<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Paman Tyo</title>
	<atom:link href="http://pamantyo.dagdigdug.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pamantyo.dagdigdug.com</link>
	<description>mengaku berbagi padahal membual</description>
	<pubDate>Thu, 02 Jul 2009 23:43:37 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.1</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>&#8220;Kayaknya Ngeblog Memang Tren Sesaat&#8221; :)</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2009/07/03/kayaknya-ngeblog-memang-tren-sesaat/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2009/07/03/kayaknya-ngeblog-memang-tren-sesaat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Jul 2009 23:20:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[bahan cerita]]></category>

		<category><![CDATA[Facebook]]></category>

		<category><![CDATA[hellotxt]]></category>

		<category><![CDATA[koprl.com]]></category>

		<category><![CDATA[microblogging]]></category>

		<category><![CDATA[narablog]]></category>

		<category><![CDATA[ngeblog]]></category>

		<category><![CDATA[ping.fm]]></category>

		<category><![CDATA[plurk]]></category>

		<category><![CDATA[privasi]]></category>

		<category><![CDATA[seleb]]></category>

		<category><![CDATA[sindikasi]]></category>

		<category><![CDATA[twitter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=363</guid>
		<description><![CDATA[
Gara-gara Twitter, lalu Plurk, dan akhirnya Facebook, beberapa orang mengaku malas ngeblog. Kok bisa?
Kira-kira begini penjelasannya. Kalau mau bercerita yang ringkas, dan pasti dibaca orang, lakukan saja microblogging &#8212; termasuk mengisi status dan wall di Facebook, dan menggelundung di Koprol. Kemudian kalau mau berbagi pengalaman rada panjang teksnya, tulis saja di Notes-nya Facebook.
Masa sih? Ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-365" title="pokoknya ngeblog!" src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2009/07/ngeblogs.jpg" alt="" width="320" height="213" /></p>
<p>Gara-gara <a href="http://twitter.com" target="_blank">Twitter</a>, lalu <a href="http://plurk.com" target="_blank">Plurk</a>, dan akhirnya <a href="http://facebook.com" target="_blank">Facebook</a>, beberapa orang mengaku malas ngeblog. Kok bisa?</p>
<p>Kira-kira begini penjelasannya. Kalau mau bercerita yang ringkas, dan pasti dibaca orang, lakukan saja <em>microblogging</em> &#8212; termasuk mengisi status dan <em>wall</em> di Facebook, dan menggelundung di <a href="http://koprol.com" target="_blank">Koprol</a>. Kemudian kalau mau berbagi pengalaman rada panjang teksnya, tulis saja di <em>Notes</em>-nya Facebook.</p>
<p>Masa sih? Ada penjelasan tambahan.</p>
<p>Ngeblog, apalagi ikut komunitas, membuat setiap <em>blogger</em> eh narablog menjadi dikenal orang lain, lalu kopdar. Karena dikenal, maka di Plurk dan lainnya langsung punya teman. Karena sudah berteman maka postingnya selalu ditanggapi. Hal serupa berlaku di Facebook &#8212; bedanya, di sini tak semua teman adalah <em>bloggers</em>. &#8220;Akibatnya,&#8221; kata seorang kawan, &#8220;kita sudah kehabisan cerita buat dibagikan di blog.&#8221;</p>
<p>Menarik. Ada soal kehabisan cerita. Lalu apa lagi?</p>
<p>Teman saya yang lain bilang, &#8220;Ikut milis komunitas, apalagi kopdar, membuat kita kayak nggak punya stok posting lagi. Apa yang kita lakukan sudah diketahui orang lain bahkan mereka juga yang menyiarkan.  Soal tertentu yang bikin kita penasaran, sudah terjawab di milis sama kopdar &#8212; oh ya, juga Plurk. Jadi habis kan?&#8221;</p>
<p>Teman saya yang lainnya lagi punya kesaksian menarik. Facebook dan Plurk, katanya, &#8220;Membuat kita jadi seleb yang nggak bisa ngumpet, nyaris nggak punya kehidupan pribadi di luar blog. Nggak ada lagi yang bisa diceritain.&#8221;</p>
<p>Maka orang yang lainnya lagi, secara terpisah, menyimpulkan, &#8220;Mungkin si siapa itu benar. Blog memang hanya tren sesaat&#8230;&#8221;</p>
<p>Hmmm&#8230; nanti dulu. Kehabisan bahan cerita atau kehabisan waktu karena alokasi ngeblog dan <em>blogwalking</em> tersita untuk aktivitas gaul maya?</p>
<p>Aneh, jawaban yang saya terima, dalam kesempatan berbeda, bukanlah kalimat verbal melainkan tawa. Maka kalau saya ditanya apakah kehabisan bahan cerita, saya akan menjawab tidak. Saya yakin narablog lain pun begitu.</p>
<p>Justru dengan maraknya layanan <em>online</em> untuk berkawan dan wadah bernama media sosial, yang disertai pengayaan fitur dari waktu ke waktu, semuanya dapat kita manfaatkan untuk berbagi.</p>
<p>Semua layanan itu saling terhubung. Blog kita pun, secara manual maupun otomatis, dapat termuat di Facebook. Bahkan kalau mau praktis, manfaatkan saja <a href="http://hellotxt.com" target="_blank">HelloTxt</a> atau <a href="http://ping.fm" target="_blank">Ping.fm</a> untuk berbagi pengalaman dan konten dalam kemasan yang tersindikasi dan siap sebar. Kesemuanya menjadi saling melengkapi, kan?</p>
<p>Tentu saya pun yakin, bagi setiap orang selalu ada saat ketika isi hati dan benaknya butuh ruang penuangan yang lebih lega. Tidak mesti saban hari. Tiga bulan sekali bahkan setahun sekali pun cukup. Ruang penuangan itu adalah blog.</p>
<p>Ibaratnya, pahit awal sakit hati bisa dituang dalam posting yang maksimal sepanjang kuota SMS. Lain waktu, ketika hati lebih lega, atau masih sakit bahkan panas tetapi sudah bisa mengatur napas, isi hati bisa dituangkan sepanjang-panjangnya sampai pembaca kehabisan napas.</p>
<p>© Sumber gambar-gambar untuk disatukan dalam ilustrasi: entah</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2009/07/03/kayaknya-ngeblog-memang-tren-sesaat/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar dari Kota 1001 Ruko</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2009/06/16/belajar-dari-kota-1001-ruko/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2009/06/16/belajar-dari-kota-1001-ruko/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Jun 2009 05:46:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[authorized kampret]]></category>

		<category><![CDATA[batam]]></category>

		<category><![CDATA[batam blogger community]]></category>

		<category><![CDATA[cooljuz cafe]]></category>

		<category><![CDATA[dev syam]]></category>

		<category><![CDATA[hasan aspahani]]></category>

		<category><![CDATA[ismu surizan]]></category>

		<category><![CDATA[joko geblek supriyanto]]></category>

		<category><![CDATA[ria saptarika]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=340</guid>
		<description><![CDATA[
Sebuah piknik menyambut fajar yang menyenangkan. Dan memang piknik dalam pengertian yang benar. Kalau merujuk KBBI adalah: &#8220;bepergian ke suatu tempat di luar kota untuk bersenang-senang dng membawa bekal makanan dsb.&#8221; Di Webster dan Oxford silakan Anda cari sendiri.
Pagi, sebelum pukul lima, teman-teman Batam (Joko Geblek Supriyanto, Dev Syam, dan Keqi Authorized Kampret) sudah di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-352" title="jembatan barelang batam" src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2009/06/batam-berelang-02.jpg" alt="" width="320" height="180" /></p>
<p>Sebuah piknik menyambut fajar yang menyenangkan. Dan memang piknik dalam pengertian yang benar. Kalau merujuk <a href="http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php" target="_blank">KBBI </a>adalah: &#8220;bepergian ke suatu tempat di luar kota untuk bersenang-senang dng membawa bekal makanan dsb.&#8221; Di Webster dan Oxford silakan Anda cari sendiri.</p>
<p>Pagi, sebelum pukul lima, teman-teman Batam (<a href="http://jokosupriyanto.com" target="_self">Joko Geblek Supriyanto</a>, <a href="http://defanansyam.com/" target="_blank">Dev Syam</a>, dan <a href="http://keqi.nyebel.in/" target="_blank">Keqi Authorized Kampret</a>) sudah di Circle K sebelah Hotel Mercure. Mereka harus sebisanya bangun pagi. Sama seperti saya dan <a href="http://enda.dagdigdug.com" target="_blank">Enda Nasution</a> juga.</p>
<p>Sebagai tuan rumah mereka ingin buktikan kepada tetamunya tentang pesona Jembatan Barelang, penghubung pulau-pulau Batam-Rempang-Galang dan empat pulau kecil lainnya. Terbukti itu bukan hanya piknik tetapi perjalanan yang menyenangkan, termasuk napak tilas pengungsi Vietnam di Galang.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-353" title="piknik fajar di jembatan barelang batam" src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2009/06/batam-berelang-01.jpg" alt="" width="320" height="200" /></p>
<p>&#8220;<em>Bloggerhood</em>&#8221; tecermin di sana. Begitu pula di kota-kota lain. Ada kesadaran untuk memperkenalkan pesona lokal kepada orang luar, termasuk kepada rekan-rekan maya yang baru sekali itu bersua. Hal sama berlaku untuk &#8220;miliser&#8221;. Komunikasi maya pada akhirnya membentuk persaudaraan.</p>
<p>Jika bicara pesona lokal, dalam hal apa saja <em>bloggers </em>lokal akan melakukannya? Salah satunya adalah kompetisi blog oleh <a href="http://batamblogger.com/" target="_blank">Batam Blogger Community</a> (BBC) selama 1-25 April, yang hasilnya diumumkan Sabtu 13 Juni lalu (dan tanpa rencana: sekalian perayaan ultah <a href="http://ismusurizan.com/" target="_blank">Ismu Surizan</a>, ketua panitia). Temanya adalah Melihat Batam Melalui Blog &#8212; dan melalui <a href="http://cooljuz.com/" target="_blank">CoolJuz Cafe</a>. :D</p>
<p>Hasilnya adalah sekitar 587 posting dari kalangan umum mahasiswa serta sekitar 217 dari kalangan pelajar. Memang, satu orang bisa menulis beberapa posting &#8212; dari kalangan pelajar, misalnya <a href="http://rainbowlife-ryadhie.blogspot.com/" target="_blank">M. Haryadi Futra</a>, sampai menghasilkan 62 posting. Sungguh sebuah gairah.</p>
<p>Berhasilkah upaya memperkenalkan Batam yang bukan cuma kawasan bisnis dan industri kepada orang luar? Waktu yang akan menjawabnya. Google dan pencari lain akan mencatatnya. <em>Blogger </em>yang kebetulan wakil walikota Batam, <a href="http://www.riasaptarika.web.id/" target="_blank">Ria Saptarika</a>, akan terus berupaya. :)</p>
<p>Tentu, misalkan keseluruhan paket posting dikemas lebih ramah SEO yang pintar pun (karena beberapa aktivis BBC paham baget soal ini) tetap butuh upaya lain, tak hanya kompetisi blog. Temuan siang ini, dari 10 hasil pertama pencarian &#8220;batam&#8221; di Google (dari sekitar 5.660.000 hasil telusur), yang dari blog hanya satu, itu pun tahun 2006.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-354" title="lomba blog 2009 - batam blogger community" src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2009/06/batam-barelang-03.jpg" alt="" width="320" height="180" /></p>
<p>Tak ada hasil instan. Tetapi semangat memperkenalkan daerah itu yang layak diacungi jempol. Memperkenalkan aspek wisata, sejarah, tradisi, dan kuliner.</p>
<p>Bagi orang Batam mungkin menggelikan jika sampai hari ini ada orang terpelajar (dari luar Batam) yang menganggap Tanjungpinang ada di pulau itu. Saya sendiri jujur saja, sejak SD sampai SMA hanya tahu bahwa Tanjungpinang itu di Riau tetapi saya tak tahu  di pulau apa.</p>
<p>Sekian lama, orang-orang di luar Riau dan Kepulauan Riau lebih tahu Tanjungpinang dan Tanjungbalai Karimun. Dan sebagian orang (tua) mengenal Galang sebagai kamp pengungsi Vietnam.</p>
<p>Batam? Kemudian lebih dikenal, antara lain pada masa jayanya barang-barang murah di sana, bahkan pada tahun 90-an, ibu-ibu di Jawa tahu bahwa harga bawang putih (tak hanya elektronik) lebih murah di Batam.<br />
Meskipun begitu, apa itu Otorita Batam dan apa itu Kota Batam, orang luar (menurut kesan saya) masih bingung.</p>
<p><a href="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2009/06/batam-balerang-05.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-356" title="batam blogger community: dilarang copy paste" src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2009/06/batam-balerang-05-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Nah kemudian dari blog saya tahu bahwa Batam lebih banyak. Ada <a href=" http://noesaja.wordpress.com/2009/05/28/batam-surga-vegetarian/" target="_blank">24 resto vegetarian</a> di sana (pelanggan lebih dari 3.000 orang). Ada kampung suku Anak Laut (cerita <a href="http://menixnews.wordpress.com/2009/05/30/melihat-aktivitas-suku-laut-di-batam/" target="_blank">Menixnews </a>dan <a href=" http://bambangsyahputra.com/suku-laut-ingin-diperhatikan-bukan-dijanjikan/" target="_blank">Bambang Syahputra</a>). Ada klub untuk &#8220;<em>s8erboyz</em>&#8221; <a href="http://rimmelds.blogspot.com/2009/05/batam-skateboard-community-bascom.html" target="_blank">Bascom</a>. Ada cerita tentang <a href="http://panoes.wordpress.com/2009/05/31/batam-reservoirs/" target="_blank">reservoir air</a> di pulau panas itu. Dan&#8230; ini yang menyentuh: <a href="http://snhadi.wordpress.com/2009/04/24/ruli-karena-mereka-batam-ada/" target="_blank">rumah liar (ruli) </a>yang selama ini muncul di koran-koran sebagai potret sosial. Batam bukan cuma pabrik, karaoke (dan dulu: judi), dan air api yang lebih murah daripada Pulau Jawa.</p>
<p>Dari kunjungan yang kali ini relatif lebih lama, saya mendapatkan kesan bahwa Batam adalah kota dengan banyak ruko. Saya belum mendapatkan data jumlah ruko untuk sekitar 950.000 penduduknya. Kelak akan muncul cerita dari sana, sebagai kelanjutan dari posting Iqbal Rois: <a href=" http://iqbalrois.blog.friendster.com/2009/04/batam-kota-1001-ruko/" target="_blank">Kota 1001 Ruko</a>.</p>
<p>Foto-foto di <a href="http://www.facebook.com/album.php?aid=23936&amp;id=1440161736&amp;l=2cd1e5b406" target="_blank">Facebook</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2009/06/16/belajar-dari-kota-1001-ruko/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Blog Khusus: Karena Klaim atau Persepsi?</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2009/06/08/blog-khusus-karena-klaim-atau-persepsi/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2009/06/08/blog-khusus-karena-klaim-atau-persepsi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Jun 2009 06:11:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[fahmi]]></category>

		<category><![CDATA[hedi]]></category>

		<category><![CDATA[kunangkunangku]]></category>

		<category><![CDATA[opeth]]></category>

		<category><![CDATA[progrock]]></category>

		<category><![CDATA[pur]]></category>

		<category><![CDATA[riverside]]></category>

		<category><![CDATA[sekadarblog.com]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=328</guid>
		<description><![CDATA[
Ketika Nurdin Halid tetap melenggang memimpin PSSI, saya segera mengintip Sekadarblog, milik Hedi Novianto. Kemudian saya ketahui, Hedi memang tak tertarik membahas itu.
Kenapa saya berharap dari Hedi? Sederhana. Saya tak suka sepakbola dan tak mengikuti. Tetapi dari postingnya yang ringkas kadang saya mendapatkan pencerahan tentang etos, etika, manajemen, oh ya juga kultur, yang diangkat dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-333" title="progrock, sepakbola, dan formula 1" src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2009/06/balbalapgitar.jpg" alt="" width="300" height="200" /></p>
<p>Ketika Nurdin Halid tetap melenggang memimpin PSSI, saya segera mengintip <a href="http://sekadarblog.com" target="_blank">Sekadarblog</a>, milik Hedi Novianto. Kemudian saya ketahui, Hedi memang tak tertarik membahas itu.</p>
<p>Kenapa saya berharap dari Hedi? Sederhana. Saya tak suka sepakbola dan tak mengikuti. Tetapi dari postingnya yang ringkas kadang saya mendapatkan pencerahan tentang etos, etika, manajemen, oh ya juga kultur, yang diangkat dari sepakbola.</p>
<p>Selain itu? Subyektif sih. Saya mengenal Hedi dengan baik dan saya memercayainya. Maka pada saat bersua kadang tanpa malu dianggap katro saya menanya ini-itu kepadanya.</p>
<p>Ada saja cerita lucu dari Hedi. Misalnya, untuk mengenali pemain kelas perserikatan yang &#8220;dibon&#8221; oleh bal-balan kelas tarkam (antarkampung), para bandar mengamati sepatu pemain. Kalau bagus banget berarti dari perserikatan.</p>
<p>Lantas tempo hari ketika ada rencana mendatangkan pemain Manchester United (saya tak hapal pemainnya dan tak belajar menghapal), lagi-lagi saya  mengintip blog Hedi berhari-hari. Ternyata dia tak peduli. Ya sudah.</p>
<p>Kemudian tempo hari ada kabar anggaran untuk setiap tim Formula 1 akan dibatasi. Saya segera menantikan posting Eddy Fahmi. Yah, isi blognya tetap jalan-jalan, jajan, dan foto-foto. Tak ada Formula 1. Misalnya yang <a href="http://blog.efahmi.info/" target="_blank">di sini</a>.</p>
<p>Salahkah saya berharap bahwa Hedi dan Fahmi akan membahas hal yang saya inginkan? Ya, sangat salah.</p>
<p>Dalam blog yang saya sebut, mereka tidak pernah mengklaim diri sebagai <em>bloggers </em>khusus bal-balan dan balapan. Persepsi saya saja yang salah. Bahkan Fahmi sudah lama tak membahas balapan &#8212; mungkin sudah berpindah ke <em>microblogging </em>yang tak saya ikuti.</p>
<p>Kesalahan yang sama terjadi ketika beberapa waktu lalu saya ingin tahu apa kata Pur, si <a href="http://kunangkunangku.wordpress.com" target="_blank">Kunang-kunangku</a>, tentang album <a href="http://opeth.com/" target="_blank">Opeth</a>, <em>Watershed</em>, yang saya beli. Ternyata tidak ada.</p>
<p>Lagi-lagi saya salah: berharap dia akan mereviu CD baru yang saya andaikan juga dia sukai. Mungkin kesalahan akan terulang setelah album <em>Anno Domini High Definition</em> dari <a href="http://www.riverside.art.pl/" target="_blank">Riverside</a>, grup progrock Polandia, keluar bulan ini.</p>
<p>Mereka orang-orang merdeka. Boleh menulis apa saja. Jika kebetulan itu sesuai dengan dengan harapan pembacanya, ya syukur. Jika tidak, ya suka-suka mereka. Blog mereka bukan portal yang tidak boleh melewatkan kabar teranyar.</p>
<p>Hal sama berlaku untuk <a href="http://jakartasocial.wordpress.com/" target="_blank">Jakarta Social Blog</a> yang khusus membahas sosialita Ibu Kota. Para pengelola blog itu tak harus menuruti Anda. Dan lebih penting lagi: tak menghamba kepada <a href="http://www.google.com/insights/search/#geo=ID&amp;cmpt=q" target="_blank">Google Trends</a>, yang akan memposting apa pun, suka atau tidak, ngeh atau nggak, bila perlu <em>copy and paste</em>, pokoknya ngetren.</p>
<p>© Ilustrasi: <a href="www.likecool.com">Likecool</a> (gitar), <a href="http://visualparadox.com">Visualparadox</a> (bola) &amp; <a href="http://luxuryvice.com">Luxuryvice</a> (mobil)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2009/06/08/blog-khusus-karena-klaim-atau-persepsi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ngeblog Secara Intelek :)</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2009/05/23/ngeblog-secara-intelek/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2009/05/23/ngeblog-secara-intelek/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 May 2009 17:08:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[auguste rodin]]></category>

		<category><![CDATA[edward shills]]></category>

		<category><![CDATA[goenawan mohamad]]></category>

		<category><![CDATA[intelectueel]]></category>

		<category><![CDATA[intelektual]]></category>

		<category><![CDATA[intelektuil]]></category>

		<category><![CDATA[milan kundera]]></category>

		<category><![CDATA[the thinker]]></category>

		<category><![CDATA[wiji thukul]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=297</guid>
		<description><![CDATA[ 

Ada kawan yang ragu ngeblog karena, &#8220;Saya nggak intelek. Nggak bisa nulis yang keren, yang kutipannya sama referensinya intelek atau ilmiah, gitu. Malu jadinya.&#8221;
Oh, barangkali yang dia maksudkan adalah blog dengan isi seperti jurnal ilmiah, yang penuh catatan kaki, pakai &#8220;Ibid.&#8221; dan &#8220;Op.cit?&#8221;
Ternyata bukan. Blog intelek, menurut kawan itu, adalah yang mengutip pendapat ilmuwan, sastrawan, dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> </p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-321" title="blogger intelek" src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2009/05/blogger-intelek.jpg" alt="" width="300" height="421" /></p>
<p>Ada kawan yang ragu ngeblog karena, &#8220;Saya nggak intelek. Nggak bisa nulis yang keren, yang kutipannya sama referensinya intelek atau ilmiah, gitu. Malu jadinya.&#8221;</p>
<p>Oh, barangkali yang dia maksudkan adalah blog dengan isi seperti jurnal ilmiah, yang penuh catatan kaki, pakai &#8220;<em>Ibid.&#8221;</em> dan &#8220;<em>Op.cit</em>?&#8221;</p>
<p>Ternyata bukan. Blog intelek, menurut kawan itu, adalah yang mengutip pendapat ilmuwan, sastrawan, dan orang hebat lainnya.</p>
<p>&#8220;Misalnya ngutip (Karl) Marx dan Tan Malaka. Atau ngutip Woody Allen, atau Andy Warhol, atau Pram(oedya Ananta Toer) dan Goenawan Mohamad,&#8221; katanya. &#8220;Kutipan itu nunjukin kalo penulisnya banyak baca. Artinya intelek, kan?&#8221;</p>
<p>Aha! Saya bilang, kutipan mah bisa dicari pakai Google. &#8220;Tapi kalo saya belum baca bukunya malu juga dong. Masa sih cuma ngutip doang?&#8221; sanggahnya.</p>
<p>Baiklah, memabaca itu memang baik dan bermaslahat. Lantas apa lagi ukuran &#8220;intelek&#8221;?</p>
<p>&#8220;Anu, itu lho, pakai kata-kata yang ilmiah, yang keren, pokoknya bukan bahasa <em>Pos Kota</em>,&#8221; katanya. Hmmm&#8230; rada bingung saya. Maka saya pun minta contoh.</p>
<p>&#8220;Gini, misalnya pakai kata <em>liyaning liyan</em>, hermeneutika, holistik, ontologis, marginal, tepermanai&#8230;&#8221;</p>
<p>Aha! Bagi saya yang penting adalah kita, sebagai <em>bloggers</em>, nyaman dan cocok dengan pilihan kata kita dalam menulis. Syukur jika pilihan kata kita itu dipahami para pembaca karena secara semantik benar. Misalnya &#8220;konsumerisme&#8221; yang kita maksudkan adalah paham yang memperjuangkan kepentingan konsumen, dan bukan perilaku konsumtif yang berlebihan. </p>
<p>Selain itu ya keseluruhan tulisan dapat dipahami, tidak menimbulkan salah tafsir, dan syukur jika enak dibaca.</p>
<p>Kita boleh melahap banyak bacaan lalu kita serap inti pemikirannya. Itu memperkaya kita. Tanpa sadar hasil serapan kita terhadap dunia teks (tak hanya verbal berupa tulisan, tetapi juga yang auditif dan visual) bisa tecermin di blog.</p>
<p>Memang sih kita bisa dituduh sebagai penjiplak, yang mengaku-aku ucapan orang lain sebagai tuturan sendiri, padahal penyebabnya hanyalah semata-semata kita lupa itu ucapan siapa dan di mana, atau malah menyerapnya dari penutur kesekian. Misalnya kata-kata <em>&#8220;perjuangan ingat melawan lupa&#8221;</em> dan <em>&#8220;maka hanya satu kata: lawan!&#8221;</em>  Tak apa, itu risiko. Justru bagusnya blog adalah ini: kita terbuka terhadap pengingat dan bahkan koreksi.</p>
<p>&#8220;Jadi kita nggak perlu pamer apa yang kita baca?&#8221; tanyanya.</p>
<p>Terserah. Itulah jawaban saya.</p>
<p>Dianggap kurang intelek pun bukan soal bagi saya karena saya memang bukan (cerdik-) cendekiawan maupun pengamat yang tumbuh seperti cendawan. Dan yang lebih penting lagi saya memang tak pernah merasa sebagai <em>intelectueel</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2009/05/23/ngeblog-secara-intelek/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Blog Saya nggak Disebut, padahal Duluan Saya Nulisnya!</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2009/05/19/blog-saya-nggak-disebut-padahal-duluan-saya-nulisnya/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2009/05/19/blog-saya-nggak-disebut-padahal-duluan-saya-nulisnya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 May 2009 19:41:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[blogger]]></category>

		<category><![CDATA[blogger baru]]></category>

		<category><![CDATA[ketidakadilan]]></category>

		<category><![CDATA[pemula]]></category>

		<category><![CDATA[seleb]]></category>

		<category><![CDATA[terkenal]]></category>

		<category><![CDATA[tersohor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=273</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Huh mentang-mentang si anu dan si itu udah punya nama, apa aja yang mereka tulis pasti dikomentarin, dibahas. Padahal isinya ya estede gitu. Cemen,&#8221; keluh Joko Blogawanto.
Mereka itu siapa? Yang Joko maksudkan adalah beberapa bloggers yang menurutnya &#8220;sudah punya nama&#8221;. Lho, bukannya semua bloggers punya nama, baik lengkap, panggilan, maupun samaran. Uh, kriuk. Maaf.

Lain lagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Huh mentang-mentang si anu dan si itu udah punya nama, apa aja yang <em>mereka </em>tulis pasti dikomentarin, dibahas. Padahal isinya ya estede gitu. Cemen,&#8221; keluh Joko Blogawanto.</p>
<p><em>Mereka </em>itu siapa? Yang Joko maksudkan adalah beberapa <em>bloggers</em> yang menurutnya &#8220;sudah punya nama&#8221;. Lho, bukannya semua <em>bloggers</em> punya nama, baik lengkap, panggilan, maupun samaran. Uh, kriuk. Maaf.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-283" title="teleskop atawa keker panjang" src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2009/05/teleskopsaya.jpg" alt="" width="320" height="238" /></p>
<p>Lain lagi keluhan Arimbi Nuliselalu: &#8220;Ah, kalo soal yang itu aku udah duluan nulis, tahun kemarin. Dicari di Google juga ketemu. Tapi kenapa yang <em>mereka </em>rujuk postingnya si Ngehekmehek Tebarpesonawan? Padahal punyaku lebih komplet, pake foto supaya nggak disangka <em>hoax</em>.&#8221;</p>
<p><em>Mereka </em>yang dia maksudkan adalah <em>bloggers </em>juga, yang dia sebut <em>fans </em>dari si anu dan si itu.</p>
<p>Joko dan Arimbi mengatakan itu kepada saya pada kesempatan dan tempat yang terpisah. Keluhan yang sama, kadang dengan bersungut-sungut, juga datang dari beberapa teman <em>bloggers</em>.</p>
<p>Kesimpulannya? Ada ketidakadilan di blogosfer. Yang sering dikutip dan ditaut oleh beberapa <em>bloggers</em> hanyalah <em>bloggers</em> tertentu. Penyanyi menjadi lebih penting daripada lagunya, padahal cara menyanyikannya &#8212; menurut para pengeluh &#8212; nggak oke-oke amat.</p>
<p>Itu pun masih ditambahi kuah dan sedikit sambal, &#8220;Padahal orang-orang itu postingnya jarang, paling sebulan cuma tiga kali. Udah gitu mereka jarang datengin blog lain apalagi ninggalin komen. Bilangnya  sih baca banyak  blog di <em>RSS reader</em>. Ya gitu, deh. Biasa&#8230;&#8221;</p>
<p>Akan menjengkelkan jika saya menyahut bahwa itu cuma persoalan minta perhatian dari blogosfer tetapi tak mendapatkan.</p>
<p>Apa boleh bikin, kehidupan dunia maya kadang mencerminkan sebagian dari kehidupan nyata. Ada pilih kasih, ada suka tak suka, ada keinginan untuk diakui dan tenar, dan seterusnya. Itu semua bisa berimpit maupun terpisah dengan alasan ngeblog sebagai &#8220;pokoknya ngeblog, pokoknya nulis, yang komen dikit juga nggak masalah&#8221;.</p>
<p>Jumlah blog terus berbiak. Demikian pula layanan penampung tulisan, misalnya di layanan jejaring sosial. Maka dunia maya pun kian riuh. Belantara teks semakin rimbun.</p>
<p>Seorang teman mengeluh, &#8220;Sebagai pendatang baru aku nggak dianggep. Akibatnya yang penting bukan harus rajin posting tapi justru rajin komen di blog yang rame supaya dikenal.&#8221;</p>
<p>Memang saya pernah mengatakan bahwa beberapa pemain di blogosfer itu diuntungkan oleh waktu, karena  mereka start lebih awal ketika blogosfer belum riuh. Akan tetapi dari jejalan blog baru itu ada saja yang cepat mencuat, padahal mereka tak berlebihan mempromosikan diri, bahkan sebagian tak peduli SEO.</p>
<p>Di mana saja rahasianya, saya malah tak dapat memastikan. Mungkin isi &#8212; tetapi <em>bloggers</em> lain juga menulis bagus. Wajah? Beberapa tak menampilkan potret, kadang malah gambar apel atau jeruk. SEO-nya dimanfaatkan secara sadar? Tampaknya tak semua peduli SEO. Bikin tag saja semaunya. Begitu pula ketika bikin judul. Strategi <em>branding</em> barangkali? Sebagian tak peduli dengan itu.</p>
<p>Lantas apa dong? Nasib? Ini sih jawaban ngawur untuk mengakhiri diskusi. Jadi saya harap Andalah yang memberikan pencerahan kepada saya dan para pembaca.</p>
<p>Maka baiklah omong kosong ini saya tutup dengan pengakuan seorang sastrawan tenar (penyair-cerpenis-novelis), yang beberapa kali meraih penghargaan. Dia yang bukan <em>blogger</em> itu bilang, &#8220;Orang-orang itu, para pemula, nggak mau tahu kalau saya dulu mengalami tulisan saya selalu ditolak oleh redaksi dan penerbit. Bahkan sampai sekarang pun tulisan saya belum tentu langsung dimuat oleh <em>Kompas</em>.&#8221;</p>
<p>© Ilustrasi: <a href="http://science.howstuffworks.com/telescope.htm" target="_blank">HowStuffWorks</a> &#8212; diambil tanpa izin</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2009/05/19/blog-saya-nggak-disebut-padahal-duluan-saya-nulisnya/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Jualan di Blog. Kenapa tidak?</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2009/05/15/jualan-di-blog-kenapa-tidak/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2009/05/15/jualan-di-blog-kenapa-tidak/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 May 2009 06:55:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[berbisnis di blog]]></category>

