar ini adalah hasil jepretan saya selama jalan kaki, dari gerbang sebuah perumahan di Bekasi sampai rumah tujuan (yang isinya kemarin saya potreti), sepanjang 500-an meter.</p>
<p>Saya menggunakan kamera saku biasa, Casio Exilim Z850. Kelebihan kamera ini adalah relatif tipis (sekitar 2,3 cm).</p>
<p>Kekurangan Casio bila dibandingkan Canon dan Nikon saku? Mudah silau oleh cahaya terang (sinar dan warna putih) sehingga kedalaman akan dia pangkas menjadi cenderung putih rata.</p>
<p>Sejauh ini saya puas, karena saya mengamini Galih, &#8220;Kita tidak bisa mendapatkan semua keinginan kita agar bisa mensyukuri apa yang telah kita dapat&#8230;&#8221;</p>
<p>Nah, masing-masing foto-foto ini bisa dikembangkan menjadi satu posting! Bisa juga dipaket ke dalam satu tulisan dengan isi &#8220;500 meter jalan kaki pada suatu sore&#8221;. Atau bisa juga dengan tajuk yang belagu: &#8220;Sekali Jalan Mendapatkan Delapan Tulisan&#8221;.</p>
<p>Lihat hasilnya di blog lain dengan mengeklik foto. Salah besar jika Anda bilang tulisan-tulisan itu bagus. Banyak kekurangannya. Misalnya? Tiada keterangan tempat yang jelas dalam setiap tulisan. Tak apa, ini bukan koran. <img src='http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p><a href="http://jongos.dagdigdug.com/2008/02/25/cerita-1-pesohor-bukan-epolet/" target="_blank"><img src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/02/jalankompleks-001-small.jpg" alt="dede yusuf ingin jadi wagub jabar" border="0" /></a> <a href="http://jongos.dagdigdug.com/2008/02/25/cerita-2-di-kompleks-lain-silakan-ngebut/" target="_blank"><img src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/02/jalankompleks-002-small.jpg" alt="dilarang ngebut dalam kompleks" border="0" /></a></p>
<p><a href="http://jongos.dagdigdug.com/2008/02/25/cerita-3-%e2%80%9ckok-saya-nggak-difoto%e2%80%9d/" target="_blank"><img src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/02/jalankompleks-003-small.jpg" alt="engkoh warung minta difoto" border="0" /></a> <a href="http://jongos.dagdigdug.com/2008/02/25/cerita-4-bermain-tak-kenal-waktu/" target="_blank"><img src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/02/jalankompleks-004-small.jpg" alt="anak-anak selalu bermain tak kenal waktu" border="0" /></a></p>
<p><a href="http://jongos.dagdigdug.com/2008/02/25/cerita-5-rumah-belum-dijual/" target="_blank"><img src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/02/jalankompleks-005-small.jpg" alt="akan dijual, belum dijual" border="0" /></a> <a href="http://jongos.dagdigdug.com/2008/02/25/cerita-6-mobil-penjaja-dan-kesewenangan-konsumen/" target="_blank"><img src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/02/jalankompleks-006-small.jpg" alt="mobil salesman lux" border="0" /></a></p>
<p><a href="http://jongos.dagdigdug.com/2008/02/25/cerita-7-sepetak-taman-di-teras-samping/" target="_blank"><img src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/02/jalankompleks-007-small.jpg" alt="teras di samping rumah" border="0" /></a> <a href="http://jongos.dagdigdug.com/2008/02/25/cerita-8-belajar-meniti-jembatan/" target="_blank"><img src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/02/jalankompleks-008-small.jpg" alt="belajar meniti jembatan" border="0" /></a></p>
<p>Jadi, hanya sekali jalan, dengan mata yang tak perlu jelalatan, sebetulnya Anda selalu bisa mendapatkan bahan untuk blog. Hanya sekali jalan, tanpa rencana untuk ngeblog pula. Semata menuruti impuls.</p>
<p>Oh, maaf. Saya tadi berdusta. Ide untuk memotret selagi jalan kaki ini memang saya siapkan untuk blog ini. <img src='http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<blockquote><p>Bonus (ngembat dari Galih, tanpa izin):<br />
+ <a href="http://blog.galihsatria.com/2007/07/20/review-kamera-poket-2-jutaan/" target="_blank">Reviu kamera saku</a> (tenang, harga sudah pada turun)<br />
+ <a href="http://blog.galihsatria.com/2007/12/16/membuat-foto-liburan/" target="_blank">Membuat foto liburan</a></p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/02/25/apa-saja-yang-bisa-difoto/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Bikin Stok Foto Sekadarnya dengan Ponsel</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/02/24/bikin-stok-foto-sekadarnya-dengan-ponsel/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/02/24/bikin-stok-foto-sekadarnya-dengan-ponsel/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Feb 2008 17:20:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[Personal]]></category>