		<category><![CDATA[cari uang di blog]]></category>

		<category><![CDATA[dagang]]></category>

		<category><![CDATA[galeri]]></category>

		<category><![CDATA[jualan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=264</guid>
		<description><![CDATA[
Microwave cap Electrolux jualan Golda di dagdigdug.com, dalam rangka garaga sale Mei tahun lalu, terjual seharga Rp 1,75 juta. Bagaimana dengan mukena Cinte untuk anak-anak dari Astrid di Bunga Mukena? Belum ada laporan &#8212; karena dagdigdug.com memang bukan kantor Kodim zaman dahulu, yang senang mewajibkan siapa pun melapor.
Begitulah, blog memang bisa dipakai untuk jualan. Blog [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-267" title="berbisnis melalui blog" src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2009/05/jualandidagdigdugcom.jpg" alt="" width="320" height="318" /></p>
<p><em>Microwave</em> cap Electrolux jualan <a href="http://golda.dagdigdug.com/" target="_blank">Golda</a> di dagdigdug.com, dalam rangka <em>garaga sale</em> Mei tahun lalu, terjual seharga Rp 1,75 juta. Bagaimana dengan mukena Cinte untuk anak-anak dari Astrid di <a href="http://bungamukena.dagdigdug.com/" target="_blank">Bunga Mukena</a>? Belum ada laporan &#8212; karena dagdigdug.com memang bukan kantor Kodim zaman dahulu, yang senang mewajibkan siapa pun melapor.</p>
<p>Begitulah, blog memang bisa dipakai untuk jualan. Blog menjadi etalase sederhana. Dan pengelola dagdigdug.com pun memperbolehkannya.</p>
<p>Untuk blogger lain, yang tidak ngeblog di layanan gratis, misalnya di domain dan hosting sendiri, ada beberapa tema WordPress yang menampilkan konten sebagai toko <em>online</em>.</p>
<p>Lho bukannya ngeblog itu soal hati, tentang menulis yang menyenangkan, dan berbagi hasil jepretan yang mengesankan mata? Kalau buat dagang, bukan ngeblog dong?</p>
<p>Oh tak masalah. Konten blog kan beragam. Makanya ada blog yang isinya label produk, sebagian memang berkelas jadul. Nah, label-label itu punya cerita. Bahwa labelnya tak dijual, bahkan dihibahkan kepada sebuah tim kajian grafis di sebuah sekolah seni rupa, itu soal lain.</p>
<p>Bagaimana kalau koleksi hasil perburuan itu dijual, seperti yang dilakukan fotografer <a href="http://danielsupriyono.blogspot.com/" target="_blank">Daniel Supriyono</a> di blog <a href="http://warungbarangantik.blogspot.com/" target="_blank">Warung Barang Antik</a>? Juga tak soal.</p>
<p>Yang penting, jika Anda ingin berjualan melalui blog, adalah tidak menipu, dan dagangan Anda tak melanggar hukum maupun aturan pakai penyedia layanan blog (bukan narkoba, bukan materi pornografis, bukan barang bajakan, bukan bom maupun petunjuk merakit bom).</p>
<p>Wooo&#8230; asyik dong? Memang. Tak ada yang salah dengan memanfaatkan layanan <em>online</em> untuk berjualan, dari blog sampai milis dan jejaring sosial. Sepanjang penyedia layanan membolehkan ya silakan saja.</p>
<p>Yang penting kontennya Anda susun sendiri. Maksud saya tidak asal <em>copy-and-paste</em> (secara manual maupun secara otomatis dengan aplikasi) sambil menyisipkan tautan yang tidak relevan, semata demi trafik dan pendapatan iklan.</p>
<p>Kalau yang itu sih, <em>copy-and-paste</em> tadi,  bukan ngeblog. Cuma memanfaatkan layanan blog buat bereksperimen SEO dan meraup duit iklan, dengan cara yang sangat tega karena mengecoh orang yang tergiring oleh direktori dan mesin pencari.</p>
<p>Lebih menyedihkan lagi, cara macam itu telah meracuni calon <em>bloggers</em> bahwa &#8220;ngeblog bisa dapat banyak duit&#8221;, tetapi tanpa etos kerja selain betah melek buat <em>online</em>.</p>
<p>Jika Anda punya dagangan yang <em>bener</em>, nggak terlarang, bahkan mungkin titipan orang lain, pasang saja di blog. Bisa sebagai posting selingan di antara cerita patah hati dan reviu film, bisa juga ditampung dalam blog khusus.</p>
<p>Sudah menambah teman, eh masih menambah pendapatan pula. Enak, kan? Itulah seninya ngeblog.</p>
<p>Tentu Anda harus berhati-hati. Sekali Anda dianggap menipu maka ceritanya akan menyebar.</p>
<p>Tentu Anda tak mau dianggap menipu, karena kalau berjualan di blog umumnya orang mencantumkan nama,<em> e-mail</em>, dan nomor telepon. Artinya sulit untuk berlaku curang.</p>
<p>Itulah beda Anda dari para pembuat blog tipuan. Mereka tak ingin dikenali, cenderung hanya mau berteman dengan sesama pemain SEO hitam, untuk bertukar ilmu dan kiat.</p>
<p>Sama-sama mencari uang tetapi beda alasan dan cara.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2009/05/15/jualan-di-blog-kenapa-tidak/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Menulis tanpa Beban</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2009/05/06/menulis-tanpa-beban/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2009/05/06/menulis-tanpa-beban/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 May 2009 15:12:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[Facebook]]></category>

		<category><![CDATA[ngeblog]]></category>

		<category><![CDATA[Notes]]></category>

		<category><![CDATA[surat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=258</guid>
		<description><![CDATA[
Beberapa teman mulai agak bosan, atau bingung, dengan blognya. Di Facebook, meski merasa sebagai orang baru, mereka justru lebih nyaman mengisi Notes. Salah satu alasan, kata seseorang, &#8220;Di sana jelas, siapa saja yang kita tuju dan siapa saja yang bakal memberi respon.&#8221;
Rasa nyaman itu muncul karena mereka merasa menulis untuk teman sendiri. Seperti menulis surat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2009/05/nulis-surat.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-260" title="ngeblog seperti menulis surat" src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2009/05/nulis-surat-224x300.jpg" alt="" width="224" height="300" /></a></p>
<p>Beberapa teman mulai agak bosan, atau bingung, dengan blognya. Di Facebook, meski merasa sebagai orang baru, mereka justru lebih nyaman mengisi Notes. Salah satu alasan, kata seseorang, &#8220;Di sana jelas, siapa saja yang kita tuju dan siapa saja yang bakal memberi respon.&#8221;</p>
<p>Rasa nyaman itu muncul karena mereka merasa menulis untuk teman sendiri. Seperti menulis surat terbuka untuk kalangan terbatas. Yah, rada mirip di milis. Bedanya, di milis seringkali tak mungkin menulis panjang, mirip artikel, karena bisa disangka akan mendominasi.</p>
<p>Oh, menulis surat! Itu pula yang dilakukan beberapa kawan dengan Facebook-nya. Mereka mengirim pesan ke sejumlah kawan untuk mendiskusikan sejumlah hal yang menurut mereka cocok.</p>
<p>Berbagi pengalaman dan lamunan memang hanya lancar jika kita nyaman. Rasa nyaman muncul jika kita merasa memercayai dan dipercayai kawan, setidaknya untuk hal tertentu. Bahwa ternyata saat membaca tulisan kita itu ternyata satu-dua teman sedang tidak <em>mood</em>, itu lain soal.</p>
<p>Bagaimana dengan posting di blog? Dapatkah diperlakukan seringan menulis surat dan Notes di Facebook?</p>
<p>Anda yang lebih tahu jawabannya. Dan saya tahu sebagian dari Anda menulis blog selayaknya menulis surat, padahal Anda belum tentu mengenal pribadi pembaca Anda, apalagi dekat.</p>
<p>Memang sih, boleh jadi ketika menulis Anda tak merasa sedang menulis surat. Akan tetapi Anda merasa sedang bercakap, secara searah, dengan orang lain. Mirip ceramah, memang. Tak apa. Yang penting sudah menulis hal yang boleh diketahui orang lain. Itu akan mengentengkan beban benak.</p>
<p>Terima kasih Anda telah membaca ceramah saya. Salam untuk tetangga sebelah. </p>
<p>NB:<br />
Apakah orang yang menulis dalam kungkungan dan keterbatasan juga bisa disebut &#8220;tanpa beban&#8221;?</p>
<p>© Ilustrasi: <em>Lone Inmate at San Quentin Prison Writing Letter in Mess Hall</em> (Charles E. Steinheimer), allposter.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2009/05/06/menulis-tanpa-beban/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ayo, Pasang Iklan!</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2009/04/27/ayo-pasang-iklan/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2009/04/27/ayo-pasang-iklan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Apr 2009 07:06:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[duit]]></category>

		<category><![CDATA[etos]]></category>

		<category><![CDATA[iklan]]></category>

		<category><![CDATA[monetizing]]></category>

		<category><![CDATA[ngeblog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=254</guid>
		<description><![CDATA[
Dia, si centil mènthel ganjen tapi lucu itu, adalah blogger tenar. Beberapa kali blognya yang berdomain sendiri itu macet karena trafik kelewat tinggi. Pengunjung membanjir, dan komentar pun datang tak terkira untuk setiap postingnya.
&#8220;Blogmu laku, Nduk. Pasangi iklan saja,&#8221; kata saya sok menasihati.
&#8220;Wah, bisa ya? Gimana caranya?&#8221;
Ini jawaban ngeselin. Sok rendah hati. Dia sebetulnya sudah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2009/04/moneyhouse.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-255" title="mendapatkan uang karena blog" src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2009/04/moneyhouse.jpg" alt="" width="380" height="380" /></a></p>
<p>Dia, si centil mènthel ganjen tapi lucu itu, adalah <em>blogger</em> tenar. Beberapa kali blognya yang berdomain sendiri itu macet karena trafik kelewat tinggi. Pengunjung membanjir, dan komentar pun datang tak terkira untuk setiap postingnya.</p>
<p>&#8220;Blogmu laku, Nduk. Pasangi iklan saja,&#8221; kata saya sok menasihati.</p>
<p>&#8220;Wah, bisa ya? Gimana caranya?&#8221;</p>
<p>Ini jawaban ngeselin. Sok rendah hati. Dia sebetulnya sudah tahu Adsense dan sejenisnya. Bahkan untuk iklan <em>direct placemen</em>t dia tinggal pasang.</p>
<p>&#8220;Tapi aku nggak mikir itu hé, Paman,&#8221; katanya.</p>
<p>Bukan pertama kali saya menganjurkan beberapa teman menyediakan kapling iklan berbayar di blognya. Alasan saya, salah satunya, untuk mengongkosi hosting.</p>
<p>Alasan lain? Mereka memang layak menyediakan kapling iklan karena blognya ramai pengunjung. Ramai karena isinya memang layak baca. Layak baca karena memang sangat subjektif, ditulis dengan hati.</p>
<p>Saya sebut dengan hati karena mereka menulis apa yang ingin mereka tulis. Bukan menulis apa yang lagi laris dan bakal terendus dengan cepat oleh mesin pencari dengan isi yang asal-asalan bahkan cenderung mengecoh.</p>
<p>Sebagai <em>bloggers</em> yang menulis dengan hati mereka layak mendapatkan manfaat ekonomis dari kegiatannya. Mereka berhak memetik hasil dari upaya meng-SEO-kan blognya karena diimbangi oleh konten yang tidak asal-asalan.</p>
<p>Menulis memang bukan soal gampang. Kalau itu gampang maka setiap orang akan melakukannya, tak perlu asal <em>copy-and-past</em>e dengan dalih berbagi.</p>
<p>Sederhana, bukan? Ah tidak juga. Ada yang punya cara lebih sederhana tapi diyakini lebih <em>smart</em>: lakukan semua trik SEO lantas isinya bisa apa saja. <em>Yang penting bukan ngeblog tetapi memanfaatkan mesin blog, lagi pula pelakunya tak ingin disebut sebagai blogger</em>.</p>
<p>Meskipun begitu saya akan menolak keras jika  ada yang menyebut mereka itu kaum santai yang tak mau bekerja keras. Beternak sejumlah halaman blog semu, bahkan sekian domain pengecoh, tetap membutuhkan pemantauan, kadang dari tengah malam nan sepi hingga saat anak tetangga berangkat sekolah.</p>
<p>Dunia blog kian sesak. Pemain baru terus bertambah, sehingga yang terjadi pada <em>bloggers</em> tertentu sebetulnya perebutan respon. Bahasa kasarnya: rebutan popularitas. Bagaimana bisa disebut berbagi gagasan dan pengalaman jika ternyata tak ada yang baca?</p>
<p>Justru di sinilah <em>bloggers</em> perlu berguru kepada para pemanfaat mesin blog yang pintar mengulik SEO. Buat apa? Supaya kerja kerasnya untuk mendapatkan respon akhirnya berbuah: blognya dikenal, isinya ditanggapi, trafik meninggi, dan layak dipasangi iklan.</p>
<p>Kerja keras? Iya, yang dilakukan dengan hati, karena penulisan sebuah paragraf bisa menuntut waktu hingga 15 menit, semata agar tulisannya bisa dipahami &#8212; dan syukur bila disukai &#8212; oleh orang lain.</p>
<p>Bagaimana kalau mereka tetap ogah menerima iklan, karena tetap larut dalam romantisisme lawas bahwa ngeblog bukan untum cari duit? Itu soal pilihan.</p>
<p>Ngeblog pastilah menggunakan mesin blog –– tetapi tidak sebaliknya.</p>
<p>© Ilustrasi: mediabistro.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2009/04/27/ayo-pasang-iklan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ngeblog pun Cocok untuk (Calon) Pensiunan</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2009/04/08/ngeblog-pun-cocok-untuk-calon-pensiunan/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2009/04/08/ngeblog-pun-cocok-untuk-calon-pensiunan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Apr 2009 09:13:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[bah reggae]]></category>

		<category><![CDATA[blontank poer]]></category>

		<category><![CDATA[budiono darsono]]></category>

		<category><![CDATA[didi nugrahadi]]></category>

		<category><![CDATA[goenawan mohamad]]></category>

		<category><![CDATA[mbilung ndobos]]></category>

		<category><![CDATA[ndoro kakung]]></category>

		<category><![CDATA[ngeblog]]></category>

		<category><![CDATA[orang tua]]></category>

		<category><![CDATA[pensiunan]]></category>

		<category><![CDATA[roy suryo]]></category>

		<category><![CDATA[sepuh]]></category>

		<category><![CDATA[totot indrarto]]></category>

		<category><![CDATA[wicaksono]]></category>

		<category><![CDATA[wimar witoelar]]></category>

		<category><![CDATA[yusro ms]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=238</guid>
		<description><![CDATA[
&#8220;Nanti kalo wis pensiun aku mau jadi penulis. Ha, mulai sekarang aku kudu belajar. Tapi piye carane?&#8221; kata seorang kawan. Padahal pensiunnya masih sepuluh tahun lagi.
&#8220;Maksudmu jadi kolumnis? Nulis di koran?&#8221; tanya saya. Dia mengangguk mantap. Lantas dia menyeruput tehnya, di angkringan di Jalan Mangkubumi, Yogyakarta, tiga pekan lalu.
Dengan jumawa bin pongah saya bilang, &#8220;Lupakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2009/04/ndorokakung-wicaksono.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-241" title="wahai orangtua dan orang tua, ngebloglah!" src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2009/04/ndorokakung-wicaksono.jpg" alt="" width="300" height="211" /></a></p>
<p>&#8220;Nanti kalo wis pensiun aku mau jadi penulis. Ha, mulai sekarang aku kudu belajar. Tapi piye carane?&#8221; kata seorang kawan. Padahal pensiunnya masih sepuluh tahun lagi.</p>
<p>&#8220;Maksudmu jadi kolumnis? Nulis di koran?&#8221; tanya saya. Dia mengangguk mantap. Lantas dia menyeruput tehnya, di angkringan di Jalan Mangkubumi, Yogyakarta, tiga pekan lalu.</p>
<p>Dengan jumawa bin pongah saya bilang, &#8220;Lupakan itu. Ndak usah.&#8221;</p>
<p>Tentu saja dia bingung. Sejak kuliah dia ingin menjadi penulis. Setelah bekerja di Pemkot dia sempat berurusan dengan naskah. &#8220;Lha kalo ndak nulis di koran, aku mau apa?&#8221;</p>
<p>Saya bilang manfaatkanlah blog. Kalau malas bikin blog, jadikan saja Notes di Facebook-nya sebagai ladang untuk menulis.</p>
<p>&#8220;Mulai kapan enaknya, Dab?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kemarin. Atau sebelumnya.&#8221;</p>
<p>Memang menulis di blog tak akan mendapatkan honor, kecuali ada yang mensponsori. Tapi yang penting, menulis di blog itu merdeka, pemuatan naskah tak perlu bergantung pada editor.</p>
<p>Menulis di koran? Artikel harus antre, kecuali kalau tulisan itu adalah pesanan redaksi. Di koran cetak, penulis tak akan langsung mengetahui tanggapan pembaca, bahkan tak tahu persis berapa jumlah pembacanya.</p>
<p>Di blog, penulisnya akan mendapatkan tanggapan langsung (jika ada yang bersedekah komentar), tahu jumlah pembaca (kalau memasang pencatat), dan bisa mendapatkan kawan baru. Sial-sialnya, yang menjadi pembaca yang kaum sebaya, karena diikat oleh <em>cohort </em>yang sama.</p>
<p>Ya, ya, ya, ya. Kawan saya mulai tertarik.</p>
<p>Ehm. Saya akui ini bukan ceramah pertama kali secara tatap muka. Juga saya akui sebagian tak membuahkan hasil padahal korban sudah membuat akun di layanan blog. Banyak sebab, banyak kilah. Ngeblog memang susah.</p>
<p>Salah satu sebab adalah ketika mulai nginternet: pasangan seringkali merasa tak ditemani. Seperti halnya buku, internet adalah dunia diam. Anteng di fisik tapi berkecamuk di benak. Orang lain tak mudah dilibatkan seperti halnya menonton TV.</p>
<p>Bedanya, internet itu melebihi buku dan majalah. Ada interaksi di sana, bisa lebih dari seorang. Maka berbagialah kaum sepuh yang sejak awal tak pernah dihalangi pasangan untuk membaca buku, menikmati musik, dan aktivitas pribadi lainnya. <em>Online </em>hanyalah babak kelanjutan.</p>
<p>Seorang kawan bercerita, jikalau dia mancing seharian, atau bersepeda, atau mengurusi ikan dan burung sendirian, itu tak pernah dipersoalkan oleh istrinya.</p>
<p>&#8220;Tapi kalo baca atau <em>online </em>sendirian, katanya bikin orang lain kesepian. Lebih baik suami pergi daripada di rumah tapi asyik dengan diri sendiri,&#8221; keluhnya.</p>
<p>Saya pun berpikir satu hal. Menjadikan internet sebagai aktivitas hari tua rupanya memerlukan &#8220;penyuluhan&#8221; (aha, pakai istlah jadul sekalian). Tak hanya bagi seorang suami atau istri, tetapi juga pasangannya.</p>
<p>Jejaring sosial semacam Facebook bisa membantu mereka merasakan senangnya berinternet. Bisa ketemu kawan lama. Juga bersua pacar lama &#8212; tapi sudah sama-sama sepuh dan bercucu, tak ada alasan pasangan untuk cemburu.  Sekadar catatan, pengguna baru Facebook matang di beberapa negara memang tumbuh cepat, melebihi remaja (<a href="http://blog.nielsen.com/nielsenwire/nielsen-news/social-networking-new-global-footprint/" target="_blank">misalnya data di sini</a>i).</p>
<p>Lebih dari itu, layanan internet bisa dipakai untuk berbagi cerita dan pengalaman, setidaknya untuk cucu, bahkan kontennya bisa diwariskan. Dan yang lebih penting lagi, karena aktivitas itu bisa mengerem kepikunan.</p>
<p>Lantas siapa yang akan mengajari kaum sepuh itu? <em>Bloggers </em>belia dan <em>bloggers </em>(rada) tua, mestinya. :D Ada saran?</p>
<p>© Gambar asli untuk ilustrasi: Lions Recycle for Sight</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2009/04/08/ngeblog-pun-cocok-untuk-calon-pensiunan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Setelah Komunitas (dan Kopdar), Lalu Apa?</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2009/02/25/setelah-komunitas-dan-kopdar-lalu-apa/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2009/02/25/setelah-komunitas-dan-kopdar-lalu-apa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Feb 2009 04:41:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[anangku]]></category>

		<category><![CDATA[bengawan]]></category>

		<category><![CDATA[blontank]]></category>

		<category><![CDATA[cah andong]]></category>

		<category><![CDATA[gunung kelir]]></category>

		<category><![CDATA[jokowi]]></category>

		<category><![CDATA[loenpia]]></category>

		<category><![CDATA[mbois]]></category>

		<category><![CDATA[ponorogo]]></category>

		<category><![CDATA[purwaka]]></category>

		<category><![CDATA[reyog]]></category>

		<category><![CDATA[solo]]></category>

		<category><![CDATA[trenggalek]]></category>

		<category><![CDATA[tugu pahlawan]]></category>

		<category><![CDATA[warok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=227</guid>
		<description><![CDATA[
Dari Gresik Anang datang ke Solo bersama rombongan. Tentu Anang the living legend tak memakai jas cokelat yang menjadi bagian dari ikon dirinya di blogosfer.
Sabtu malam itu, dalam peluncuran Bengawan pekan lalu di Loji Gandrung, Anang datang dengan kemeja merah jambu. Ketika diajak menyanyi oleh Sita dari Cah Andong Yogya dia tampak malu-malu. Keesokan siangnya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-232" title="anang di solo" src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2009/02/anangdisolo.jpg" alt="" width="300" height="214" /></p>
<p>Dari Gresik <a href="http://anangku.blogspot.com" target="_blank">Anang </a>datang ke Solo bersama rombongan. Tentu Anang <em>the living legend</em> tak memakai jas cokelat yang menjadi bagian dari ikon dirinya di blogosfer.</p>
<p>Sabtu malam itu, dalam peluncuran <a href="http://bengawan.org" target="_blank">Bengawan</a> pekan lalu di Loji Gandrung, Anang datang dengan kemeja merah jambu. Ketika diajak menyanyi oleh <a href="http://pporinumpangcrazy.dagdigdug.com/" target="_blank">Sita</a> dari <a href="http://cahandong.org" target="_blank">Cah Andong</a> Yogya dia tampak malu-malu. Keesokan siangnya, pada Ahad yang sumuk, Anang sudah berbandana, duduk di jok kiri depan mobil, kembali ke asal, dan semoga akan dijemput oleh hari-hari baru.</p>
<p>Tak hanya Anang dan rombongan <a href="http://www.nggersik.com/" target="_blank">Gresik</a>. Teman dari kota lain, baik sebagai pribadi maupun duta komunitas, juga datang ke Solo. Misalnya <a href="http://www.kotareyog.com/" target="_blank">Ponorogo </a>(datang bermotor), <a href="http://tugupahlawan.com" target="_blank">Surabaya</a>, <a href="http://loenpia.net" target="_blank">Semarang</a>, Jakarta, <a href="http://www.gunungkelir.com/" target="_blank">Purworejo</a>&#8230;</p>
<p>Itulah kopdar. Kopi darat (dari &#8220;<em>copy </em>darat&#8221;). Lintas-komunitas. Mirip bus AKAP: antarkota antarprovinsi. Temu tampang <em>bloggers </em>dari sejumlah titik.</p>
<p>Bila ditilik dari sudut pandang gaul sosial, itu biasa saja. Penggemar perkutut (dengan maupun tanpa milis) melakukannya. Penggemar motor bebek cap Honda juga. Membentuk paguyuban lalu bersilaturahmi dengan kepesertaan yang besar.</p>
<p>Maka pertanyaan kita adalah buat apa sih komunitas <em>blogger</em>, dari yang berbasis geografis sampai keagamaan? Orang komunitas punya beragam jawaban. Salah satu yang <em>default</em>, dalam bahasa saya, adalah supaya saling kenal dan tahu.</p>
<p>Setelah itu? Ada yang merasa cukup bila dapat melakukan perjumpaan berkala. Ada yang merasa itu tak cukup, sehingga melakukan serangkaian kegiatan, dari yang berhubungan langsung dengan blog (mengajari orang ngeblog atau bertukar kiat dalam SEO) sampai yang tidak (misalnya membersihkan pantai atau jalan bareng ke museum). Ada pula yang menghasilkan web, bukan agregator, yang bertema khusus.</p>
<p>Selain itu? Entah. Terserah.</p>
<p>Iya, terserah. Karena itu terpulang kepada masing-masing komunitas. Juga terpulang kepada setiap komunitas apakah akan terus bergantung pada motor tertentu (pentolan, gegedug, tokoh) atau mencoba menghidupkan pengaderan sehingga setiap orang akan siap menjalankan kendaraan.</p>
<p>Sampai di situ urusannya bukan lagi layanan teknologi digital. Itu soal kemasyarakatan yang melekati setiap kelompok manusia. Internet hanya menjadi alat. Tetapi dalam kasus komunitas <em>blogger</em>, internet bukan sekadar alat. Kalau tidak ngeblog bagaimana bisa bikin wadah <em>blogger </em>kan? :D</p>
<p>Tak penting, kata Anda. Yang penting bergaul, dan jumlah maupun frekuensi posting bukanlah syarat keanggotaan. Itu juga betul bahkan benar. Gitu aja kok repot.</p>
<p>Juga betul jika seorang <em>blogger </em>memilih tak terkandangi oleh komunitas mana pun. Komunikasi dengan manusia lain cukup dilakukan via internet dan kopdar terbatas nan privat.</p>
<p>Ujung-ujungnya memang manfaat. Merasa gayeng, itu juga manfaat.</p>
<p>Lantas manfaat bagi kalangan eksternal? Tugas suci dan pertama-tama setiap komunitas adalah mengurusi diri sendiri. Setelah itu baru orang lain. :D</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2009/02/25/setelah-komunitas-dan-kopdar-lalu-apa/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Blog Berbahasa Daerah: Untuk Apa?</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2009/02/11/blog-berbahasa-daerah-untuk-apa/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2009/02/11/blog-berbahasa-daerah-untuk-apa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Feb 2009 15:50:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[bahasa jawa]]></category>

		<category><![CDATA[bengawan]]></category>

		<category><![CDATA[blontank]]></category>

		<category><![CDATA[munandika]]></category>

		<category><![CDATA[padhang mbulan]]></category>

		<category><![CDATA[wulangreh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=209</guid>
		<description><![CDATA[
Maaf, saya tak bermaksud berjawa-jawa secara berlebihan dengan mengabaikan keragaman. Tanpa berjawa-jawa pun saya tetap Antyo Rentjoko yang orang Jawa. Tepatnya: Jawa nanggung.
Bacalah ini:
&#8220;Ganep sewulan, Nyonyah Limbuk kaya wong mabuk. Sapa wae kang nyedhak disepak, sing ngajak ngguyu malah disatru. Pikirane buneg, atine sumpeg. Rina-wengi tansah mikirake nasib putrine sawiji, Konyil, kang nembe njago lurah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2009/02/blogjawa.jpg"><img class="size-full wp-image-216" title="blogjawa" src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2009/02/blogjawa.jpg" alt="blog berbahasa jawa" width="355" height="411" /></a></p>
<p>Maaf, saya tak bermaksud berjawa-jawa secara berlebihan dengan mengabaikan keragaman. Tanpa berjawa-jawa pun saya tetap Antyo Rentjoko yang orang Jawa. Tepatnya: Jawa <em>nanggung</em>.</p>
<blockquote><p>Bacalah ini:<br />
&#8220;<em>Ganep sewulan, Nyonyah Limbuk kaya wong mabuk. Sapa wae kang nyedhak disepak, sing ngajak ngguyu malah disatru. Pikirane buneg, atine sumpeg. Rina-wengi tansah mikirake nasib putrine sawiji, Konyil, kang nembe njago lurah ing Desa Alasbrukut.</em>&#8221;<br />
Terjemahan ada di catatan kaki.*</p></blockquote>
<p>Di sini saya bertanya kepada Anda yang tersebab nasib maka berstatus sebagai orang Jawa: pahamkah Anda akan teks itu?</p>
<p>Sekarang persoalannya saya perlebar. Misalkan Anda keturunan Minang, masih fasihkah Anda dengan bahasa leluhur? Misalkan Anda keturunan Madura, masih <em>oneng</em>-kah Anda <em>acacap </em>Madura?</p>
<p>Contoh lain silakan Anda tambahkan sendiri. Yang pasti lebih mudah menanyakan arti sebuah kata Sunda kepada seorang <a href="http://enda.dagdigdug.com" target="_blank">Enda Nasution</a> daripada menanyakan sebuah arti kata Mandailing.</p>
<p>Ya begitulah. Saya sedang memperbincangkan bahasa daerah, tepatnya bahasa kesukuan. Kalau saya ringkas, inilah pendapat saya: bahasa-bahasa itu hanya akan bertahan jika masih fungsional.</p>
<p>Tentu yang saya sebut fungsional itu memberikan pemakluman bahwa yang baku akan berhadapan dengan nonbaku (kasus Jawa: <em>kanca </em>atau <em>konco</em>, apa bedanya <em>lara </em>dan <em>loro</em>?), yang asli akan bersanding dengan serapan dari bahasa Indonesia (lagi-lagi kasus Jawa: <em>nggatèk[a]ké</em> atau <em>m[emp]erhatèkké</em>, <em>amarga/margané</em> atau <em>soalé</em>?).</p>
<p>Seberapa fungsional juga berarti seberapa banyak yang masih membutuhkan. Dalam era blog  (hahaha, mirip pembukaan pidato) persoalan ini menjadi menarik. Blog berbahasa Indonesia saja, termasuk blog saya, tak menjamin sebuah keberlangsungan apalagi blog berbahasa kesukuan.</p>
<p>Pada wilayah butuh itu ada kebutuhan si penulis dan pembaca. Pada tahap dasar, si penulis sekadar ingin menulis dalam bahasa sukunya, tanpa peduli ada yang menanggapi atau tidak. Pada tingkat lanjut sih bisa bermacam-macam, dari mengasah kemampuan sampai menjaring pertemanan dengan orang yang seminat.</p>
<p>Adapun bagi pembaca, manfaat minimumnya adalah mendapatkan selingan dalam pemanfaatan <em>bandwidth </em>&#8211; kemudian boleh lupa.  Selebihnya adalah soal nostalgia sampai upaya belajar bahasa ibu &#8212; oh bukan, ini bahasa nenek (&#8221;bahasa pembantu&#8221; kata seorang anak) &#8212; secara &#8220;baik dan semoga benar&#8221;.</p>
<p>Untuk saya pribadi, blog berbahasa Jawa, begitu pula tulisan berbahasa Jawa (bukan beraksara Jawa), kadang saya perlukan sebagai selingan kecil untuk mengasah bahasa Jawa.</p>
<p>Saya masih bertutur secara Jawa bahkan ketika menulis dalam bahasa Indonesia. Jangan tanya logat saya. Masih kelihatan Jawanya &#8212; bahkan ketika berbahas Inggris (saya masih sering menyebut &#8220;d&#8221; dalam &#8220;<em>drama</em>&#8221; dengan &#8220;d&#8221; lunak). Saya tidak malu namun juga tidak bangga.</p>
<p>Kenapa saya menyebut diri sebagai si Jawa <em>nanggung</em>? Saya masih berbahasa Jawa, tapi dengan cara yang salah bahkan kadang ngawur, baik lisan maupun tertulis &#8212; malah ketika membaca teks latin berbahasa Jawa saya seringkali memperlambat tempo. Di sisi lain, dalam berbahasa Indonesia saya masih sering tersandung. Dalam berbahasa asing? Parah.</p>
<p>Ini berbeda dari generasi lama, katakanlah bapak saya. Ketika menjadi orang Jawa dia berbahasa Jawa baca dan tulis (kadang dia menggunakan kidung gereja dengan not balok &#8212; dua jenis informasi yang tak dapat saya cerna), bisa berbahasa Indonesia dengan baik, dan lebih dari satu bahasa asing (untuk mencari arti sebuah kata Sunda dia menggunakan kamus Sunda-Belanda).</p>
<p>Sejauh saya tangkap tak ada kegelisahan identitas dalam diri ayah saya. Semuanya persoalan biasa. Dia orang Indonesia bersuku Jawa yang hidup di zaman modern (pada masa dia hidup).</p>
<p>Saya poskan tulisan ini untuk menyambut <a href="http://caturanoragawe.dagdigdug.com/" target="_blank">Caturan Surakarta</a>, <a href="http://tumetesingkabar.wordpress.com/" target="_blank">Tumetesing Kabar</a>, <a href="http://saktipaijo.wordpress.com/" target="_blank">Lik Paijo</a>, dan menyemangati <a href="http://padhang-mbulan.blogspot.com/" target="_blank">Padhang Mbulan</a> (saya pernah ikut mengisi). Untuk bahasa suku lainnya, silakan Anda contohkan di sini.</p>
<p>Tentu saya masih usil: masih butuhkah Anda akan blog berbahasa kesukuan (yang Anda pahami) dalam sebuah ruang bernama Indonesia? Untuk apa?</p>
<p>Saya ulang, ya. Untuk apa?</p>
<p>&#8212;</p>
<p>*) Terjemahan bebas: &#8220;Genap sebulan sudah, Nyonya Limbuk bak orang mabuk. Siapa pun yang mendekat akan dia sepak, yang mengajak tertawa bersama akan dia perseteru. Benaknya keruh, hatinya sumpek. Siang-malam memikirkan Konyil, putri semata wayangnya, yang sedang mencalonkan diri sebagai lurah Desa Alasbrubut.&#8221; &#8212; Sumber: <a href="http://caturanoragawe.dagdigdug.com/2009/02/10/ati-gapuk-nyah-limbuk/" target="_blank">Ati Gapuk Nyah Limbuk</a></p>
<p>&#8212;<br />
Bonus: <a href="http://padhang-mbulan.blogspot.com/2008/11/ann-arbor-lan-semarang.html" target="_blank">Tulisan Mas Saul</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2009/02/11/blog-berbahasa-daerah-untuk-apa/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar dari Blog Wajah Jogja</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2009/01/13/belajar-dari-blog-wajah-jogja/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2009/01/13/belajar-dari-blog-wajah-jogja/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Jan 2009 17:56:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[antobilang]]></category>