		<category><![CDATA[fotografi]]></category>

		<category><![CDATA[kreatif]]></category>

		<category><![CDATA[menulis]]></category>

		<category><![CDATA[ngeblog]]></category>

		<category><![CDATA[ponsel]]></category>

		<category><![CDATA[visual]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=43</guid>
		<description><![CDATA[
Inilah kemanjaan visual: sebagian orang tak puas dengan teks dan ingin melihat gambar.
Sebetulnya tak sesederhana itu, karena keseluruhan tata letak sebuah halaman blog, dengan atau tanpa gambar, tetaplah sebuah sajian visual.
Urusannya adalah mata. Artinya mencakup kenyamanan pandang. Selebihnya adalah aspek fungsional: apakah tata letak itu mempermudah orang lain mengunyah cerita Anda.
Sudahlah, tak usah berpusing dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/02/nokia-001.jpg" alt="memotret dengan ponsel" /></p>
<p>Inilah kemanjaan visual: sebagian orang tak puas dengan teks dan ingin melihat gambar.</p>
<p>Sebetulnya tak sesederhana itu, karena keseluruhan tata letak sebuah halaman blog, dengan atau tanpa gambar, tetaplah sebuah sajian visual.</p>
<p>Urusannya adalah mata. Artinya mencakup kenyamanan pandang. Selebihnya adalah aspek fungsional: apakah tata letak itu mempermudah orang lain mengunyah cerita Anda.</p>
<p>Sudahlah, tak usah berpusing dengan tiga paragraf di atas. Cuma bergenit-genit sok konseptual. Membosankan. Lebih penting ini: bagaimana membuat dan menyajikan gambar?</p>
<p><img src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/02/nokia-002-250.jpg" alt="memotret dengan ponsel nokia" align="right" height="304" hspace="10" vspace="5" width="250" />Ada dua pendekatan.</p>
<p>Pertama: gambar sebagai ilustrasi, hanya penjelas cerita.</p>
<p>Kedua: gambar adalah sumber cerita, teks hanya penyerta (bisa berupa <em>caption</em>, bisa pula paragraf ringkas).</p>
<p>Apa pun pendekatannya, sebagian besar dari Anda sudah melakukan. Yaitu memotret dengan ponsel. Hanya saja tak semuanya muncul di blog. Kadang gambar-gambar itu malah segera dihapus karena kartu memori penuh.</p>
<p>Tadi saya pun mencoba suatu hal yang jarang saya lakukan. Apa? Memotret dengan ponsel. Tepatnya Nokia 5300. Ukuran asli hasil jepretan 1.280 x 1.024 piksel. Tanpa persiapan, tanpa mempelajari banyak opsi, langsung jepret, asal hajar.</p>
<p>Sasarannya adalah isi sebuah rumah. Tentu dengan seizin si pemilik rumah, karena gambar-gambar ini akan dipublikasikan.</p>
<p>Dipublikasikan untuk apa? Blog, dong.</p>
<p><img src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/02/nokia-003-250.jpg" alt="memotret dengan ponsel nokia" align="left" border="0" height="470" hspace="10" vspace="5" width="250" />Semuanya? Serentak? Dalam kasus ini mestinya tidak. Tadi sore, dalam cahaya sekadarnya, saya mencoba membuat stok gambar yang di kemudian hari mungkin berguna untuk ilustrasi cerita di blog.</p>
<p>Misalnya? Foto pemanggang roti untuk ngeblog soal pola sarapan. Foto saklar untuk menulis tentang ketergantungan kepada listrik. Foto handel pintu kamar mandi untuk membual tentang keterbukaan.</p>
<p>Intinya, lebih baik memakai foto jelek karya sendiri daripada ngembat karya orang semaunya. <img src='http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Gambar-gambar yang muncul di sini hanya saya perkecil. Warna dan ketajamannya tidak saya &#8220;koreksi&#8221;. Tampilan pun utuh, tidak saya krop.</p>
<p>Dengan memperkecil gambar, kekasaran butiran foto juga akan diperlunak. Artinya mata pembaca agak kita hargai sedikit, begitulah. <img src='http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Saya yakin Anda dapat melakukannya lebih baik, apalagi jika menggunakan ponsel pribadi yang sudah Anda kenali kelebihan dan kekurangannya.</p>
<p>Bagi saya, untuk ilustrasi di blog, gambar tak perlu besar ukuran <em>file</em>-nya. Kenapa? Agar lebih cepat muncul. Juga agar menghemat kuota di <em>blog hosting</em>. <img src='http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Lebih dari itu, gambar yang kelewat besar bisa merusak tata letak. Misalnya menutupi <em>sidebar</em>. Nah, adanya <em>thumbnail </em>akan mempercepat penampakan halaman dan tak mengacaukan tata letak.</p>
<p>Semuanya mudah. Anda bisa, bahkan sejak kemarin.</p>
<p>Bagus atau tak bagus foto kita itu urusan fotografer, karena mereka mencari nafkah dari sana. Urusan kita adalah membuat dan memasang gambar dengan riang (dan pede) untuk blog.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/02/24/bikin-stok-foto-sekadarnya-dengan-ponsel/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Comot-mencomot Gambar</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/02/18/comot-mencomot-gambar/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/02/18/comot-mencomot-gambar/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Feb 2008 17:17:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[belajar]]></category>

		<category><![CDATA[copy and paste]]></category>

		<category><![CDATA[foto]]></category>

		<category><![CDATA[gambar]]></category>

		<category><![CDATA[hak cipta]]></category>

		<category><![CDATA[haki]]></category>

		<category><![CDATA[menulis]]></category>

		<category><![CDATA[ngeblog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=41</guid>
		<description><![CDATA[Saya tahu bahwa Anda orang baik lagi budiman. Foto di blog dikopi orang, Anda bilang, &#8220;Silakan saja.&#8221; Gambar kreasi Anda diambil orang, Anda katakan, &#8220;Syukurlah kalau sudi.&#8221; Bahkan jika barang ambilan itu mendatangkan uang bagi orang lain, dengan enteng Anda nyatakan, &#8220;Saya ikut senang, bisa kasih rezeki ke orang lain.&#8221;
Itu mulia. Terpuji. Kalau Anda masih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/02/che2.jpg" alt="che guevara by alberto korda" align="right" height="178" hspace="10" vspace="5" width="250" />Saya tahu bahwa Anda orang baik lagi budiman. Foto di blog dikopi orang, Anda bilang, &#8220;Silakan saja.&#8221; Gambar kreasi Anda diambil orang, Anda katakan, &#8220;Syukurlah kalau sudi.&#8221; Bahkan jika barang ambilan itu mendatangkan uang bagi orang lain, dengan enteng Anda nyatakan, &#8220;Saya ikut senang, bisa kasih rezeki ke orang lain.&#8221;</p>
<p>Itu mulia. Terpuji. Kalau Anda masih lajang, tetangga di RT sebelah layak mencomot Anda sebagai menantu &#8212; dengan catatan: kalau anak tetangga mau (dan Anda tak malu).</p>
<p>Beres, kan? Nanti dulu. Akan menjadi masalah jika Anda menganggap orang lain sama baik hatinya dengan Anda.</p>
<p>Jika orang lain berkebalikan dari Anda tak berarti mereka itu culas, licik, kikir, loba dan tamak. Mereka punya hak untuk melindungi karyanya.</p>
<p>Maka jalan paling aman, jika memungkinkan, mintalah permisi untuk mengambil gambar orang lain untuk keperluan blog Anda.</p>
<p>Jika meminta permisi tak memungkinkan, antara lain karena tak ada alamat <em>e-mail</em> maupun kotak komentar, apalagi nomor ponsel, cantumkanlah nama web atau blognya sebagai sumber.</p>
<p>Lha kalau ternyata dia mengambil dari web orang lain yang tak Anda ketahui?</p>
<p>Apa boleh bikin, tahi kambing mungkin saja asin, anggap saja itu masalah dia. Yang penting Anda menempuh jalur aman.</p>
<p>Bagaimana kalau gambar itu tak jelas siapa pemilik hak ciptanya padahal beredar luas di internet, misalnya foto produk ala brosur atau foto bintang film?</p>