		<category><![CDATA[cah andong]]></category>

		<category><![CDATA[herman saksono]]></category>

		<category><![CDATA[wajah jogja]]></category>

		<category><![CDATA[zen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=199</guid>
		<description><![CDATA[
Tapi ia khilaf karena suatu sebab. Dilanggarnya pantangan, dimamahnya nasi dan datanglah hukuman: cincin itu hilang begitu saja. “Saya hampir gila,” ujarnya.
Siapa dia? Mungkin tak penting bagi Anda. Saya pun baru tahu setelah membaca laporan Fian Khairunissa yang diposkan oleh Zen sang pejalan jauh. Dia, lelaki tua itu, adalah penjaga kuburan Taman Sari, Yogyakarta. Dia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-203" title="wajahjogja.com atawa wajah jogja" src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2009/01/wajahjogja.jpg" alt="" width="320" height="71" /></p>
<blockquote><p><em><strong>Tapi ia khilaf karena suatu sebab. Dilanggarnya pantangan, dimamahnya nasi dan datanglah hukuman: cincin itu hilang begitu saja. “Saya hampir gila,” ujarnya.</strong></em></p></blockquote>
<p>Siapa dia? Mungkin tak penting bagi Anda. Saya pun baru tahu setelah membaca laporan Fian Khairunissa yang diposkan oleh <a href="http://pejalanjauh.com" target="_blank">Zen</a> sang pejalan jauh. Dia, lelaki tua itu, adalah penjaga kuburan Taman Sari, Yogyakarta. Dia bernama <a href="http://wajahjogja.com/tokoh/mbah-arek-pada-kelopak-bunga-kemboja/" target="_blank">Mbah Arek</a>.</p>
<p>Yogyakarta bukan hanya Sultan, Suharti, Purdie E. Chandra, Nindityo Adipurnomo, Djaduk Ferianto, Tikabanget, Herman Saksono, Antobilang, dan sebut nama lain yang Anda tahu (sengaja tanpa tautan). Ngayogyakarta Hadiningrat juga ruang huni bagi Mbah Arek, <a href="http://wajahjogja.com/tokoh/widodo-dokter-mesin/" target="_blank">Widodo si Dokter Mesin</a>, <a href="http://wajahjogja.com/tokoh/pak-mugi-selama-becak-masih-ada/" target="_blank">Pak Mugi Becak</a>, <a href="http://wajahjogja.com/tokoh/slamet-warni-ibu-parkir-yang-ulet/" target="_blank">Bu Slamet Warni Juru Parkir</a>, dan masih banyak lagi.</p>
<p>Mereka, yang saya sebut belakangan, adalah orang-orang biasa. Kemudian <em>bloggers</em> Yogya nenampilkannya. Sudah agak lama sih, mulai Oktober tahun lalu.</p>
<p>Januari ini saya buktikan blog keroyokan itu masih bernapas. Dan mestinya terus bernapas. Sudah termaktub dalam penjelasan:</p>
<blockquote><p><strong><em> &#8220;Dari merekalah situs ini menularkan spirit yang membuat Jogja… beda&#8221;.</em></strong></p></blockquote>
<p>Saya mengagumi semangat teman-teman. Saya, yang pernah menjadi wartawan (yang yah&#8230; cuma gitu-gitu aja), tak pernah sanggup membuat blog profil semacam itu &#8212; pun tak sanggup mengawal wiki kenthir ala Cah Andong.</p>
<p>Tulisan-tulisan yang pendek (tak senyinyir posting saya umumnya), bernas, tanpa meniatkan diri menjadi karya jurnalistik bernama berita kisah (<em>features</em>), tanpa mengibarkan slogan kultur tandingan, itu semua terasa menyentuh dan seringkali ilhami. Selain itu sentuhan personal justru memperkuat laporan. Seperti dalam penutup Mbah Arek:</p>
<blockquote><p><strong><em>&#8220;&#8230; Saya malah menemukan kembang kamboja berkelopak enam. Saya tidak tahu, adakah enam keberuntungan yang akan saya dapatkan.&#8221;</em></strong></p></blockquote>
<p>Kini yang saya rindukan adalah wajah-wajah lain, dari wilayah lain, berupa blog dengan tema lokal yang kuat dan khas, tak hanya jajanan dan tempat bersejarah tetapi juga tentang manusia-manusia penghuninya. Manusia-manusia biasa, yang hanya menjadi kode dalam registrasi kependudukan, tetapi sebagai makhluk, yang tentu berjiwa dan berkehendak, masing-masing dari mereka adalah sebuah unikum.</p>
<p>Konten internet di Indonesia (akan) menjadi lebih kaya justru karena diisi oleh orang-orang Indonesia dan orang-orang non-Indonesia yang bersentuhan dengan Indonesia. Dua puluh tahun lagi &#8212; oh tidak, cukup sepuluh tahun lagi, atau malah kurang &#8212; tulisan tentang orang-orang itu, sebagai bagian dari potret sosial Indonesia, akan terasa manfaatnya.</p>
<p>Ayolah, kawan. Siapkanlah komunitas Anda untuk menggarapnya. Rangsanglah. Paculah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2009/01/13/belajar-dari-blog-wajah-jogja/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Akhirnya Semakin Sulit Ngumpet</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2009/01/04/akhirnya-semakin-sulit-ngumpet/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2009/01/04/akhirnya-semakin-sulit-ngumpet/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Jan 2009 20:31:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=195</guid>
		<description><![CDATA[Saya tak tahu bagaimana perkembangan blog tahun 2009 ini. Ralat: bukan hanya blog tetapi juga semua layanan online yang membuat orang mau berbagi. Termasuk di dalamnya adalah jejaring sosial. Lantas apa hubungannya dengan ngumpet?
Pada awal blog menjamur, bisa saja seseorang (termasuk saya) menggunakan identitas samaran. Begitu juga sebelumnya di milis. Tetapi ketika layanan online kian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya tak tahu bagaimana perkembangan blog tahun 2009 ini. Ralat: bukan hanya blog tetapi juga semua layanan <em>online </em>yang membuat orang mau berbagi. Termasuk di dalamnya adalah jejaring sosial. Lantas apa hubungannya dengan ngumpet?</p>
<p>Pada awal blog menjamur, bisa saja seseorang (<a title="hahahahaha!" href="http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/01/28/ngumpet-dan-nongol/">termasuk saya</a>) menggunakan identitas samaran. Begitu juga sebelumnya di milis. Tetapi ketika layanan <em>online </em>kian kaya, karena interaksi semakin tinggi, maka penyamaran akan semakin tak berhasil. Yang tertinggal hanyalah <em>nickname</em> atau <em>screen name</em>, dan setiap orang (tepatnya: anggota komunitas, lebih khusus lagi admin) akan tahu siapa dia.</p>
<p>Interaksi langsung yang paling sederhana dan primitif tentu saja tatap muka dalam kopdar. Setidaknya satu orang tahu bahwa si Anu adalah Anda. Selanjutnya alam pertemanan akan menyebarkan.</p>
<p>Adapun bentuk lanjutannya adalah simpul interaksi yang mau tak mau harus menyertakan identitas. Misalnya dalam kontes blog. Anda jadi juara dengan nama alias, tetapi ketika harus menerima hadiah, termasuk uang, apakah Anda akan hadir ke puncak acara dengan topeng, dan memakai rekening orang lain untuk menampung uang?</p>
<p>Kemudian ada layanan web yang memungkinkan anggotanya berbater barang, bahkan berjual beli (misalnya kaos). Mau tak mau Anda harus menyatakan identitas bukan?</p>
<p>Memang ada cara berkelit. Misalnya membayar pesanan dengan setoran tunai, bukan transfer, dan itu pun meminta tolong orang lain. Tetapi ketika harus mengajukan klaim, atau urusan lainnya pokoknya ada masalah, mau tak mau Anda harus menyatakan diri.</p>
<p>Jangan tanya soal bergaul di jejaring sosial. Menjadi si orang lain berarti tak dikenali, dan Anda tak akan diperteman oleh siapa pun, kecuali mungkin oleh orang sama anehnya dengan Anda.</p>
<p>Di luar urusan kopdar dan hadiah adalah jika Anda sebagai <em>blogger </em>menjadi korban plagiasi. Si pencontek tak hanya mengajak Anda bermain peran &#8220;kerbau punya susu, sapi punya nama&#8221;, tetapi lebih dari itu. Dia mendapatkan uang, dan bahkan dia melakukan propganda bahwa Andalah yang mencontek.</p>
<p>Begitu pula misalnya jika nama alias Anda dicatut oleh orang jahat untuk menipu bahkan yang lebih jauh dari itu. Masa sih Anda tetap misterius?</p>
<p>Untuk membereskan soal macam ini tentu lebih mudah jika Anda menyatakan diri. Dukungan sesama <em>bloggers </em>bisa diharapkan, dan pengacara pun pasti lebih senang berurusan dengan orang yang bukan pahlawan bertopeng temannya Crayon Shinchan.</p>
<p>Nah, jika Anda memang ingin menyendiri dengan penyamaran, toh itu belum tentu merugikan orang lain, maka jangan lakukan kontak di luar urusan komentar. Jangan melakukan transaksi. Jangan mau diwawancara &#8212; apalagi mewawancarai blogger lain. Jangan menggunakan nama domain sendiri dan sewa hosting. Jangan kepincut iming-iming kiriman hadiah. Oh ya, jangan menulis (misalnya di Plurk) bahwa Anda sedang beradu punggung dengan <em>blogger </em>Anu di kedai kopi. Tentu jangan meminta bantuan <em>blogger </em>lain kota ketika Anda dalam situasi darurat di tengah perjalanan.</p>
<p>Kalaupun Anda ingin melakukan itu semua dalam rangka berbagi, siapkanlah asisten tersumpah (yang siap Anda sumpahi) untuk menjadi bemper. Baik bemper untuk menerima kekesalan maupun kekaguman bahkan cinta (hayah!).</p>
<p>Menjadi orang (sok) misterius, bahkan dalam urusan filantropis, belum tentu mudah. Apalagi jika ada hubungannya dengan pajak.</p>
<p>Yah, internet (untuk urusan berbagi) kian terbuka dan membuka kita. Apa boleh bikin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2009/01/04/akhirnya-semakin-sulit-ngumpet/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tepat Sasaran: Macam Mana?</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/12/30/tepat-sasaran-macam-mana/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/12/30/tepat-sasaran-macam-mana/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Dec 2008 06:30:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[hati]]></category>

		<category><![CDATA[mood]]></category>

		<category><![CDATA[peringkat]]></category>

		<category><![CDATA[rank]]></category>

		<category><![CDATA[target]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=185</guid>
		<description><![CDATA[
Jadi, tahun depan, ya 2009 besok, Anda masih ngeblog? Tapi, tapi, ngeblog yang bagaimana? Lebih suka nge-Plurk karena ringkas? Atau memilih layanan jejaring sosial yang lebih ramai, macam Friendster dan Facebook?  Manakah yang lebih bermanfaat? Atau ambil saja semuanya, tapi penyelancaran dan pengisian semua layanan bergantung pada cuaca hati dan kesemanakan lingkungan maya?
Abaikan semua pertanyaan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-191" title="lempar bola meleset target" src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/12/lemparbola.jpg" alt="" width="300" height="154" /></p>
<p>Jadi, tahun depan, ya 2009 besok, Anda masih ngeblog? Tapi, tapi, ngeblog yang bagaimana? Lebih suka nge-Plurk karena ringkas? Atau memilih layanan jejaring sosial yang lebih ramai, macam Friendster dan Facebook?  Manakah yang lebih bermanfaat? Atau ambil saja semuanya, tapi penyelancaran dan pengisian semua layanan bergantung pada cuaca hati dan kesemanakan lingkungan maya?</p>
<p>Abaikan semua pertanyaan. Tak usah mengarang jawaban. Jalani saja kehidupan <em>online </em>Anda sesuka hati. Dengan riang, dengan semangat, tetapi sebisanya, sesempatnya, seingatnya.</p>
<p>Wah, itu ngeblog tanpa fokus dong? Cuek saja.</p>
<p>Cuma angin-anginan dong? Biarin aja, yang penting kagak masup angin.</p>
<p>Kalau akhirnya semua membosankan, tinggalkan saja. Tak ada yang melarang &#8212; kecuali Anda ngeblog karena tuntutan tugas, baik tugas kantor maupun tugas sosial. Tapi yang ini pun ada jalan keluarnya. Ketika Anda mentok, limpahkanlah kepada orang lain. Bahwa tunjangan atau honor Anda akan dipotong itu soal lain.</p>
<p>Ehm, kurang mengasyikkan ya? Masa sih ngeblog tanpa target, tak hirau peringkat? Beda orang beda pilihan. Yang penting nyaman di hati dan syukur jika tidak membuat orang lain berang.</p>
<blockquote><p>Saya punya cerita. Seorang kawan tak kunjung ngeblog padahal berulangkali mengaku tulisan si Anu sudah terlintas di benak sebulan sebelumnya. Tempo hari dia resah: kalau jumlah bog kian banyak, topik apa yang masih tersisa baginya. Dia juga masygul masih adakah pembaca jika dia ngeblog. Kalau pun ada pembaca, dia gamang tentang khalayak yang menjadi target: siapa, di mana, dan seterusnya.</p></blockquote>
<p>Jawaban saya, seperti biasa, sangat gombal. Terlalu banyak menimbang hanya akan menambah kebingungan. Daripada binatang bernama kebingungan itu dipiara sendiri lebih baik dicemplungkan ke blogosfer sebagai serangkaian posting dalam blog. Orang lain tak mau ikut-ikutan mengelus? Biarkan saja. Suatu saat akan ada yang singgah karena arahan mesin pencari. Bahkan tanpa Anda urus pun si binatang bernama kebingungan dalam posting itu tampaknya tidak akan mati.</p>
<p>Intinya adalah selama ada kebutuhan untuk menyampaikan pesan, misalnya atas nama berbagi, maka segala layanan di internet bisa dimanfaatkan. Selain berbagi tentu kebutuhan akan dokumentasi pengalaman dan &#8220;pemikiran&#8221;.</p>
<p>Selanjutnya silakan baca ulang paragraf pertama sampai kelima &#8212; kalau Anda tak sayang buang waktu. Selamat tahun baru. :)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/12/30/tepat-sasaran-macam-mana/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Blog Luapan Dendam</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/12/24/blog-luapan-dendam/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/12/24/blog-luapan-dendam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Dec 2008 04:32:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[dendam]]></category>

		<category><![CDATA[etika blog]]></category>

		<category><![CDATA[rahasia perusahaan]]></category>

		<category><![CDATA[risiko ngeblog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=175</guid>
		<description><![CDATA[
Sakit hati bisa lama sembuhnya. Dan rasa sakit itu bisa menular, meluas, bahkan sampai ke orang lain yang yang oleh si sakit hati diyakini sebagai sumber luka.
Siapa benar siapa salah, bagi penonton kadang membingungkan.
Itu wajar karena posisi seseorang dalam setiap kemelut akan menentukan cara pandang. Termasuk di dalamnya posisi sebagai orang luar.
Luka. Kesumat. Niat mulia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-179" title="mendidih" src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/12/mendidih.jpg" alt="" width="300" height="225" /></p>
<p>Sakit hati bisa lama sembuhnya. Dan rasa sakit itu bisa menular, meluas, bahkan sampai ke orang lain yang yang oleh si sakit hati diyakini sebagai sumber luka.</p>
<p>Siapa benar siapa salah, bagi penonton kadang membingungkan.</p>
<p>Itu wajar karena posisi seseorang dalam setiap kemelut akan menentukan cara pandang. Termasuk di dalamnya posisi sebagai orang luar.</p>
<p>Luka. Kesumat. Niat mulia untuk meluruskan yang bengkok dengan menyajikan semua aib. Semuanya bisa bercampur dalam kuali didih bernama blog.</p>
<p>Kuali itu bisa berkuahkan kekesalan terhadap bekas kekasih. Biasa juga kualinya berisi kuah amarah teradap bekas tempat bekerja, bekas sejawat, dan bekas juragan.</p>
<p>Siapa benar siapa salah butuh pembuktian.</p>
<p>Di luar bukti adalah siapa yang lebih kuat dan lebih cerdik. Itu pun dengan mengingat perbedaan menentukan sasaran. Pemilik kuali mungkin cukup merasa puas bila titik didih tercapai, kuahnya tumpah, lalu api dibiarkan padam, dan orang lain diharapkan takkan lupa.</p>
<p>Adapun si (bekas) pemilik sumber daging dan sayur isi kuah mungkin menetapkan sasaran lebih jauh. Tak cukup hanya memadamkan api dan bara melainkan juga meniriskan seluruh kuah dan menghancukan kuali itu, bila perlu menghentikan kiprah si pemasak. Jika kuasa dalam genggaman, maka olah gerak lebih leluasa. Jaringan organisasi yang berintikan perseroan berhadapan dengan perorangan.</p>
<p>Kemudian hukum dibawa-bawa. Polisi bertindak. Mungkin pengacara juga akan bersengketa. Pembaca blog didih kian bingung.</p>
<p>Siapa benar siapa salah butuh timbangan. Bandul pemberat neracanya adalah nalar dan nurani. Tetapi ini pun sulit.</p>
<p>Maka yang terjadi adalah perebutan opini khalayak yang berujung pada menang dan kalah dalam meyakinkan orang banyak.</p>
<p>Dalam perebutan itu, cara bertutur ikut menentukan. Ungkapan yang terlalu kasar dan mentah, meski sesuai kenyataan, berkemungkinan menggerogoti simpati dan dukungan. Ujung-ujungnya sebagian orang akan menganggap si pemilik kuali bermasalah dengan dirinya sendiri, lagi pula ingin mencari sensasi &#8212; padahal bukan begitu potret nyatanya. Kita pun, dalam batas tertentu, paham bahwa amarah dan dendam sering tak memberi kesempatan kepada budi bahasa.</p>
<p>Blog memang mengasyikkan, namun itu bisa menjadi ranjau manakala keasyikan sepihak dianggap mengganggu keasyikan orang lain.</p>
<blockquote><p>(Layak simak: <a href="http://lintasan.dagdigdug.com/2008/09/18/menceritakan-masalah-kantor-di-blog/" target="_self">Rahasia kumpeni dalam blog</a>)</p></blockquote>
<p>© Foto ilustrasi: ttt.astro.su.se</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/12/24/blog-luapan-dendam/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Hore Libur! Ayo Ngeblog! (Eits, Ntar Dulu!)</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/12/08/hore-libur-ayo-ngeblog-eits-ntar-dulu/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/12/08/hore-libur-ayo-ngeblog-eits-ntar-dulu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Dec 2008 05:35:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[gadget]]></category>

		<category><![CDATA[internet di kantor]]></category>

		<category><![CDATA[kantor]]></category>

		<category><![CDATA[microblogging]]></category>

		<category><![CDATA[mobile blogging]]></category>

		<category><![CDATA[ngeblog di kantor]]></category>

		<category><![CDATA[ngeblog hari libur]]></category>

		<category><![CDATA[plurk]]></category>

		<category><![CDATA[warnet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=164</guid>
		<description><![CDATA[
Ini long weekend. Sayang tanpa hari kejepit. Ah pokoknya waktu luang tersedia. Apakah ngeblog menjadi lebih ramai? Masing-masing dari kita bisa menjawab. Bisa saja membaca atau nonton TV lebih menyenangkan. Begitu pula dengan perjalanan menikmati prei.
Nah sekarang coba tengok temuan Pitra. Bukan hal baru sih tapi tetap menarik: ngeblog terbanyak itu dari kantor! Artinya kantor [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-166" title="hari kerja justru ngeblog" src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/12/liburkerja3.jpg" alt="" width="500" height="271" /></p>
<p>Ini <em>long weekend</em>. Sayang tanpa hari kejepit. Ah pokoknya waktu luang tersedia. Apakah ngeblog menjadi lebih ramai? Masing-masing dari kita bisa menjawab. Bisa saja membaca atau nonton TV lebih menyenangkan. Begitu pula dengan perjalanan menikmati prei.</p>
<p>Nah sekarang coba tengok <a href="http://media-ide.bajingloncat.com/2008/12/04/perempuan-dan-internet/" target="_blank">temuan Pitra</a>. Bukan hal baru sih tapi tetap menarik: ngeblog terbanyak itu dari kantor! Artinya kantor tetap menjadi warnet gratis.</p>
<p>Empat tahun lalu blog belum sebanyak sekarang. Pemilikan laptop pun belum seramai hari ini. Sementara <em>hotspot </em>dan <em>data card </em>juga belum seriuh sekarang. Jadi kenapa sekarang kantor masih laris? Kenapa pada hari libur trafik blog cenderung turun?</p>
<p>Ehm, lihat dulu <em>blogging</em>-nya. Kalau <em>microblogging</em>, misalnya Plurke, apalagi yang dari <em>gadget</em>, malah bisa tak kenal waktu. Menulisnya mudah, ringkas, boleh disingkat-singkat, pokoknya si <em>blogger </em>tak perlu berlagak kolumnis &#8212; padahal sedikit yang membaca.</p>
<p>Masih pakai pasal &#8220;pokoknya&#8221;, <em>microblogging </em>itu lebih <em>fun</em>, tidak terlalu asosial (karena masih bisa diajak bicara orang lain), isinya pun langsung ke jantung persoalan: &#8220;Semprul_sontoloyo sedang nunggu pembagian daging kambing&#8221;.</p>
<p>Menulis blog pada hari libur, dengan artikel yang panjang, seringkali malah terkendala oleh keluarga. Bisa suami, bisa istri, bisa anak, bahkan tamu. Pengecualian berlaku kalau isi posting berkaitan dengan orang-orang tadi, terutama foto. Dukungan akan melebihi suara untuk caleg. Komputer akan dirubung.</p>
<p>Kenapa nginternet dan ngeblog di kantor tidak (terlalu) terganggu? Aha! Beda, Saudara-saudara! Beda!</p>
<p>Semanis apapun tampangnya, yang namanya komputer (baik <em>desktop </em>maupun <em>laptop</em>) kadung bercitrakan <em>business machine</em>. Sebagai &#8220;alat kerja&#8221;, pengaktifan komputer di rumah butuh penyesuaian dengan sikon &#8212; apalagi jika orang rumah kurang ramah terhadap internet. Di kantor, asal ada internet, orang tahu sama tahulah. Apalagi jika komputernya batangan: satu alat untuk satu orang.</p>
<p>Nah, di dalam maupun luar kantor, hari kerja maupun libur, dengan peranti genggam seperti ponsel maka urusan ngeblog (tepatnya: <em>microblogging</em>) relatif lebih mudah. Orang sekitar akan menganggap Anda cuma ber-SMS sambil hahahihi sendiri.</p>
<p>Kemarin-kemarin, dan hari ini, buka <em>laptop </em>apalagi <em>desktop </em>dianggap serius atau sok serius. Yang lebih mendasar: <em>laptop </em>memang lebih gede dan lebih berat dari ponsel dan pengaktifannya tak selekas ponsel. Pokoknya lebih kentara.</p>
<p>Hari ini dan esok makin banyak layanan internet yang mengarah ke <em>mobile</em>. Di sisi lain ponsel pintar pun memurah. Mungkin suatu hari akan kuat anggapan orang bahwa yang membuka <em>laptop </em>memang orang serius &#8212; apalagi kalau cuma buat ngeblog.</p>
<p>© Sumber ilustrasi selain kalender: tidak diketahui</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/12/08/hore-libur-ayo-ngeblog-eits-ntar-dulu/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ngeblog Cerdas &#038; Ngeblog dengan Hati</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/11/06/ngeblog-cerdas-ngeblog-dengan-hati/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/11/06/ngeblog-cerdas-ngeblog-dengan-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Nov 2008 04:51:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[cari uang di blog]]></category>

		<category><![CDATA[iklan]]></category>

		<category><![CDATA[ngeblog dapat duit]]></category>

		<category><![CDATA[uang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=152</guid>
		<description><![CDATA[
Dibilang, blog anu itu sudah dapat duit Rp 1 juta lebih dari iklan. Perolehan blog lainnya mendekati itu. Dalam sebulan, seminggu? Misalnya sebulan, boleh juga karena November baru jalan sepekan.
Memang apa isinya? &#8220;Blog&#8221; yang pertama cuma mengandalkan kata kunci yang berhubungan dengan erotika, yang dijaring dari pelbagai halaman web Indonesia &#8212; isinya mirip penggalan berita, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-154" title="blog aneh" src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/11/bloganeh2.jpg" alt="" width="500" height="277" /></p>
<p>Dibilang, blog anu itu sudah dapat duit Rp 1 juta lebih dari iklan. Perolehan blog lainnya mendekati itu. Dalam sebulan, seminggu? Misalnya sebulan, boleh juga karena November baru jalan sepekan.</p>
<p>Memang apa isinya? &#8220;Blog&#8221; yang pertama cuma mengandalkan kata kunci yang berhubungan dengan erotika, yang dijaring dari pelbagai halaman web Indonesia &#8212; isinya mirip penggalan berita, tanpa tautan ke sumbernya. &#8220;Blog&#8221; yang kedua berisi kutipan iklan lowongan &#8212; isinya komplet, sampai ke alamat <em>e-mail</em> perekrut.</p>
<p>Mereka sama-sama menyajikan informasi. Yang pertama tadi (erotika), infonya menggantung, bahkan tampaknya tiada komentar masuk &#8212; atau si &#8220;<em>blogger</em>&#8221; memang tak butuh komentar buat berdiskusi?</p>
<p>Yang kedua, tentang lowongan, tak butuh komentar. Si &#8220;<em>blogger</em>&#8221; memang tak butuh tanggapan. Kotak komentar dia tutup. Persamaan keduanya adalah sadar kebutuhan orang akan informasi di internet, baik untuk hiburan maupun nafkah.</p>
<p>Jadi, tulisan ini memperpanjang &#8220;<a href="http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/09/16/blog-yang-bukan-blog/">blog yang bukan blog</a>&#8220;? Ya. Memang.</p>
<p>Tak ada yang salah dengan blog tentang erotika sepanjang si penyedia <em>hosting</em> menenggang &#8212; apalagi kalau mengkhususkan diri untuk layanan blog dewasa.</p>
<p>Dengan pendekatan seni ngeblog yang &#8220;kuno&#8221;, <em>bloggers</em> bidang erotika menuliskan imajinasi dan pengalamannya sepenuh hati, bahkan ketika menulis mungkin sudah terbakar oleh hasratnya sendiri.</p>
<p>Nah &#8220;blog&#8221; penjala kata kunci untuk dunia hiburan tadi bukan orang &#8220;kuno&#8221;. Dia <em>smart</em>, rasional, tak mau capek, lagi pula &#8212; nah, ini yang penting &#8212; memang tak ingin menjadi <em>bloggers</em>. Cukup menjadi pemanfaat mesin blog untuk mengecoh orang sekalian menjala duit.</p>
<p>Bahwa (misalkan lho, sekali lagi misalkan) di tempat lain mereka jadi <em>bloggers</em> sungguhan, yang menulis dengan ketikan kata demi kata, bahkan cukup dua bulan sekali, dan mengunjungi blog lain untuk bersilaturahmi, itu soal pilihan. Ada tempat untuk capek menulis, ada tempat untuk beternak halaman tanpa menulis (cukup memantau trafik) &#8212; atau paling banter <em>copy-and-paste</em>.</p>
<p>Apakah itu kreatif? Bagi pelakunya tentu kreatif bahkan itu merupakan sebuah cara yang <em>smart</em>. Bahwa mereka ogah menampakkan jati diri, itu belum tentu karena malu. Bukankah tak semua <em>bloggers</em> &#8220;sungguhan&#8221; juga berani menampakkan diri? ;) :P</p>
<p> </p>
<p>Tak semua orang ingin menjadi <em>bloggers</em> yang mengetik kata demi kata. Tak semua orang bisa diharuskan menggunakan mesin blog untuk membuat blog sesuai rumusan &#8220;kuno&#8221;.</p>
<p>Masalahnya, belum semua orang paham blog, tetapi yang mereka dengar pertama bahkan menarik minat justru, &#8220;Katanya ngeblog itu bisa ngasilin duit secara santai, ya Mas?&#8221;</p>
<p>Secara santai, tanpa menulis kata demi kata, bahkan untuk mengomentari gambar sekalipun, atau malah mendayagunakan mesin untuk menyedot info dari halaman web orang lain (tapi ogah menyatakan diri sebagai agregator), itu jelas menyesatkan.</p>
<p>Ingin ngeblog demi uang, dan untuk itu bersedia bekerja keras, sejak menulis sampai mempromosikan blognya, agar trafik padat, itu bagus sekali. Ngeblog dengan hati sekaligus secara cerdas.</p>
<p>&#8220;Ngapain capek?&#8221; kata suara sayup-sayup dari jauh.</p>
<p>&#8220;Siapa juga yang mau jadi manusia sial? Trafik nggak menjulang, ketenaran nggak didapet, duit nggak mampir? Itu mah gatot, gagal total, Bos!&#8221; kata suara lainnya lagi.</p>
<p>&#8220;Lho, katanya <em>blogging is fun</em>? Nah cara yang <em>smart</em> dan santai itu juga <em>fun</em>, kan?&#8221; suara lain menimpali.</p>
<p>&#8220;Halah, munafik! Siti Sirik! Kalo sekelompok <em>bloggers</em> bikin sesuatu atas nama pelayanan terhadap <em>bloggers </em>lain atau apalah, emang ujung-ujungnya bukan duit? Dari mana uang buat ngongkosin? Emang mereka <em>bloggers</em> makmur yang iseng atas nama filantropi? Janganlah pemain kelas receh cuma dileceh. Sama-sama nyari rezeki, kan?&#8221; kata entah siapa.</p>
<p>Bagai calon <em>bloggers</em>, ini soal pilihan: mana yang akan lebih mendatangkan kenyamaman hati. Sederhana kan?</p>
<p>Selamat ngeblog.</p>
<p>© Sumber ilustrasi &gt; Julia Perez: entah; lipstik: <a href="http://layoutfashion.com" target="_blank">layoutfashion.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/11/06/ngeblog-cerdas-ngeblog-dengan-hati/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mau Cerita Apa tentang Lebaran?</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/10/04/mau-cerita-apa-tentang-lebaran/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/10/04/mau-cerita-apa-tentang-lebaran/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Oct 2008 03:32:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[cerita]]></category>

		<category><![CDATA[laporan]]></category>

		<category><![CDATA[lebaran]]></category>

		<category><![CDATA[orisinal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=143</guid>
		<description><![CDATA[
Apa saja bisa diceritakan. Jangan takut bakal mirip dengan cerita orang lain. Kalau mirip, anggap saja kebetulan.
Bahwa seorang pembaca menemukan kemiripan cerita Anda dengan blogger lain, itu juga kebetulan. Yang mirip toh hanya peristiwanya (misalnya bertemu teman masa kecil saat mudik), bukan cara penuturan.
Apa saja bisa diceritakan bahkan ketika pengalaman dua bloggers atau lebih itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-145" title="lebaran di apotek mahakam jakarta" src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/10/apoteklebaran.jpg" alt="" width="500" height="327" /></p>
<p>Apa saja bisa diceritakan. Jangan takut bakal mirip dengan cerita orang lain. Kalau mirip, anggap saja kebetulan.</p>
<p>Bahwa seorang pembaca menemukan kemiripan cerita Anda dengan <em>blogger </em>lain, itu juga kebetulan. Yang mirip toh hanya peristiwanya (misalnya bertemu teman masa kecil saat mudik), bukan cara penuturan.</p>
<p>Apa saja bisa diceritakan bahkan ketika pengalaman dua <em>bloggers</em> atau lebih itu sama.</p>
<p>Setiap orang punya sudut pandang masing-masing dari suatu peristiwa yang dialami di tempat dan waktu yang sama. Si kakak lebih terkesan oleh ragam batik yang bertebaran pada sejumlah silaturahmi. Si adik lebih terkesan oleh variasi rasa nastar setiap kali bertamu.</p>
<p>Apa saja bisa diceritakan secara berbeda bahkan terhadap hal yang sama.</p>
<p>Sama-sama menyoroti masalah batik, si suami melamunkan usaha kecil dan menengah yang berada di balik batikisme, sementara si istri mencatat ragam motif baru yang dilihatnya (dan ditangkapnya melalui kamera ponselnya).</p>
<p>Apa saja bisa diceritakan secara berbeda bukan karena masing-masing ingin lain, tetapi memang lantaran minat dan kepentingan setiap orang itu berbeda.</p>
<p>Taruh kata cara menilik topik sama, karena dilandasi minat yang serupa, tapi hasilnya tetap berbeda karena rujukan dan cara bertutur setiap orang tidak sama.</p>
<p>Apa saja bisa diceritakan di blog.</p>
<p>Bolehkah saya tahu cerita Anda tentang perayaan dan atau libur Lebaran? Sampaikanlah di sini, bila perlu beserta URL-nya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/10/04/mau-cerita-apa-tentang-lebaran/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ngeblog kok nggak Spontan!</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/09/30/ngeblog-kok-nggak-spontan/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/09/30/ngeblog-kok-nggak-spontan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Sep 2008 20:26:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[Personal]]></category>