<p>Ya ambil saja, dengan catatan Anda yakin bahwa pemiliknya memang belum diketahui sampai kemudian muncul klaim. Artinya Anda sudah bersiap mencopot gambar itu kalau didesak, bahkan Anda sanggup meminta maaf.</p>
<p>Bagaimana dengan saya? Sementara ini untuk sumber yang tak diketahui, kalau ingat akan saya sebut dalam kreditasi sebagai <em>unknown </em>dan sebangsanya. Kalau pakai kreditasi &#8220;istimewa&#8221; kok malah membingungkan. Siapa dan apanya yang istimewa?</p>
<p>Dulu, jujur saja, saya malah main embat dengan keyakinan pembenar (yang bisa saja salah): &#8220;Kan nggak buat nyari duit.&#8221; Saya pun pernah melakukan kejahatan menggunakan foto seorang pria tua, entah siapa, untuk identitas lama saya ketika masih beralias. Saya tak tahu siapa pemilik hak cipta foto itu. Maka izinkanlah di sini saya minta maaf kepada ahli warisnya.</p>
<p>Lantas? Misalkan ahli hukum <abbr title="hak atas kekayaan intelektual">HAKI</abbr> dan <abbr title="emang ada dan emang perlu? hahaha!">ahli blog</abbr> menganggap pendekatan dalam posting ini salah, bahkan berbahaya, maka saya harus siap mengoreksi diri.</p>
<p>Terus kenapa saya memakai foto Che? Versi <em>line art</em> dari potret ini menyebar, dianggap milik publik, dan orang cenderung mengabaikan siapa fotografernya, yaitu <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Alberto_Korda" target="_blank">Alberto Korda</a>.</p>
<p>Korda memang mengizinkan pemakaian foto itu untuk penyebaran perjuangan menuju keadilan sosial. <a href="http://news.bbc.co.uk/1/hi/world/americas/1352650.stm" title="ya iyalah..." target="_blank">Kalau untuk iklan vodka, dia gusar</a>.</p>
<p>Hubungannya dengan blog? Baiklah saya paksakan saja hubungannya. Bagaimana rasanya foto diembat orang, bertanyalah kepada <a href="http://mimimama.blogspot.com" title="jangan kapok" target="_blank">Fahmi</a>. Selebihnya silakan berdiskusi dengan <a href="http://solo.dagdigdug.com" title="dia itu fotografer" target="_blank">Paman Patih Blontank Ilat Aleman</a>.</p>
<p>© Foto ilustrasi: Alberto Korda</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/02/18/comot-mencomot-gambar/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Alias dan Terang-terangan</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/02/16/alias-dan-terang-terangan/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/02/16/alias-dan-terang-terangan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Feb 2008 20:00:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[alias]]></category>

		<category><![CDATA[anonymous]]></category>

		<category><![CDATA[jatidiri]]></category>

		<category><![CDATA[ngeblog]]></category>

		<category><![CDATA[penyamaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=38</guid>
		<description><![CDATA[Ini soal pilihan. Mau ngeblog dengan jatidiri senyatanya atau mau pakai identitas samaran, semuanya terserah Anda.
Disebut jatidiri senyatanya kalau Anda memakai nama asli ( bahkan misalnya satu nama pun sudah cukup), dan fotonya juga asli.
Lho, bukankah gambar traktor atau wajan juga foto asli? Oh, maksud saya tampang yang asli.  
Bagaimana dengan display name dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/02/traktorcantik.gif" alt="traktor cantik" align="right" height="120" hspace="15" vspace="5" width="256" />Ini soal pilihan. Mau ngeblog dengan jatidiri senyatanya atau mau pakai identitas samaran, semuanya terserah Anda.</p>
<p>Disebut jatidiri senyatanya kalau Anda memakai <abbr title="tidak harus menjadi subdomain bahkan domain">nama asli</abbr> ( bahkan misalnya satu nama pun sudah cukup), dan fotonya juga asli.</p>
<p>Lho, bukankah gambar traktor atau wajan juga foto asli? Oh, maksud saya tampang yang asli. <img src='http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Bagaimana dengan <em>display name</em> dalam blog, tetapi membiarkan foto Anda tampil, minimal di blog lain karena jebakan kamera usil? Itu bukan penyamaran. Hanya pengibaran julukan.</p>
<p>Intinya Anda tidak bersembunyi, bahkan membiarkan diri dikenali. Dilengkapi lokasi mukim (bukan alamat rumah), dan jenis pekerjaan, juga boleh. Nggak masalah. Tiada yang melarang.</p>
<p>Bagaimana dengan samaran? Itu bukan anonim. Lebih tepat sebagai sebuah alias. Namanya bisa apa saja, foto diri pun bisa diganti apa saja (misalnya traktor atau wajan tadi), dengan keterangan diri yang kabur. Bahwa di kemudian hari ternyata sosok Anda dikenali, anggap saja itu senasib dengan personel Gorillaz.</p>
<p>Apakah menggunakan nama samaran berarti <a href="http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=3" title="ah itu hanya perasaan paman saja (dulu)" target="_blank">pengecut</a>? Nggak juga. Disebut pengecut kalau tidak mau mempertanggungjawabkan apa yang dibikin di blog.</p>
<p>Pendek kata, mau pakai identitas asli atau samaran, itu semata soal kenyamanan.</p>
<p>Termasuk dalam kenyamanan adalah keberanian menanggung risiko ringan.</p>
<p>Misalnya, saat menantikan obat dalam ruang tunggu apotek tiba-tiba Anda dihampiri seseorang, &#8220;Oh, kayaknya pernah lihat foto Mbak dan dengar nama Mbak, deh. Mmmm&#8230; Mbak ini si Sahaetawati Kumahasari, kan? Sakit apa? Panu? Kadas?&#8221;</p>
<p>Kalau pakai nama samaran, Anda bisa hahahihi dalam hati ketika dua orang dalam lift mengobrolkan Anda.</p>
<p>&#8220;Emang, <em>blogger</em> satu itu nyebelin, sok cantik, sok <em>idol</em> padahal dodol&#8221; kata salah satu. Anda cuma membatin, &#8220;Salah sendiri baca blog gue&#8230;&#8221;</p>
<p>Jika menggunakan jatidiri asli, maka Anda akan ringan menjawab alamat kirim kepada <em>blogger</em> lain yang ingin menghadiahi Anda.</p>
<p>Jika Anda telanjur nyaman, <em>dan ingin mempertahankan sosok samaran sepanjang hayat</em>, maka Anda akan kerepotan saat ditanya alamat kirim buku (padahal mupeng akut), dan akan kikuk kalau diajak kopdar.</p>
<p>Yah, sekali menyatakan diri selanjutnya adalah pembukaan diri. Satu-dua-tiga-empat-lima orang pertama bisa dipercaya. Tapi orang kesebelas, yang mendengar dari orang pertama, mungkin kelepasan bicara.</p>
<p>Orang ke-19, yang niatnya sekadar bercanda, akan menebarkan <em>clues </em>dalam komentar dan <em>shoutbox </em>di blog Anda &#8212; padahal tak sedikit <em>bloggers </em>yang berbakat detektif.</p>
<p>Jadi, gimana dong? Harus menyatakan diri sejak dini, bersamaan dengan  <em>Hello World!</em> (kalau pakai WordPress)?</p>
<p>Nggak. Itu terserah Anda. Sesuka Anda.</p>
<p>© Gambar asli sumber ilustrasi: <a href="http://www.shutterstock.com/" title="bibir" target="_blank">Shutterstock</a> dan <a href="http://www.tradebit.com/" title="traktor" target="_blank">Tradebit</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/02/16/alias-dan-terang-terangan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Strategi Ngeblog</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/02/13/strategi-ngeblog/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/02/13/strategi-ngeblog/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Feb 2008 18:36:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[belajar]]></category>