		<category><![CDATA[cara]]></category>

		<category><![CDATA[kiat]]></category>

		<category><![CDATA[menulis]]></category>

		<category><![CDATA[ngeblog]]></category>

		<category><![CDATA[notepad]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=134</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa orang memergoki saya mengetik di Notepad. &#8220;Buat blog?&#8221; begitu umumnya pertanyaan mereka. Saya mengiyakan. Salah seorang bilang, dengan nada seperempat menyesal dan tiga per empat meledek, &#8220;Aku pikir Paman itu nulisnya langsung, secara online.&#8221;
Tentu lihat kasusnya. Untuk tulisan pendek seperti di Memo Blogombal, apalagi Twitter dan Plurk, ya langsung saja. Di Blogombal pun kadang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-full wp-image-137" title="12 kiat menulis" src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/09/12tulis.jpg" alt="" hspace="10" width="335" height="450" />Beberapa orang memergoki saya mengetik di Notepad. &#8220;Buat blog?&#8221; begitu umumnya pertanyaan mereka. Saya mengiyakan. Salah seorang bilang, dengan nada seperempat menyesal dan tiga per empat meledek, &#8220;Aku pikir Paman itu nulisnya langsung, secara <em>online</em>.&#8221;</p>
<p>Tentu lihat kasusnya. Untuk tulisan pendek seperti di <a href="http://memo.blogombal.org" target="_blank">Memo Blogombal</a>, apalagi Twitter dan Plurk, ya langsung saja. Di <a href="http://blogombal.org" target="_blank">Blogombal </a>pun kadang langsung.</p>
<p>Kalau di sini, di blog ini? Jujur saja saya mengetik dulu di Notepad atau aplikasi sejenis, bergantung komputernya.</p>
<p>Kenapa saya kurang spontan? Karena kecelakaan. Dulu pada awal ngeblog (misalnya di <a href="http://gombal.blogdrive.com" target="_blank">Blogdrive</a>) saya menuliskannya secara langsung, apalagi kalau pakai internet kantor. Ketika koneksi tiba-tiba terputus, nasib tulisan saya pun ikut terputus dalam arti nyungsep entah ke mana.</p>
<p>Sejak itu saya menuliskannya terlebih dahulu di Notepad. Kenapa tak pakai Word atau lainnya? Ukuran berkas Notepad lebih kecil.</p>
<p>Ketika saya nginternet di rumah dengan <em>dial up</em>, penggunaan Notepad terasa mujarab untuk menghemat durasi <em>online</em>.</p>
<p>Seterusnya adalah kebiasaan. Bahkan pada awal saya ngeblog dengan domain sendiri, dan kebetulan memakai WordPress versi awal yang sudah diperkosa, saya tetap asyik dengan Notepad. Semua <em>tagging</em>, termasuk <em>class </em>untuk gambar, <em>blockquote</em>, <em>caption</em> dan lainnya saya tulis secara manual.</p>
<p>Setelah itu tinggal <em>select all</em>, <em>Ctrl C</em> dan <em>Ctrl V</em>. Memang kurang spontan. Tapi saya nyaman. Saya juga tak malu.</p>
<p>Dengan menuliskannya di Notepad, saya bisa menyimpannya. Tapi yang sering terjadi, ketika kegiatan itu tersela oleh sesuatu &#8212; dari SMS bertubi-tubi, banjir telepon, sampai tamu dan rapat &#8212; maka tulisan yang belum jadi itu bisa terhenti tanpa kelanjutan.</p>
<p>Ketika saya ingin meneruskan maka <em>mood </em>kadung hilang, ingatan malah meluntur, dan fokus berbelok entah ke mana. <em>Hard disk</em> saya menyimpan sejumlah calon posting yang malas saya teruskan. Bersama dengan teks, terkuburkan pula beberapa gambar yang sudah saya siapkan.</p>
<p>Itulah kekurangan saya. Apakah saya menyesalinya? Tidak. Ngeblog tetap nikmat bagi saya, meskipun ya itu tadi: kadang tidak spontan.</p>
<p>Lantas kalau di Notepad saya jarang membongkar tulisan kenapa kebiasaan ini tetap diteruskan? Saya kadung nyaman. Itu saja. Pembaca juga tak peduli bagaimana saya mengetik posting. :)</p>
<p>Kalau Anda bagaimana?</p>
<p>© Ilustrasi: allposters.com</p>
<blockquote><p><em>UPDATE 1 Oktober 2008: Terima kasih untuk Notepad. Dua tulisan pertama saya pekan lalu (<a href="http://antyorentjoko.kompasiana.com/2008/09/28/balap-f1-singapura-di-jakarta/" target="_blank">Balap F1</a> dan <a href="http://antyorentjoko.kompasiana.com/2008/09/29/sepeda-motor-akap-ikuti-daendels/" target="_blank">Mudik Bermotor</a>), yang menguap dari <a href="http://kompasiana.com" target="_blank">Kompasiana</a>, bisa saya kirim ulang. :)</em></p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/09/30/ngeblog-kok-nggak-spontan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Blog yang bukan Blog</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/09/16/blog-yang-bukan-blog/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/09/16/blog-yang-bukan-blog/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Sep 2008 10:44:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[bisnis]]></category>

		<category><![CDATA[blogger]]></category>

		<category><![CDATA[iklan]]></category>

		<category><![CDATA[kaya]]></category>

		<category><![CDATA[kewirausahaan]]></category>

		<category><![CDATA[kreatif]]></category>

		<category><![CDATA[monetizing blog]]></category>

		<category><![CDATA[pb2008]]></category>

		<category><![CDATA[uang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=126</guid>
		<description><![CDATA[
Lho? Saya lupa siapa yang mengatakan apa yang kemudian saya jadikan judul itu. Intinya adalah konten yang menggunakan mesin blog tetapi isinya bukan blog seperti yang lazim kita kenal.
Memangnya blog lazim itu seperti apa? Ya seperti yang sedang Anda baca. Saya tulis, serasa melakukannya dengan penuh pikir, padahal ada bumbu salah ketik segala, lalu saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-131" title="blog duit" src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/09/blogduit.jpg" alt="" width="500" height="364" /></p>
<p>Lho? Saya lupa siapa yang mengatakan apa yang kemudian saya jadikan judul itu. Intinya adalah konten yang menggunakan mesin blog tetapi isinya bukan blog seperti yang lazim kita kenal.</p>
<p>Memangnya blog lazim itu seperti apa? Ya seperti yang sedang Anda baca. Saya tulis, serasa melakukannya dengan penuh pikir, padahal ada bumbu salah ketik segala, lalu saya publikasikan.</p>
<p>Ah tapi itu kan identifikasi secara kuno?</p>
<p>Mungkin juga. Malah saya berpikir, jangan-jangan blog saya tentang <a href="http://label.blogombal.org" target="_blank">label</a>, <a href="http://barang.blogombal.org" target="_blank">barang</a>, dan <a href="http://kartu.blogombal.org" target="_blank">kartu</a> itu juga bukan blog. Barangkali cuma gambar dan teks tak mutu yang dipampangkan di web dengan bantuan mesin blog karena saya tak puas dengan aplikasi galeri di web. Artinya, urutan kronologis sebetulnya tak bermakna, itu hanya konsekuensi dari pemakaian mesin.</p>
<p>Namun percayalah, teks tak mutu itu saya tulis dengan darah, keringat, dan air mata. Maaf, sudah berdusta. Berlebihan sih, tapi intinya bukan sekadar <em>copy and paste</em>.</p>
<p>Jadi begini saja supaya diskusinya gampang. Yang saya yakini sebagai blogging, untuk kepentingan pribadi, ternyata salah. Beberapa kali saya dikritik bahwa blog-blog saya kuno karena tidak mempermudah kerja mesin pencari.</p>
<p>Jawaban saya selalu kuno. Pertama: biarin aja, yang penting saya nyaman. Kedua: nanti toh akan ada ahli yang membantu supaya blog saya jadi cerdas. Yang penting saya tetap merasa sebagai <em>blogger</em>.</p>
<p>Begitu naifnya saya sehingga dulu ketika belajar CSS saya menamai gaya teks untuk judul blog sebagai &#8220;judul besar&#8221;, lantas judul artikel sebagai &#8220;judul tulisan&#8221;, dan untuk teks isi sebagai &#8220;isi&#8221;. <em>Header</em> saya namai &#8220;kepala&#8221; bahkan kadang &#8220;herder&#8221;, lantas <em>footer</em> sebagai &#8220;bawah&#8221; atau &#8220;kaki&#8221;.</p>
<p>Saya tak berkepentingan dengan validasi, yang penting menurut mata saya tampilannya nyaman dan layak pandang. Begitu kacaunya desain saya sehingga beda browser beda hasil. Supaya tampak cerdas, saya cuma mengganti <em>meta-name</em> dengan kata apa saja yang menurut saya lucu. Khas ilmu HTML tahun 90-an. Jadul. Bodoh. Tapi saya bahagia.</p>
<p>Lantas hubungan semua perkara tadi dengan &#8220;blog yang bukan blog&#8221;?</p>
<p>Karena di blogosfer banyak isi membingungkan yang menggunakan mesin blog. Di blogspot.com, misalnya, banyak sekali. Sebagai teks tampak  rapi (secara visual). Tapi dari nilai kandungan jadi membingungkan. Ada tulisan yang isinya cuma tags &#8212; biasanya berhubungan dengan yang saru atau cabul. Ada yang hurufnya warna-warni seolah berniat mempermudah mata. Ada yang, hehehe, cuma <em>copy and paste</em> dari mana-mana. Atau cuma berisi tautan ke halaman pengunduhan, dengan bumbu teks yang mirip <em>template</em> karena hampir sama. Lebih aneh lagi, ada yang tak memuat tanggal apalagi jam publikasi.</p>
<p>Tapi blog-blog aneh itu punya persamaan: banyak iklannya! :D</p>
<p> </p>
<p>Kategori dalam tulisan pun mengarah ke bisnis, misalnya &#8220;USA holiday&#8221; dan &#8220;vacation package&#8221;. Tidak ada itu kategori &#8220;jalan-jalan&#8221;, &#8220;ngeluyur&#8221;, atau &#8220;dolan&#8221;. Untuk kategori berbau erotis dalam bahasa Indonesia, tidak ada itu &#8220;syuur atau &#8220;kangen&#8221; atau &#8220;pengin&#8221; atau &#8220;demen aja&#8221; atau &#8220;uh, maunya!&#8221;.</p>
<p>Salahkah itu? Tidak. Itu soal pilihan penulisnya. Kalau penyedia <em>blog hosting</em> tak berkeberatan maka apa salahnya kan?</p>
<p>Saya sama sekali bukan orang yang anti terhadap upaya duitisasi blog. Malah bagus kalau orang ngeblog lantas mendapatkan manfaat ekonomis. Minimal bisa untuk menutupi biaya akses internet dan ongkos melek. Syukur kalau bisa kaya raya &#8212; sama seperti musisi, aktris, dan perupa yang tiba-tiba jadi makmur. Oh ya, saya juga pengin.</p>
<p>Bagaimana jika ada pembaca terkecoh, baik karena giringan mesin pencari maupun pampangan dari sebuah halaman direktori? Mengesalkan juga sih, karena orang tersesat tampaknya memang harapan si pemilik blog.</p>
<p>Artinya, saya pun termasuk mengesalkan karena sebagian pengunjung blog-blog saya adalah orang yang tersesat. Mungkin satu dari seratus suka, tapi sisanya kuciwa parah dan jera.</p>
<p>Apakah cara <em>blogging</em> mereka yang aneh-aneh itu kreatif?</p>
<p>Penganut ngeblog dengan sepenuh hati &#8212; disertai darah, keringat, dan air mata &#8212; mungkin menganggapnya kurang kreatif. Barangkali malah akan meledeknya, &#8220;Mereka nggak akan bisa cerita &#8217;seperti pernah saya tulis dalam salah posting saya&#8230;&#8217; soalnya nggak ada yang bisa diceritain.&#8221;</p>
<p>Ah nanti dulu. Bisa jadi pelakunya justru merasa kreatif dan rasional karena tak perlu buang waktu dan energi untuk menye-menye nggak jelas, mana miskin kunjungan pula.</p>
<p>Apakah mereka itu layak disebut <em>blogger</em>?</p>
<p>Itu terserah masing-masing orang. Hak setiap orang untuk mengaku sebagai blogger maupun bukan blogger. Bisa saja saya menyebut diri sebagai <em>blogger</em> tapi Anda tak sepakat.</p>
<p>Tapi misalnya mereka mengaku sebagai <em>bloggers</em>, maka pemilik blog aneh-aneh itu selayaknya ditampilkan dalam P<a href="http://pestablogger.com" target="_blank">esta Blogger</a>. Kita tak mungkin memonopoli kebenaran, dan cara yang berbudaya adalah mempersilakan yang beda dari kita untuk bicara agar cakrawala pemahaman kita kian terbentang.</p>
<p>Siapa tahu dari sana kita mendapatkan pencerahan. Bukan begitu bukan?</p>
<p>© Gambar pohon uang: entah</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/09/16/blog-yang-bukan-blog/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Blog: Kemewahan dan Semangat Gerilya</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/09/15/blog-kemewahan-dan-semangat-gerilya/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/09/15/blog-kemewahan-dan-semangat-gerilya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Sep 2008 05:10:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[gerilya]]></category>

		<category><![CDATA[hambatan]]></category>

		<category><![CDATA[kemerataan]]></category>

		<category><![CDATA[kemewahan]]></category>

		<category><![CDATA[ndoro kakung]]></category>

		<category><![CDATA[ndoro kangkung]]></category>

		<category><![CDATA[ndoro kingkong]]></category>

		<category><![CDATA[penetrasi internet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=117</guid>
		<description><![CDATA[Begitulah, Sang Ndoro yang kemarin genap 43 tahun itu menjadikannya sebagai sebuah tanya di Koran Tempo. Kami secara selintas juga pernah mendiskusikannya. Kesimpulan sementara: ngeblog bukan dan atau belum menjadi kesempatan semua orang.
Jika masalahnya adalah fasilitas, mungkin benar. Belum semua orang punya komputer pribadi dengan akses internet. Juga tak semua orang bisa leluasa meninggalkan rumah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-123" title="revolutionary woman" src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/09/guerillawoman.gif" alt="" hspace="10" width="136" height="151" />Begitulah, <a title="ini kado, setahun sekali, untuk ndoro kingkong" href="http://www.plurkpix.com/pix/4b2.gif" target="_blank">Sang Ndoro </a>yang kemarin genap <a href="http://ndorokangkung.suatuhari.com" target="_blank">43 tahun</a> itu menjadikannya sebagai sebuah tanya di <a href="http://blog.tempointeraktif.com/?p=272" target="_blank"><em>Koran Tempo</em></a>. Kami secara selintas juga pernah mendiskusikannya. Kesimpulan sementara: ngeblog bukan dan atau belum menjadi kesempatan semua orang.</p>
<p>Jika masalahnya adalah fasilitas, mungkin benar. Belum semua orang punya komputer pribadi dengan akses internet. Juga tak semua orang bisa leluasa meninggalkan rumah untuk ke warnet &#8212; bisa karena waktu (malam harus keluar?), bisa juga karena kesempatan (&#8221;Ma, mau ke mana? Ikut dong&#8230;&#8221;), bisa juga karena biaya.</p>
<p>Jika Anda menggunakan aplikasi pencatat dalam blog Anda, besar kemungkinan Anda pernah mendapati kenyataan ini: pembaca hanya ramai pada jam dan hari kerja, bahkan beberapa alamat IP malah menyatakan milik sebuah kantor.</p>
<p>Ya, kantor adalah warnet paling oke. Saya pernah mendengar, atas nama efisiensi bandwidth maka manajemen sebuah penerbitan ingin mengeblok beberapa layanan blog, tapi dengan segera ide itu dipatahkan seorang petinggi (bukan <em>blogger</em>) yang paham manfaat internet.</p>
<p>Apa sih kemewahan? Sesuatu yang kita inginkan tapi belum dapat kita miliki atau belum dapat kita alami. Maka bisalah kita maklumi jika ngeblog menjadi kemewahan. Lain halnya jika tidak ngeblog &#8212; termasuk sama sekali tidak ngeblog &#8212; semata karena pilihan, bukan ketidakberdayaan.</p>
<p>Jika kemewahan, seperti saya contohkan tadi, bukan hanya soal fasilitas melainkan juga kesempatan, itu pun dapat saya pahami. Tak semua orang dewasa yang memiliki komputer di rumahnya itu leluasa berinternet.</p>
<p>Ada saja kasus pasangan minta ditemani nonton TV (kalau tertidur tak dimarahi, yang penting jangan berinternet!), anak minta ditemani bikin PR (ini harus!), atau datang tamu tanpa janji yang berisiko mengintip apa yang ada di layar (ini mengganggu).</p>
<p>Pada ranah domestik, tepatnya pribadi, bisa saja kegiatan <em>online </em>bukan lagi kemudahan. Di kantor berurusan dengan kemepetan waktu, ditambah rasa sungkan, <em>proxy</em>, blokade, dan log yang dilaporkan ke bos. Di rumah berurusan dengan soal interaksi insani.</p>
<p>Jika menyangkut kasus khusus, bisa saja masalahnya sederhana bagi orang lain tetapi berat bagi si korban. Ada seorang istri, <em>blogger</em>, yang terus dimata-matai oleh suaminya. Komentar dia di blog lain (milik pria) bisa berbuah interogasi setelah dibangunkan pada suatu dini hari.</p>
<p>Jadi, inilah intinya: ngeblog itu tidak gampang karena bukan cuma soal menulis dan membaca.</p>
<p>Lantas takkan bertumbuhkah blog, media sosial, jejaring pergaulan, atau apapun namanya kelak?</p>
<p>Saya masih optimistis. Itu akan terus bertumbuh.</p>
<p>Tentu semuanya butuh penyesuaian. Ketika <em>plurking </em>dan <em>twittering </em>dapat dilakukan dari ponsel, demikian pula <em>facebooking</em>, maka semuanya menjadi lebih mudah.</p>
<p>Ketika komputer kian terjangkau, dan akses internet kian memurah (apalagi RT/RW-net berlaku luas), bahkan <em>free hotspot</em>s kian bertebaran, maka setelah komunikasi via <em>e-mail</em> dan <em>chatting</em>, orang butuh dan sadar perlunya halaman web pribadi. Ngeblog tinggal selangkah lagi.</p>
<p>Memang sih, dalam beberapa urusan, kegiatan <em>online </em>itu serupa membaca, yang berbeda dari menonton TV. Menonton TV memberi kesempatan adu celoteh dan rebutan <em>remote controller</em>, yang intinya adalah interaksi secara langsung dalam ruang yang sama. Bagi pendamba kemesraan itu adalah keharusan ritual.</p>
<p>Adapun membaca dan nginternet adalah sebuah dunia diam yang kadang tak dibagi, kurang melibatkan orang sekitar. Bedanya dengan membaca, meski sama-sama diam, nginternet memberi kesempatan berbagi di ranah maya, tanpa mengenal jarak geografis, sementara orang terdekat &#8212; apalagi kalau belum suka nginternet &#8212; hanya bisa gelisah merasa terasing.</p>
<p>Pada ranah personal, itu semua adalah kompromi. Dihalangi di kantor, dijepit di rumah, orang tetap akan mencoba selama dalam perjalanan atau rehat siang dengan alat masing-masing &#8212; bahkan saat duduk di atas kloset. Inilah gerilya agar yang mewah menjadi murah.</p>
<p>© ilustrasi: www.kersplebedeb.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/09/15/blog-kemewahan-dan-semangat-gerilya/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Blog sebagai Ruang Arisan Penuh Gunjing</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/09/11/blog-sebagai-ruang-arisan-penuh-gunjing/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/09/11/blog-sebagai-ruang-arisan-penuh-gunjing/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Sep 2008 00:24:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[arisan]]></category>

		<category><![CDATA[blogger]]></category>

		<category><![CDATA[gosip]]></category>

		<category><![CDATA[gunjing]]></category>

		<category><![CDATA[jejaring sosial]]></category>

		<category><![CDATA[seleb]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=99</guid>
		<description><![CDATA[
Teman saya mengeluh, mulai &#8220;banyak blog&#8221; (tak menyebut jumlah) yang hanya memindahkan topik komunal di milis tapi kurang bermanfaat bagi orang lain. Misalnya? &#8220;Si A ngopi sama si B, lantas C nggabung, dan D nyusul. Lalu foto bersama, hahahihi, nggak ada yang penting, lalu disebarin,&#8221; katanya.
Dia menyayangkan, blog yang dibaca oleh khalayak ramai itu tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/09/plurkisme.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-101" title="plurkisme" src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/09/plurkisme-150x150.jpg" border="0" alt="" hspace="10" width="150" height="150" /></a></p>
<p>Teman saya mengeluh, mulai &#8220;banyak blog&#8221; (tak menyebut jumlah) yang hanya memindahkan topik komunal di milis tapi kurang bermanfaat bagi orang lain. Misalnya? &#8220;Si A ngopi sama si B, lantas C nggabung, dan D nyusul. Lalu foto bersama, hahahihi, nggak ada yang penting, lalu disebarin,&#8221; katanya.</p>
<p>Dia menyayangkan, blog yang dibaca oleh khalayak ramai itu tak hanya memindahkan isi milis melainkan juga mengeluarkan isi dari halaman keanggotaan layanan jejaring sosial semacam <a href="http://friendster.com" target="_blank">Friendster </a>dan <a href="http://facebook.com" target="_blank">Facebook</a>. Terlalu internal, begitulah maksudnya.</p>
<p>Teman lain bilang, dari TV dan koran mendapatkan gosip pesohor. Tapi ketika masuk ke <em>blogs </em>dia mendapatkan hal serupa, bedanya yang asyik bergosip dan saling sindir adalah <em>bloggers</em> yang &#8220;ingin jadi atau sudah merasa sebagai seleb&#8221;. Intinya: mengabaikan orang lain.</p>
<p>Saya tak langsung membantah maupun mengiyakan.</p>
<p>Saya justru merenung, jangan-jangan saya pun begitu. Apa yang saya bagikan di blog terlalu personal, cuma menjadikan orang lain sebagai penonton.</p>
<p>Termasuk di dalamnya adalah strip foto dagelan tentang beberapa <em>bloggers </em>yang dimuat di blog para sahabat &#8212; itulah sebabnya mereka menyebut saya suka cuci tangan.</p>
<p>Teman saya lainnya, bukan <em>blogger </em>tapi sering membaca beberapa blog, berkesimpulan, &#8220;Mulai banyak blog yang seperti ruang arisan. Si <em>blogger </em>dan jaringannya asyik dengan diri mereka sendiri, ngobrol sendiri. Isinya cuma gunjingan dan saling sindir.&#8221;</p>
<p>Sampai di sini rumusannya mulai agak jelas. Jika bicara &#8220;manfaat bagi orang lain&#8221; maka yang pertama disorot justru pengertian &#8220;orang lain&#8221;.</p>
<p>Siapa saja mereka, &#8220;orang lain&#8221; itu? Teman si <em>blogger </em>di jagat maya? Atau teman di ranah virtual sekaligus alam nyata? Atau siapa pun yang membaca sebuah blog?</p>
<p>Ah, lagi-lagi saya merenung. Bagaimana dengan <a href="http://plurk.com" target="_blank">Plurk</a>, <a href="http://twitter.com" target="_blank">Twitter</a>, <a href="http://kronologger.com" target="_blank">Kronologger</a>, dan <em>microblogging </em>lainnya? Kesan selintas saya, tanpa survei mendalam, sebagian besar pemainnya adalah <em>bloggers</em>. Mereka pemain lama di tempat lain. Sebagian sudah saling kenal, minimal di ranah maya.</p>
<p>Misalkan pemain <em>microblogging </em>itu bukan <em>bloggers </em>di tempat lain, dan bukan prominen di sektor lain, apakah juga menarik?</p>
<p>Tentu sudah ada jawaban. <em>Microblogging </em>dibuat untuk menghubungkan orang. Meski setiap pemain boleh memilih untuk menyendiri, secara umum orang masuk ke sana untuk memperluas perkawanan, antara lain dengan berbagi pengalaman, opini, lihatan, dengaran, dengan cara yang ringkas, bahkan melalui ponsel pun bisa.</p>
<p>Isinya boleh pernyataan kangen kepada pacar, boleh pula kesal terhadap PLN, atau pamer sedang menikmati kepulan Cohiba dan cicipan Champagne Aubry Brut di sebuah &#8220;ruang privat di tempat publik&#8221; (<em>contradictio in terminis?</em>).</p>
<p>Artinya, pembaca di Twitter dan apalagi Plurk, sejak awal sudah terseleksi secara sosial. Jika mereka bukan bagian dari pusaran gaul di sana maka takkan merasa nyaman dan kagak nyambung.</p>
<p>Bagi seorang sinis, Plurk tak beda dengan tembok berisi grafiti. Siapa yang paling sering mencorat-coret dengan pengibaran nama diri, rajin bersalam di plurk orang lain, berarti sedang berupaya mendirikan tonggak kemasyhuran. Tak beda dengan coretan spidol &#8220;Slamet loves Marni&#8221; dan &#8220;Poniman Top 2008&#8243; di mana-mana.</p>
<p>Misalkan memang begitu, apakah itu salah?</p>
<p>Hak setiap orang untuk mencari perhatian dan mengibarkan nama tanpa merugikan orang lain. Bandingkan dengan jaksa yang menerima suap dan anggota parlemen yang doyan sogok dengan menggadaikan keputusan bermoral.</p>
<p>Satu hal lagi, seperti halnya kehidupan nyata, jejaring sosial di dunia maya juga mengenal seleksi. Mereka yang dianggap menyebalkan akan dijauhi. Begitu juga mereka yang postingnya tidak dipahami sesama anggota: akan diabaikan. Posting yang tak mengena di hati tidak bakal mengundang respon. Artinya, meraih popularitas&#8211; dalam arti tenar dan sekaligus disukai &#8212; itu bukan urusan mudah meskipun &#8220;Slamet loves Marni&#8221; dan &#8220;Poniman Top 2008&#8243; muncul 13 kali sehari.</p>
<p>Bagaimana dengan &#8220;orang lain&#8221; di luar anggota dan di luar jaringan perkawanan? Ada resep sederhana. Kalau tak suka ya jangan mendatangi, jangan membaca. Carilah, semoga mendapatkan blog yang cocok di hati.</p>
<p>Oh ya, ada tambahan. Bergunjing adalah bagian dari kehidupan sosial manusia. Dan itu biasanya dimulai dari, &#8220;Gimana kabar dia?&#8221;</p>
<p>© Foto orang gigit kaki: news.filefront.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/09/11/blog-sebagai-ruang-arisan-penuh-gunjing/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ngeblog Riang, Nama Kondang, Duit Datang, Hati Girang</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/08/31/ngeblog-riang-nama-kondang-duit-datang-hati-girang/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/08/31/ngeblog-riang-nama-kondang-duit-datang-hati-girang/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Aug 2008 07:41:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[Personal]]></category>

		<category><![CDATA[advertorial]]></category>

		<category><![CDATA[blogger]]></category>

		<category><![CDATA[duit]]></category>

		<category><![CDATA[iklan]]></category>

		<category><![CDATA[kondang]]></category>

		<category><![CDATA[ndoro kakung]]></category>

		<category><![CDATA[ngeblog]]></category>

		<category><![CDATA[problogger]]></category>

		<category><![CDATA[rupiah]]></category>

		<category><![CDATA[seleb]]></category>

		<category><![CDATA[terkenal]]></category>

		<category><![CDATA[uang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=88</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Mas punya blog juga? Namanya apa? Kok aneh? Nggak serius nih. Kurang selling. Bentar saya buka. Lho kok nggak ada iklannya, cuma banner main-main? Rugi dong ngeblog kalo nggak ada duitnya&#8230;&#8221;
Anak muda itu nyerocos tanpa bisa direm. Serba-multitasking. Bertanya, bercakap, mengetik sementara matanya sesekali menatap layar laptop kecil.
Bukan pertanyaan pertama yang saya terima. Tempo hari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright" title="mitos panen uang dari blog" src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/08/ngeblogduit.jpg" alt="panen uang dari blog" hspace="15" width="250" height="333" />&#8220;Mas punya blog juga? Namanya apa? Kok aneh? Nggak serius nih. Kurang <em>selling</em>. Bentar saya buka. Lho kok nggak ada iklannya, cuma <em>banner </em>main-main? Rugi dong ngeblog kalo nggak ada duitnya&#8230;&#8221;</p>
<p>Anak muda itu nyerocos tanpa bisa direm. Serba-<em>multitasking</em>. Bertanya, bercakap, mengetik sementara matanya sesekali menatap layar laptop kecil.</p>
<p>Bukan pertanyaan pertama yang saya terima. Tempo hari saya juga ditanya beberapa orang dalam rekat kopi seminar. Mereka tahu saya seorang <em>blogger </em>karena saya dipersilakan maju ke podium untuk menerima <em>doorprize</em>.</p>
<p>Inti pertanyaan, tidak hanya dalam rehat seminar itu, adalah bagaimana ngeblog supaya dapat duit. Separuh dari penanya &#8212; bahkan kayaknya enam dari sepuluh &#8212; adalah orang yang mengaku belum punya blog. Mereka hanya mau ngeblog serius kalau ada duitnya.</p>
<p>Salah satu orang mengartikan serius itu sebagai &#8220;saben hari di-<em>update</em>, banyak yang baca, kita terkenal, tapi kitanya santai, terus duit datang&#8230;&#8221;</p>
<p>Sayang saya bukan orang yang berwenang menjawab begituan. Malah jawaban saya mungkin sering bikin kuciwa.  Tentang <em>banner </em>atau advertorial, misalnya, ya saya jawab kalau harganya cocok atau hati saya kena atau saya sempat atau karena berteman baik.</p>
<p>Dari mana mengongkosi hosting di blogombal.org dan anak-anaknya, ya saya jawab, &#8220;Kalo ada duit ya saya ongkosin, kalo lagi bokek nggak bisa bayar ya saya biarin blog saya diturunin sama yang punya server. Simpel kan? Semoga Google mau menyimpannya.&#8221;</p>
<p>Lantas menulis, bahkan memotret dan melakukan perjalanan itu kan butuh biaya? Jawaban saya tetap: &#8220;Kalo ada ongkos ya jalan, kalo nggak ada ya nggak usah.&#8221;</p>
<p>Bagaimana kalau tidak ada ide? &#8220;Ya nggak usah nulis. Bahkan kebosanan terhadap internet kadang saya turuti. Sebaiknya ngeblog karena seneng, dari dorongan hati, bukan mau nyari duit.&#8221;</p>
<p>Saya mohon maaf kepada sorot-sorot mata yang kuciwa karena tak beroleh pencerahan. Saya menjawab apa adanya. Maka jujur juga saya jawab, saya ngebog di sini, dagdigdug.com, tidak ditariki ongkos.</p>
<p>&#8220;Lha kalo dagdigdugnya nggak bisa ngongkosin blognya Mas, gimana coba?&#8221; tanya seseorang. Jawaban saya selalu enteng, &#8220;Makanya Anda cariin duit.&#8221;</p>
<p>Dia garuk-garuk kepala. Mungkin gatal. Mungkin kesal.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/08/31/ngeblog-riang-nama-kondang-duit-datang-hati-girang/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mengawasi Sopir</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/08/04/mengawasi-sopir/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/08/04/mengawasi-sopir/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Aug 2008 11:35:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[obscenity]]></category>