		<category><![CDATA[menulis]]></category>

		<category><![CDATA[ngeblog]]></category>

		<category><![CDATA[strategi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=36</guid>
		<description><![CDATA[Walah, ngeblog kok pakai strategi. Harus, kata yang suka. Ngapain juga repot, kata yang tak suka.
Apa yang dimaksud dengan strategi? Ini hanya istilah sok keren saja, untuk mewakili sejumlah niat dan kiat agar blog lebih terlihat.
Ada yang mengutamakan pendekatan topik, judul dan isi, bahkan tags. Pokoknya harus menarik, kata yang yakin. Supaya orang datang nyamperin.
Ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/02/catur.jpg" alt="strategi ngeblog" align="right" height="278" hspace="5" width="249" />Walah, ngeblog kok pakai strategi. Harus, kata yang suka. Ngapain juga repot, kata yang tak suka.</p>
<p>Apa yang dimaksud dengan strategi? Ini hanya istilah sok keren saja, untuk mewakili sejumlah niat dan kiat agar blog lebih terlihat.</p>
<p>Ada yang mengutamakan pendekatan topik, judul dan isi, bahkan <em>tags</em>. Pokoknya harus menarik, kata yang yakin. Supaya orang datang nyamperin.</p>
<p>Ada yang menambahkan gambar, dengan harapan pelintas akan tergoda untuk membaca saat mereka tersesat menemukan gambar karena giringan mesin pencari dan pencatat.</p>
<p>Itu pun masih ada yang menganggapnya kurang, sehingga sebisanya menambahkan tautan keluar ke tulisan blog lain agar terendus.</p>
<p>Kurang komplet kata orang yang terbiasa dengan perencanaan. Tiga bulan ngeblog dia mempelajari statistik webnya. Kesimpulan: hanya pagi, jam makan siang, dan jam bubaran kantor blognya dibaca orang.</p>
<p>Maka yang dia lakukan adalah hanya memperbarui blog sebelum jam puncak pada hari kerja. Hari libur? Dia tidak <em>updating</em>, tetapi meluangkan waktu untuk <em>blogwalking </em>dan meninggalkan komentar.</p>
<p>Ada pula kombinasi dari semua niat dan kiat, ditambahi trik untuk mengecoh kepintaran mesin pencari. Selanjutnya adalah urusan iklan dan sejenisnya&#8230;</p>
<p>Apakah itu salah? Nggak. Justru bagus. Artinya dia eh mereka serius.</p>
<p>Berarti yang tak melakukan itu bukan <em>blogger </em>serius? Nggak juga. <em>Blogger </em>macam itu juga bagus. Menambahkan isi &#8220;<abbr title="maksud saya 'pasca'">post</abbr>-Hello-World&#8221;, meski hanya satu kata (yang terbaca), itu berarti serius.</p>
<p>Mana yang lebih bagus? Keduanya bagus.</p>
<p>Apa ukurannya? Tidak ada. Malah untuk sementara anggap saja tak perlu.</p>
<p>Ralat, ya. Begini saja, dibilang ngeblog itu bagus kalau pilihan caranya mendatangkan kenyamanan bagi masing-masing <em>blogger </em>dan pembacanya.</p>
<p>Lha wong posting ditulis sendiri, bukan <em>copy-and-paste</em>, bukan pula oleh robot atau orang lain, kok dibilang nggak bagus.</p>
<p>Lantas di mana strateginya? Antara penting dan tak penting. Tahap pertama ngeblog adalah, &#8220;Pokoknya nulis.&#8221; Percayalah. <img src='http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>© Gambar asli sumber ilustrasi: <a href="http://www.chess-theory.com" target="_blank">chess-theory.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/02/13/strategi-ngeblog/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ngeblog dengan atau tanpa Gambar. Bagusan Mana?</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/02/11/ngeblog-dengan-atau-tanpa-gambar-bagusan-mana/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/02/11/ngeblog-dengan-atau-tanpa-gambar-bagusan-mana/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Feb 2008 11:59:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[Personal]]></category>

		<category><![CDATA[belajar]]></category>

		<category><![CDATA[menulis]]></category>

		<category><![CDATA[ngeblog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=34</guid>
		<description><![CDATA[Jawaban aman dan sekaligus tampak bijak: keduanya bagus. Tapi saya memang belum punya stok jawaban lainnya.
Mau posting pakai gambar silakan. Mau polos hanya teks ya boleh, tiada yang melarang. Misalkan tanda baca berupa spasi sudah dianggap teks, sehingga boleh dianggap sebagai sebagai posting, ya cobalah.
Bagaimana dengan saya? Beberapa kali saya meledek diri sendiri sebagai blogger [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/02/gambargombalsoknyeni.gif" alt="ilustrasi gombal kagak nyambung" align="right" border="1" height="250" hspace="10" width="250" />Jawaban aman dan sekaligus tampak bijak: keduanya bagus. Tapi saya memang belum punya stok jawaban lainnya.</p>
<p>Mau posting pakai gambar silakan. Mau polos hanya teks ya boleh, tiada yang melarang. Misalkan tanda baca berupa spasi sudah dianggap teks, sehingga boleh dianggap sebagai sebagai posting, ya cobalah.</p>
<p>Bagaimana dengan saya? Beberapa kali saya meledek diri sendiri sebagai <em>blogger</em> yang kurang percaya kepada kekuatan kata. Terbukti saya sering memakai gambar untuk ilustrasi.</p>
<p>Apa? Ilustrasi? Bukannya hanya pemanis halaman web, untuk pemantas belaka? Atau cuma mau pamer, gegayaan, gagah-gagahan? Ehm, mungkin juga ya. Sudahlah jangan giring saya untuk menelanjangi diri.</p>
<p>Oh, kata Anda, kadang bukan hanya pemanis atau pemantas karena gambar memang diperlukan agar tak perlu membuat pemerian dalam teks. Terima kasih atas pembelaan itu.</p>
<p>Tapi sama saja. Pemanis atau ilustrasi, intinya saya sering tak percaya kepada kekuatan kata yang saya tulis sendiri. Anggap saja begitu.</p>
<p>Bahkan tak jarang, sudah teksnya panjang, ada lebih dari satu gambar pula. Huh, apa karena terlena oleh kelonggaran ruang web yang tak seketat cetak, sehingga saya kurang hirau ekonomi kata maupun ekonomi ruang? Lihat kalimat terakhir paragraf ketiga. <img src='http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Bagi saya itu semua soal pilihan dan kenyamanan bagi masing-masing <em>blogger</em>. Sering dan teramat banyak saya dapati blog yang miskin gambar tapi isinya bagus dan sangat bagus. Salah satunya mungkin blog Anda.</p>
<p>Bagaimana kalau yang nyaman bagi kita ternyata tak nyaman bagi orang lain?</p>
<p>Ehm, kita memang harus berlatih kompromi, karena ngeblog memang ditujukan untuk publik.</p>
<p>Di mana batas komprominya saya tak tahu. Tapi biasanya pengembang web, termasuk desainer, akan mencarikan solusi untuk <em>blogger </em>yang suka hambur kata dan boros gambar.</p>
<p>Selebihnya filter ada pada masing-masing pembaca, dengan keragaman sensitivitas. Ada yang begitu melihat teks nyinyir dan berjejal gambar langsung kabur. Ada juga yang mau menyimak, karena mungin kurang kerjaan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/02/11/ngeblog-dengan-atau-tanpa-gambar-bagusan-mana/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Melalui Blog Saya Belajar Menulis</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/02/08/melalui-blog-saya-belajar-menulis/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/02/08/melalui-blog-saya-belajar-menulis/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Feb 2008 19:16:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[Personal]]></category>