		<category><![CDATA[percabulan]]></category>

		<category><![CDATA[pornografi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=85</guid>
		<description><![CDATA[
Tadi siang, di lampu merah Lebak Bulus, Jakarta Selatan, di depan saya ada mobil boks. Ada tulisan dari juragan pada pintu belakang (lihat foto). Intinya meminta masyarakat ikut mengawasi perilaku sopir di jalan raya. Kalau perilaku sopir di warung atau di rumah, sepanjang tak berhubungan dengan mobil bawaannya, mungkin tak perlu dilaporkan.
Kenapa sopir harus diawasi? [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-full wp-image-86" title="sopir ngebut" src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/08/ngebuttss.jpg" alt="" hspace="15" width="300" height="308" /></p>
<p>Tadi siang, di lampu merah Lebak Bulus, Jakarta Selatan, di depan saya ada mobil boks. Ada tulisan dari juragan pada pintu belakang (lihat foto). Intinya meminta masyarakat ikut mengawasi perilaku sopir di jalan raya. Kalau perilaku sopir di warung atau di rumah, sepanjang tak berhubungan dengan mobil bawaannya, mungkin tak perlu dilaporkan.</p>
<p>Kenapa sopir harus diawasi? Mungkin bagi juragan adalah supaya mobil tak menabrak orang maupun pohon dan tiang yang menyeberang. Bagi sopir mabuk, ngebut pula, mana benda diam mana benda berjalan memang bisa membingungkan.</p>
<p>Lagi-lagi, dari kepentingan juragan, kalau mobil menabrak jembatan yang tiba-tiba mundur dan belok (lho?), itu berarti kerugian. Mobil rusak.</p>
<p>Itu tadi  dari sisi kepentingan juragan. Dari sisi kepentingan di luar juragan, yakni sesama pengguna jalan, sopir pencilakan sok lincah akan membahayakan orang lain. Intinya bikin suasana tidak nyaman.</p>
<p>Bagaimana dengan <em>blogger </em>dan penyedia <em>blog hosting</em>? Tentu urusannya bukan sopir dengan juragan. Tanggung jawab si <em>blogger </em>adalah terhadap sesama pengguna jalan, eh maksud saya sesama <em>bloggers </em>di komunitasnya.</p>
<p>Jadi, kalau suka hiburan untuk orang dewasa, termasuk yang <em>explicit hardcore</em>, silakan saja. Itu hak. Tapi mempertunjukkan di tempat yang terbuka untuk semua orang, itu mengganggu kenyamanan.</p>
<p>Kenapa menganggu? <em>Blog hosting</em> yang dipameri hiburan cabul itu memang bukan layanan hiburan dewasa. Kasihan orang lain yang terganggu karena sergapan info penjebak dan penggiring itu.</p>
<p>Apa tadi? Cabul? Salah satu ukuran cabul adalah: orang paling doyan sajian paling saru pun menggap apa yang disukainya harus disembunyikan. Kalau dia menontonnya di layar kaca maka tetangga melintas tak boleh memergoki pesawat TV-nya.  Kalau dia memasang posternya maka anak-anak tetangga tak boleh melihat dari luar jendela sekalipun.</p>
<p>Oh, berarti mengajak orang hipokrit dong? Oh tidak. Semua ada rambunya. Di negeri paling permisif  pun produk <em>adult entertainment</em> tidak bisa sembarangan dijajakan. Di negeri-negeri Barat tak ada lapak penjual DVD cabul seperti di Glodok.</p>
<p>Tak hanya dalam urusan hiburan dewasa. Dalam perilaku dewasa pun, misalnya minum bir, di negeri tertentu orang tidak bisa semaunya. Begitu keluar dari halaman rumah dia masih menenggak bir maka tetangga boleh lapor ke polisi. Membawa bir di bawah jok mobil juga dilarang, kalau ketahuan akan ditilang, tak peduli kaleng birnya masih tertutup rapat atau sudah terbuka.</p>
<p>Uh, nggak bebas dong? Apa boleh buat, kemerdekaan setiap orang itu dijamin sepanjang tidak mengganggu kebebasan dan kenyamanan orang lain. Masyarakat yang dewasa bisa memisahkan ranah privat dan publik.</p>
<p>Kembali ke hiburan dewasa, itu sudah ada salurannya sendiri. Termasuk juga untuk ngeblog soal begituan. Tapi dagdigdug tidak termasuk di dalamnya. Pengelola maupun mayoritas anggota komunitasnya tidak mau.</p>
<p>Simpel kan?</p>
<p>NB: <em>Kalau memasang gambar wanita (atau pria) berpakaian seksi? Aha mari kita diskusikan&#8230; :)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/08/04/mengawasi-sopir/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Blog yang Unik, yang Berbeda, yang&#8230;</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/07/22/blog-yang-unik-yang-berbeda-yang/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/07/22/blog-yang-unik-yang-berbeda-yang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Jul 2008 14:32:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[kreativitas]]></category>

		<category><![CDATA[memanjakan diri]]></category>

		<category><![CDATA[menjadi diri sendiri]]></category>

		<category><![CDATA[orisinal]]></category>

		<category><![CDATA[senang]]></category>

		<category><![CDATA[unik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=83</guid>
		<description><![CDATA[
Ada yang isinya bersajak, seperti Nona punya. Seolah gampang tapi tak semua bloggers bisa. Ada yang isinya &#8220;hanya&#8221; rekaan dagangan toko seperti punya Hani &#8212; tapi apakah semua orang bisa bikin ini? Ada yang isinya komik, seolah cuma &#8220;rekapaksa&#8221; gambar (misalnya komikfoto), tapi ternyata ide dan ketelatenan bukanlah milik semua orang. Ada sih layanan generator [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-84" title="unik kok dicela" src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/07/uniklho.jpg" alt="unik kok dicela" width="500" height="375" /></p>
<p>Ada yang isinya bersajak, seperti <a title="pucuk dicinta zam tiba" href="http://nonadita.dagdigdug.com/" target="_blank">Nona</a> punya. Seolah gampang tapi tak semua <em>bloggers</em> bisa. Ada yang isinya &#8220;hanya&#8221; rekaan dagangan toko seperti punya <a title="ayo boronggggggg" href="http://beradadisini.dagdigdug.com/" target="_blank">Hani</a> &#8212; tapi apakah semua orang bisa bikin ini? Ada yang isinya komik, seolah cuma &#8220;rekapaksa&#8221; gambar (misalnya <a title="boleh juga nih" href="http://komikfoto.dagdigdug.com/" target="_blank">komikfoto</a>), tapi ternyata ide dan ketelatenan bukanlah milik semua orang. Ada sih layanan generator komik, tapi yang namanya ilham dan setrum kelucuan kadang menjadi barang mewah.</p>
<p>Lantas? Ada blog yang khusus <a title="biasa aja" href="http://ceritakaos.com" target="_blank">kaos</a>. Ada yang tentang t<a title="hidup ndoro!" href="http://pesanlewat.com">ulisan pada kendaraan</a>. Ada yang tentang <a title="cuma cangkir aja kok" href="http://mugue.com" target="_blank">mug</a>. Ada yang tentang <a title="baru nih, masih gres kayaknya" href="http://kantongrasa.com" target="_blank">kantong gula</a>. Semua contoh tadi adalah blog yang menurut saya unik. Maksud saya bukanlah satu-satunya, atau tiada kembaran, tetapi rada berbeda dari arus yang ada.</p>
<p>Haruskah seorang <em>blogger</em> baru membuat blog yang berbeda dari yang ada? Terserah. Itu soal pilihan. Tetapi andaikata seorang <em>blogger</em> memulai blognya seperti umumnya orang lain, itu pun juga unik &#8212; kecuali <em>copy and paste</em> atau sekadar memasang <em>plugins</em> penjaring <em>posts</em> orang lain tanpa dia pedulikan isinya.</p>
<p>Bagi saya setiap blog memiliki pembaca sendiri-sendiri. Minimal si <em>blogger</em> itu sendiri dan segala mesin internet. Jadi, jika niat ngeblog adalah memindahkan muatan benak dan menuangkan isi hati, maka soal nyeleneh, beda dari yang berbeda, itu tidak penting.</p>
<p>Yang lebih penting, selain untuk memanjakan diri, ngeblog adalah sarana untuk belajar. Minimal belajar menata kata, karena bahasa adalah cerminan olah pikir. Dari mana belajarnya? Semua penulis hebat juga belajar dari orang lain. Ada yang dia ingat sumbernya, ada yang tidak. Begitu pula musisi dan perupa &#8212; oh ya, dan fotografer.</p>
<p>Pada dasarnya setiap orang itu unik &#8212; dengan maupun tanpa lagak eksentrik.</p>
<p>© Ilustrasi: John &amp; Jessica Williams</p>
<p> </p>
<p> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/07/22/blog-yang-unik-yang-berbeda-yang/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kepartaian dalam Blog</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/07/07/kepartaian-dalam-blog/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/07/07/kepartaian-dalam-blog/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jul 2008 05:03:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[egosentris]]></category>

		<category><![CDATA[guyon]]></category>

		<category><![CDATA[humor]]></category>

		<category><![CDATA[ngeblog]]></category>

		<category><![CDATA[partai]]></category>

		<category><![CDATA[seleb]]></category>

		<category><![CDATA[selfish]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=80</guid>
		<description><![CDATA[
Ngomongin pemilu? Tidak. Sobat saya punya ungkapan tentang blogger A yang separtai dengan blogger B. Mungkin yang dia maksudkan adalah posting si A yang sering membicarakan tentang B, juga C, plus D, dan E, kemudian saling berbalas, tetapi publik tidak mendapatkan banyak manfaat. Cuma gojek kere berlingkup internal yang dilemparkan ke ranah maya.
Sobat saya yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-81" title="partai bloggers" src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/07/connecting.jpg" alt="" width="380" height="285" /></p>
<p>Ngomongin pemilu? Tidak. Sobat saya punya ungkapan tentang <em>blogger </em>A yang separtai dengan <em>blogger </em>B. Mungkin yang dia maksudkan adalah posting si A yang sering membicarakan tentang B, juga C, plus D, dan E, kemudian saling berbalas, tetapi publik tidak mendapatkan banyak manfaat. Cuma gojek kere berlingkup internal yang dilemparkan ke ranah maya.</p>
<p>Sobat saya yang lain kemarin mengirimkan pengingat, berupa tautan dari tulisan lama <a title="terima kasih bos!" href="http://tempe.wordpress.com/2008/04/10/hay-blogger-sampai-dimana-kamu-sekarang/" target="_blank">Rovicky</a>, geolog yang pandai bercerita itu, yang mempersoalkan &#8220;suara baru Indonesia&#8221;. Apa manfaatnya bagi khalayak jika <em>blogger </em>hanya bicara dirinya sendiri?</p>
<p>Ini hal menarik. Memang kelebihan dan pembeda blog adalah pada isinya yang personal. Soal subyektivitas, memang demikianlah adanya. Bukankah laporan lembaga riset pun punya subyektivitas &#8212; dalam arti sudut pandang sesuai khittah lembaga?</p>
<p>Lantas, di mana masalahnya?  Dulu, dalam beberapa obrolan, saya mencontohkan rubrik tertentu majalah gaya hidup (terutama yang bersegmen wanita). Ada sajian yang secara jurnalistik kurang lengkap tapi jika pembaca tak paham maka merekalah yang salah.</p>
<p>Rubrik apa? Nama rubrik tak penting, tapi dikemas sebagai album foto para sosialita. Cuma ada nama Anu, Anu, dan Anu. Tanpa keterangan.</p>
<p>Pembaca yang tak paham berarti kurang gaul, bukan <em>party goers</em>, dan sebaiknya menambah pengetahuan umum. Pembaca lain (mayoritas, semoga sesuai asumsi segmentasi) yang paham, meskipun bukan sosialita, akan dianggap melek informasi.</p>
<p>Misalnya seperti ini: &#8220;Si Cempluk itu istrinya si Tambun. Nah, si Tambun itu anaknya Tuan Gembrot, pemilik pabrik tusuk gigi. Lha si Cempluk itu yang tempo hari bersama kelompok arisannya mendatangkan koleksi Manolo Blahnik untuk show kalangan terbatas.&#8221;</p>
<p>Seorang pembaca, sebagai pemakai setia produk diskonan Yongki Komaladi, dan ketika dulu belum diledek masih mau pakai tas Sophie Martin, akan dianggap maju oleh lingkungannya: tahu dunia lain.</p>
<p>Saya bicara konteks media cetak. Rubrik-rubrik aneh tapi konon mengasyikkan itu (karena orang ingin tahu si Anu pakai gaun dan tas apa, juga arloji apa) bisa menyugesti orang untuk belajar hal yang <em>entertaining </em>tapi tak penting. Penerbit dan editor bisa memformat orang lain.</p>
<p>Bagaimana dengan blog? Dari sisi kelengkapan informasi, posting antarkawan berisi tautan. Selanjutnya Ki Ageng Google akan membantu. Bedanya dengan media cetak, blog telah menjadikan pemiliknya dan kalangan dekatnya sebagai pesohor di lingkungan komunitas <em>blogger</em> tertentu. Tak perlu editor.</p>
<p>Dalam konteks itu, setiap <em>blogger </em>telah memposisikan dirinya sendiri, lengkap dengan risikonya. Tapi pendapat ini pun ngawur. <em>Blogger </em>yang sering jadi bulan-bulan kawan keparatnya, dan tak mau atau tak dapat membalas, akhirnya telah menjadi sosok yang terformat di luar kehendak diri. Gunjing canda dan fitnah mesra menemukan salurannya. Hasilnya adalah citra diri (yang belum tentu benar).</p>
<p>Itu baru blog (di luar blog tentang sosialita Jakarta), belum ke keranjang jejaring sosial di ranah maya. Kalau yang ini, adab gaulnya &#8212; dalam beberapa hal &#8212; tak beda dari lingkup RT dan RW. Hanya saja kemasannya lebih urban dan mondial. Yang penting orang tahu siapa sedang apa dan mau ngapain &#8212; perlu bantuan atau tidak ketika akan melakukan hal terpuji. <em>Entertaining</em> dan penting (pun <em>inspiring</em>) bagi para pelakunya. :)</p>
<p>Kembali ke blog yang cuma memindahkan gaul kepartaian dan barangkali cuma ekstensi dari guyon berlingkup milis (yang disimak kalangan terbatas, kecuali dibiarkan bocor). Apa manfaatnya bagi publik?</p>
<p>Mungkin menghibur, mungkin menyebalkan, sekadar memindahkan gunjingan dan gojek kere ke internet, tapi yang pasti saya tak dapat tegas menjawab itu bermanfaat atau tidak bagi pembaca secara umum.</p>
<p>Untuk para pemasar yang akan memanfaatkan blog mungkin penting. Untuk pengamat perilaku sosial mungkin menarik. Guyon, saling ledek, dan saling pamer (bahkan mungkin saling keluh dengan meratap) telah mendapatkan medianya sendiri, dan itu adalah sebuah etalase kehidupan.</p>
<p>Lantas di mana &#8220;suara baru Indonesia&#8221;-nya?</p>
<p>Saya tak tahu. Baru bisa merenung. Jangan-jangan sebagian orang terlalu berharap dari blog. Berharap akan mendapatkan resensi film yang layak rujuk, kritik seni rupa yang menggugah, telaah musik yang memperkaya, bedah sastra yang mencerahkan, reviu hi-fi yang andal (ya andal barangnya, ya pendapatnya), pencontohan modifikasi mobil yang hebat, kajian aristektural yang ilhami, perbincangan lingkungan hidup yang menyadarkan, sketsa sosial-politik yang lucu tapi mencerdaskan, dan seterusnya yang serba subyektif dan personal, berbeda dari media lawas&#8230;</p>
<p>Singkat kata, orang berharap sebuah blog akan bicara pengalaman dan pandangan pribadi tapi bermanfaat bagi orang lain. Wdauh.</p>
<p>Saya sendiri &#8212; mohon maaf &#8212; adalah termasuk <em>blogger </em>yang kadang melempar gojek kere. Apa yang saya tulis tak ada manfaatnya bagi khalayak ramai maupun sepi. Lebih celaka lagi, orang yang saya sasar pun tak peduli. Termasuk tak peduli terhadap blog apa pun.</p>
<p>Barangkali inilah egosentrisme saya dalam ngeblog. Mentang-mentang punya media sendiri &#8212; pemilik merangkap penulis dan penyunting &#8212; maka saya sesuka hati. Pinjam filosofi pede-istik jomblo angkuh yang seret peminat (padahal kesepian): naksir (eh, baca) ya syukur, nggak mau ya kebangetan.</p>
<p>Lantas Anda pun bertanya: ngeblog untuk apa dan siapa?</p>
<p>© Ilustrasi: unknown</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/07/07/kepartaian-dalam-blog/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Wartawan (tidak) Harus Ngeblog</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/07/03/wartawan-tidak-harus-ngeblog/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/07/03/wartawan-tidak-harus-ngeblog/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Jul 2008 19:48:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[jurnalis]]></category>

		<category><![CDATA[ngeblog]]></category>

		<category><![CDATA[reporter]]></category>

		<category><![CDATA[wartawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=78</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa kawan punya asumsi seperti ini. Blog adalah dunia penulisan. Karena wartawan akrab dengan tulis-menulis maka mestinya sebagian besar dari mereka itu punya blog. Tepatnya, ngeblog itu pasal cincai bagi orang lihai. Celakanya asumsi itu disusul dengan pertanyaan: berapa banyakkah wartawan yang ngeblog?
Saya tak punya data. Bisa sih ngawur bilang bahwa 68% wartawan ngeblog. Atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa kawan punya asumsi seperti ini. Blog adalah dunia penulisan. Karena wartawan akrab dengan tulis-menulis maka mestinya sebagian besar dari mereka itu punya blog. Tepatnya, ngeblog itu pasal cincai bagi orang lihai. Celakanya asumsi itu disusul dengan pertanyaan: berapa banyakkah wartawan yang ngeblog?</p>
<p>Saya tak punya data. Bisa sih ngawur bilang bahwa 68% wartawan ngeblog. Atau bisa juga sebaliknya: 68% wartawan nggak ngeblog. Maksud saya ngeblog dalam arti pribadi, bukan ngeblog untuk medianya karena ditugasi.</p>
<p><a href="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/07/ohwartawan.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-79" title="oh wartawan!" src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/07/ohwartawan.jpg" alt="wartawan: ya meliput, ya ngeblog?" width="500" height="348" /></a></p>
<p>Karena tidak ada data, bagaimana jika kita main terka? Misalnya melongok <a title="hehehehe, habis mau ngerujuk ke mana lagi?" href="http://blogs.indonesiamatters.com/" target="_blank">100 blog top Indonesia</a>. Berapakah yang dimiliki oleh wartawan?</p>
<p>Maka izinkanlah saya bertanya: kalau misalnya mayoritas blog dimiliki oleh wartawan lantas kenapa? Kita anggap wajar, sesuai asumi pada paragraf pembuka?</p>
<p>Lha kalau ternyata jumlah wartawan dalam 100 blog itu sedikit, kurang dari sepertiga, emangnya kenapa? Aneh? Menyedihkan? Menggembirakan?</p>
<p>Terhadap urusan macam ini jawaban saya adalah, &#8220;Sudahlah, ngeblog itu soal hati. Tak harus  berhubungan dengan profesi. Wartawan maupun sastrawan boleh ngeblog maupun tidak ngeblog.&#8221;</p>
<p>Beberapa wartawan pernah bilang kepada saya ingin ngeblog tapi malas. Atau sudah punya blog tapi malas – atau tak sempat – memperbaruinya.</p>
<p>Kenapa malas, kenapa tak sempat? Lebih dari seorang punya alasan macam ini: sehari-hari sudah menulis karena pekerjaan dan itu melelahkan; jadi buat apa menambah beban? Belum lagi kalau urusan di kantor bukan hanya peliputan dan naskah melainkan juga tetek-bengek manajerial. Lebih baik sisa energi buat keluarga atau <em>hang out</em>.</p>
<p>Bisa juga sih dibalik, seperti pertanyaan iseng saya: bagaimana jika untuk keseimbangan jiwa justru ngeblog dengan menulis sesuka hati yang tak ada hubungan dengan pekerjaan? Termasuk dalam pekerjaan adalah topik yang sesuai dengan bidang kedinasannya.</p>
<p>Jawabannya adalah senyum bahkan tawa. Ada juga kilah yang lebih argumentatif. Misalnya, &#8220;Saya wartawan otomotif, demen ama modifikasi dan <em>racing</em>. Kalo blog saya isinya juga gituan, bisa-bisa saya cuma menduplikasi tulisan di majalah. Artinya saya dianggap nggak kreatif. Padahal untuk kreatif saya sudah kehabisan ide.&#8221;</p>
<p>Jawabannya mungkin benar. Mungkin pula tidak. Tapi saya punya contoh, salah satu <em>blogger</em> yang tenar dengan posting tentang <em>backpacking</em> adalah seorang wartawati media otomotif. Carilah nama Ukirsari di Google.</p>
<p>Bagaimana dengan wartawan media umum, bukan media khusus? Misalnya wartawan koran, wartawan majalah berita, dan wartawan portal berita?</p>
<p>Seorang penyair, pemilik blog puisi, adalah wartawan yang menjadi redaktur-merangkap-kartunis sebuah koran kota. Kandungan syairnya tak  mesti senapas dengan jurnalisme medianya.  Google-kanlah nama Hasan Aspahani.</p>
<p>Kalau bukan penyair bagaimana? Bisa saja mereka bukan generalis melainkan spesialis, sesuai rubrik. Pengecualian berlaku untuk reporter yang belum memiliki spesialiasi, sehingga bertugas sesuai penugasan koordinator reportase atau kepala biro. Tapi sebagian dari mereka khawatir, justru karena umum itulah maka isi blognya akan berimpitan dengan sajian media tempatnya bekerja; hanya berbeda gaya dan pendekatan masalah.</p>
<p>Masalah akan berkemungkinan bertambah jika dari blog pribadinya mereka mendapatkan iklan. Pihak manajemen bisa murka, karena fasilitas dinas yang dipakai untuk ngeblog bukan hanya komputer dan internet kantor melainkan juga biaya transportasi, biaya peliputan, biaya jamuan, dan bahkan bank data (termasuk foto) yang ada di kantornya.</p>
<p>Ketika urusannya sampai ke sana, biarlah itu jadi seminarnya <a title="ayod dong bos! hahaha!" href="http://portalhr.com/" target="_blank">Nukman Luthfie</a> dengan mengumpulkan petinggi HRD perusahaan media untuk berdiskusi  apa plus dan minusnya wartawan ngeblog bagi kumpeni. :D</p>
<p>Berbahagialah <em>bloggers</em> yang bukan wartawan. Tulisan bagus akan dipuji. Tulisan buruk tak akan diledek. Malas meng-<em>update</em> hanya akan ditagih pembaca, bukan dianggap mati angin.</p>
<p>Lho tadi dibilang ngeblog urusan hati, tak ada hubungan dengan profesi? Gimana sih kok mencla-mencle? ;)</p>
<p>© Ilustrasi:  &#8220;Football Stars Become Microstars&#8221; (McCann Erickson, Milan, Italia, April 2008)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/07/03/wartawan-tidak-harus-ngeblog/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Peringkat Blog Saya Turun, Gimana Dong?</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/06/30/peringkat-blog-saya-turun-gimana-dong/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/06/30/peringkat-blog-saya-turun-gimana-dong/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Jun 2008 21:06:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[hit]]></category>

		<category><![CDATA[kampiun]]></category>

		<category><![CDATA[ketenaran]]></category>

		<category><![CDATA[ngeblog]]></category>

		<category><![CDATA[page view]]></category>

		<category><![CDATA[pemeringkatan]]></category>

		<category><![CDATA[peringkat]]></category>

		<category><![CDATA[popularitas]]></category>

		<category><![CDATA[rangking]]></category>

		<category><![CDATA[ranks]]></category>

		<category><![CDATA[traffic]]></category>

		<category><![CDATA[trafik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=76</guid>
		<description><![CDATA[Bingung saya untuk menjawab pertanyaan macam itu. Saya bukan ahli pemeringkatan. Lebih penting lagi: saya tak begitu paham &#8212; dan belum mau belajar jauh &#8212; sejumlah alat untuk mengukur popularitas blog. Dalam urusan tertentu, ngeblog saya ya rada naif. Yang penting ngeblog. Titik.
Lebih payah dan memalukan lagi, kadang saya ogah menengok blog-blog saya. Begitu parahnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" style="margin-top: 5px; margin-bottom: 5px; margin-left: 15px; margin-right: 15px; float: left;" src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/06/ranking.jpg" alt="peringkat blog" width="250" height="223" />Bingung saya untuk menjawab pertanyaan macam itu. Saya bukan ahli pemeringkatan. Lebih penting lagi: saya tak begitu paham &#8212; dan belum mau belajar jauh &#8212; sejumlah alat untuk mengukur popularitas blog. Dalam urusan tertentu, ngeblog saya ya rada naif. Yang penting ngeblog. Titik.</p>
<p>Lebih payah dan memalukan lagi, kadang saya ogah menengok blog-blog saya. Begitu parahnya pengabaian oleh saya sendiri sehingga tahu-tahu sampahnya menggunung. Mang Memet Akismet kebobolan.</p>
<p>Untunglah belakangan ini saya mau belajar. Maka ada kemajuan dalam menjawab. Misalnya dengan menanya balik, &#8220;Anda ngeblog buat apa?&#8221;</p>
<p>Kalau ngeblog untuk kepentingan personal dan suka-suka, abaikan semua peringkat popularitas. Lebih penting peringkat kelegaan dalam diri.</p>
<p>Kalau ngeblog untuk pekerjaan &#8212; misalnya atas nama kantor &#8212; ya mau tidak mau, suka tidak suka, harus mau belajar soal peringkat dan cara mencapai popularitas. Namanya juga pekerjaan, disuruh pula. Apa boleh bikin.</p>
<p>Kalau ngeblog untuk personal sekaligus bisnis? Jawaban saya oleh beberapa orang dianggap aneh. Ya yang penting secara personal puas, secara bisnis bagus sehingga layak diuangkan. Persoalannya, kata sebagian orang, dua hal itu sulit digabungkan.</p>
<p>Saya juga entah sepertiga entah setengah mengamini. Lebih tepat membebek. Tampaknya sulit digabungkan. Kemudian saya bilang, kalau ngeblognya sesuka hati &#8212; tak hanya topik, bahasa, tetapi juga keajekan update, bahkan nama pun gonta-ganti &#8212; bagaimana bisa menjangkau khalayak luas, menciptakan kecanduan, dan membangun <em>brand</em> buat diri sendiri?</p>
<p>Nah, kelihatan kan kalau jawaban saya mulai tidak fokus, bahkan melenceng (atau malah tak konsisten)? Maaf. Memang begitulah adanya.</p>
<p>Lantas ada satu-dua orang membisiki, bahwa yang namanya ngeblog itu, kalau masih sebatas yang saya lakukan, adalah cara lama. Cuma mengutamakan <em>updating </em>sesuai niat, dengan menulis secara pribadi tapi ditujukan kepada khalayak dengan harapan ada yang membaca.</p>
<p>Cara baru, kata mereka, adalah menggunakan mesin blog untuk apa saja, yang penting ada konten (entah siapa yang bikin), plus pengayaan isi melalui trik ini dan itu supaya menggaet pengunjung (tersesat) dan ujung-ujungnya adalah peringkat. Secara rutin pencapaian blog dilihat dan dievaluasi.</p>
<p>Jawaban ini, dengan sejumlah contoh, tampaknya lebih terfokus dan sekaligus membuat saya terkesima. Tapi orang lain bilang, ini bukan cara baru. Hanya cara lama yang belum usang. Ada tempat untuk mempelajarinya.</p>
<p>Lantas, gimana dong baiknya supaya peringkat terjaga bahkan terus menanjak? Waduh, saya tidak punya buku Petunjuk Menjadi Kampiun karangan si Manyun.</p>
<p>Jawaban saya dari dulu dianggap menjengkelkan. Setiap blog punya penggemar sendiri. Bahkan setiap topik atau kategori juga punya penggemar sendiri. Taruh kata cuma ada lima pembaca setia, itu pun baik adanya.</p>
<p>Kalau kurang dari lima bahkan tidak ada? Tak soal asal si<em> blogger </em>puas dan bahagia.</p>
<p>© Ilustrasi: www.cepro.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/06/30/peringkat-blog-saya-turun-gimana-dong/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Posting Basi? Biarin Aja!</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/06/13/posting-basi-biarin-aja/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/06/13/posting-basi-biarin-aja/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jun 2008 12:56:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[basbang]]></category>

		<category><![CDATA[basi]]></category>

		<category><![CDATA[kedaluwarsa]]></category>

		<category><![CDATA[kemalumon]]></category>

		<category><![CDATA[ngeblog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=74</guid>
		<description><![CDATA[Jangan takut posting Anda dibilang basi. Jika Anda memang menikmati penulisan posting itu, blogkan saja.
Bagaimana jika pembaca kuciwa? Itu risiko. Bagaimana kalau pembaca mentertawakan? Bersyukurlah, Anda masih bisa membuat orang lain girang. Anda telah beramal. :D
Jika Anda ingin membuat resensi kaset atau CD Bintang Lima-nya Dewa sekarang ini, lakukan saja. Blog tak harus memuat segala [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright" style="float: right; margin-left: 10px; margin-right: 10px; margin-top: 5px; margin-bottom: 5px;" src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/06/expiredaward08.jpg" alt="basbang kemalumon award" width="200" height="170" />Jangan takut posting Anda dibilang basi. Jika Anda memang menikmati penulisan posting itu, blogkan saja.</p>
<p>Bagaimana jika pembaca kuciwa? Itu risiko. Bagaimana kalau pembaca mentertawakan? Bersyukurlah, Anda masih bisa membuat orang lain girang. Anda telah beramal. :D</p>
<p>Jika Anda ingin membuat resensi kaset atau CD <em>Bintang Lima</em>-nya Dewa sekarang ini, lakukan saja. Blog tak harus memuat segala hal yang baru. Bisa juga sih Anda berkilah bahwa topiknya lama tapi isinya beda. Karena beda maka anggap saja itu baru. :)</p>
<p>Ada saja terdengar, seseorang batal mengeposkan tulisan di blognya karena merasa sudah basi. Ukuran basi: <em>bloggers</em> lain sudah lebih dulu meramaikannya. Posting belakangan dianggap cuma membebek, seperti kelasi ketinggalan kapal. Kalau bebek pakai baju kelasi, namanya Donal(d).</p>
<p>Hasilnya, tulisan Anda &#8212; oh bukan, maksud saya dia &#8212; tempo hari tentang Ali Sadikin batal termuat karena baru ditulis lima hari setelah Almarhum dikebumikan.</p>
<p>Bagaimana dengan posting yang berhubungan dengan perkembangan kasus? Misalnya mau menulis tentang musisi tenar yang tersandung narkoba (dakwaan: bawa ganja dalam taksi). Eh ketika ditulis dia sudah bebas, berkumpul bersama keluarga tercinta, dan menjalani kaul berhenti merokok.</p>
<p>Andai kata ada pembaca yang mengingatkan melalui komentar (&#8221;Kalo mau posting baca berita dulu dong!&#8221;), anggap saja itu koreksi. Justru di situlah kemuliaan blog. Pembaca tak hanya berhak bersuara dan mengoreksi melainkan juga memperkaya posting Anda.</p>
<p>Jika blog boleh menuliskan segala hal yang terkini, dan dibenarkan pula menuliskan hal yang sudah jauh terlewati, bolehkan blog juga menulis hal yang akan terjadi?</p>
<p>Kalau Anda bisa, dan mau, kenapa tidak? Mau disebut ramalan jitu atau posting ngaco menyesatkan, itu terserah pembaca. Yang penting Anda siap bertanggung jawab. Artinya Anda (minimal) bersedia untuk menjawab.</p>
<p>Misalnya Anda kadung memastikan bahwa penulis posting ini akan meninggal Sabtu 14 Juni besok. Ternyata meleset. Bisa saja Anda menjawab,&#8221;Waktu itu saya yakin, tapi saya kan bukan Pemilik Kehidupan.&#8221;</p>
<p>Baiklah, abaikan saja ilustrasi tak bermutu itu. Yang penting ini: lebih baik ngeblog basi &#8212; atau sok futuristik &#8212; daripada ngeblog serbaterkini tetapi cuma <em>copy-and-paste</em>, atau malah menyuruh mesin menyedoti konten dari web lain. ;)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/06/13/posting-basi-biarin-aja/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Aktivitas Online dan Kehidupan Pribadi</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/06/02/aktivitas-online-dan-kehidupan-pribadi/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/06/02/aktivitas-online-dan-kehidupan-pribadi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Jun 2008 05:11:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[kemerdekaan]]></category>

		<category><![CDATA[ngeblog]]></category>

		<category><![CDATA[privasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=72</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Kenapa dia nggak ng-update blognya lagi?&#8221; tanya seseorang tentang orang lain kepada saya.
&#8220;Mungkin sibuk, atau males, atau nggak sempat, atau memang lagi puasa online,&#8221; kata saya.
&#8220;Puasa apaan? Tapi dia masih datengin blog orang, ninggalin komentar. Y!M dan Gtalk-nya itu kalo ditinggalin pesan, masih nyahut.&#8221;
&#8220;Lha mana saya tahu? Tanya dia dong&#8230;&#8221;
Hari berganti. Pekan demi pekan berlalu. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" style="float: left; margin-left: 10px; margin-right: 10px; margin-top: 5px; margin-bottom: 5px;" src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/06/gosssss.jpg" alt="gunjing gosip tak bermutu" width="200" height="235" />&#8220;Kenapa dia nggak ng-<em>update </em>blognya lagi?&#8221; tanya seseorang tentang orang lain kepada saya.</p>
<p>&#8220;Mungkin sibuk, atau males, atau nggak sempat, atau memang lagi puasa <em>online</em>,&#8221; kata saya.</p>
<p>&#8220;Puasa apaan? Tapi dia masih datengin blog orang, ninggalin komentar. Y!M dan Gtalk-nya itu kalo ditinggalin pesan, masih nyahut.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lha mana saya tahu? Tanya dia dong&#8230;&#8221;</p>
<p>Hari berganti. Pekan demi pekan berlalu. Kemudian bulan baru pun menyapa. Orang yang lain, tentang orang yang lainnya lagi, bertanya serupa kepada saya.</p>
<p>Jawaban saya lebih ringkas, &#8220;Mungkin sibuk. Atau lagi suka menyendiri.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sibuk apaan? Kemarin aku ngeliat dia lagi ngopi sendirian, pake laptop, di <abbr title="kedai di kawasan bisns, bukan are belanja">sono noh</abbr>. Lagi nunggu siapa gitu &#8216;kali yak? Kapan itu si Anu juga mergoki dia lagi milih sepatu di <abbr title="salah satu gerai PT Mitra Adi Perkasa Tbk.">Anu</abbr>. Sibuk? Dia kan penganggur?&#8221;</p>
<p>Tentu gunjing bergonjang-ganjing ini tidak layak diteruskan.</p>
<blockquote><p>Hanya satu moral ceritanya: <em>blogging </em>dengan nama sendiri maupun alias, tapi sosok asli si <em>blogger </em>sudah dikenal oleh <em>blogger </em>lain, pada akhirnya akan membatasi privasi.</p></blockquote>
<p>Bukan salah <em>blogging</em>-nya. Bukan kerna kutukan <em>messenger</em>. Tapi inilah konsekuensi dari(pada) adab gaul. Jalur maya-tapi-nyata dan aktivitas <em>online </em>hanya bagian dari kehidupan sosial itu.</p>
<p>Siapkah Anda menerima gangguan privasi itu? Seberapakah batasnya?</p>
<p>Jawaban paling mulia: &#8220;Emang gue pikirin?&#8221; Tapi sampai kapan? Jangan-jangan ada catatan kaki: &#8220;Iyah, sebel juga sih.&#8221;</p>
<p>&#8220;Mas, kenapa ya si itu suka nulis-nulis yang <em>flirty </em>gitu, <em>seductive </em>gitulah, pake ngaku fiksi segala. Orangnya emang gitu ya? Atau lagi ada masalah sama <em>hubby</em>? Doyan brondong ya dia? Atau biar diperhatikan para lelaki dan bikin penasaran para wanita?&#8221;</p>
<p>&#8220;Mana saya tahu, Bu? Kenapa juga itu Ibu baca lalu Ibu pikirkan?&#8221;</p>
<p>© Ilustrasi: unknown</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/06/02/aktivitas-online-dan-kehidupan-pribadi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Seberapa sih Ngeblog Mendatangkan Nikmat? (Sisi Gelap Saya)</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/05/21/seberapa-sih-ngeblog-mendatangkan-nikmat-sisi-gelap-saya/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/05/21/seberapa-sih-ngeblog-mendatangkan-nikmat-sisi-gelap-saya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 May 2008 15:46:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[Personal]]></category>