		<category><![CDATA[belajar]]></category>

		<category><![CDATA[menulis]]></category>

		<category><![CDATA[ngeblog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=32</guid>
		<description><![CDATA[
Hmmm&#8230; judul basa-basi, sok merendah? Sama sekali tidak. Sama sekali bukan.
Memang demikianlah yang terjadi dan berlangsung. Saya masih belajar menulis. Terus belajar.
Saya bukan penganut militerisme, tetapi jelas sangat membutuhkan militer yang diongkosi dengan pajak rakyat, supaya ada pembagian tugas yang jelas siapa yang mesti pertama-tama maju perang. Apa urusannya dengan menulis dan ngeblog?
Saya mem(p)ercayai kredo [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/02/serdadulempung1.jpg" alt="serdadu lempung" /></p>
<p>Hmmm&#8230; judul basa-basi, sok merendah? Sama sekali tidak. Sama sekali bukan.</p>
<p>Memang demikianlah yang terjadi dan berlangsung. Saya masih belajar menulis. Terus belajar.</p>
<p>Saya bukan penganut militerisme, tetapi jelas sangat membutuhkan militer yang diongkosi dengan pajak rakyat, supaya ada pembagian tugas yang jelas siapa yang mesti pertama-tama maju perang. Apa urusannya dengan menulis dan ngeblog?</p>
<p>Saya mem(p)ercayai kredo pasukan komando. Tak ada prajurit yang terlatih, yang ada hanyalah prajurit yang selalu berlatih.</p>
<p>Bagaimana saya belajar? Ya setiap kali posting. Saya belajar merumuskan suatu hal, belajar menata benak.</p>
<p>Apa yang saya pelajari? Banyak. Begitu banyak sehingga tak dapat dirinci. Tapi saya dapat meringkasnya sebagai &#8220;dari menuai butir ingatan sampai membaca tulisan <em>bloggers</em> lain&#8221;.</p>
<p>Apakah topik tulisan saya menarik? Entah.</p>
<p>Apakah alur tulisan saya aneh dan tidak menyamankan pembaca? Mungkin.</p>
<p>Apakah tulisan saya menurut ahli bahasa memenuhi kaidah? Tidak. Penggunaan &#8220;tapi&#8221; (atau &#8220;tetapi&#8221;) pada awal kalimat, dan terlebih pada awal paragraf, dianggap kurang bagus &#8212; tetapi sering saya lakukan.</p>
<p>Apakah ejaan saya selalu tepat? Misalkan WordPress Indonesia sudah dipasangi pemeriksa kata dan ejaan yang baik dan benar, pasti ada saja kesalahan saya. <em>Typo </em>dan slaha kteik adalah bumbu najis yang sering gagal saya elakkan.</p>
<p>Kenapa saya nekat menulis?</p>
<p>Kalau saya menunggu cara berbahasa dan penulisan saya sampai beres agar pede, maka saya tak kunjung mengisi blog.</p>
<p><em>Tip: Jika ingin berguru datanglah ke <a href="http://webersis.com/about/" title="namanya juga pak dosen kan?" target="_blank">Ersis W. Abbas</a>. Dia guru yang baik.</em></p>
<p>© sumber ilustrasi: <a href="http://www.toysoldiersgallery.com" target="_blank">Toy Soldiers Gallery</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/02/08/melalui-blog-saya-belajar-menulis/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