		<category><![CDATA[egois]]></category>

		<category><![CDATA[komunikasi]]></category>

		<category><![CDATA[selfish]]></category>

		<category><![CDATA[silaturahmi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=70</guid>
		<description><![CDATA[Kalau masalahnya &#8220;(se)berapa&#8221;, saya tak tahu ukurannya. Saya sendiri juga tak mengukurnya untuk diri saya dengan sebuah skala. Intinya adalah neraca hati. Tapi neraca kan juga menyangkut ukuran? Maaf, istilah itu untuk gagah-gagahan saja. Boleh Anda abaikan.
Ngeblog itu nikmat ketika saya melakukannya bukan karena kewajiban. Pada awal ngeblog, dengan nama alias di tempat lain, saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright" style="float: right; margin-left: 10px; margin-right: 10px;" src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/05/laptopmleyot.jpg" alt="laptopku" width="250" height="250" />Kalau masalahnya &#8220;(se)berapa&#8221;, saya tak tahu ukurannya. Saya sendiri juga tak mengukurnya untuk diri saya dengan sebuah skala. Intinya adalah neraca hati. Tapi neraca kan juga menyangkut ukuran? Maaf, istilah itu untuk gagah-gagahan saja. Boleh Anda abaikan.</p>
<p>Ngeblog itu nikmat ketika saya melakukannya bukan karena kewajiban. Pada awal ngeblog, dengan nama alias di tempat lain, saya melakukan apapun yang saya suka. Sehari bisa tiga kali posting dan tak peduli ada yang mengomentari atau tidak.</p>
<p>Naif dong? Mungkin. Tulus? Jujur? Tampaknya tidak.</p>
<p>Nyatanya saya memasang <a href="http://statcounter.com" target="_blank">statcounter</a>. Kesimpulannya: seolah saya cuek padahal ingin tahu bagaimana orang lain memperhatikan blog saya.</p>
<p>Lantas statistik itu sering saya lihat, untuk memuaskan rasa ingin tahu. Tapi akhirnya bosan, lagi pula saya gampang lupa soal angka.</p>
<p>Kemudian saya pakai nama asli, pakai domain sendiri. Statistik pada panel di layanan hosting kadang saya tengok.</p>
<p>Tapi setelah itu kebosanan berulang. Saya baru membacanya lagi, setelah setengah tahun tak menengok, ketika tempo hari ada orang mau pasang iklan dan saya larang dengan alasan itu takkan efektif.</p>
<p>Saya kirimkan tangkapan layar statistik. Tapi dia bebal, tetap pasang (dan bayar). Itu masalah dia. Salah dia, bukan saya. :)</p>
<p>Ternyata melihat angka statistik dan info lain itu hanya kenikmatan sesaat. Yang penting ngeblog saja, syukur dapat tanggapan.</p>
<p>Patokan saya, yang berkaitan dengan server, adalah web masih muncul komplet, belum ada <em>exceeded bandwidth limit</em>.</p>
<p>Bagaimana kalau akhirnya mentok? Entahlah. Belum saya pikirkan. Paling juga minta tolong orang.</p>
<p>Lantas apa itu &#8220;yang penting ngeblog&#8221;? Ehm, sangat egosentris dan kadang impulsif.</p>
<p>Egosentris, pokoknya saya pengin nulis. Mau baca dan kasih komentar ya syukur, kalau tak mau ya <span style="text-decoration: line-through;">kebangetan</span> silakan. Semprul betul.</p>
<p>Impulsif? Bisa nulis tanpa peduli jam baca orang. Tapi ada posting yang saya batalkan karena tiba-tiba hilang mood. Atau, ini dia, hilang ingatan. :D</p>
<p>Egosentrisme yang lain adalah dalam <em>blogwalking</em>. Seringkali saya hanya mengintip, dan itu pun melalui <em>reader </em>(sekarang pakai RSS Bandit) atau baca planet.</p>
<p>Rutinkah pengintipan itu? Tidak. Jangankan blog orang lain. Kalau lagi malas, blog-blog saya pun tak saya tengok. Hasilnya, antara lain, terlihat dari banyaknya <em>spam </em>yang lolos.</p>
<p>Jadi kalau bicara &#8220;ni&#8217;mat&#8221;, ngeblog itu menyenangkan sepanjang kita masih menyukainya. Kata &#8220;masih&#8221; tak merujuk kepada jadwal. Bisa kapan saja. Seingat saya, sesempat saya, seinsyaf saya, sesadar saya, dan sesyuman saya.</p>
<p>Artinya, kalau sebuah posting dianggap basi, tidak aktual, dinilai tidak ada kebaruan, bagi saya (kadang) tak soal. Lha wong saya suka kok.</p>
<p>Oh tidak hanya &#8220;suka&#8221;, melainkan kadang juga ketidaksukaan, kejengkelan, dan kekecewaan, yang intinya dari hati.</p>
<blockquote><p>Lantas di mana fungsi blog sebagai sebuah wadah untuk berkomunikasi, untuk berdialog, untuk bersilaturahmi?</p></blockquote>
<p>Saya bertanya pada diri sendiri, bukan kepada Anda, dan seringkali tak menemukan jawaban yang jujur.</p>
<p>Tapi dengan banyak menanyai diri, kok kadang malah nggak nikmat ya&#8230; Cermin hanya menyenangkan ketika saya merasa ganteng. Sayangnya rasa ganteng itu mahal, jarang muncul.</p>
<p>© Ilustrasi asli: <a href="http://www.wilbers.com" target="_blank">Wilbers</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/05/21/seberapa-sih-ngeblog-mendatangkan-nikmat-sisi-gelap-saya/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mestinya Blog bukan Ladang Ranjau</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/04/28/mestinya-blog-bukan-ladang-ranjau/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/04/28/mestinya-blog-bukan-ladang-ranjau/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Apr 2008 17:02:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[diskusi]]></category>

		<category><![CDATA[forum]]></category>

		<category><![CDATA[haki]]></category>

		<category><![CDATA[hukum]]></category>

		<category><![CDATA[sarasehan]]></category>

		<category><![CDATA[seminar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=68</guid>
		<description><![CDATA[Apa? Ranjau? Memangnya kita di kawasan perang atau bekas perang?
Apa boleh buat, ngeblog sebagai bagian dari aktivitas online memang rawan masalah. Dari yang urusannya teks, gambar, sampai dengaran dan gambar hidup.
Untuk yang teks, ya tahulah yang namanya demam kopas atawa copy-and-paste.
Untuk gambar, ehm, sebagian (besar) dari kita pernah atau masih melakukannya. Ambil sebuah gambar dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" style="float: left; margin-left: 10px; margin-right: 10px; margin-top: 5px; margin-bottom: 5px;" src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/04/ranjau.jpg" alt="ranjau dalam blog" width="340" height="245" />Apa? Ranjau? Memangnya kita di kawasan perang atau bekas perang?</p>
<p>Apa boleh buat, ngeblog sebagai bagian dari aktivitas <em>online</em> memang rawan masalah. Dari yang urusannya teks, gambar, sampai dengaran dan gambar hidup.</p>
<p>Untuk yang teks, ya tahulah yang namanya demam kopas atawa <em>copy-and-paste</em>.</p>
<p>Untuk gambar, ehm, sebagian (besar) dari kita pernah atau masih melakukannya. Ambil sebuah gambar dari sebuah web lantas kita pasang.</p>
<p>Memang kadang ada penyesuaian, dari sekadar <em>resizing </em>(supaya ngepas di blog kita) sampai editing tingkat lanjut (gambar kita olah dan gabung dengan gambar lain).</p>
<p>Untuk musik, hehehe, dengan bahagia kadang kita memasang versi mp3 dari lagu musisi asing maupun domestik. Sumber asli sebelum jadi mp3 itu bisa CD audio, bisa juga rekaman langsung (<em>bootleg</em>).</p>
<p>Adapun video yang kita YouTube-kan itu, bisa berupa hasil pemotongan dari VCD (bajakan) dan tangkapan tayangan TV, bisa juga hasil comotan dari syuting pribadi.</p>
<p>Seperti halnya foto, ada sisi hukum yang kadang bisa  &#8220;dimainkan&#8221; dalam tayangan video. Misalnya apakah penayangan wajah orang lain sudah seizin pemilik wajah (dan hidung).</p>
<p>Banyak contoh. Kalau dijembreng akan melelahkan. Padahal itu baru dari satu sisi, yakni si <em>blogger</em> yang dengan medianya memanfaatkan karya orang lain.</p>
<p>Di sisi lain ada juga media non-internet, misalnya majalah dan buku, yang main embat teks maupun foto karya blogger, dan tanpa izin, bahkan mungkin mendapatkan manfaat ekonomis.</p>
<p>Jadi, dari sisi kepentingan ngeblog, setiap <em>blogger</em> harus punya pengacara? Boleh, tapi walah, kayaknya malah ruwet.</p>
<p>Atau ada lembaga bantuan hukum buat blogger? Ini sih terserah <em>bloggers</em> &#8212; dan terserah <em>lawyers</em>.</p>
<p>Ada baiknya kita duduk bersama, merembuk soal ini dengan kepala dingin, hati tak dagdigdug, dan tentu boleh dengan sedikit guyon, yang penting ada hasil yang layak rujuk.</p>
<p>Itu tadi baru dari segi hak cipta, belum ditambahi soal penghinaan, fitnah, dan pemburukan nama jelek.</p>
<p>dagdigdug berencana menggelar forum untuk itu, dengan melibatkan ahli hukum, khususnya HAKI (hak atas karya intelektual). Akan lebih nikmat jika melibatkan sarjana hukum yang <em>blogger</em> &#8212; atau sebaliknya: <em>blogger</em> yang sarjana hukum (tapi belum ditemukan apa perbedaannya, jadi saat ini tak usah dibahas).</p>
<p>Kapan waktunya, dan di mana, tunggu kabar. Maunya dagdigdug sih melibatkan sejumlah komunitas blog. Ini sesuai kredo dagdigdug: apa pun (sub)domainnya, dan di mana pun hostingnya, setiap <em>blogger</em> adalah saudara.</p>
<p>Nah, Saudara dan Saudari bisa kasih masukan mulai sekarang.</p>
<p>© Ilustrasi: <a href="http://www.ddasonline.com/" target="_blank">ddasonline.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/04/28/mestinya-blog-bukan-ladang-ranjau/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Workshop Pertama dagdigdug (Sehari Setelah Peluncuran)</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/04/15/workshop-pertama-dagdigdug-sehari-setelah-peluncuran/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/04/15/workshop-pertama-dagdigdug-sehari-setelah-peluncuran/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Apr 2008 07:10:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[belajar]]></category>

		<category><![CDATA[ngeblog]]></category>

		<category><![CDATA[workshop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=66</guid>
		<description><![CDATA[Siang ini, di sebuah garage company di Gandaria, Jakarta Selatan, datanglah seorang ibu berjilbab. Usianya sekitar 50 tahun. &#8220;Saya ingin belajar ngeblog,&#8221; katanya kepada seorang awak kantor.
Ibu itu khusus datang ke rumah kecil dagdigdug untuk belajar ngeblog. Bagi saya dan teman-teman, itu sebuah keseriusan yang harus dihormati.
Dia manfaatkan waktu rehat makan siang untuk meninggalkan kantornya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/04/mesintik.jpg" alt="mesin tik | workshop ngeblog" align="left" height="158" hspace="10" vspace="3" width="200" />Siang ini, di sebuah <em><abbr title="kami menyebutnya 'gareng company'">garage company</abbr></em> di Gandaria, Jakarta Selatan, datanglah seorang ibu berjilbab. Usianya sekitar 50 tahun. &#8220;Saya ingin belajar ngeblog,&#8221; katanya kepada seorang awak kantor.</p>
<p>Ibu itu khusus datang ke rumah kecil dagdigdug untuk belajar ngeblog. Bagi saya dan teman-teman, itu sebuah keseriusan yang harus dihormati.</p>
<p>Dia manfaatkan waktu rehat makan siang untuk meninggalkan kantornya, sebuah departemen pemerintah di Jakarta Pusat, naik bus ke Blok M, kemudian disambung ojek, menuju ke Langsat.</p>
<p>&#8220;Saya ingin belajar ngeblog di dagdigdug. Apakah harus membayar untuk ngeblog?&#8221; tanyanya kepada saya.</p>
<p>Maka di sebuah meja kecil, sebuah pemanduan singkat pun berlangsung. Laptop saya jadi kelas.</p>
<p><em>Grothal-grathul</em>, kata orang Jawa. Sama seperti saya dan sebagian dari Anda: awal memakai komputer dan layanan <em>online</em> anyar kudu belajar. <a href="http://www.stallman.org/" title="benar kan? blogger itu juga hacker? hehehe" target="_blank">Richard Stallman</a>, sang peretas yang juga <em>blogger</em> itu, dulunya pun saya yakin sempat <em>grothal-grathul</em> saat kenal komputer. Hanya saja dia mulai lebih dini. :D</p>
<p>Tapi ibu itu beda. Di kantor dia sudah terbiasa pakai internet, punya akun di Yahoo!. Dia tahu dagdigdug dari blog favoritnya, yang dikomandani oleh <a href="http://www.sudutpandang.com/" title="top markotop" target="_blank">Nukman Luthfie</a>, yaitu <a href="http://www.virtual.co.id/blog/dotcom/dagdigdugcom-ngeblog-bukan-tren-sesat/" title="tengkyu bos!" target="_blank">Virtual</a>. Dari sanalah selancar berlanjut ke ojek.</p>
<p>Nah untuk ngeblog, dia seperti saya dulu. Belajar, mencoba, dan akhirnya lancar.</p>
<p>Singkat kata jadilah blog dadakan yang secara paralel juga disertai pembukan akun <em>e-mail</em> di sebuah layanan berbasis web. Setiap info pengingat, termasuk nama pengguna dan sandi, dia salin ke dalam selembar kertas terlipat empat.</p>
<p>&#8220;Akhirnya jadi juga,&#8221; katanya. Ada kelegaan di wajahnya.</p>
<p>Dia lanjutkan, &#8220;Akhirnya anak saya punya blog. Ini memang untuk dia. Saya ingin dia terbiasa menulis untuk mengeluarkan pendapat&#8230;&#8221;</p>
<p>Di rumahnya, ibu itu belum ada komputer dan internet. Tapi putra keduanya, siswa kelas dua SMA, kadang ke warnet.</p>
<p>Selamat datang di dagdigdug, Bu. Selamat datang, Dik. <em>Workshop</em> selanjutnya di beberapa kota, secara berkelompok, akan kami umumkan.</p>
<p>© Sumber ilustrasi: entah</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/04/15/workshop-pertama-dagdigdug-sehari-setelah-peluncuran/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ngeblog, Ngebrik, dan Nginterkom</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/04/14/ngeblog-ngebrik-dan-nginterkom/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/04/14/ngeblog-ngebrik-dan-nginterkom/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Apr 2008 00:47:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[interkom]]></category>

		<category><![CDATA[manfaat]]></category>

		<category><![CDATA[ngeblog]]></category>

		<category><![CDATA[ngebrik]]></category>

		<category><![CDATA[radio komunikasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=64</guid>
		<description><![CDATA[Kawan saya bilang, ngeblog itu nggak beda dengan ngebrik dan nginterkom. Nggak beda dalam arti menyangkut pilihan berkomunikasi dan hak untuk menggunakan saluran.
Kebetulan dia itu &#8220;pengebrik&#8221; (breaker, hehe). Kebetulan juga dia itu konsisten ogah ngeblog. Juga kebetulan dia itu akademisi yang paham jagat media. Pun kebetulan dia itu tenar tapi kurang popular bagi sebagian bloggers.
Jadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/04/ngebrikkk.gif" alt="pesawat radio CB" align="right" height="180" hspace="10" vspace="3" width="250" />Kawan saya bilang, ngeblog itu nggak beda dengan ngebrik dan nginterkom. Nggak beda dalam arti menyangkut pilihan berkomunikasi dan hak untuk menggunakan saluran.</p>
<p>Kebetulan dia itu &#8220;pengebrik&#8221; (<em><abbr title="dari break-break-break?">breaker</abbr></em>, hehe). Kebetulan juga dia itu konsisten ogah ngeblog. Juga kebetulan dia itu <abbr title="bukan alumni Akademi Fantasi">akademisi</abbr> yang paham jagat media. Pun kebetulan dia itu tenar tapi kurang popular bagi sebagian <em>bloggers</em>.</p>
<p>Jadi saya <abbr title="mengikuti gaya tikabanget">ituh</abbr>, sebagai pembela kebetulan, mau bercerita tentang rentetan kebetulan? Tidak.</p>
<p>Bukan kebetulan kalau saya menghargai pendapatnya. Saya pun menghargai pilihannya untuk tidak ngeblog. Dia pun mungkin (semoga) menghargai pilihan saya untuk tidak ngebrik &#8212; sekaligus memahami ketidakpahaman saya soal radio (dan) komunikasi.</p>
<p>Tentu pendapat saya berbeda. Ngeblog itu tak hanya berbeda dari ngebrik dan nginterkom, melainkan lebih kaya dari itu.</p>
<p>Oh ya, tentang ngebrik, sebagian dari kita rasanya tahu. Setidaknya kita pernah mendengar. Lagi pula stiker dan papan nama <em>call sign</em> <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/ORARI" target="_blank">Orari</a> kan masih sering terlihat.</p>
<p>Kalau interkom? Ya, seperti interkom yang kita kenal. Bedanya, dalam cerita ini, interkom yang saya maksud bukanlah alat komunikasi yeng menyatu dengan bel rumah maupun jaringan telepon internal.</p>
<p>Interkom berkabel itu, pada awal sampai pertengahan 80-an, sempat menjadi &#8220;tren sesaat&#8221; di kompleks perumahan dan perkampungan. Juluran kabelnya melintasi pepohonan, tiang listrik, tiang telepon, dan mungkin tiang jemuran dan bahkan tiang penggantung sangkar perkutut.</p>
<p>Saya tak tahu apakah demam interkom itu, dulu, adalah cara yang merakyat untuk menyusul radio <abbr title="citizen band">CB</abbr> yang sempat mendemam.</p>
<p>Jika Orari sampai kini berkesan serius maka radio CB, pada mulanya, lebih berkesan untuk kebutuhan gaul kelas menengah, sehingga akhirnya ditata melalui <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/RAPI" target="_blank">organisasi</a>.</p>
<p>Begitu ngetrennya radio CB saat itu sehingga pada 1984 promo krim rambut Brisk (atau Brylcreem ya?) menyediakan hadiah rig. Kalau sekarang hadiahnya pasti ponsel atau data card atau modem merangkap router.</p>
<p>Lantas kenapa saya menganggap blog lebih kaya?</p>
<p>Pertama: tertulis (plus suara, gambar, video) dan terarsipkan.</p>
<p>Kedua: karena terarsipkan (termasuk komentar untuk setiap posting) maka mudah dirujuk, baik untuk kepentingan akademis maupun hahahihi (atau gabungan keduanya).</p>
<p>Ketiga: dari blognya sendiri seorang <em>blogger</em> bisa belajar melalui evaluasi diri, sejak cakupan topik, gaya penulisan, sampai kualitas tulisan &#8212; dan tentu komentar pembaca.</p>
<p>Percakapan dalam radio komunikasi dan interkom juga bisa diarsipkan. Tapi harus melalui perekaman auditif, untuk kemudian disalin ke dalam teks, agar layak rujuk. Uh, merepotkan. Lebih ngerepotin kalau ditambahi analisis keaslian suara dengan bukti hasil kajian instrumental atau apalah yang rumit itu.</p>
<p>Persamaan ngeblog dengan ngebrik dan nginterkom, antara lain, ya pada &#8220;kopi darat&#8221; itu. Bahkan istilah &#8220;kopdar&#8221; itu dicomot dari kebiasaan para pelaku komunikasi radio yang sekali (pun) di udara tetap ingin bersua di darat juga.</p>
<p>Dengan teman saya itu pun saya esok, entah kapan, akan kopdar, supaya tidak hanya ber-SMS-an saja. Ngomongin blog, ya? Kayaknya enggak.  :D</p>
<p>© Gambar asli: <a href="http://radioproshop.com" target="_blank">RadioShop</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/04/14/ngeblog-ngebrik-dan-nginterkom/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kebelet Update dan Keterbacaan</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/03/15/kebelet-update-dan-keterbacaan/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/03/15/kebelet-update-dan-keterbacaan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Mar 2008 21:23:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[gagasan]]></category>

		<category><![CDATA[ngeblog]]></category>

		<category><![CDATA[spontanitas]]></category>

		<category><![CDATA[strategi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=62</guid>
		<description><![CDATA[Antara keluhan dan anjuran bisa bersua, padahal dari orang yang berbeda.
Bunyi keluhan, &#8220;Anda terlalu cepat meng-update.  Saya belum baca dua-tiga posts terbaru sudah muncul yang berikutnya.&#8221;
Adapun anjuran berbunyi, &#8220;Jangan hiperaktif. Cobalah untuk memahami kebutuhan dan kebiasaan pembaca. Buat apa Anda menulis kalau nggak dapet tanggapan karena posting Anda terlalu banyak dan sering?&#8221;
Mungkin sebagian bloggers [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/03/spiral-clock.jpg" alt="jam spiral" align="right" height="314" hspace="10" vspace="5" width="320" />Antara keluhan dan anjuran bisa bersua, padahal dari orang yang berbeda.</p>
<p>Bunyi keluhan, &#8220;Anda terlalu cepat meng-<em>update</em>.  Saya belum baca dua-tiga <em>posts </em>terbaru sudah muncul yang berikutnya.&#8221;</p>
<p>Adapun anjuran berbunyi, &#8220;Jangan hiperaktif. Cobalah untuk memahami kebutuhan dan kebiasaan pembaca. Buat apa Anda menulis kalau nggak dapet tanggapan karena posting Anda terlalu banyak dan sering?&#8221;</p>
<p>Mungkin sebagian <em>bloggers </em>pernah menerima kedua hal itu. Keluhan dan anjuran.</p>
<p>Keluhan itu, selayaknya pengaduan konsumen, haruslah dihargai dengan setulus hormat.</p>
<p>Anjuran itu, sebagai sebuah niat mulia dari orang lain, patutlah diperhatikan.</p>
<p>Terus bagaimana sebaiknya?</p>
<p>Ada banyak cara untuk menyalahkan pihak lain supaya kita merasa selalu benar sehingga nyaman.</p>
<p>Misalnya menyalahkan pengunjung kenapa tak langsung datang setelah kita men-update pada pukul tiga pagi, padahal 30 menit kemudian kita sudah mengeposkan tulisan baru. Dan sejam lagi sudah menyusul tulisan berikutnya.</p>
<p>Tentu saya hanya bercanda. Keterlaluan jika kita menyalahkan pembaca. Sudah mau datang masih dianggap keliru. Tega nian. Kurang tahu budi.</p>
<p>Oh, kalau begitu kita <a href="http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=36">ngeblog pakai strategi</a>?</p>
<p>Boleh dan silakan. Misalnya mengatur waktu pengeposan. Juga memilih tema visual yang tepat supaya setidaknya lima tulisan terakhir (judul dan paragraf awal) selalu terpampang. Bukan memilih desain yang hanya menampilkan satu-dua tulisan terakhir, begitulah.</p>
<p>Dengan begitu, diharapkan, pembaca tak merasa tertinggal seabad. Maksud saya misalkan mereka peduli tanggal pengeposan.</p>
<p>Bagaimana jika kita suka yang spontan, tak peduli waktu maupun jarak antaredisi tulisan?</p>
<p>Oh, itu juga boleh. Jika memilih pendekatan ini, maka Anda termasuk orang yang tak mau menahan ide berlama-lama. Pokoknya selagi sempat dan ingin yang langsung diposkan. Yang penting lega. :)</p>
<p>Mana yang lebih bagus, Andalah yang lebih paham. Tolok ukurnya adalah kenyamanan hati.</p>
<p>© ilustrasi (mungkin): <a href="http://jimenapulse.wordpress.com/2007/10/26/clock-back-this-week-end/">jimenapulse.wordpress.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/03/15/kebelet-update-dan-keterbacaan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Jadi, Kita Harus Punya Lebih dari Satu Blog?</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/03/08/jadi-kita-harus-punya-lebih-dari-satu-blog/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/03/08/jadi-kita-harus-punya-lebih-dari-satu-blog/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Mar 2008 05:56:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[kreatif]]></category>

		<category><![CDATA[menulis]]></category>

		<category><![CDATA[ngeblog]]></category>

		<category><![CDATA[pengembangan gagasan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=60</guid>
		<description><![CDATA[
Jawaban untuk judul itu adalah: terserah, sesuka Anda. Punya (atau hanya punya) satu blog silakan. Mau punya dua, tiga, bahkan belasan, ya silakan karena tak ada hukum yang melarang.
Saya menulis ini karena ada yang bertanya perlu tidaknya punya lebih dari satu blog. Setelah itu pertanyaannya adalah apakah setiap blog harus punya perbedaan.
Jawaban saya selalu gampang. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/03/masker.jpg" alt="masker gas serdadu" /></p>
<p>Jawaban untuk judul itu adalah: terserah, sesuka Anda. Punya (atau hanya punya) satu blog silakan. Mau punya dua, tiga, bahkan belasan, ya silakan karena tak ada hukum yang melarang.</p>
<p>Saya menulis ini karena ada yang bertanya perlu tidaknya punya lebih dari satu blog. Setelah itu pertanyaannya adalah apakah setiap blog harus punya perbedaan.</p>
<p>Jawaban saya selalu gampang. Perlu atau tak perlu, itu bergantung pada setiap pribadi. Harus atau tak harus ada perbedaan dari setiap blog, itu soal selera dan kebutuhan.</p>
<p>Disebut perlu kalau satu blog dirasakan belum menampung semua hasrat. Ibarat menggunakan buku tulis ternyata pemiliknya masih membutuhkan buku tulis yang lain. Misalnya buku pertama untuk daftar obat batuk, buku kedua berisi puisi.</p>
<p>Dibilang harus ada perbedaan di antara beberapa buku tulis kalau pemiliknya memang merasakan kebutuhan itu. Kalau tidak ada perbedaan? Sama-sama berisi obat batuk dan puisi? Tak masalah. Isinya persis plek juga tiada yang melarang.</p>
<p>Ngeblog itu soal niat dan keasyikan. Dilakukan hanya jika kita butuh dan bisa menikmatinya. Kalau bosan, atau tak sempat, ya tinggalkan saja.</p>
<p>Lain halnya jika Anda sedang dipenjara dan satu-satunya syarat memperoleh korting hukuman adalah ngeblog saban hari. Untuk kasus ini, nikmat atau menderita, bahagia atau azab, ya kudu ngeblog sebanyak dan sesering mungkin, apa pun isinya &#8212; kecuali meledek sipir dan kepala rumah bui.</p>
<p>Jadi mau punya satu blog, mau banyak blog, mau ngeblog saban hari, mau ngeblog sebulan sekali, itu suka-suka kita.</p>
<p>Pasal pertama dan utama ngeblog adalah menuruti kata hati. Lalu pasal selanjutnya? Belum saya pikirkan. Maaf.</p>
<p>Oh ada ralat. Malah barusan ketemu. Pasal penyusul setelah hati adalah pikir. Bukankah menulis juga melibatkan pikiran?</p>
<p>© gambar asli sebelum olahan: <a href="http://www.approvedgasmasks.com/" target="_blank">EvoMask</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/03/08/jadi-kita-harus-punya-lebih-dari-satu-blog/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Apa Saja yang Bisa Difoto?</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/02/25/apa-saja-yang-bisa-difoto/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/02/25/apa-saja-yang-bisa-difoto/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Feb 2008 20:04:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[Personal]]></category>

		<category><![CDATA[fotografi]]></category>

		<category><![CDATA[kreatif]]></category>

		<category><![CDATA[menulis]]></category>

		<category><![CDATA[ngeblog]]></category>

		<category><![CDATA[pengembangan ide]]></category>

		<category><![CDATA[visual]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=50</guid>
		<description><![CDATA[Itu tadi pertanyaan gampang. Menjawabnya juga gampang asalkan yang menjawab itu Galih Satria, Paman Patih Blontank, dan Fahmi. Mereka senang memotret, dan telaten mengeksplorasi kameranya, sehingga tahu keterbatasan dan kelebihan si alat.
Si Galih itu, bahkan dengan kamera saku (Canon PowerShot A400), selalu menghasilkan foto bagus. Tentu untuk digital imaging kita juga layak berguru kepadanya.
Kembali kepada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Itu tadi pertanyaan gampang. Menjawabnya juga gampang asalkan yang menjawab itu <a href="http://blog.galihsatria.com/" target="_blank">Galih Satria</a>, <a href="http://solo.dagdigdug.com" target="_blank">Paman Patih Blontank</a>, dan <a href="http://efahmi.dagdigdug.com/" target="_blank">Fahmi. </a>Mereka senang memotret, dan telaten mengeksplorasi kameranya, sehingga tahu keterbatasan dan kelebihan si alat.</p>
<p>Si Galih itu, bahkan dengan kamera saku (Canon PowerShot A400), selalu menghasilkan foto bagus. Tentu untuk <em>digital imaging</em> kita juga layak berguru kepadanya.</p>
<p>Kembali kepada judul yang bertanya, maka saya menjawab, &#8220;Apa saja.&#8221;</p>
<p>Hasil? Tentu estede, cuma gitu-gitu. Saya tidak minder, tapi juga tak bangga. Mengadaptasi stiker ojek: biar jelek punya sendiri.</p>
<p>Gambar-gambar ini adalah hasil jepretan saya selama jalan kaki, dari gerbang sebuah perumahan di Bekasi sampai rumah tujuan (yang isinya kemarin saya potreti), sepanjang 500-an meter.</p>
<p>Saya menggunakan kamera saku biasa, Casio Exilim Z850. Kelebihan kamera ini adalah relatif tipis (sekitar 2,3 cm).</p>
<p>Kekurangan Casio bila dibandingkan Canon dan Nikon saku? Mudah silau oleh cahaya terang (sinar dan warna putih) sehingga kedalaman akan dia pangkas menjadi cenderung putih rata.</p>
<p>Sejauh ini saya puas, karena saya mengamini Galih, &#8220;Kita tidak bisa mendapatkan semua keinginan kita agar bisa mensyukuri apa yang telah kita dapat&#8230;&#8221;</p>
<p>Nah, masing-masing foto-foto ini bisa dikembangkan menjadi satu posting! Bisa juga dipaket ke dalam satu tulisan dengan isi &#8220;500 meter jalan kaki pada suatu sore&#8221;. Atau bisa juga dengan tajuk yang belagu: &#8220;Sekali Jalan Mendapatkan Delapan Tulisan&#8221;.</p>
<p>Lihat hasilnya di blog lain dengan mengeklik foto. Salah besar jika Anda bilang tulisan-tulisan itu bagus. Banyak kekurangannya. Misalnya? Tiada keterangan tempat yang jelas dalam setiap tulisan. Tak apa, ini bukan koran. :D</p>
<p><a href="http://jongos.dagdigdug.com/2008/02/25/cerita-1-pesohor-bukan-epolet/" target="_blank"><img src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/02/jalankompleks-001-small.jpg" alt="dede yusuf ingin jadi wagub jabar" border="0" /></a> <a href="http://jongos.dagdigdug.com/2008/02/25/cerita-2-di-kompleks-lain-silakan-ngebut/" target="_blank"><img src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/02/jalankompleks-002-small.jpg" alt="dilarang ngebut dalam kompleks" border="0" /></a></p>
<p><a href="http://jongos.dagdigdug.com/2008/02/25/cerita-3-%e2%80%9ckok-saya-nggak-difoto%e2%80%9d/" target="_blank"><img src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/02/jalankompleks-003-small.jpg" alt="engkoh warung minta difoto" border="0" /></a> <a href="http://jongos.dagdigdug.com/2008/02/25/cerita-4-bermain-tak-kenal-waktu/" target="_blank"><img src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/02/jalankompleks-004-small.jpg" alt="anak-anak selalu bermain tak kenal waktu" border="0" /></a></p>
<p><a href="http://jongos.dagdigdug.com/2008/02/25/cerita-5-rumah-belum-dijual/" target="_blank"><img src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/02/jalankompleks-005-small.jpg" alt="akan dijual, belum dijual" border="0" /></a> <a href="http://jongos.dagdigdug.com/2008/02/25/cerita-6-mobil-penjaja-dan-kesewenangan-konsumen/" target="_blank"><img src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/02/jalankompleks-006-small.jpg" alt="mobil salesman lux" border="0" /></a></p>
<p><a href="http://jongos.dagdigdug.com/2008/02/25/cerita-7-sepetak-taman-di-teras-samping/" target="_blank"><img src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/02/jalankompleks-007-small.jpg" alt="teras di samping rumah" border="0" /></a> <a href="http://jongos.dagdigdug.com/2008/02/25/cerita-8-belajar-meniti-jembatan/" target="_blank"><img src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/02/jalankompleks-008-small.jpg" alt="belajar meniti jembatan" border="0" /></a></p>
<p>Jadi, hanya sekali jalan, dengan mata yang tak perlu jelalatan, sebetulnya Anda selalu bisa mendapatkan bahan untuk blog. Hanya sekali jalan, tanpa rencana untuk ngeblog pula. Semata menuruti impuls.</p>
<p>Oh, maaf. Saya tadi berdusta. Ide untuk memotret selagi jalan kaki ini memang saya siapkan untuk blog ini. :P</p>
<blockquote><p>Bonus (ngembat dari Galih, tanpa izin):<br />
+ <a href="http://blog.galihsatria.com/2007/07/20/review-kamera-poket-2-jutaan/" target="_blank">Reviu kamera saku</a> (tenang, harga sudah pada turun)<br />
+ <a href="http://blog.galihsatria.com/2007/12/16/membuat-foto-liburan/" target="_blank">Membuat foto liburan</a></p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/02/25/apa-saja-yang-bisa-difoto/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Bikin Stok Foto Sekadarnya dengan Ponsel</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/02/24/bikin-stok-foto-sekadarnya-dengan-ponsel/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/02/24/bikin-stok-foto-sekadarnya-dengan-ponsel/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Feb 2008 17:20:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[Personal]]></category>

		<category><![CDATA[fotografi]]></category>

		<category><![CDATA[kreatif]]></category>

		<category><![CDATA[menulis]]></category>

		<category><![CDATA[ngeblog]]></category>

		<category><![CDATA[ponsel]]></category>

		<category><![CDATA[visual]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=43</guid>
		<description><![CDATA[
Inilah kemanjaan visual: sebagian orang tak puas dengan teks dan ingin melihat gambar.
Sebetulnya tak sesederhana itu, karena keseluruhan tata letak sebuah halaman blog, dengan atau tanpa gambar, tetaplah sebuah sajian visual.
Urusannya adalah mata. Artinya mencakup kenyamanan pandang. Selebihnya adalah aspek fungsional: apakah tata letak itu mempermudah orang lain mengunyah cerita Anda.
Sudahlah, tak usah berpusing dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/02/nokia-001.jpg" alt="memotret dengan ponsel" /></p>
<p>Inilah kemanjaan visual: sebagian orang tak puas dengan teks dan ingin melihat gambar.</p>
<p>Sebetulnya tak sesederhana itu, karena keseluruhan tata letak sebuah halaman blog, dengan atau tanpa gambar, tetaplah sebuah sajian visual.</p>
<p>Urusannya adalah mata. Artinya mencakup kenyamanan pandang. Selebihnya adalah aspek fungsional: apakah tata letak itu mempermudah orang lain mengunyah cerita Anda.</p>
<p>Sudahlah, tak usah berpusing dengan tiga paragraf di atas. Cuma bergenit-genit sok konseptual. Membosankan. Lebih penting ini: bagaimana membuat dan menyajikan gambar?</p>
<p><img src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/02/nokia-002-250.jpg" alt="memotret dengan ponsel nokia" align="right" height="304" hspace="10" vspace="5" width="250" />Ada dua pendekatan.</p>
<p>Pertama: gambar sebagai ilustrasi, hanya penjelas cerita.</p>
<p>Kedua: gambar adalah sumber cerita, teks hanya penyerta (bisa berupa <em>caption</em>, bisa pula paragraf ringkas).</p>
<p>Apa pun pendekatannya, sebagian besar dari Anda sudah melakukan. Yaitu memotret dengan ponsel. Hanya saja tak semuanya muncul di blog. Kadang gambar-gambar itu malah segera dihapus karena kartu memori penuh.</p>
<p>Tadi saya pun mencoba suatu hal yang jarang saya lakukan. Apa? Memotret dengan ponsel. Tepatnya Nokia 5300. Ukuran asli hasil jepretan 1.280 x 1.024 piksel. Tanpa persiapan, tanpa mempelajari banyak opsi, langsung jepret, asal hajar.</p>
<p>Sasarannya adalah isi sebuah rumah. Tentu dengan seizin si pemilik rumah, karena gambar-gambar ini akan dipublikasikan.</p>
<p>Dipublikasikan untuk apa? Blog, dong.</p>
<p><img src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/02/nokia-003-250.jpg" alt="memotret dengan ponsel nokia" align="left" border="0" height="470" hspace="10" vspace="5" width="250" />Semuanya? Serentak? Dalam kasus ini mestinya tidak. Tadi sore, dalam cahaya sekadarnya, saya mencoba membuat stok gambar yang di kemudian hari mungkin berguna untuk ilustrasi cerita di blog.</p>
<p>Misalnya? Foto pemanggang roti untuk ngeblog soal pola sarapan. Foto saklar untuk menulis tentang ketergantungan kepada listrik. Foto handel pintu kamar mandi untuk membual tentang keterbukaan.</p>
<p>Intinya, lebih baik memakai foto jelek karya sendiri daripada ngembat karya orang semaunya. ;)</p>
<p>Gambar-gambar yang muncul di sini hanya saya perkecil. Warna dan ketajamannya tidak saya &#8220;koreksi&#8221;. Tampilan pun utuh, tidak saya krop.</p>
<p>Dengan memperkecil gambar, kekasaran butiran foto juga akan diperlunak. Artinya mata pembaca agak kita hargai sedikit, begitulah. :D</p>
<p>Saya yakin Anda dapat melakukannya lebih baik, apalagi jika menggunakan ponsel pribadi yang sudah Anda kenali kelebihan dan kekurangannya.</p>
<p>Bagi saya, untuk ilustrasi di blog, gambar tak perlu besar ukuran <em>file</em>-nya. Kenapa? Agar lebih cepat muncul. Juga agar menghemat kuota di <em>blog hosting</em>. :D</p>
<p>Lebih dari itu, gambar yang kelewat besar bisa merusak tata letak. Misalnya menutupi <em>sidebar</em>. Nah, adanya <em>thumbnail </em>akan mempercepat penampakan halaman dan tak mengacaukan tata letak.</p>
<p>Semuanya mudah. Anda bisa, bahkan sejak kemarin.</p>
<p>Bagus atau tak bagus foto kita itu urusan fotografer, karena mereka mencari nafkah dari sana. Urusan kita adalah membuat dan memasang gambar dengan riang (dan pede) untuk blog.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/02/24/bikin-stok-foto-sekadarnya-dengan-ponsel/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Comot-mencomot Gambar</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/02/18/comot-mencomot-gambar/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/02/18/comot-mencomot-gambar/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Feb 2008 17:17:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[belajar]]></category>

		<category><![CDATA[copy and paste]]></category>

		<category><![CDATA[foto]]></category>

		<category><![CDATA[gambar]]></category>

		<category><![CDATA[hak cipta]]></category>

		<category><![CDATA[haki]]></category>

		<category><![CDATA[menulis]]></category>

		<category><![CDATA[ngeblog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=41</guid>
		<description><![CDATA[Saya tahu bahwa Anda orang baik lagi budiman. Foto di blog dikopi orang, Anda bilang, &#8220;Silakan saja.&#8221; Gambar kreasi Anda diambil orang, Anda katakan, &#8220;Syukurlah kalau sudi.&#8221; Bahkan jika barang ambilan itu mendatangkan uang bagi orang lain, dengan enteng Anda nyatakan, &#8220;Saya ikut senang, bisa kasih rezeki ke orang lain.&#8221;
Itu mulia. Terpuji. Kalau Anda masih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/02/che2.jpg" alt="che guevara by alberto korda" align="right" height="178" hspace="10" vspace="5" width="250" />Saya tahu bahwa Anda orang baik lagi budiman. Foto di blog dikopi orang, Anda bilang, &#8220;Silakan saja.&#8221; Gambar kreasi Anda diambil orang, Anda katakan, &#8220;Syukurlah kalau sudi.&#8221; Bahkan jika barang ambilan itu mendatangkan uang bagi orang lain, dengan enteng Anda nyatakan, &#8220;Saya ikut senang, bisa kasih rezeki ke orang lain.&#8221;</p>
<p>Itu mulia. Terpuji. Kalau Anda masih lajang, tetangga di RT sebelah layak mencomot Anda sebagai menantu &#8212; dengan catatan: kalau anak tetangga mau (dan Anda tak malu).</p>
<p>Beres, kan? Nanti dulu. Akan menjadi masalah jika Anda menganggap orang lain sama baik hatinya dengan Anda.</p>
<p>Jika orang lain berkebalikan dari Anda tak berarti mereka itu culas, licik, kikir, loba dan tamak. Mereka punya hak untuk melindungi karyanya.</p>
<p>Maka jalan paling aman, jika memungkinkan, mintalah permisi untuk mengambil gambar orang lain untuk keperluan blog Anda.</p>
<p>Jika meminta permisi tak memungkinkan, antara lain karena tak ada alamat <em>e-mail</em> maupun kotak komentar, apalagi nomor ponsel, cantumkanlah nama web atau blognya sebagai sumber.</p>
<p>Lha kalau ternyata dia mengambil dari web orang lain yang tak Anda ketahui?</p>
<p>Apa boleh bikin, tahi kambing mungkin saja asin, anggap saja itu masalah dia. Yang penting Anda menempuh jalur aman.</p>
<p>Bagaimana kalau gambar itu tak jelas siapa pemilik hak ciptanya padahal beredar luas di internet, misalnya foto produk ala brosur atau foto bintang film?</p>
<p>Ya ambil saja, dengan catatan Anda yakin bahwa pemiliknya memang belum diketahui sampai kemudian muncul klaim. Artinya Anda sudah bersiap mencopot gambar itu kalau didesak, bahkan Anda sanggup meminta maaf.</p>
<p>Bagaimana dengan saya? Sementara ini untuk sumber yang tak diketahui, kalau ingat akan saya sebut dalam kreditasi sebagai <em>unknown </em>dan sebangsanya. Kalau pakai kreditasi &#8220;istimewa&#8221; kok malah membingungkan. Siapa dan apanya yang istimewa?</p>
<p>Dulu, jujur saja, saya malah main embat dengan keyakinan pembenar (yang bisa saja salah): &#8220;Kan nggak buat nyari duit.&#8221; Saya pun pernah melakukan kejahatan menggunakan foto seorang pria tua, entah siapa, untuk identitas lama saya ketika masih beralias. Saya tak tahu siapa pemilik hak cipta foto itu. Maka izinkanlah di sini saya minta maaf kepada ahli warisnya.</p>
<p>Lantas? Misalkan ahli hukum <abbr title="hak atas kekayaan intelektual">HAKI</abbr> dan <abbr title="emang ada dan emang perlu? hahaha!">ahli blog</abbr> menganggap pendekatan dalam posting ini salah, bahkan berbahaya, maka saya harus siap mengoreksi diri.</p>
<p>Terus kenapa saya memakai foto Che? Versi <em>line art</em> dari potret ini menyebar, dianggap milik publik, dan orang cenderung mengabaikan siapa fotografernya, yaitu <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Alberto_Korda" target="_blank">Alberto Korda</a>.</p>
<p>Korda memang mengizinkan pemakaian foto itu untuk penyebaran perjuangan menuju keadilan sosial. <a href="http://news.bbc.co.uk/1/hi/world/americas/1352650.stm" title="ya iyalah..." target="_blank">Kalau untuk iklan vodka, dia gusar</a>.</p>
<p>Hubungannya dengan blog? Baiklah saya paksakan saja hubungannya. Bagaimana rasanya foto diembat orang, bertanyalah kepada <a href="http://mimimama.blogspot.com" title="jangan kapok" target="_blank">Fahmi</a>. Selebihnya silakan berdiskusi dengan <a href="http://solo.dagdigdug.com" title="dia itu fotografer" target="_blank">Paman Patih Blontank Ilat Aleman</a>.</p>
<p>© Foto ilustrasi: Alberto Korda</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/02/18/comot-mencomot-gambar/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Alias dan Terang-terangan</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/02/16/alias-dan-terang-terangan/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/02/16/alias-dan-terang-terangan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Feb 2008 20:00:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[alias]]></category>

		<category><![CDATA[anonymous]]></category>

		<category><![CDATA[jatidiri]]></category>

		<category><![CDATA[ngeblog]]></category>

		<category><![CDATA[penyamaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=38</guid>
		<description><![CDATA[Ini soal pilihan. Mau ngeblog dengan jatidiri senyatanya atau mau pakai identitas samaran, semuanya terserah Anda.
Disebut jatidiri senyatanya kalau Anda memakai nama asli ( bahkan misalnya satu nama pun sudah cukup), dan fotonya juga asli.
Lho, bukankah gambar traktor atau wajan juga foto asli? Oh, maksud saya tampang yang asli. :)
Bagaimana dengan display name dalam blog, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/02/traktorcantik.gif" alt="traktor cantik" align="right" height="120" hspace="15" vspace="5" width="256" />Ini soal pilihan. Mau ngeblog dengan jatidiri senyatanya atau mau pakai identitas samaran, semuanya terserah Anda.</p>
<p>Disebut jatidiri senyatanya kalau Anda memakai <abbr title="tidak harus menjadi subdomain bahkan domain">nama asli</abbr> ( bahkan misalnya satu nama pun sudah cukup), dan fotonya juga asli.</p>
<p>Lho, bukankah gambar traktor atau wajan juga foto asli? Oh, maksud saya tampang yang asli. :)</p>
<p>Bagaimana dengan <em>display name</em> dalam blog, tetapi membiarkan foto Anda tampil, minimal di blog lain karena jebakan kamera usil? Itu bukan penyamaran. Hanya pengibaran julukan.</p>
<p>Intinya Anda tidak bersembunyi, bahkan membiarkan diri dikenali. Dilengkapi lokasi mukim (bukan alamat rumah), dan jenis pekerjaan, juga boleh. Nggak masalah. Tiada yang melarang.</p>
<p>Bagaimana dengan samaran? Itu bukan anonim. Lebih tepat sebagai sebuah alias. Namanya bisa apa saja, foto diri pun bisa diganti apa saja (misalnya traktor atau wajan tadi), dengan keterangan diri yang kabur. Bahwa di kemudian hari ternyata sosok Anda dikenali, anggap saja itu senasib dengan personel Gorillaz.</p>
<p>Apakah menggunakan nama samaran berarti <a href="http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=3" title="ah itu hanya perasaan paman saja (dulu)" target="_blank">pengecut</a>? Nggak juga. Disebut pengecut kalau tidak mau mempertanggungjawabkan apa yang dibikin di blog.</p>
<p>Pendek kata, mau pakai identitas asli atau samaran, itu semata soal kenyamanan.</p>
<p>Termasuk dalam kenyamanan adalah keberanian menanggung risiko ringan.</p>
<p>Misalnya, saat menantikan obat dalam ruang tunggu apotek tiba-tiba Anda dihampiri seseorang, &#8220;Oh, kayaknya pernah lihat foto Mbak dan dengar nama Mbak, deh. Mmmm&#8230; Mbak ini si Sahaetawati Kumahasari, kan? Sakit apa? Panu? Kadas?&#8221;</p>
<p>Kalau pakai nama samaran, Anda bisa hahahihi dalam hati ketika dua orang dalam lift mengobrolkan Anda.</p>
<p>&#8220;Emang, <em>blogger</em> satu itu nyebelin, sok cantik, sok <em>idol</em> padahal dodol&#8221; kata salah satu. Anda cuma membatin, &#8220;Salah sendiri baca blog gue&#8230;&#8221;</p>
<p>Jika menggunakan jatidiri asli, maka Anda akan ringan menjawab alamat kirim kepada <em>blogger</em> lain yang ingin menghadiahi Anda.</p>
<p>Jika Anda telanjur nyaman, <em>dan ingin mempertahankan sosok samaran sepanjang hayat</em>, maka Anda akan kerepotan saat ditanya alamat kirim buku (padahal mupeng akut), dan akan kikuk kalau diajak kopdar.</p>
<p>Yah, sekali menyatakan diri selanjutnya adalah pembukaan diri. Satu-dua-tiga-empat-lima orang pertama bisa dipercaya. Tapi orang kesebelas, yang mendengar dari orang pertama, mungkin kelepasan bicara.</p>
<p>Orang ke-19, yang niatnya sekadar bercanda, akan menebarkan <em>clues </em>dalam komentar dan <em>shoutbox </em>di blog Anda &#8212; padahal tak sedikit <em>bloggers </em>yang berbakat detektif.</p>
<p>Jadi, gimana dong? Harus menyatakan diri sejak dini, bersamaan dengan  <em>Hello World!</em> (kalau pakai WordPress)?</p>
<p>Nggak. Itu terserah Anda. Sesuka Anda.</p>
<p>© Gambar asli sumber ilustrasi: <a href="http://www.shutterstock.com/" title="bibir" target="_blank">Shutterstock</a> dan <a href="http://www.tradebit.com/" title="traktor" target="_blank">Tradebit</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/02/16/alias-dan-terang-terangan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Strategi Ngeblog</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/02/13/strategi-ngeblog/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/02/13/strategi-ngeblog/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Feb 2008 18:36:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[belajar]]></category>

		<category><![CDATA[menulis]]></category>

		<category><![CDATA[ngeblog]]></category>

		<category><![CDATA[strategi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=36</guid>
		<description><![CDATA[Walah, ngeblog kok pakai strategi. Harus, kata yang suka. Ngapain juga repot, kata yang tak suka.
Apa yang dimaksud dengan strategi? Ini hanya istilah sok keren saja, untuk mewakili sejumlah niat dan kiat agar blog lebih terlihat.
Ada yang mengutamakan pendekatan topik, judul dan isi, bahkan tags. Pokoknya harus menarik, kata yang yakin. Supaya orang datang nyamperin.
Ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/02/catur.jpg" alt="strategi ngeblog" align="right" height="278" hspace="5" width="249" />Walah, ngeblog kok pakai strategi. Harus, kata yang suka. Ngapain juga repot, kata yang tak suka.</p>
<p>Apa yang dimaksud dengan strategi? Ini hanya istilah sok keren saja, untuk mewakili sejumlah niat dan kiat agar blog lebih terlihat.</p>
<p>Ada yang mengutamakan pendekatan topik, judul dan isi, bahkan <em>tags</em>. Pokoknya harus menarik, kata yang yakin. Supaya orang datang nyamperin.</p>
<p>Ada yang menambahkan gambar, dengan harapan pelintas akan tergoda untuk membaca saat mereka tersesat menemukan gambar karena giringan mesin pencari dan pencatat.</p>
<p>Itu pun masih ada yang menganggapnya kurang, sehingga sebisanya menambahkan tautan keluar ke tulisan blog lain agar terendus.</p>
<p>Kurang komplet kata orang yang terbiasa dengan perencanaan. Tiga bulan ngeblog dia mempelajari statistik webnya. Kesimpulan: hanya pagi, jam makan siang, dan jam bubaran kantor blognya dibaca orang.</p>
<p>Maka yang dia lakukan adalah hanya memperbarui blog sebelum jam puncak pada hari kerja. Hari libur? Dia tidak <em>updating</em>, tetapi meluangkan waktu untuk <em>blogwalking </em>dan meninggalkan komentar.</p>
<p>Ada pula kombinasi dari semua niat dan kiat, ditambahi trik untuk mengecoh kepintaran mesin pencari. Selanjutnya adalah urusan iklan dan sejenisnya&#8230;</p>
<p>Apakah itu salah? Nggak. Justru bagus. Artinya dia eh mereka serius.</p>
<p>Berarti yang tak melakukan itu bukan <em>blogger </em>serius? Nggak juga. <em>Blogger </em>macam itu juga bagus. Menambahkan isi &#8220;<abbr title="maksud saya 'pasca'">post</abbr>-Hello-World&#8221;, meski hanya satu kata (yang terbaca), itu berarti serius.</p>
<p>Mana yang lebih bagus? Keduanya bagus.</p>
<p>Apa ukurannya? Tidak ada. Malah untuk sementara anggap saja tak perlu.</p>
<p>Ralat, ya. Begini saja, dibilang ngeblog itu bagus kalau pilihan caranya mendatangkan kenyamanan bagi masing-masing <em>blogger </em>dan pembacanya.</p>
<p>Lha wong posting ditulis sendiri, bukan <em>copy-and-paste</em>, bukan pula oleh robot atau orang lain, kok dibilang nggak bagus.</p>
<p>Lantas di mana strateginya? Antara penting dan tak penting. Tahap pertama ngeblog adalah, &#8220;Pokoknya nulis.&#8221; Percayalah. :D</p>
<p>© Gambar asli sumber ilustrasi: <a href="http://www.chess-theory.com" target="_blank">chess-theory.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/02/13/strategi-ngeblog/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ngeblog dengan atau tanpa Gambar. Bagusan Mana?</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/02/11/ngeblog-dengan-atau-tanpa-gambar-bagusan-mana/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/02/11/ngeblog-dengan-atau-tanpa-gambar-bagusan-mana/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Feb 2008 11:59:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[Personal]]></category>

		<category><![CDATA[belajar]]></category>

		<category><![CDATA[menulis]]></category>

		<category><![CDATA[ngeblog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=34</guid>
		<description><![CDATA[Jawaban aman dan sekaligus tampak bijak: keduanya bagus. Tapi saya memang belum punya stok jawaban lainnya.
Mau posting pakai gambar silakan. Mau polos hanya teks ya boleh, tiada yang melarang. Misalkan tanda baca berupa spasi sudah dianggap teks, sehingga boleh dianggap sebagai sebagai posting, ya cobalah.
Bagaimana dengan saya? Beberapa kali saya meledek diri sendiri sebagai blogger [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/02/gambargombalsoknyeni.gif" alt="ilustrasi gombal kagak nyambung" align="right" border="1" height="250" hspace="10" width="250" />Jawaban aman dan sekaligus tampak bijak: keduanya bagus. Tapi saya memang belum punya stok jawaban lainnya.</p>
<p>Mau posting pakai gambar silakan. Mau polos hanya teks ya boleh, tiada yang melarang. Misalkan tanda baca berupa spasi sudah dianggap teks, sehingga boleh dianggap sebagai sebagai posting, ya cobalah.</p>
<p>Bagaimana dengan saya? Beberapa kali saya meledek diri sendiri sebagai <em>blogger</em> yang kurang percaya kepada kekuatan kata. Terbukti saya sering memakai gambar untuk ilustrasi.</p>
<p>Apa? Ilustrasi? Bukannya hanya pemanis halaman web, untuk pemantas belaka? Atau cuma mau pamer, gegayaan, gagah-gagahan? Ehm, mungkin juga ya. Sudahlah jangan giring saya untuk menelanjangi diri.</p>
<p>Oh, kata Anda, kadang bukan hanya pemanis atau pemantas karena gambar memang diperlukan agar tak perlu membuat pemerian dalam teks. Terima kasih atas pembelaan itu.</p>
<p>Tapi sama saja. Pemanis atau ilustrasi, intinya saya sering tak percaya kepada kekuatan kata yang saya tulis sendiri. Anggap saja begitu.</p>
<p>Bahkan tak jarang, sudah teksnya panjang, ada lebih dari satu gambar pula. Huh, apa karena terlena oleh kelonggaran ruang web yang tak seketat cetak, sehingga saya kurang hirau ekonomi kata maupun ekonomi ruang? Lihat kalimat terakhir paragraf ketiga. :)</p>
<p>Bagi saya itu semua soal pilihan dan kenyamanan bagi masing-masing <em>blogger</em>. Sering dan teramat banyak saya dapati blog yang miskin gambar tapi isinya bagus dan sangat bagus. Salah satunya mungkin blog Anda.</p>
<p>Bagaimana kalau yang nyaman bagi kita ternyata tak nyaman bagi orang lain?</p>
<p>Ehm, kita memang harus berlatih kompromi, karena ngeblog memang ditujukan untuk publik.</p>
<p>Di mana batas komprominya saya tak tahu. Tapi biasanya pengembang web, termasuk desainer, akan mencarikan solusi untuk <em>blogger </em>yang suka hambur kata dan boros gambar.</p>
<p>Selebihnya filter ada pada masing-masing pembaca, dengan keragaman sensitivitas. Ada yang begitu melihat teks nyinyir dan berjejal gambar langsung kabur. Ada juga yang mau menyimak, karena mungin kurang kerjaan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/02/11/ngeblog-dengan-atau-tanpa-gambar-bagusan-mana/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Melalui Blog Saya Belajar Menulis</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/02/08/melalui-blog-saya-belajar-menulis/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/02/08/melalui-blog-saya-belajar-menulis/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Feb 2008 19:16:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[Personal]]></category>

		<category><![CDATA[belajar]]></category>

		<category><![CDATA[menulis]]></category>

		<category><![CDATA[ngeblog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=32</guid>
		<description><![CDATA[
Hmmm&#8230; judul basa-basi, sok merendah? Sama sekali tidak. Sama sekali bukan.
Memang demikianlah yang terjadi dan berlangsung. Saya masih belajar menulis. Terus belajar.
Saya bukan penganut militerisme, tetapi jelas sangat membutuhkan militer yang diongkosi dengan pajak rakyat, supaya ada pembagian tugas yang jelas siapa yang mesti pertama-tama maju perang. Apa urusannya dengan menulis dan ngeblog?
Saya mem(p)ercayai kredo [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/02/serdadulempung1.jpg" alt="serdadu lempung" /></p>
<p>Hmmm&#8230; judul basa-basi, sok merendah? Sama sekali tidak. Sama sekali bukan.</p>
<p>Memang demikianlah yang terjadi dan berlangsung. Saya masih belajar menulis. Terus belajar.</p>
<p>Saya bukan penganut militerisme, tetapi jelas sangat membutuhkan militer yang diongkosi dengan pajak rakyat, supaya ada pembagian tugas yang jelas siapa yang mesti pertama-tama maju perang. Apa urusannya dengan menulis dan ngeblog?</p>
<p>Saya mem(p)ercayai kredo pasukan komando. Tak ada prajurit yang terlatih, yang ada hanyalah prajurit yang selalu berlatih.</p>
<p>Bagaimana saya belajar? Ya setiap kali posting. Saya belajar merumuskan suatu hal, belajar menata benak.</p>
<p>Apa yang saya pelajari? Banyak. Begitu banyak sehingga tak dapat dirinci. Tapi saya dapat meringkasnya sebagai &#8220;dari menuai butir ingatan sampai membaca tulisan <em>bloggers</em> lain&#8221;.</p>
<p>Apakah topik tulisan saya menarik? Entah.</p>
<p>Apakah alur tulisan saya aneh dan tidak menyamankan pembaca? Mungkin.</p>
<p>Apakah tulisan saya menurut ahli bahasa memenuhi kaidah? Tidak. Penggunaan &#8220;tapi&#8221; (atau &#8220;tetapi&#8221;) pada awal kalimat, dan terlebih pada awal paragraf, dianggap kurang bagus &#8212; tetapi sering saya lakukan.</p>
<p>Apakah ejaan saya selalu tepat? Misalkan WordPress Indonesia sudah dipasangi pemeriksa kata dan ejaan yang baik dan benar, pasti ada saja kesalahan saya. <em>Typo </em>dan slaha kteik adalah bumbu najis yang sering gagal saya elakkan.</p>
<p>Kenapa saya nekat menulis?</p>
<p>Kalau saya menunggu cara berbahasa dan penulisan saya sampai beres agar pede, maka saya tak kunjung mengisi blog.</p>
<p><em>Tip: Jika ingin berguru datanglah ke <a href="http://webersis.com/about/" title="namanya juga pak dosen kan?" target="_blank">Ersis W. Abbas</a>. Dia guru yang baik.</em></p>
<p>© sumber ilustrasi: <a href="http://www.toysoldiersgallery.com" target="_blank">Toy Soldiers Gallery</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/02/08/melalui-blog-saya-belajar-menulis/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ngeblog sebagai Terapi Demi Kewarasan</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/02/07/ngeblog-sebagai-terapi-demi-kewarasan/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/02/07/ngeblog-sebagai-terapi-demi-kewarasan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Feb 2008 19:09:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[Personal]]></category>

		<category><![CDATA[belajar]]></category>

		<category><![CDATA[menulis]]></category>

		<category><![CDATA[ngeblog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=30</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Ngapain kamu ngeblog?&#8221; itu pertanyaan beberapa orang yang belum ngeblog.
Cuma tiga kata, melontarkannya mudah, tapi seringkali saya tak lancar menjawab.
&#8220;Iseng aja sih,&#8221; jelas bukan jawaban yang menyenangkan.
&#8220;Suka aja, gitu,&#8221; malah mengundang cecaran kenapa suka.
Dulu, ketika masih bekerja di pabrik kata, saya punya jawaban enteng, &#8220;Selingan aja. Habis kerjaku di depan komputer yang online. Selagi nunggu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/02/tutupselokan2.jpg" alt="tutup selokan | © paman tyo" align="right" height="174" hspace="5" vspace="10" width="250" />&#8220;Ngapain kamu ngeblog?&#8221; itu pertanyaan beberapa orang yang belum ngeblog.</p>
<p>Cuma tiga kata, melontarkannya mudah, tapi seringkali saya tak lancar menjawab.</p>
<p>&#8220;Iseng aja sih,&#8221; jelas bukan jawaban yang menyenangkan.</p>
<p>&#8220;Suka aja, gitu,&#8221; malah mengundang cecaran kenapa suka.</p>
<p>Dulu, ketika masih bekerja di pabrik kata, saya punya jawaban enteng, &#8220;Selingan aja. Habis kerjaku di depan komputer yang <em>online</em>. Selagi nunggu naskah masuk ya main-main aja sekalian.&#8221;</p>
<p>Padahal yang terjadi saya kadang tidak punya pekerjaan yang jelas. Boleh baca apa saja, boleh tidur, boleh nelepon ke sana-sini, boleh setel musik apa saja, boleh berbusana semaunya, dan hehehe&#8230; digaji. Tapi itu soal lain. Tepatnya: berkah yang lain. Seperempat menganggur tapi berstatus pegawai, dan boleh mengaku kreatif (padahal tidak).</p>
<p>Untunglah mereka percaya: cuma main-main. Saya pun akhirnya percaya: blog adalah main-main. Maka saya pun dulu pakai nama alias supaya main-main saya lebih mengasyikkan.</p>
<p>Dalam penyembunyian diri itu akhirnya saya petik sebuah kesimpulan. Ngeblog bisa mengentengkan pikiran karena bisa membuang lamunan.</p>
<p>Sebelum ada blog inilah yang sering terjadi: apa yang menarik bagi saya, dan ingin saya obrolkan, belum tentu menarik bagi orang sekitar. Bisa karena topiknya nggak cocok, bisa juga lantaran <em>mood </em>mereka yang lagi <em>mléngsé</em>.</p>
<p>Artinya masalah ada pada saya: tak menemukan saluran.</p>
<p>Untunglah ada blog. Maka dengan gagah tapi memalukan sering saya nyatakan bahwa blog punya fungsi terapetik untuk menjaga kewarasan.</p>
<p>Semacam nge-<em>flush </em>benak, begitulah. Terlalu banyak melamunkan soal itu-itu melulu, kata entah siapa, bisa merusak otak.</p>
<p>Jadi, jujur saja, niat saya ngeblog dulunya sangat egosentris. Bukan mau berbagi tapi yang penting membuang lamunan. Malah blog awal saya, lupa di mana, tak punya boks komentar dan kotak salam (<em>shoutbox</em>).</p>
<p>Entah berapa kali saya berpindah pondokan blog, dan saya akhirnya senang karena ternyata buangan lamunan saya dibaca bahkan ditanggapi orang.</p>
<p>Ternyata blog bukan cuma dokumentasi lamunan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/02/07/ngeblog-sebagai-terapi-demi-kewarasan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Eksibisionisme, Narsisisme, dan Rasa Blog</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/02/06/eksibisionisme-narsisisme-dan-rasa-blog/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/02/06/eksibisionisme-narsisisme-dan-rasa-blog/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Feb 2008 18:34:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[berbagi]]></category>

		<category><![CDATA[eksibisionis]]></category>

		<category><![CDATA[menulis]]></category>

		<category><![CDATA[narsis]]></category>

		<category><![CDATA[narsisis]]></category>

		<category><![CDATA[ngeblog]]></category>

		<category><![CDATA[pamer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=28</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Ngeblog itu intinya hanya buat pamer kan?&#8221; tanya kawan saya.
Maksudnya ya pamer barang, pamer tempat jajan, pamer wajah teman rupawan, pamer CD, pamer buku, pamer nonton film, pamer nonton konser, pamer setelah traveling, pamer foto bareng seleb, dan seterusnya.
&#8220;Dengan atau tanpa gambar, intinya pamer. Jelas banget itu!&#8221; ia menyimpulkan.
Bisa jadi dia benar. Dalam kesimpulan sementara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/02/blogpamer.jpg" alt="blog narsis" align="right" height="163" hspace="10" width="250" />&#8220;Ngeblog itu intinya hanya buat pamer kan?&#8221; tanya kawan saya.</p>
<p>Maksudnya ya pamer barang, pamer tempat jajan, pamer wajah teman rupawan, pamer CD, pamer buku, pamer nonton film, pamer nonton konser, pamer setelah traveling, pamer foto bareng seleb, dan seterusnya.</p>
<p>&#8220;Dengan atau tanpa gambar, intinya pamer. Jelas banget itu!&#8221; ia menyimpulkan.</p>
<p>Bisa jadi dia benar. Dalam kesimpulan sementara saya: ada batas tipis antara berbagi dan pamer.</p>
<p>Repotnya, kadang kala pamer berkonotasi negatif, karena bersepupu dengan peninggian diri dan bersanak dengan haus pujian plus rindu kekaguman berbumbu iri bahkan dengki.</p>
<p>Lantas setipis apa pun perbedaannya, di mana batasannya? Saya tak tahu. Tak punya alat ukur. Saya hanya bisa merasa (jadi bisa saja salah) kapan saya dan orang lain sekadar pamer, kapan berbagi pengalaman.</p>
<p>Tentu respon setiap orang untuk setiap posting di blog akan berbeda. Yang Anda niati berbagi pengalaman di blog Anda, misalnya &#8220;jangan tertipu cewek di Las Vegas&#8221;, bagi orang tertentu cuma akan dianggap pamer. Lalu muncul komentar, &#8220;Oh, cuma mau cerita udah ke Vegas ya, Mas?&#8221;</p>
<p>Tak apa, itu risiko. Respon terhadap pesan seringkali di luar kendali Anda. Sebagai hiburan toh ada juga pembaca yang menanggapi, &#8220;Meskipun belon ada rizki, saya akan ati-ati kalo ke Vegas.&#8221;</p>
<p>Lain kali Anda bercerita soal cicipan anggur. Bisa saja dianggap pamer dan sok borju, tapi tidak untuk setiap artikel di <a href="http://yohanhandoyo.com/" title="siapa mau bikin blog cerutu?" target="_blank">Yohan Handoyo</a>. Kenapa? Setiap orang tahu web Yohan adalah tempat buat berbagi rasa anggur.</p>
<p>Ujung-ujungnya adalah rasa. Setiap pembaca akan menimbang mana tulisan yang pamer penuh kejumawaan, mana yang sekadar berbagi. Memang sih, beda pembaca beda timbangan rasa. Apa boleh bikin.</p>
<p>Begitulah, ada saja wilayah-wilayah eksibisionistis dalam kehidupan kita. Setiap orang butuh perhatian (dan ingin memperhatikan orang lain), kan?</p>
<p>Lantas apa pula hubungan blog dengan narsisisme? Saya belum beroleh jawaban. Mungkin pemampangan foto diri, dan foto aktivitas pribadi, dianggap dekat dengan gejala mencintai diri sendiri secara berlebihan.</p>
<p>Selain soal rasa, jangan-jangan ini juga menyangkut kesalahkaprahan yang mulanya diniati sebagai ledekan: &#8220;Dasar narsis(is),  lu!&#8221;</p>
<p>Biarkan saja. Sepanjang tak merugikan orang lain, lakukan yang nyaman senyaman-nyamannya untuk blog Anda.</p>
<p>© Gambar bingkai: swiss-banking-antiques.com |  gambar model pegang apel: entah</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/02/06/eksibisionisme-narsisisme-dan-rasa-blog/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Wartawan, Blog, dan Kekecilan Hati</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/02/05/wartawan-blog-dan-kekecilan-hati/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/02/05/wartawan-blog-dan-kekecilan-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Feb 2008 17:48:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[jurnalis]]></category>

		<category><![CDATA[jurnalistik]]></category>

		<category><![CDATA[koran]]></category>

		<category><![CDATA[majalah]]></category>

		<category><![CDATA[masalah]]></category>

		<category><![CDATA[menulis]]></category>

		<category><![CDATA[ngeblog]]></category>

		<category><![CDATA[opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[
Seseorang pernah bertanya, &#8220;Di sana itu (gedung redaksi), pasti wartawannya pada ngeblog ya?&#8221;
Dia bertanya karena punya pengandaian. Wartawan terbiasa menulis, bahkan menjadi jalur nafkahnya. Urusan ngeblog mestinya cincay.
Saya tak punya jawaban penyangkal maupun pendukung yang sahih punya. Saya tak punya data, misalnya, &#8220;dari 100 wartawan hanya 99 orang yang ngeblog.&#8221;
Yang saya tahu, ada wartawan yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/02/mengetik.jpg" alt="wartawan mengetik: buat berita atau blog?" /></p>
<p>Seseorang pernah bertanya, &#8220;Di sana itu (gedung redaksi), pasti wartawannya pada ngeblog ya?&#8221;</p>
<p>Dia bertanya karena punya pengandaian. Wartawan terbiasa menulis, bahkan menjadi jalur nafkahnya. Urusan ngeblog mestinya cincay.</p>
<p>Saya tak punya jawaban penyangkal maupun pendukung yang sahih punya. Saya tak punya data, misalnya, &#8220;dari 100 wartawan hanya 99 orang yang ngeblog.&#8221;</p>
<p>Yang saya tahu, ada wartawan yang ngeblog dan ada yang tidak &#8212; atau belum. Ah, yang ini pun semua <em>bloggers</em> tahu. :D</p>
<p>Dari wartawan yang ngeblog itu ada yang ingin <em>enggar-enggar penggalih</em>, lari dari rutinitas dengan isi blog yang berbeda dari bidang liputannya. Atau untuk menampung liputan, atas inisiatif sendiri, yang tak tertampung oleh rubrik-rubrik.</p>
<p>Ada juga wartawan yang ngeblog dengan memasukkan sebagian liputan atau artikel karya dirinya yang pernah di muat di medianya. Semacam kliping dan cabang dari versi <em>online </em>korannya, begitulah.</p>
<p>Anda pasti minta contoh. Ya, kan? Maaf saya tidak ada sedia contoh. Silakan Anda telisik sendiri siapa saja wartawan yang ngeblog dan tergolong apa isi blognya. :D</p>
<p>Selain ngeblog sebagai aktivitas pribadi, ada pula wartawan yang ngeblog untuk keperluan dinas. Media di luar negeri, dan kemudian di Indonesia, akhirnya juga melakukan. Saya tak tahu seberapa mereka berbahagia &#8212; atau menderita &#8212; dengan blog dinas yang cenderung terjadwal itu.</p>
<p>Bagi sebagian <em>blogger</em>s dinas, bisa jadi itu tak beda dengan mengurusi rubrik di media cetak maupun digital. Hanya saja yang di blog diharapkan (atau: boleh) lebih subyektif dan personal, pun lebih interaktif, karena pembaca boleh berkomentar dan mengoreksi.</p>
<p>Lho, apa bedanya dengan berita dan opini dari versi <em>online</em> koran, yang juga terbuka terhadap komentar dan koreksi dari pembaca secara cepat?</p>
<p>Lebih sial lagi, mau obyektif atau subyektif, isi blog dinas akan selalu dianggap mewakili lembaga penerbitnya, kan? Aha! Baiklah itu kita diskusikan lain kali saja.</p>
<p>Lebih baik saya kutip komentar seorang <em>blogger</em>: &#8220;Wartawan aja ada yang susah diajak ngeblog, apalagi aku yang nggak biasa nulis.&#8221;</p>
<p>Stttt&#8230; bagaimana kalau pendekatannya berbeda? Justru karena banyak <em>bloggers </em>yang bukan wartawan, dan terbukti blog mereka layak simak, maka Anda yang bukan jurnalis tak perlu berkecil hati.</p>
<p>Emang cuma wartawan yang bisa (dan lancar) menulis? :D</p>
<p>© Bahan mentah ilustrasi: www.bridgew.edu</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/02/05/wartawan-blog-dan-kekecilan-hati/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Nyepeda, Renang, Nyetir, dan Ngeblog. Manakah yang Termudah?</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/02/04/nyepeda-renang-nyetir-dan-ngeblog-manakah-yang-termudah/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/02/04/nyepeda-renang-nyetir-dan-ngeblog-manakah-yang-termudah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Feb 2008 17:48:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[belajar]]></category>

		<category><![CDATA[menulis]]></category>

		<category><![CDATA[ngeblog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Nggak ada itu teori naik sepeda. Begitu juga nulis,&#8221; kata seseorang yang belajar bersepeda secara otodidak dengan babak belur dan merusakkan si alat belajar (barang pinjaman).
&#8220;Yang penting nyemplung kalo belajar renang. Lama-lama juga bisa. Nulis juga gitu,&#8221; kata orang lain lagi, dalam kesempatan berbeda. Dia lupa, jika tenggelam selagi belajar berenang maka nyawa pun melayang.
Tanpa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/02/setirmobil.jpg" alt="setir mobil funky" align="right" height="166" hspace="10" width="200" />&#8220;Nggak ada itu teori naik sepeda. Begitu juga nulis,&#8221; kata seseorang yang belajar bersepeda secara otodidak dengan babak belur dan merusakkan si alat belajar (barang pinjaman).</p>
<p>&#8220;Yang penting nyemplung kalo belajar renang. Lama-lama juga bisa. Nulis juga gitu,&#8221; kata orang lain lagi, dalam kesempatan berbeda. Dia lupa, jika tenggelam selagi belajar berenang maka nyawa pun melayang.</p>
<p>Tanpa menghubungkannya dengan penulisan, beberapa hari lalu seorang kawan mengisahkan cara dia mengajari temannya menyetir. &#8220;Langsung aku suruh bawa mobil sendirian ke rumahnya, hahaha!&#8221;</p>
<p>Tidak tercatat berapa kali mesin mati lantaran permainan pedal rem-gas-kopling belum mulus. &#8220;Istrinya cerita, sampai di rumah kepala dia (suaminya) sudah berasap. Hahahaha!&#8221;</p>
<p>Saya tak tahu apakah selama perjalanan si pembelajar itu menyerempet dan menyeruduk. Tapi menurut keyakinan si pencerita, &#8220;Ya harus gitu supaya bisa nyetir. Langsung nyoba!&#8221;</p>
<p>Dengan moral cerita yang sama saya sampaikan kepadanya, &#8220;Juga gitu kalo mau ngeblog. Jangan takut.&#8221;</p>
<p>Ceramah itu masih berbonus gombalan, &#8220;Hanya setelah kamu mencoba maka orang lain bisa ngajari kamu.&#8221;</p>
<p>Dia mengumpat sambil tertawa. Hari itu, untuk pertama kalinya, dia ngeblog, bikin posting kedua setelah <em>Hello World!</em>.</p>
<p>Ngeblog langsung praktik tak bikin babak belur, tak akan membuat tenggelam, dan tidak berisiko mengganti rugi penyok mobil orang lain.</p>
<p>© Sumber asli ilustrasi: 180sx.locost7.info</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/02/04/nyepeda-renang-nyetir-dan-ngeblog-manakah-yang-termudah/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Jendela Kemacetan (dan Kelancaran)</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/02/03/jendela-kemacetan-dan-kelancaran/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/02/03/jendela-kemacetan-dan-kelancaran/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Feb 2008 08:47:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<category><![CDATA[banjir]]></category>

		<category><![CDATA[gadget]]></category>

		<category><![CDATA[kemacetan]]></category>

		<category><![CDATA[lalu lintas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[Kalau saja, kalau saja&#8230; Ya, berandai-andai memang gampang dan menyenangkan. Kalau saja jendelajakarta.com sudah beroperasi penuh, dapat diakses oleh semua gadgets, maka sepanjang Jumat 1 Februari kemarin kita lebih terpandu.
Untunglah yang terjadi adalah perjalanan dari Gandaria ke Menteng lancar jaya, malah lancarnya melebihi kewajaran. Sore itu Jalan Jenderal Sudirman - Jalan Thamrin - Imam Bonjol [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/02/jendelalalin.jpg" alt="jendela kemacetan dan kelancaran jakarta" align="right" height="258" hspace="5" width="300" />Kalau saja, kalau saja&#8230; Ya, berandai-andai memang gampang dan menyenangkan. Kalau saja <a href="http://jendelajakarta.com/" target="_blank">jendelajakarta.com</a> sudah beroperasi penuh, dapat diakses oleh semua <em>gadgets</em>, maka sepanjang <a href="http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=8">Jumat 1 Februari</a> kemarin kita lebih terpandu.</p>
<p>Untunglah yang terjadi adalah perjalanan dari Gandaria ke Menteng lancar jaya, malah lancarnya melebihi kewajaran. Sore itu Jalan Jenderal Sudirman - Jalan Thamrin - Imam Bonjol dapat kami lalui dengan enak. Pada hari biasa mana mungkin?</p>
<p>Memang sih, arah sebaliknya, dari Monas ke Semanggi, mecet oleh jejalan kendaraan. Apa boleh buat.</p>
<p>Maka marilah berandai-andai. Kalau semuanya sudah tersedia maka akan semakin nyamanlah kita.</p>
<p>Semuanya? Apa saja? Layanan informasi murah bahkan gratis dan peranti kirim-terima yang semakin murah.</p>
<p>Kalau semuanya terjangkau maka barang yang sekarang mewah tak menarik minat pencopet dan penodong. Menggunakan BlackBerry 8800 dalam mobil angkutan tak dianggap pamer dan mengiming-imingi.</p>
<p>Posting tentang kemacetan dan banjir bisa dilakukan dari mana saja. Dengan catatan: sepanjang terlayani oleh BTS dan baterai si <em>gadget</em> belum loyo.</p>
<p>Kalau saja, kalau saja&#8230; Ya, tampaknya dua tahun lagi semuanya akan terjangkau bagi banyak <em>bloggers</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/02/03/jendela-kemacetan-dan-kelancaran/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Gathering, Nickname, dan URL</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/02/03/gathering-nickname-dan-url/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/02/03/gathering-nickname-dan-url/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Feb 2008 05:33:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<category><![CDATA[bee]]></category>

		<category><![CDATA[biola menteng]]></category>

		<category><![CDATA[biola taman suropati]]></category>

		<category><![CDATA[dagdigdug]]></category>

		<category><![CDATA[gathering]]></category>

		<category><![CDATA[kopdar]]></category>

		<category><![CDATA[menteng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[Memang ada banjir di banyak titik. Masih ada sisa gerimis. Bahkan listrik sempat padam sejak sore karena gardu PLN terendam air. Tapi sejumlah kawan tetap datang ke Taman Menteng, Jakarta Pusat, Jumat malam 1 Februari. Bahkan Ogi Fajar dari Banjar Baru, Kalimantan Selatan, pun harus membeli satu setel pakaian luar-dalam untuk kopdar.
Penyebabnya? Dia sempat terendam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Memang ada banjir di banyak titik. Masih ada sisa gerimis. Bahkan listrik sempat padam sejak sore karena gardu PLN terendam air. Tapi sejumlah kawan tetap datang ke Taman Menteng, Jakarta Pusat, Jumat malam 1 Februari. Bahkan <a href="http://ogifajar.com/" title="thanks bro!" target="_blank">Ogi Fajar</a> dari Banjar Baru, Kalimantan Selatan, pun harus membeli satu setel pakaian luar-dalam untuk kopdar.</p>
<p>Penyebabnya? Dia sempat terendam banjir sampai setengah badan di depan Sarinah. Akan panjang daftarnya kalau dijembreng di sini. Yang pasti saya dan teman-teman amat sangat berterima kasih.</p>
<blockquote><p> <img src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/02/menteng-001.jpg" alt="bee strings di menteng" /><br />
<em> » Bee Strings menjadi tontonan sekaligus pengiring obrolan para bloggers di Taman Menteng.</em></p></blockquote>
<p>Tak ada pesta di sana, apalagi pesta ultah maupun resepsi peresmian cabang salon yang berpusat di Nganjuk, Jawa Timur. :D</p>
<p>Maka wajah yang saling kenal pun bersua. Tapi ada juga sebagian yang hanya (baru) saling tahu di dunia maya. Saya pun bertemu beberapa kawan yang selama hanya berkomunikasi via <em>e-mail</em> dan SMS (dan tentu komentar). Dan terjadilah hal menjadi etiket kaum <em>bloggers</em>: memperkenalkan nama, bila perlu dengan menyebutkan URL blognya.</p>
<p>Jika yang bersangkutan lupa menyebut maka orang ketiga atau keempat yang akan melafalkan URL. Ya, ya, ya, saya pernah menulis soal etiket baru itu di <a href="http://memo.blogombal.org/2007/10/01/nickname-lalu-url-adab-gaul-kopdar/" title="aha!" target="_blank">tempat lain</a>. Jadi tak usah saya perpanjang. :)</p>
<p>Lebih menarik bercerita tentang acara santai itu. Hidangannya cukup sajian dari gerobak bakwan malang, siomay, dan sate kambing/ayam.</p>
<blockquote><p><img src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/02/menteng-002.jpg" alt="gatghering pertama dagdigdug.com" /><br />
»» <em>Mbilung juniors asyik menggambar; <a href="http://henrywijayanto.blogspot.com/" target="_blank">Henry Wijayanto</a> mempromosikan posting cepat via BlackBerry; Enda langsung memanfaatkan hotspot.</em></p></blockquote>
<p>Untuk menghindari hujan, <em>basement</em> gedung parkir pun dipakai, cukup lesehan di atas <a href="http://label.blogombal.org/2008/02/01/aladin-naik-tikar/" target="_blank">tikar</a>. Untuk menikmati musik gesek Bee, tamanlah yang dipakai dengan risiko kelembaban akan mempersulit penyeteman dawai, dan resonansi seperti yang didapat di bawah plafon <em>basement </em>jadi menguap. Tak apa.</p>
<p>Yang penting taman, sebagai ruang publik, dicoba untuk dimanfaatkan. Itulah taman dengan wi-fi sejenak, atas bantuan teman-teman XL.</p>
<p>Alam terbuka dengan <em>hot spot</em>, memang itu bagian cita-cita <a href="http://dagdigdug.com" target="_blank">dagdigdug</a>.</p>
<p>Apa tadi, dagdigdug? Ya, sebuah layanan blog hosting anyar untuk <em>bloggers</em> Indonesia yang lebih cepat diakses dari dalam negeri.</p>
<p>Situsnya masih dibenahi. dagdigdug pun belum diluncurkan. Masih dalam pengembangan. Tapi sebuah permisi telah tersampaikan. Setidaknya permisi untuk mencomot RSS teman-teman.</p>
<p><img src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/02/posterdag.jpg" alt="kampanye dagdigdug.com untuk remaja" align="right" height="156" hspace="10" width="250" />Kelak dagdigdug akan menularkan kegairahan ngeblog kepada calon <em>bloggers</em>. Bantuan komunitas <em>bloggers</em> amat diharapkan.</p>
<p>Jadi, ketika kelak ada kopdar lagi, hadirin cukup memperkenalkan diri dengan subdomain dagdigdug, misalnya &#8220;guekocak&#8221; saja?</p>
<p>Tentu tidak. dagdigdug untuk semua orang, semua <em>bloggers</em>, di mana pun hostingnya, apa pun domain dan subdomainnya. Mau di dagdigdug sumangga (dan diharap), mau tetap di tempat lain, bahkan dengan domain sendiri, juga sumangga. Sebuah tatakan untuk persaudaraan, itulah mimpi sederhananya.</p>
<p>Oh, jadi ini sebuah posting promosi gitu, ya? Ups, kebablasan. Sudah telanjur menulis dan Anda kadung baca. :D</p>
<p>Update:<br />
<a href="http://sekadarblog.com/2008/02/02/dagdigdug-1/" target="_blank"> Hedi 1</a>  | <a href="http://sekadarblog.com/2008/02/02/dagdigdug-2/" target="_blank">Hedi 2</a> | <a href="http://aprikot.wordpress.com/2008/02/02/lunas/" target="_blank">Aprikot</a> | <a href="http://venus-to-mars.com/2008/02/02/di-taman-menteng/" target="_blank">Venus 1</a> | <a href="http://venus-to-mars.com/2008/02/02/taman-menteng-kamu-dan-sebuah-lagu/" target="_blank">Venus 2</a> | <a href="http://mpokb.blogdrive.com/archive/290.html" target="_blank">Mpokb</a> | <a href="http://the.sandalian.com/240/comments/detik-nyusul-dagdigdug.htm" target="_blank">Sandalian</a> | <a href="http://mbakdos.multiply.com/journal/item/106/Celana_Dalam_Siapa" title="Hahaha" target="_blank">MbakDos 1</a> | <a href="http://duduk-bersila.blogspot.com/2008/02/celana-dalam-siapa.html" target="_blank">MbakDos 2</a> |</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/02/03/gathering-nickname-dan-url/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sulitkah Menulis untuk Blog?</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/01/31/sulitkah-menulis-untuk-blog/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/01/31/sulitkah-menulis-untuk-blog/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Jan 2008 09:32:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[Personal]]></category>

		<category><![CDATA[gagasan]]></category>

		<category><![CDATA[kesempatan]]></category>

		<category><![CDATA[malas]]></category>

		<category><![CDATA[menulis]]></category>

		<category><![CDATA[mood]]></category>

		<category><![CDATA[ngeblog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[Judul yang menyebalkan. Sok menggurui. Anda pasti menduga bahwa saya sudah punya stok jawaban semacam, &#8220;Mudah, asalkan&#8230;&#8221;
Uh, depannya sugestif, belakangnya bersyarat. Ya, kan?
Maka inilah jawaban saya: ya, memang sulit. Apa saja kesulitan saya?
Pertama, soal kesempatan. Tidak mungkin saya online tanpa henti, baik dengan komputer maupun gadget.
Kedua, soal mood. Bicara soal suasana hati kadang memang tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2008/02/ngetik.gif" alt="mari menulis" align="right" height="100" hspace="11" width="100" />Judul yang menyebalkan. Sok menggurui. Anda pasti menduga bahwa saya sudah punya stok jawaban semacam, &#8220;Mudah, asalkan&#8230;&#8221;</p>
<p>Uh, depannya sugestif, belakangnya bersyarat. Ya, kan?</p>
<p>Maka inilah jawaban saya: ya, memang sulit. Apa saja kesulitan saya?</p>
<p>Pertama, soal kesempatan. Tidak mungkin saya <em>online</em> tanpa henti, baik dengan komputer maupun <em>gadget</em>.</p>
<p>Kedua, soal <em>mood</em>. Bicara soal suasana hati kadang memang tak dapat ditawar. Kalau angin lagi cocok ya saya bisa bikin <em>post</em> lebih dari satu dalam sehari.</p>
<p>Ketiga, soal gagasan. Saya akui gagasan selalu ada bahkan berlebihan, tapi saya sering tersandung oleh keterbatasan waktu dan keparahan <em>mood</em>.</p>
<p>Nah, Anda sekarang pasti bilang, &#8220;Sama dong dengan saya? Gitu aja kok ditulis&#8230;&#8221;</p>
<p>Memang sama. Masalah kita, sebagai <em>bloggers</em>, ternyata sama. Tapi sungguh kurang ajar kalau saya mengimbangi, &#8220;Gitu aja kok dibaca.&#8221;</p>
<p>Mari ngeblog. Ayo kita tularkan kegairahan ngeblog. Makin banyak yang <strike>terinveksi</strike> terinfeksi virus ngeblog, itu makin bagus karena kita tak merasa sendirian.</p>
<p>Di saat malas menulis, kita bisa baca blog orang lain. Setidaknya kita sudah &#8220;ngeblog secara pasif&#8221;. :D</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/01/31/sulitkah-menulis-untuk-blog/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Lancar di Milis, Seret di Blog</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/01/30/lancar-di-milis-seret-di-blog/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/01/30/lancar-di-milis-seret-di-blog/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Jan 2008 08:56:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[menulis]]></category>

		<category><![CDATA[milis]]></category>

		<category><![CDATA[ngeblog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[Dalam milis, teman saya itu lancar menulis. Isinya serius, argumentatif, bagus, dan ehm&#8230; lucu, kadang malah menandingi kolom di koran-koran.
Maka saya anjurkan kepadanya untuk ngeblog. Bahkan blog pun saya buatkan. Hasilnya? &#8220;Sori, susah buat ngupdate. Nulis itu sulit buatku,&#8221; katanya.
Aneh benar. Dia lancar menulis, tidak hanya dalam milis melainkan juga japri. Paparan dan pemeriannya hebat. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam milis, teman saya itu lancar menulis. Isinya serius, argumentatif, bagus, dan ehm&#8230; lucu, kadang malah menandingi kolom di koran-koran.</p>
<p>Maka saya anjurkan kepadanya untuk ngeblog. Bahkan blog pun saya buatkan. Hasilnya? &#8220;Sori, susah buat <em>ngupdate</em>. Nulis itu sulit buatku,&#8221; katanya.</p>
<p>Aneh benar. Dia lancar menulis, tidak hanya dalam milis melainkan juga japri. Paparan dan pemeriannya hebat. Tetapi ketika menghadapi halaman blog dia merasa gagap. Kok bisa?</p>
<p>Saya hanya menduga-duga itu karena perbedaan beban. Untuk milis, itu semudah dan serileks menulis <abbr title="namanya juga mailing list">surat</abbr>. Untuk blog seolah menulis artikel untuk media umum. Artinya dibaca oleh lebih banyak orang, dan terbuka terhadap sanggahan maupun polemik.</p>
<p>Dia hanya tertawa, tidak menyangkal namun juga tidak mengiyakan dugaan saya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/01/30/lancar-di-milis-seret-di-blog/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Blog Menjadi Buku?</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/01/29/blog-menjadi-buku/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/01/29/blog-menjadi-buku/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Jan 2008 08:52:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[Personal]]></category>

		<category><![CDATA[buku]]></category>

		<category><![CDATA[menulis]]></category>

		<category><![CDATA[ngeblog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[Saya selalu punya jawaban superbasi setiap kali ditanya kapan menulis buku, termasuk ketika ditanya teman yang mengurisi penerbitan. &#8220;Sudah saya siapkan naskah daftar logaritma tapi penerbit nggak berminat,&#8221; kata saya seperti kaset.
Beberapa kali saya ditanya, atau setidaknya dikasih saran, agar membukukan apa yang saya tulis di blog.
Sejujurnya saya belum berani. Kenapa?
Pertama: tulisan saya buruk, tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://aycu09.webshots.com/image/41968/2004115376998109841_rs.jpg" alt="buku gombal" align="right" height="267" hspace="20" width="200" />Saya selalu punya jawaban superbasi setiap kali ditanya kapan menulis buku, termasuk ketika ditanya teman yang mengurisi penerbitan. &#8220;Sudah saya siapkan naskah daftar logaritma tapi penerbit nggak berminat,&#8221; kata saya seperti kaset.</p>
<p>Beberapa kali saya ditanya, atau setidaknya dikasih saran, agar membukukan apa yang saya tulis di blog.</p>
<p>Sejujurnya saya belum berani. Kenapa?</p>
<p>Pertama: tulisan saya buruk, tak sebagus bloggers lain yang sudah membukukan karya, bahkan typo pun kadang saya biarkan.</p>
<p>Kedua: ketika halaman web dipindah ke kertas maka hyperlinks cuma menjadi catatan kaki.</p>
<p>Ketiga: kalau isi blog diangkut ke buku, besar kemungkinan komentar para tamu tak terangkut (apalagi kalau cuma &#8220;pertamax&#8221; dan &#8220;makan2! hehehe&#8221;).</p>
<p>Memang sih ada yang usil, dan barangkali membawa titipan pesan dari malaikat agar saya jujur, &#8220;Apa bukan karena harga belum cocok?&#8221;</p>
<p>Waduh. Bagaimana bisa bilang cocok atau tidak jika tawaran angka pun belum disodorkan? Untuk yang ini saya belum punya jawaban hipotetis. Tapi kesimpulan Anda pasti tegas: &#8220;Hayah, rindu order saja kok mbulet.&#8221; Terima kasih.</p>
<p>Ada juga sih suara lain, barangkali titipan malaikat juga, yang berbisik, &#8220;Kalau dari blog dipindah ke cetak, apakah itu bukan sebuah kemunduran? Dari paperless ke boros kertas?&#8221;</p>
<p>Tapi, hehehe, penerbitan virtual dan berkertas nyatanya berteman, kan?  Banyak blog yang membahas buku, bahkan mengandung tautan ke Amazon. Lebih lucu lagi, ada buku tentang blog.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/01/29/blog-menjadi-buku/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ngumpet dan Nongol</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/01/28/ngumpet-dan-nongol/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/01/28/ngumpet-dan-nongol/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jan 2008 08:37:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[Personal]]></category>

		<category><![CDATA[alias]]></category>

		<category><![CDATA[blogombal]]></category>

		<category><![CDATA[kere kemplu]]></category>

		<category><![CDATA[menyamar]]></category>

		<category><![CDATA[ngeblog]]></category>

		<category><![CDATA[ngumpet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Cukup lama saya pernah ngeblog sebagai makhluk dari planet lain. Pakai nama samaran, foto diri pun ngembat dari halaman web yang saya lupa alamatnya. Untunglah tak ada (semoga tidak) gugatan dari pemilik hak cipta, baik si fotografer maupun si pemilik wajah.
Tentu, main comot itu bukan hal yang layak dicontoh. Maafkan saya.
Lantas apa yang saya dapat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cukup lama saya pernah ngeblog sebagai makhluk dari planet lain. Pakai nama samaran, foto diri pun ngembat dari halaman web yang saya lupa alamatnya. Untunglah tak ada (semoga tidak) gugatan dari pemilik hak cipta, baik si fotografer maupun si pemilik wajah.</p>
<p>Tentu, main comot itu bukan hal yang layak dicontoh. Maafkan saya.</p>
<p>Lantas apa yang saya dapat dari penggandaan diri menjadi manusia lain? Sejujurnya saya (seolah) merasa aman dan nyaman. Karena orang tak tahu saya maka rasanya saya lebih bebas.</p>
<p>Bbeberapa kali saya mengirimkan sesuatu kepada <em>bloggers</em> lain masih dengan penyamaran. Nama pengirim ngawur, apalagi alamatnya. Risikonya adalah jika kiriman tak sampai tujuan maka paket takkan kembali kepada saya.</p>
<p>Meskipun begitu lama-lama saya tak nyaman juga. <em>IP address </em>kantor saya toh ketahuan. Tak perlu menjadi detektif, dengan segera beberapa orang segera mengenali siapa saya.</p>
<p>Yang ketiban repot adalah seorang <em>blogger</em> sejawat tapi beda lokasi kantor. Dia sebisanya menutupi identitas saya sementara beberapa <em>bloggers</em> akhirnya makin tahu siapa saya. Saya yang dari dulu memang tidak penting untuk diketahui akhirnya, untuk sementara (ya saat itu) menarik untuk diketahui &#8212;  setidaknya bagi beberapa orang.</p>
<p>Hanya itu? Tidak. Bagaimanapun saya manusia normal, butuh berkawan secara wajar. Selain karena pelacakan oleh beberapa bloggers, saya pun memperkenalkan diri kepada beberapa orang. Huh, bodoh juga. Tak berbakat jadi bandit maupun reserse.</p>
<p>Singkat cerita tiada guna lagi bersembunyi. Ada titik ketika saya merasa sebagai pengecut yang naif. Merasa jadi si misterius padahal orang lain sudah tahu. Ibaratnya merasa jadi zebra padahal orang lain tahu bahwa itu cuma kuda yang dicoreti. Lebih sial lagi: merasa jadi kuda beneran padahal cuma kuda lumping dari anyaman bambu.</p>
<p>Maka akhirnya nongollah saya dengan jatidiri senyatanya. Dan ternyata blogosfer aman-aman saja. Tak ada kegemparan atau sejenisnya karena bagi teman-teman penongolan diri saya itu tak penting. Saya saja yang khawatir &#8212; dan ge-er.</p>
<p>Memang norak. Tapi setelah itu saya nyaman karena menjadi diri sendiri.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2008/01/28/ngumpet-dan-nongol/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
